[HOMI Couple] Studying over (2.2)

[HOMI] Studying over! (2.2) 


Author :  mamoTHo

Title : Studying over (Chronicles of HOMI Couple)

Main cast : Choi Minho, Lee Hyemi

Other cast : SHINee member , Hyemi-eomma, Hyemi-appa, Joongki, Krystal

Genre : Life

Lenght : Twoshot

Rate : G

©mamoTHo, 2012

Belajar Bahasa Inggris padaku? Tidak salah? Huh, aku pun sedang kesulitan, batin Hyemi sambil membuang muka. Dia tidak menyangka kedatangan Minho ke rumahnya hanya karena sesuatu yang berhubungan dengan Bahasa Inggris.

Beberapa buku kini tergeletak bebas di sebuah meja tempat di mana Hyemi dan Minho berdiam. Satu buku tebal dengan judul ‘Changing Times Changing Tense’ sedang digenggam Minho. Mata Minho benar-benar mengamati isi buku itu lekat. Termasuk tiap lembarannya yang hanya ia buka saja.

Hyemi mendesah pelan. Apa yang harus ia pelajari bersama Minho, sedang dirinya saja merasa tidak bisa. Dia hanya membiarkan buku yang ia punya mengenai Bahasa Inggris tergeletak di hadapannya. Berbeda dengan Minho yang sedari tadi tak henti-hentinya mencuri lirik pada Hyemi. Dia paling bersemangat saat ini. Bahkan, sekedar tersenyum atau berkedip untuk membuat suasana di ruangan itu tidak terasa canggung pun ia lakukan dengan baik. Yap, di ruang baca tersebut memang tidak hanya Minho dan Hyemi saja yang berdiam. Hyemi-appa senantiasa berada di sana untuk membaca majalah. Itu hanya motif. Dia hanya ingin mengawasi anaknya belajar atau paling tidak, tidak melenceng dari jadwal belajar menjadi jadwal kencan. Hyemi–appa memang yang paling protektif pada anaknya yang berstatus mahasiswa dan pacar yang hubungannya sangat menghawatirkan itu.

Hyemi mendesah lagi. Ini terlalu canggung, batinnya. Tapi, Minho tidak pernah kehilangan akal, hingga lagi-lagi ia menyenggol lengan gadis yang ada di sebelahnya. Minho ingin Hyemi berbicara, bukan membiarkan suasana jadi begitu hening—selain gelak tawa Joongki di tempat lain, tepatnya ruang  TV yang berada tidak jauh dari ruang baca di rumah Hyemi. Joongki tidak peduli dan setia berada di ruang TV menonton channel kesukaannya. Kalau sudah berhadapan dengan TV dia memang menjadi anak yang baik. Tidak mengganggu Hyemi, kakaknya.

“Aku tidak bisa!” ucap Hyemi pasrah membuat ayahnya mencuri lirik pada anak gadis semata wayang itu. Hyemi menutup bukunya. Mengajari apanya, Minho gila menurutnya. Yang seharusnya dibantu kan Hyemi, bukan Minho, mungkin itu yang ingin didumalkan Hyemi saat ini.

“Kamu bisa, Hyemi. Ayo cepat ajari aku. Aku sungguh bodoh di Bahasa Inggris. Kamu ingat kan aku pernah salah mengucap sure jadi ser pada Taemin? Aku ditertawakan Kibum saat itu.”

“Tidak! Aku tidak bisa!” tolak Hyemi mentah-mentah. Moodnya jadi berubah ketika membicarakan ‘Bahasa Inggris’ lagi dan lagi.

Hyemi-appa yang berada di kursi tidak jauh dari tempat Hyemi dan Minho duduk kini menahan tawa. Karena Hyemi keras kepala? Yeah, mungkin saja. Tapi rupanya senyumnya tidak berlangsung lama ketika Minho mengetuk kepala Hyemi dengan buku jarinya. Karena itu, ayahnya memberengutkan wajah. Siap meledak. Yeah, kalau sampai ada skin ship lagi di depannya, Minho akan siap didepak.

 “Yaa~ Hyemi! Sejak kapan kau jadi pesimis seperti ini. Kamu bisa. Kamu itu sudah biasa menggunakan Bahasa Inggris di jurusanmu ‘kan?”

“Baiklah Minho, aku jujur. Aku sebenarnya bodoh dalam Bahasa Inggris.”

Minho tersenyum, dan lagi-lagi tidak pernah kehilangan cara untuk membuat Hyemi mengiyakan keinginannya. “Hyemi-ya~ Kita belajar bersama!! Kita selalu bisa memecahkan masalah kalau berdua, bukan? WELL!!  Tidak ada yang salah dengan belajar bersama. Bagaimana?”

Hyemi terdiam. Hanya suara gelak tawa yang terdengar di ruangan itu, membuat Hyemi jadi menoleh ke dinding yang dibaliknya terdapat Joongki adiknya. Dia pun jadi mendengus.

“Kita pasti akan sering bertemu lohhh…” bisik Minho.

Bertemu? Baiklah, motif lain yang bisa membuat Hyemi mengiyakannya. Bisa jadi Hyemi akan setuju. Tapi salah, bukannya senang, Hyemi justru mendesah lagi. Dia tahu ini memang kesempatan juga baginya untuk mengasah kemampuan Bahasa Inggrisnya. Yah, siapa tahu hanya dimulai dari belajar bersama itu akan membuatnya lebih baik menguasai Bahasa Inggris. Apalagi belajar bersama Minho, mungkin akan membuat Hyemi lebih bersemangat. Dia selalu ingat, ketika Minho si orang optimis itu memberi kekuatan padanya di battle couple—masa di mana mereka bertaruh untuk menjadi couple, Minho benar-benar membuat Hyemi jadi lebih tangguh dan tidak mau kalah. Minho membuatnya lebih baik menurutnya.

“Mau mulai belajar??” Mata Minho menatap Hyemi dengan berbinar. Yah, begitulah Minho. Selalu memiliki beberapa cara yang membuat Hyemi bahagia. Belajar bersama. Dia pun tahu kemampuannya tidak seberapa, tapi dia akan berusaha untuk membantu kekasihnya. Tidak dengan para member yang membantunya, dia akan melakukannya sendiri agar gadis itu bisa melupakan kesedihannya.

***

Di dalam sebuah ruangan bernuansa lembut, dengan wallpaper pastel dan motif bunga, sepasang kekasih sedang duduk di lantai karpet wol hangat berhadapan dengan beberapa buku yang tergeletak di atas meja kayu pendek setinggi dada mereka. Tepat di belakang mereka sebuah sofa cantik berwarna krem berukuran panjang menjadi sandaran keduanya ketika merasa penat datang. Dan tidak jauh dari sofa itu pun, seorang pria tua berbadan gemuk, memiliki wajah yang cukup ketus dengan dahi yang setia mengkerut, duduk di sofa tunggal yang berdekatan dengan sebuah lampu meja. Dia masih senantiasa memegang sebuah majalah dan tetap mencuri lirik pada sepasang kekasih itu. Terkadang dia berdiri hanya untuk mondar-mandir menuju rak buku yang terletak dekat dengan jendela di sudut ruangan. Yeah, itu dilakukannya ketika sudah bosan melihat anak gadisnya tidak menghentikan aktivitas belajarnya. Atau mungkin hanya untuk mencari sebuah perhatian?

“Aku tidak mau A, Minho. A terlalu tinggi. Aku B saja. Jadi kalau aku dapat C, aku tidak terlalu kecewa.”

Setelah 2 jam belajar bersama, kini mereka mulai menentukan target nilai. Belajar semacam diskusi ini memang membuat mereka lebih hebat dari sebelumnya. Hyemi tidak merasa frustasi lagi. Justru dia sangat ceria saat ini. Dia tidak salah mengiyakan keinginan Minho yang satu ini.

“Di mana-mana target itu yang tinggi, Hyemi. Jangan bercanda.” goda Minho sambil dengan sengaja mengibaskan buku yang rupanya sengaja dia arahkan ke wajah Hyemi. Jelas itu hampir menyerupai sebuah tamparan.

YAA!! Kau yang A, aku B.”

“Huh, apa kau pesimis?” goda Minho lagi. Dia tahu Hyemi tidak sepesimis itu. “Seorang Hyemi?” tambahnya lagi.

Hyemi menatap Minho tajam. Dia benar-benar tidak terima ketika dirinya dikatai pesimis. Hyemi orang yang percaya diri, menurutnya.

Otte??” Kali ini Minho  menunjukan jurus terakhir. Sebuah aegyo maut yang sama dengan belakangan terakhir dia tunjukan di TV—mirip dengan aegyo yang ia berikan pada Jonghyun di Weekly Idol.

Well A! Aegyo-mu menjijikan! Hentikan!” Hyemi pun pada akhirnya tertawa, membuat Minho di sampingnya ikut tertawa hingga mengelus puncak kepala Hyemi.

“EKHMMM!!” Ini bukan teguran yang sekali. Sudah hampir lima kali Hyemi-appa berdeham karena melihat Minho dan Hyemi yang terlalu asik bercanda ketimbang belajar, membuat Hyemi jadi kesal sekarang.

Appa! Tenang saja. Kami tidak akan macam-macam.”

“Siapa yang menuduh Hyemi berbuat macam-macam. Appa hanya sakit tenggorokan.”

“Bohong…” kata Hyemi yang terdengar seperti sebuah desisan. Dia tahu sedari tadi appa-nya ingin berusaha menginterupsi kegiatan belajarnya.

“Ekhhm.. ekhmm..” Dan lihatlah tingkah Hyemi-appa yang terkadang menyebalkan. Dia kini berpura-pura batuk, membuat Minho jadi menahan tawa.

“Hyemi-ya.. sepertinya aku harus pulang. Sudah dua jam.” bisik Minho

Andweyo, Minho.. Kita harus belajar keras.” kata Hyemi. Dia kini beralih pada appa-nya. “Appa, aku mau belajar. Jangan ganggu kami. Kami tidak akan mencuri cium lagi kok.”

Ucapan itu terang saja membuat Minho membulatkan mata terkejut. Jangan tanya respon Hyemi-appa, tangannya sudah mengepal. Dia memang begitu kesal ketika Hyemi dan Minho masuk media karena sebuah ciuman. Sampai sekarang pun dia tidak rela anaknya bisa jadi terkenal karena itu.

“Hyemi-appa… ke sini sebentar yah.” sambar sebuah suara. Itu Hyemi-eomma yang kini menarik Hyemi-appa keluar dari ruangan itu. Eomma-nya pun diam-diam mengintip dari balik pintu sedari tadi. Dia pun sama tukang kepo, karena tidak bisa menghilangkan kesempatan melihat pria tampan seperti Minho. Dari dulu, dia terobesesi memiliki kerabat seorang selebritis.

“Hyemi lanjutkan belajarnya yah..” tambah Hyemi-eomma lagi. Dia masih terkekeh karena ucapan Hyemi yang membahas ciuman.

Hyemi dan Minho saling melempar pandang. dan seperti mengerti arti dari tatapan Minho, Hyemi mengangkat bahu tak peduli.

“Kau memang terkenal di keluarga ini, Minho. Sudahlah, lupakan saja.” kata Hyemi langsung menyambar satu buku lagi dan membuka lembarannya.

***

Hyemi jadi lebih semangat, walau pada akhirnya Minho dan Hyemi memang tidak mahir dalam Bahasa Inggris, tapi mereka tetap menikmati belajar bersama mereka. Ruang panas, tempat kencan mereka pun rupanya jadi tempat mereka untuk belajar juga belakangan terakhir. Hyemi sungguh berusaha dengan keras. Dia belajar begitu keras, hingga terkadang lupa harus menjaga waktu tidurnya. Tidak, seminggu lagi UAS datang, dia tidak akan membuang-buang waktunya secara percuma.

“Hyemi-ya, hari ini kita istirahat saja. Aku akan mengajakmu kencan.” Minho merangkul Hyemi yang sedari tadi menatap catatan kecilnya di tangan. Padahal kuliah sudah usai, tapi mereka justru sedang berada di ruang penyimpanan olahraga. Tidak untuk bermesraan, tapi untuk belajar.

“Minho, kita harus dapat A! Kau kan tahu target itu. Aku tidak bisa berleha-leha.”

“Tapi kita sudah 1 bulan ini hampir setiap senin-selasa-rabu-kamis belajar. Kita butuh refreshing.”

“Tidak.”

“Hyemi-ya, aku—“ Minho tidak melanjutkan kalimatnya karena tadi Hyemi baru saja mengecup pipinya. Hyemi tersenyum sangat manis padanya.

Wae? Apa kau mau menciumku sekarang?” Pertanyaan yang terlalu memojokan Minho. Minho jadi menarik pinggang gadis itu agar dekat dengannya.

“Ya sudah, kita ke dorm.”

“Belajar di dorm?” Mata Hyemi jadi berbinar. Lagi-lagi dia mengecup pipi Minho dengan sengaja. Minho terlalu tahu tingkah Hyemi yang berpura-pura seperti ini. Dia tahu Hyemi hanya menggodanya. Hingga akhirnya, dia melepaskan rangkulannya dan mendesah pelan pada Hyemi.

“Aku ingin main PS!”

Hyemi yang merasa tingkah manjanya tidak berefek apa-apa pada Minho mendengus dan memukul lengan Minho. “Yaa! Minho! Kau patner belajarku. Jangan main PS!” omel Hyemi, membuat Minho jadi menggelengkan kepalanya. Frustasi, yah, mungkin dia juga jadi lelah karena terlalu memporsir belajarnya hingga lupa menghibur diri.

***

Mereka berdua akhirnya pergi ke dorm. Di sana semua member cukup terkejut melihat kekompakan Hyemi dan Minho yang sedang belajar. Semua tidak menyangka kalau Hyemi benar-benar serius. Dan sosok Minho yang terlalu baik itu benar-benar membuat para member pun geram. Seorang Choi Minho bisa begitu takluk pada seorang perempuan. ER! Sungguh menyebalkan di mata Jonghyun dan Key.

“Salah, Hyemi… Itu sama dengan unmoving.” sambar Key. Dia diam-diam memperhatikan Minho dan Hyemi yang sedang belajar.

“Loh kok?”

“Coba kamu baca lagi, ‘he tought the car was stationary but it’s start rolling on the hills’, itu dalam bahasa inggris disebut Root. Bocah saja pasti tahu. Itu Inggris yang tercampur dengan latin dan greek. Jadi kalau kau pecahkan, station dalam bahasa latin artinya tidak berpindah. Multiple choice yang sama dengan diam selain tidak bergerak apalagi coba selain unmoving.” celoteh Key.

Thank you, Key-ssi!” Hyemi terkekeh.

Yaa! Sudah kubantu malah seperti itu. ER! Aku akan pasang ear phone mulai sekarang.”

Minho pikir Hyemi akan bertengkar dengan Key, tapi rupanya keseriusan Hyemi benar-benar membuat dia tidak tertarik untuk bertengkar. Hyemi yang lain dari biasanya, benar-benar membuat Minho takjub. Tapi, sesuatu yang terlalu bersemangat seperti ini, biasanya akan menimbulkan sesuatu yang lain. Hyemi terlalu memaksakan diri dalam belajar. Menurut Minho itu pun kurang bagus.

“Hyemi, kita sudahi belajarnya. Kamu tidak lelah?”

Aniyo.”

“Kau menurut padaku, Hyemi. Matamu sudah merah. Aku rasa kau butuh tidur. Kita pulang yah. Sudah jam 12 malam.”

“Matamu yang merah, Minho.”

“Cium aku atau kau pulang?”

Mata Hyemi membulat menatap Minho. Sudah lama Minho tidak mengancam seperti tadi. Hyemi rasa, Minho benar-benar ingin Hyemi menurut. Tapi, dengan kebodohan Hyemi, dia pun malah mengecup pipi Minho. Dia tidak mau pulang sebelum puas belajar.

***

Hari ujian pun akhirnya tiba. Seorang gadis terbangun dengan lemas. Pandangannya benar-benar buram tidak seperti biasanya. Dia merasa menatap sebuah pintu jadi bergoyang sendiri. Dan, ketika ia mengerjapkan matanya kasar, yang ia dapat justru semakin tidak benar saja penglihatannya. Tulisan ‘Fighting Hyemi, A akan kau capai’ saja tidak terlihat dengan baik di balik pintu kamarnya.

“Ehm,” Hyemi berdeham pelan, merasa tenggorokannya kering, tapi bukan itu yang dirasakannya. Dia merasa tenggorokannya justru sakit.

Dengan pelan dia bangun dari tidurnya dan mendapati badannya yang penuh keringat. EH? Kenapa denganku, mungkin itu yang ada di pikirannya. Dia memegang dahinya cepat, dan tiba-tiba merasa dahinya begitu panas. Dia memegang lehernya dan juga merasakan hal yang sama. Apa aku sakit? pikirnya.

“Hyemi sudah bangun?” Suara orang dewasa menyahut dari luar. Itu suara Hyemi-eomma yang kini membuka pintu kamar cepat dan mendapati Hyemi sudah berdiri dengan gaya yang tidak seperti biasanya. Oleng.

Hyemi menoleh pada eomma-nya cepat.

“Kau baik saja?” Hyemi-eomma menaikan alisnya. “Cepat mandi. Eomma tunggu di bawah untuk sarapan.” katanya lalu menutup pintu kamar anaknya lagi.

“Um!” sahut Hyemi cepat. Dia tidak mau terlihat aneh pada hari ini. Dia harus semangat dan harus bisa. Ini final examp. Dia harus mendapatkan nilai A itu.

Hyemi pun akhirnya berjalan dengan gontai dan berusaha tidak memikirkan rasa kurang enak badannya. Dia mandi seperti biasa dengan riang, bercermin dan bersolek ria dengan riang pula, dan keluar kamar pun dengan riang. Menurutnya menyikapi semua hal dengan riang itu akan membuat hari akan penuh semangat.

Hyemi turun ke bawah untuk sarapan. Walaupun dia sendiri tahu dirinya kurang merasa enak badan, tapi dia harus menyelesaikan semuanya sampai tuntas dan menyampingkan sifat khawatirnya terhadap suatu rasa itu.

Hyemi menelan roti yang dirasanya tidak tertelan sempurna seperti yang biasa dia makan. Dia merasa makanan yang masuk ke perutnya benar-benar membuat efek mual. Tapi, lagi-lagi, karena tidak mau berpikir terlalu manja akan perasaan itu pun dia makan dengan biasa.

“Hyemi, apa kau sakit?” tanya Hyemi-eomma. Mungkin eomma-nya aneh melihat Hyemi tidak melahap sarapannya seperti biasa. Yah, biasanya Hyemi melahap makanan tanpa ampun.

“Ah, paling-paling noona diet. Lihatkan eomma, pacarnya selalu digandrungi gadis cantik.”

Hyemi menoleh ketika Joongki lagi-lagi berbicara asal. Malas menanggapi, Hyemi pun berakhir hanya mendengus pada adiknya.

“Joongki, tidak ada yang salah dengan Minho. Kau hanya iri.” timpal Hyemi-eomma.

“Untuk apa aku iri? Minho-hyung tidak ada apa-apanya.”

Yaa yaa.. Pagi-pagi kalian meributkan pria lagi. Hyemi-eomma juga. Jangan terus-terusan membicarakan artis itu.” sambar Hyemi-appa.

“Tuh kan, aku tahu appa akan setuju denganku.” tambah Joongki.

Hyemi diam saja. Tidak biasanya dia tidak menyela atau menangkis semua ucapan ayah dan Joongki yang kontra terhadap Minho. Dia hanya diam sambil melahap dengan tidak bersemangat rotinya.

Aku sungguh tidak peduli, batin Hyemi.

***

“Aku berangkat…” sahut Hyemi lemas saat keluar rumah.

Pagi yang cerah sudah di depan mata, tapi dia berjalan dengan tidak bersemangat. Sekarang dia menyadari sepenuhnya kalau dirinya sedang sakit. Yap, sakit. Badan panas, kepala pusing, tenggorokan sakit. Hm, sudah pasti dia sekarang kurang enak badan. Atau sebentar lagi akan terkena flu.

“Hyemi-ya!” panggil sebuah suara di pertigaan jalan. Suara itu dia kenal. Itu suara Minho. Segera mungkin Hyemi menoleh ke samping. Dia melihat pria itu sedang duduk di motornya sambil menatap riang padanya. “Kau siap?” sahut suara yang sama yang membuat Hyemi yakin itu pacarnya.

“Minho? Sedang apa kau di sini?!”

Yah, begitulah Hyemi. Dia benar-benar selalu shock ketika Minho menunjukan sebuah perhatian padanya. Minho memang sengaja hari ini berada di sana karena ingin pergi bersama ke kampus dengan Hyemi. Dia hanya ingin memberi sedikit dukungan sebelum Hyemi memulai ujiannya.

“Kemari! Aku tidak mau kau terlambat!” kata Minho yang diikuti oleh Hyemi yang berjalan menghampirinya.

“Kau sengaja  menjemputku? Kita kan ujian terpisah!”

“Iya iya cerewet! Cepat naik!” kata Minho menarik tangan Hyemi. Dan karena itu pula Minho kini terdiam lalu mengawasi wajah Hyemi. “Kau, badanmu panas.”

“Ayo kita berangkat saja.” Hyemi tidak menanggapi ucapan Minho. Dia langsung naik di belakang Minho. Dia pun merasa salah. Salah karena tiba-tiba tubuhnya harus seperti ini di saat dia harus menghadapi hari yang menentukan masa depannya.

“Hyemi kau sakit? Kenapa kau jadi seperti ini. Jawab, eh?”

“Minho jangan bawel, nanti kita terlambat.” kata Hyemi sudah malas bicara. Dia pun menyenderkan tubuhnya pada Minho.

Hyemi melingkarkan tangannya ke tubuh Minho. Dia memeluknya, dan karena itu Minho memegang kedua tangannya mantap. Dia tahu pasti ada yang salah dengan gadis itu. Tangannya benar-benar panas. Dan punggung Minho pun merasa demikian karena permukaan wajah Hyemi yang panas tengah menempel di sana.

“Baiklah. Kita pasti bisa, Hyemi!!” kata Minho menyemangati lalu melajukan motornya cepat.

***

Selembar kertas jawaban dan soal kini sudah ada di hadapan Hyemi. Hyemi tidak bisa menatapnya dengan jelas, sedang tangannya menahan kepalanya yang kini merasa pusing. Badannya berkeringat, bahkan dia masih sempat-sempatnya memaksakan diri untuk terus mengisi kolom identitas.

Ish, ada-ada lagi di saat aku ingin berjuang. Hyemi-ya, ini bukan apa-apa, katanya dalam hati sambil terus menahan kepalanya yang sudah pusing ingin minta ditidurkan.

Kolom nama sudah dia lingkari. Tanggal, dan semua identitas yang harus dia isi pun sudah selesai. Dia mengelap keringatnya dan kemudian menggelengkan kepalanya ketika ingin mulai membaca soal pertama. Hyemi tersenyum. Soal yang dia hadapi sekarang benar-benar soal yang biasa dia pelajari saat belajar bersama Minho. Ini benar-benar seperti mengulang suatu soal dengan sedikit pertanyaan yang berbeda. Hyemi begitu senang. Dia menjawab 10 nomor pertama dengan bersemangat, tapi baru saja dia ingin menjawab soal selanjutnya, kepalanya benar-benar tidak bisa dikompromi lagi. Dia tiba-tiba saja ambruk di tempat dan pingsan. Kesadarannya hilang sesaat.

***

“Hyemi gwenchana?” Krystal teman dekat Hyemi terus-terusan menjaga Hyemi. Saat tadi Hyemi pingsan, memang dia yang panik di kelas. Dia membawa Hyemi ke klinik kampus dan meninggalkan ujiannya untuk sesaat, dan kembali lagi pada Hyemi untuk melihat keadaannya.

“Hyemi gwenchana? Kenapa kau belum sadar juga?” Krystal berusaha membangunkan Hyemi, namun nihil. Gadis itu masih saja tidak terbangun.

“ER! Haruskah aku menelepon kedua orang tuamu?” Bahkan, ancaman barusan tidak membuat Hyemi bangun.

KLEK!

Suara sebuah pintu di mana Hyemi dan Krystal berada terbuka, membuat Krystal menoleh cepat pada sumber suara tersebut.

“Apa dia sudah sadar?” Rupanya yang masuk ke dalam ruangan itu adalah Minho, kekasih Hyemi. Dia tadi terlalu to the point. Wajahnya jauh dari kata tenang. Dia terlihat sangat cemas.

Krystal menggeleng cepat. “Tidak. Dari tadi belum juga sadar. Aneh.”

Minho berjalan menghampiri Hyemi. Dia mendekat ke ranjang di mana Hyemi terbaring. Minho menatapnya, merasa iba juga iya. Hyemi terlalu memaksakan diri. Dia tahu akan berakibat seperti ini. Tidak lama dari itu, tiba-tiba saja sesuatu yang basah terlihat di sudut mata Hyemi. Sebuah tangisan. Minho membulatkan matanya, sedang di lain kepalanya meyakini begitu saja kalau Hyemi tadi baru saja menangis. Seperti mengetahui kondisi Hyemi yang tidak bangun-bangun dari tadi, dia kini mendelik pada Krystal yang sedang duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.

“Krystal-ssi, bisa tinggalkan kami berdua?”

“Eh?”

Please..”

Yaa! Minho! Kau masih saja ingin mencari kesempatan di saat Hyemi pingsan. Dasar pria. Huh!” kata Krystal cuek lalu pergi ke luar. Dia pikir Minho ingin berbuat mesum.

Saat Krystal sudah tidak berada di tempat kini Minho dan Hyemi berada, Minho memegang puncak kepala Hyemi dan mengelusnya.

“Hyemi-ya! Kau menangis? Kenapa lagi, huh?”

Hyemi akhirnya membuka matanya dan menatap Minho tajam.

“Kenapa? Menyesal lagi? Ingin marah-marah lagi?”

Mata Hyemi tetap saja menatap tajam pada Minho.

“Apa? Kau terlalu keras kepala. Sudah kubilang jangan memaksakan diri. Kau boleh belajar keras, tapi bukan berarti tanpa istirahat. Belajar pun butuh energi. Kau harus makan, olahraga seperti biasa, dan butuh hiburan juga. Jangan melupakan itu, Hyemi.”

Air muka Hyemi berubah saat Minho mengomelinya.

“Iya, kau sekarang sakit ‘kan?”

“Minho-ya..” Hyemi tidak bisa mengucap apa-apa lagi saat Minho mulai mengomel padanya. Dia akhirnya menangis keras di ruangan itu. Dia bangun lalu memeluk Minho erat dan menumpahkan tangisnya di sana. “Aku pasti gagal lagi. Aku pasti dapat lebih parah dari yang kemarin. Aku pasti gagal dan mengulang. Apa yang harus kulakukan. Aku bisa mengerjakan soalnya, tapi aku pusing dan tidak ingat apa-apa lagi. Aku harus apa, Minho?” katanya sambil terus menangis pada Minho. Minho masih diam mendengar keluh kesal kekasihnya.

“Hyemi, jangan seperti itu lagi. Kalau kubilang istirahat berarti kau butuh istirahat.”

“Aku benar-benar tidak ingin istirahat kemarin. Mana aku tahu akan sakit begini. Aku pasti dapat E!”

“Jangan mengatakan sesuatu yang belum pasti.”

Hyemi melepas pelukannya. “Aku hanya mengerjakan 10 nomor! Hanya orang bodoh yang mau menebak aku akan dapat C apalagi A. Tidak mungkin! Aku tamat. Tamat, Minho! Aku pasti dimarahi orang tuaku kalau harus mengulang mata kuliah!”

“Mengulang tidak selalu buruk.”

“Buruk! Jelas itu buruk! Aku tidak bisa tidur setiap malam karena memikirkan ini. Dan kini aku menangis karena aku tidak tahan bagaimana rasanya jadi orang yang tertinggal. Kau tidak tahu kenapa aku begitu keras ingin dapat A. UTS kemarin aku mendapat D, Minho. BIG D!!!!”

Ara..”

Hyemi mendelik padanya. Setahu Hyemi, dia tidak pernah cerita perkara nilainya yang mendapat nilai D itu.

Minho menarik Hyemi kepelukannya. “Aku tahu rasanya. Tidak bisa tidur karena kalah, aku pernah mengalami itu. Tapi, kau jangan berlarut untuk merutuki diri sendiri. Aku tidak suka kau mengatakan E dan End! Tidak berakhir Hyemi. Masih ada beberapa tahun ke depan untuk lulus. Kau bisa mengulang di tingkat 2.”

“Mengulang di tingkat dua? Lalu ditertawakan junior? Huh, tidak mau!! SIREO!!”

“Tidak ada yang salah dengan mengulang. Dalam dunia kampus, itu hal yang biasa, Hyemi.”

“AKU TIDAK MAU MEREKA MENERTAWAKANKU!!”

“ER! Kau jangan seperti ini. Mengulang bukan hal yang buruk. Itu artinya kau diberi kesempatan untuk membuat nilaimu lebih baik.”

Hyemi mendongak pada Minho dan menatapnya. Dia kemudian melepaskan pelukan Minho. “Tetap saja namanya megulang!! Mengulang satu mata kuliah, Minhoooooo!!! Jelas saja itu buruk. Kau tahu aku pasti kepikiran. Kau tahu aku benci kalah!” semprot Hyemi akhirnya bicara seperti memarahi Minho. Minho terdiam.

“Mengulang bukan akhir dari semuanya. Kau hanya kurang bekerja keras saat ujian. Itu saja.”

“Aku bekerja keras, tapi aku sakit.”

“Yah, sakit mendadak saat menghadapi ujian. Dan sekarang kau sehat, sehat karena bisa mengomel balik padaku.”

YAA!!”

“Jangan berteriak padaku, Lee Hyemi! Sudah kukatakan aku tidak suka. Sekarang terserah. Kau pikir saja sendiri. Kau ingin mengulang atau tertinggal selamanya!”

JLEB!!!

Minho bangkit dari duduk di sisi ranjang Hyemi. Dia jadi begitu kesal ketika menasehati kekasihnya. Hingga akhirnya dia keluar dari ruangan tersebut dengan langkah gusar. Dia benar-benar marah pada Hyemi. Hyemi pun tahu dia begitu egois. Tapi dia juga tidak suka di saat seperti ini Minho malah meninggalkannya. Akhirnya dia pun turun dari sana dan dengan cepat mengejar Minho keluar dari klinik kampus. Kesal, karena Minho seharusnya menenangkannya.

“JANGAN MARAH PADAKU, MINHO!” teriak Hyemi yang mengundang beberapa pasang mata melihat ke arahnya. Semua mahasiswa di koridor menjadikan Hyemi yang beberapa meter di belakang Minho sebuah perhatian.

Minho yang berjalan jadi tertahan langkahnya. Dia berhenti masih tidak membalikan tubuhnya. Dia pun sadar kini mereka jadi tontonan. Yeah, tontonan gratis karena HOMI telah bertengkar hari ini.

“AKU HANYA BENCI KALAH!!” teriak Hyemi. Minho memutar dirinya dan melihat Hyemi berdiri di sebrangnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kini dia tahu Hyemi sudah terisak. Terlalu mencolok, pikirnya.

Minho mendesah pelan dan berjalan mendekati kekasihnya. Dia membuka blazer dan menutupi wajah Hyemi lalu dirangkul dan diajaknya berjalan, membuat semua mahasiswa perempuan di sana menjerit gemetaran. Envy sampai mau mati.

“Aku juga. Aku benci kalah. Aku tahu rasanya. Tapi, tidak baik seperti itu. Optimis berlebihan juga tidak baik.”

Hyemi mendelik pada Minho yang wajahnya dekat dengannya. Dia masih terisak mendengar ucapan Minho.

“Kau sudah mengerti?”

Hyemi mengangguk dan mendekatkan diri pada Minho, membuat mereka benar-benar jadi tontonan. Flames tidak akan bubar karena ini. Justru makin bertambah jumlahnya karena melihat aksi duo manusia aneh ini.

Mian, Minho.”

“Iya.. aegy.”

***

Satu tahun kemudian!

“Yap, semangat. Aku pasti bisa!” kata Hyemi sambil memperhatikan dosen yang mengajar di depannya. Dia begitu bersemangat walau beberapa pandangan seperti meremehkan datang dari beberapa mahasiswa—tepatnya adik kelas. Yeah, karena mengulang, Hyemi memang harus mengontrak ulang sama seperti junior.

“Aku pasti lulus kali ini. Aku akan belajar dengan giat. Apalagi selalu ada seseorang yang mendukungku. Iya kan, Minho?” Hyemi menoleh pada pria yang ada di sebelahnya.

Minho?

Yah, Minho memang sedang duduk di sebelah Hyemi. Dia pun memperhatikan dosennya dengan baik. Buku yang diletakannya di meja pun sama. Sama dengan mahasiswa lain yang mengontrak mata kuliah Bahasa Inggris di jam yang sama. Mata dari mahasiswa lain itu pun tertuju pada Minho juga.

Minho mendesah pelan. “Maksudku bukan seperti ini, Hyemi. Kalau kau mengulang, ya mengulang saja. Tidak usah membawaku untuk mengontrak mata kuliah yang sama denganmu. Lagi pula aku tidak perlu mengulang. Aku sudah dapat nilai B.”

“Tidak, Minho. Kau bilang kau akan mendukungku. Jadi kau harus ada di sini bersamaku. Lagi pula, nilaimu B bukan A. Masih ingat kau menargetkan A untuk Bahasa Inggris?”

Minho mendesah pelan lagi. “Hyemi-yaaa..” Rasanya ingin sekali Minho menggigit Hyemi kekasihnya. Dia jadi benar-benar malu karena harus mengulang di saat nilainya sudah baik.

“Tidak perlu malu, Minho. Justru semua orang melihat keseriusan kita karena ingin medapat nilai A. Sudah  yah.. Lagi pula aku baru ingat, Bahasa Inggris mata kuliah umum. Jadi, ya.. sungguh kesempatan bisa belajar terus bersamamu…”

“Lee Hyemi…” Minho benar-benar menggeretakan giginya karena Hyemi. “Kau benar-benar membuatku—“

“—CHOI MINHO!! LEE HYEMI!! Mister lihat kalian dari tadi mengobrol. Kalau kalian ingin berpacaran lebih baik…”

Sorry, Mister. Kita tidak akan mengulanginya lagi. Hanya ada kesalahan teknis. Kita lanjut lagi yah belajarnya??” potong Hyemi membuat semua melihat ke arahnya.

Hyemi memang Hyemi. Tidak di mana-mana dia memang berlaku aneh. Dia memang harus mengulang, tapi bukan berarti mengajak Minho mengulang juga. Semua anak di kelas barunya kini benar-benar menyadari kekonyolan HOMI. Tidak menyangka kalau mereka akan sekompak itu.

D dan E memang dikenal dengan nilai yang buruk. Dan, harus mengulang. Tapi, mengulang bukanlah suatu akhir dari perjuangan. Jangan mengutuk orang lain karena nilai kita. Cobalah kita mengoreksi diri. Apa yang salah dari kita? Kurang berusaha? Atau terlalu keras berusaha hingga lupa. Well semuanya harus dilakukan sesuai porsinya, itulah belajar yang baik. Kita tidak boleh terlalu berlebihan ketika belajar. Bermain, olahraga, dan makan makanan yang sehat sangat diperlukan dalam belajar. Jangan sampai kita melupakan itu.

mamotho’s note:

– Belajar susah payah, judul itu membawa aku menulis untuk Series HOMI. Ada beberapa hal yang bisa dipetik ketimbang rusuh/beloonnya Hyemi. semoga yang ini ada manfaatnya buat MIWU dalam belajar dan ingin menggapai sesuatu. Hehehe.. tumben yak bawain ginian? Maap-maap yeh, ini aku bikin waktu pas hari pendidikan. Hohoho.. Semoga suka \(^0^)/

Advertisements

About mamotho

Special Girl. Always loved her self, and know what makes she herself happy. Fangirlling is also her spirit (ʃƪ˘ﻬ˘) SHINee is her oxygen too!

Posted on 19 May 2012, in CHRONICLES, HOMI couple, SHINee FF, TWOSHOT and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 107 Comments.

  1. Keren. Abiss 😀 sumpah hyemi bikin geregetan 😡 tApi ngemesin wkwkwk

  2. Bermanfaat bgt eon, aku juga sama..belajar sampai larut malam yah jadinya pas ujian ngantuk dn gk konsen
    Aku suka homi yg ini memberi pesan yg sgt berguna
    Yg dipart sebelumnya aku juga suka..ckckckck semuanya lucu
    ^^

  3. ini bener nih! aku juga baru selesai uan eon, dan grgr belajar sampai larut (dan pengaruh stress juga) jadinya sakit pas ujian, untung sakitnya ga separah hyemi *sakit kok msh dibilang untung?*:roll:
    well, kalo aku jadi junior mrk malah seneng! ihhhh si mino bo! kapan lg coba bisa ketemu sm minoooo :mrgreen:

  4. eonni, kalo series yg homi kepergok ciuman trs disorot media itu mana ya? kok aku ga nemu? judulnya apa eon? kepooo and i do like this couple ^^

  5. wakakakakak.. kasihan bgd minho d suruh ngulang jg..
    enak y punya pacar kaya minho.. hehe

  6. Kasian sama minho, harus ngulang padahal udah bagus… Hyemi.. Hyemi.. Ckck

  7. hahaha… poor minho disuruh ngulang. untung dia cinta mati sama hyemi jadi oke2 aja hahaha

  8. Jadi teringat waktu mengulang dulu -_- jd seperti alien kalau sendiri akhrnya kalo mau ngulang ngajak temen biar gak jd makhluk asing sendiri *eh curcol…

KOMEN YO ( ˘ з˘ )/

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: