Marry Comes Love Appears (love 8)

Marry Comes Love Appears (love 8)

Author : mamoTHo
Title: Marry Comes Love Appears
Main cast : Choi Minho, Jung Hyeyo
Support cast : SHINee member, Kim Soohyun
Rate : PG-13
Genre : Romance –marriage life- fluff
Lenght : Sequel
Ket : MINHO POV!!

Author Ngoceh(AN) : Hollaaaa!! Selamat datang kembali. Baiklah, siapkan waktu kalian untuk membaca part ini ya, karena di sini aku menjelaskan perasaan Minho dari awal sampai part kemaren yang terakhir—dengan alur cepat, dan aku rasa cukup panjang. Aku buat ini karena dari awal sudah ada yang curious dengan apa yang dirasa Minho. Mungkin part ini menjelaskan beberapa bagian yang tidak ada di part-part sebelumnya. Dan aku rasa selama membuat ini, Minho sangat manis. #eaa kambuh! Hoho! Semoga menikmati ya semuanya.

This Story©mamoTHo

~MARRY COMES LOVES APPEARS~

~MINHO POV~

Hari ini aku pulang ke Incheon karena kedua orang tuaku mendadak menyuruhku pulang. Aku juga heran, tidak biasanya mereka menyuruhku pulang dengan tergesa-gesa. Apalagi Minseok kakakku juga selalu memperingati aku agar pulang di hari itu. Entah sesuatu akan terjadi atau apa, aku pun merasa harus menurut dan pulang.

“Mwo? Menikah?”

“Iya, kau harus menikah dengan gadis pilihan kami.”

“Kenapa begitu cepat, eomma? Kalaupun ini perjodohan, kami harus saling bertemu dulu bukan?”

“Tidak perlu. Eomma rasa kau akan setuju.”

“Bagaimana aku bisa setuju, melihatnya saja belum pernah. Aku harus mengenal dia dulu.”

“Dia seorang perempuan dewasa. 2 tahun di atasmu usianya, pekerja keras, cantik, dan yang paling kau suka Minhoooo, dia sangat menyukai bocah semacammu.” sambar Minseok-hyung di tengah perdebatan.

“Hyung!” bentakku. Aku sangat gusar melihat kakakku. Sejak kepulanganku hari ini, sedari tadi dia dengan santainya memakan mie ramen terlezat tanpa memikirkan peningnya kepalaku. Dia saja belum menikah, kenapa harus aku. Ini tidak adil.

“Minho, aku jamin kau akan suka. Dia itu…”

“Minseok-ah, jangan goda adikmu.” akhirnya eomma mengomelinya. Bagus eomma, seharusnya kau biarkan dia yang menikah dulu, karena dia sudah memiliki calon—mungkin banyak—dibanding aku yang memiliki satu calonpun tidak.

“Eomma, aku hanya bahagia. Biarkan aku menggoda adikku yang terkadang bodoh itu.”

“Minseok!” ada nada kesal saat eomma menyebut nama Minseok. Sudah pasti, aku pun juga kesal mendengar Minseok mengoceh seakan-akan dia terbebas dari kesialan semacam perjodohan.

“Eomma, benarkah yang dikatakan Minseok-hyung?” tanyaku sudah bosan, karena sesungguhnya eomma dan Minseok malah jadi bertengkar.

Eomma beralih menatapku. “Eomma dan appa sudah gerah kau selalu membahas ketertarikanmu di layar kaca pada seorang gadis yang lebih dewasa darimu. Eunso, Yuri, Dara, siapa lagi coba? Jadi kami berpikir kenapa tidak menikahkanmu saja. Toh, Minseok pun setuju.”

“Tapi.. K-karir?”

“Apa yang kau takuti? Apa karir akan begitu menyeramkan jika mereka tahu kau menikah?”

“Eomma…”

“Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik. Keluarga kami sangat dekat. Kebetulan, mereka juga memang menginginkan anaknya menikah cepat karena dia sama sepertimu, terlalu memikirkan karirnya.”

“Tenang saja Minho, kau akan menyukainya. Dia benar-benar tipemu!” Minseok-hyung menepuk bahuku, sedang aku semakin mendesah pelan. Aku benar-benar mati kutu kalau sudah begini. Seorang noona dan tipeku? Kalau memang benar, itu bagus, tapi kalau rupanya ternyata gadis itu jauh dari yang kubayangkan, entahlah aku harus bilang apa pada kedua orang tuaku. Sebuah perjodohan di telingaku terdengar konyol.

~~♥♥♥~~

100 persen tepat. Keluargaku memang benar-benar mengenal diriku. Aku benar-benar dijodohkan dengan seseorang yang hampir sempurna. Menurutku, seorang gadis bernama Jung Hyeyo sebelum mengganti marganya ketika dia akan menikah denganku nanti, itu jauh dari yang kubayangkan. Dia terlalu menarik. Hampir membuatku mematung saat melihat untuk pertama kalinya.

Kini aku sedang menguntitnya disela-sela bolong jadwal latihan. Aku tidak mau ada kejutan di altar. Aku ingin melihatnya pertama. Apa jadinya kalau nanti aku mematung seperti sekarang sama seperti dia—yang mungkin terkejut juga—di altar nanti. Huh, jadinya kuputuskan untuk mengetahui identitasnya terlebih dahulu.

Seorang gadis dengan rambut terurai bergelombang sebahu kini sedang duduk di luar cafe sambil tidak melepaskan pandangannya pada layar yang ada di depannya. Kulitnya bersinar, dengan dibaluti dress mini, kira-kira satu jengkal di atas lutut, membuat aku memiliki pikiran dia memang gadis yang feminin. Wajahnya mungil, begitupun tubuhnya. Dan tatapan saat melihat layar netbook di depannya, memperlihatkan kecantikan di matanya. Damn! Dia punya gaze yang begitu cantik.

Aku berpura-pura menjadi pelanggan di cafe tersebut dan duduk beberapa meter di depannya. Dia tidak sadar aku memperhatikannya. Terlalu serius, mungkin itu kata yang tepat. Dia memang pekerja keras. Bahkan saat jam istirahatnya dia makan sambil menulis. Kudengar dia memang seorang penulis.

Apa dia benar-benar dijodohkan untukku? Apa dia juga menerima begitu saja perjodohan ini? Bagus kalau memang begitu. Karena setelah mengamatinya, aku menerimanya dengan sepenuh hati juga. Aku rasa perjodohan ini akan jadi menarik.

~~♥♥♥~~

Setelah pernikahan kami hari ini, setelah aksiku menciumnya barusan tanpa ragu di altar, kini kami berdua terdampar di rumah kami. Rumah masa depan kami. Aku rasa dia tidak buruk. Tidak banyak protes juga. Kami sempat terdiam lama di mobil tidak saling menyapa. Aku gugup. Ya, memang gugup. Siapa yang tidak gugup saat ingin memulai hidup baru, terutama dengan gadis yang belum pernah aku ajak bicara yang sama sepertiku hanya terdiam.

“Hyeyo. Aku Jung Hyeyo, 22 tahun, dan aku seorang penulis.” katanya memperkenalkan diri. Aku ingin tertawa sekarang, berpikir sudah mengetahui identitasnya duluan. Aku memang licik, huh?

Sekarang bagaimana reaksinya jika mengetahui siapa diriku. “Minho. Aku Choi Minho, 20 tahun, dan aku seorang entertainer. Apa kau pernah dengar SHINee?”

Kulihat dia membulatkan matanya. Dia langsung pergi begitu saja dari meja makan ini. Apa dia marah? Kenapa? Apa dia benar-benar baru tahu namaku saat ini juga. Aku kira topik ini hanya basa-basi saja.

~~♥♥♥~~

Ternyata benar dugaanku. Dia sebenarnya memang benar-benar baru mengetahui siapa orang yang dinikahinya. Benar-benar perjodohan sesungguhnya untuknya. Keluarganya benar-benar hebat tidak membocorkan identitasku sama sekali.

“K-kau, aku tidak suka di panggil noona!! Apalagi yang memanggilku seperti itu adalah kau, nampyeon-ku sendiri.”

Sekarang sifat aslinya keluar. Ternyata dia lebih galak dari yang kubayangkan. Baiklah, sedikit tantangan di rumah ini. Karena rupanya dia benar-benar terkejut mengetahui kalau aku ini 2 tahun di bawah umurnya. Dia terlihat tidak terima dengan pernikahan ini sekarang. Apa salahnya menikah dengan namja yang usianya lebih muda? Aku juga seorang pria bukan?

Akhirnya kami memutuskan untuk tidak memanggilnya dengan noona, walau itu jadi sulit untukku. Aku harus memanggilnya Hyeyo. Padahal aku sangat suka memanggilnya noona. Terdengar seksi saja di telingaku. Tapi karena dia tidak suka, kuurungkan niatku walau aku sering berujung tetap memanggilnya noona dalam kondisi tertentu.

~~♥♥♥~~

Kami terdampar di ruang TV dan entah kenapa aku malah menyanyikan sebuah lagu ‘Hello’ yang pada kenyataannya tidak pernah dia dengar. Oh gosh, ke mana saja gadis ini saat hidup di dunia. Masa dia benar-benar tidak tahu SHINee?

“Apa kau mulai menyukaiku?” Wajahnya memerah saat aku tersenyum padanya. Eish, apa dia sudah menyukaiku? Dia benar-benar terlihat salah tingkah hingga aku berakhir dengan menciumnya lagi.

Jantungku? Sudah tidak usah ditanya lagi. Aku memang berdebar saat ini. Sangat berdebar hingga tidak tahu harus melakukan apa selain menciumnya. Inilah yang paling membuatku berdebar, dia tidak pernah meronta sekalipun saat kucium. Dia membiarkanku menyapu bibirnya yang lembut. Dan aku, tentu saja sengaja melakukan ini semua agar cepat menyukainya.

Skin ship! Biasanya akan lebih cepat kata Jonghyun-hyung dan Kibum.

“T-tentu saja aku tidak menolak. K-Kau kan nampyeon-ku.” kata-kata itu hampir membuat jantungku benar-benar melompat. Benar dugaanku, dia tidak membenci pernikahan ini.

~~♥♥♥~~

Kehidupan kami normal seperti pasangan lainnya. Kami sering berkomunikasi dengan baik. Kurasa memang pendekatan adalah cara yang paling baik saat ini. Tidak lain, dia mulai masuk ke kehidupanku dan mengenal teman-temanku dengan baik pula. Jonghyun, Key, Onew dan Taemin. Yeah, bahkan mereka sering kali khilaf memperlakukan istriku sendiri. Mereka selalu menaikan emosiku ketika dengan seenaknya memeluk seseorang yang belum pasti mau menerima pelukanku dengan sukarela. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, terkadang mereka lupa untuk membicarakan hal ‘itu’ di depan Hyeyo.

Yeah, Jonghyun-hyung dan Kibum sering mengolokku perkara melakukan ‘itu’ atau belum. Aku memang selalu menceritakan semuanya pada mereka. Tidak salah kalau Hyeyo memanggilku dengan sebutan bayi besar. Karena memang itulah aku. Sosok dia yang dewasa, hanya bisa memanjakanku terus-terusan seperti seorang bocah. Aku akan berakhir menjadi bocah terus kalau dia seperti ini. Benar kata Minseok-hyung, Hyeyo itu menyukai namja sepertiku. Dia bilang saja kalau dia hanya tertarik pada namja dewasa, dia bohong, kalau dia tidak suka bocah kekanak-kanakan sepertiku, kenapa dia selalu salah tingkah saat aku menggodanya.

“Minho, kenapa kau menatap handphone-mu terus-terusan. Sudah kubilang sabar.” ujar Jonghyun sambil melempar bantal ke arahku. Aku jadi mendelik padanya.

“Iya sih! Coba deh kamu pikir. Di moment apa kau merasa noona itu suka padamu?” sekarang Key pun ikut mengolokku.

Aku terdiam memikirkannya. Benar juga. Kami baru hanya menikah seminggu dan aku terlalu percaya diri untuk menduga kalau gadis itu menerima pernikahan ini dengan pasrah. Jadi, apa diam adalah cara yang tepat untuk mengetahui Hyeyo memikirkanku atau tidak?

“Kita lihat reaksinya saat kau pulang nanti. Kalau dia terlihat biasa saja saat kau pulang, itu artinya selama ini kau salah cerita pada kami kalau Hyeyo-noona itu suka padamu.” Sungut Key. Yeah, aku dan para member saat ini memang sedang di Jepang untuk mempersiapkan beberapa hal mengenai debut nanti.

“Pikir baik-baik, Minho! Jangan terlalu percaya—”

“—Jjong-Key, kenapa kalian sangat suka mengusik orang?” sambar Onew-hyung yang duduk di sampingku.

Aku masih duduk termenung di tempat tidur lemas. Yeah lemas, karena harus membohongi Hyeyo untuk tidak mengabarinya, meski aku sudah berjanji padanya. 2 minggu untuk  diam bukan waktu yang mudah setelah aku setiap harinya merasa Hyeyo selalu ada di sampingku, walaupun dia hanya duduk dan menatap layar netbooknya.

“Apa hyung tidak merasa perjodohan itu sedikit omong kosong.” celetuk Key pada Onew-hyung. Aku menatapnya. “Iya, Minho. Apa kau tidak pernah terpikir dia memang single saat menerima perjodohannya. Mungkin dia punya seseorang yang tidak kau ketahui.”

“Uuuuu… Omongmu terlalu crucial, Kim Key!” Jonghyun tertawa dan sedetik kemudian dia mendelik padaku. “Tapi benar juga loh, Minho!”

ER!! Sekarang mereka mulai mendoktrinku dengan yang aneh-aneh.

~~♥♥♥~~

Aku rasa Hyeyo tidak seperti yang Key dan Jonghyun pikirkan. Itu terbukti saat aku pulang ke rumah dan dia terlihat sangat senang. Dia memang mengomel padaku, tapi aku yakin yang itu adalah salah satu hal yang membuatnya gusar selama aku tidak ada dan menghilang tanpa kabar.

Sekarang aku sedang mengantar Hyeyo pergi. Aku sengaja memaksa, padahal tidak biasanya aku seperti ini. Aku menoleh ke sebelahku sebentar melirik dirinya yang duduk di sampingku. Lihatlah, sudah berapa lama aku tidak melihatnya, aku terlalu mudah untuk menyukainya. Dia membuat semuanya jadi mudah.

“Kau aneh, Minho.” katanya. Aku diam tidak mau menanggapinya. Cukup untuk hari ini dia menyebutku aneh. Entah berapa kali saat kedatanganku. Mungkin aku aneh, tapi dia yang membuatku aneh.

Aku melirik ke arahnya lagi, aku tahu harus fokus menyetir, tapi lihatlah Hyeyo, dia selalu terlalu fokus pada pekerjaannya. Sampai kapan dia akan menatap naskahnya di dalam mobil? Kenapa dia tidak pernah mau mulai mencari topik untuk berbicara denganku. Aku juga manusia dan pria, butuh diajak berbicara duluan.

“Kenapa melihatku terus-terusan? Fokus menyetir. Aku tidak mau mati karenamu.”

“Aku tidak akan fokus menyetir kalau hanya diam.”

“Dasar aneh. Setahuku Minho terkenal sangat pendiam.”

“Yah, memang, aku lebih suka menjadi pendengar dari pada banyak berbicara.” kataku. Setidaknya, ini jadi bisa membuat kami mengobrol. “Ceritakan apa yang ada di naskahmu. Aku akan mendengarkan dengan baik. Selama ini aku tidak tahu apa yang kau tulis.”

Hyeyo meletakan naskahnya dan mulai melihat ke arahku. “Kau tidak akan tertarik, Minho. Aku sedang mengangkat masalah perempuan. Ini terlalu intim! Lagi pula, cukup memalukan jika pria mengetahuinya.”

“Ceritakan saja.”

Setelah didesak sedemikian rupa, akhirnya Hyeyo bercerita padaku. Walau aku tidak begitu mengerti apa yang diceritakan, setidaknya itu membuat dia jadi lunak dan nyaman lagi berbicara denganku.

~~♥♥♥~~

“Kau cepat pulang ya. Terimakasih sudah mengantarku.” katanya dan kemudian pergi berjalan sendirian. Aku dibiarkan mengantar sampai depan kantornya pun tidak boleh. Dia aneh.

Berpikir mengenai apa saja yang Jonghyun dan Key bicarakan, aku jadi sedikit ingin mengetahui beberapa hal mengenai Hyeyo—yeah walau sebelumnya aku berpikir tidak perlu mengetahui apa-apa dari masa lalunya. Well, aku hanya ingin tahu apa yang dia lakukan sekarang dengan pergi ke kantor penerbit dan bergaul dengan siapa saja. Itu saja.

“Itu dia istriku!” Aku melihat dia masuk ke gedung penerbit. Akan kutunggu di cafe kantornya sampai dia pulang. Yeah, lagi-lagi aku berubah menjadi seorang penguntit, sama seperti yang kulakukan saat ingin melihat wajah calon istriku dulu.

Beberapa jam kemudian kulihat Hyeyo ke luar bersama seorang pria. Pria? Entah kenapa aku sangat terkejut melihatnya. Aku belum pernah mendapati dia berjalan dengan pria manapun. Tapi kini, lihat senyumnya, dia benar-benar terlihat bahagia setelah ke luar dari tempat itu.

Huh, rupanya seorang gadis yang kukenal seperti ini. Keganjenan.

Kuikuti Hyeyo berjalan diam-diam, dan dia masih tidak sadar kalau saat ini ada pria tampan dengan sengaja menguntitnya. Kini Hyeyo berujung pergi ke swalayan. Aku begitu menikmati pekerjaan sebagai penguntit istriku seharian. Melihat dia berbelanja seperti ini, mengingatkan aku saat berbelanja dengan eomma semasa kecil. Hyeyo benar-benar terlihat seperti wanita dewasa. Dia benar-benar seksi menurutku. Bukan tubuhnya, tapi caranya bertindak. Hanya dengan membayangkan dia akan memasak, meletakan piring di depanku, membuat susu untuk kuminum di pagi hari, merapihkan tempat tidur dan barang-barang yang kuberantaki, membuat imajenasiku selalu liar ingin mendekapnya dari belakang. Aku ingin menghentikannya, dan ingin membuatnya melihat padaku seorang. Tapi pada kenyataannya, dia selalu mengomel padaku setiap aku ingin dekat. Sama seperti sekarang. Saat aku mengagetkannya dan menyebutnya keganjenan, dia malah marah dan menuduhku menguntit masa lalunya. Dan kami malah jadi bertengkar di swalayan ini.

“HOAAAA~~ Choi Minho!”  riuh begitu hebat terdengar saat aku mencium  Hyeyo di swalayan. Huh, rasakan. Siapa suruh mengabaikan ucapan seorang bocah. Aku hanya kesal dia tidak menanggapi ucapanku dengan serius. Dia seperti meledek apa yang aku camkan.

Baiklah, kuberi tahu, ada beberapa hal yang membuat aku gemar menciumnya. Tidak lain, karena aku gerogi dan mulai salah tingkah. Dan untuk menyembuhkan perasaanku agar berjalan seperti biasa,  aku pun harus menciumnya. Aku bukan melakukan itu karena kecanduan. Tidak. Aku merasa hanya itu cara yang membuat gerogiku hilang. Untuk seorang noona seperti dia, kurasa satu-satunya cara hanya itu. Karena dia juga tidak pernah marah saat aku melakukannya. Tapi, lain dengan yang sekarang.

“Empphhtt…” Baru kali ini Hyeyo meronta saat kucium. Sedikit membuatku berdebar dan memacu jantungku lebih cepat. Biasanya aku selalu sukses menciumnya, tapi kali ini rupanya butuh perjuangan. Sedikit meronta, membuatku jadi lebih gila rupanya.

Kulepaskan ciuman gila ini karena aku sendiri sudah tidak sanggup.

“Rasakan! Aku tidak pernah bercanda, Nyonya Choi!” kataku padanya. Padahal Jantungku benar-benar berdebar. Dan mungkin hampir mati karena salah tingkah.

Hyeyo terdiam. Dia terlihat sangat marah padaku. Dia mengomel padaku saat tiba di mobil. Dia mengumpatku dan selalu mengolok-olokku perkara umur yang terpaut 2 tahun itu. Sedikit pun, aku tidak pernah mempermasalahkan umur kami. Kenapa dia terus-terusan terfokus pada itu. Aku juga bisa berubah menjadi sangat dewasa dari imej bayi besarku.

~~♥♥♥~~

Bayi besar? Huh, tidak untuk beberapa hari kemudian yang membuatku benar-benar lolos dari imej bayi besarnya.

Aku benar-benar melakukan ‘itu’ dengannya. Tidak bisa kubendung kebahagiaan saat aku terbangun di tempat tidur yang sama dan melihat dia menatapku dengan pandangan polosnya. Semalam kami benar-benar polos. Eh, tidak polos juga, karena kalung yang kuberikan masih menempel di lehernya saat tak ada sehelai kainpun melekat di tubuhnya yang membuat dia terlihat begitu cantik.

‘I’m Yours, nampyeonieo!’ kata-kata itu, jika aku ingat lagi, benar-benar menggoda iman. Bagaimana tidak, dia benar-benar pasrah melakukannya. Dia memang gadis penggoda, dan aku baru sadar setelah kami melakukan bulan madu kami di Paris ini.

“Hoi, Minho! Kenapa kau cengengesan sedari tadi?” tanya Key. Aku mendelik padanya tapi tetap tidak bisa menghilangkan senyum dari bibir ini. Aku terlalu bahagia semalam.

Saat ini kami sedang duduk di cafe hotel untuk sarapan. Kami duduk di meja bundar. Key duduk bersebelahan dengan Jonghyun berhadapan denganku. Aku sendiri duduk dekat istriku dan Onew-hyung. Aku diapit keduanya. Sedang istriku juga duduk bersebelahan dengan Taemin sambil entah membicarakan apa. Dia begitu senang berteman dengan Taemin, padahal Onew yang seusia dengannya. Yeah, Onew terlalu kaku, aku tahu.

“Minho! Berhenti cengengesan! Kau seperti orang gila!” sambar Jonghyun sambil melahap roti kering. Dia pun menambahkan gula ke cangkirnya dan menyeruput coffee yang sedikitnya membuat suaranya di pagi hari yang kadang kelepasan memeking itu pulih.

“Noona, Minho kenapa sih?”

Aku ikut menoleh pada Hyeyo, berharap suatu kemungkinan datang, kalau dia mengerti sikapku sekarang. Sikap setelah aku terbangun bahagia karena telah bercinta untuk pertama kalinya.

Kulihat Hyeyo mengerucutkan bibirnya pada Key dan member lain. Dia memang paling tidak suka diganggu kalau sedang berbicara. “Mana kutahu. Aku pun sedang bertanya-tanya dalam hati dia kenapa. Sedari tadi pagi gelagatnya sangat aneh.”

“Iya tapi kenapa? Minho memang sering cengengesan,  tapi yang sekarang benar-benar aneh, noona!”

“Tanyakan saja padanya.” kata Hyeyo yang kemudian lanjut mengobrol dengan Taemin.

“Apa sesuatu terjadi tadi malam?” bisik Onew-hyung seratus persen tepat, membuat member lain menatapku seksama kecuali Lee Taemin. Aku pun terdiam.

Hyeyo tiba-tiba berdiri membuatku terkejut. Dia melihat ke arahku. Aku pikir dia akan membahasnya juga setelah mendengar bisikan Onew yang mungkin terdengar olehnya,  namun, aku salah rupanya. Dia hanya ingin pergi ke toilet.

Aku jadi bernafas lega.

Tatapan tajam dari member padaku masih berlanjut seakan membunuhku. Mereka menatapku terlalu penuh tanda tanya. Kulihat Taemin tidak peduli. Dia masih mengoles-oleskan mentega dan mencuri cicip roti yang diracik oleh istriku. Lee Taemin, tidak berubah.

“Yaa! Minho semalam ada kejadian apa?”

“Minho! Kau membuatku penasaran.”

Aku mendesah pada mereka—Key dan Jonghyun—yang pertanyaannya seperti mengintrogasiku.

“Memangnya, Minho-hyung kenapa?” aku rasa Taemin sekarang mulai masuk dalam percakapan. Kelihatannya dia bosan menunggu Hyeyo kembali.

“Hanya malam yang tidak biasa. Bisa kalian tebak?” kataku mulai memberi klu.

“Cuma pemotretan biasa juga. Jangan berlebihan deh.” Key lanjut memakan rotinya tidak peduli. Sama dengan Jonghyun yang nampaknya kecewa akan ucapanku.

Aku masih cengengesan melihat keduanya. Mereka tidak sampai ke sana pemikirannya. Aku pun tidak tega menceritakan itu semua. Kami jadi terdiam cukup lama, dan semua pun beralih memakan rotinya. Kelihatannya mereka tidak tertarik lagi dengan arti senyum yang tak pernah hilang dari bibirku.

“Dasar bodoh kalian semua. Aku rasa ada sesuatu terjadi pada Minho yang berhubungan dengan Hyeyo.” gumam Onew-hyung untuk sekian kalinya tepat.

“Kenapa memangnya Hyeyo-noona?” tanya Taemin.

Key dan Jonghyun menatapku seksama, sedang Onew-hyung yang beralibi, masih santai bersender di kursinya. Tatapannya tak lepas dari ponselnya.

“Apa kau mau bilang sudah melepas masa keperjakaanmu, Minho?” tanya Onew-hyung masih santai di tempat. Kulihat Key dan Jonghyun tersedak coffee-nya. Salah satu dari mereka menyembur ke arah Taemin membuat Taemin berdiri kesal.

“MWORAGO???” teriak mereka berdua berbarengan. Sepertinya mereka akan terkejut. “MINHO, MWO??”

Aku tersenyum penuh kemenangan menatap Key dan Jonghyun, dan setelah itu aku pun mengangguk-anggukan kepalaku merasa bangga dengan apa yang sekarang sudah pasti ada di pikiran mereka.

“Jadi benar kau sudah melakukannya?” tanya Onew-hyung. Dia kelihatan biasa saja, seperti percakapan ini hal yang lumrah untuknya. Kulihat Taemin duduk kembali memberengut sebal, dia terlihat marah karena di antara Key dan Jonghyun tidak ada yang meminta maaf padanya.

“Bukan begitu, Minho?” tanya Onew-hyung lagi ingin mendapat konfirmasi.

Aku terdiam sebentar. “Yap! Kali ini kalian tidak bisa mengusik kehidupan rumah tanggaku, karena aku sekarang sudah lepas dari imej bocah seperti kalian. Aku sekarang lelaki sejati.” kataku sambil fokus menatap mata Key dan Jonghyun yang mulutnya semakin terbuka. Sekarang mereka berdua tidak bisa mengolokku lagi.

“Jadi kau sudah melakukan hubungan suami-istri ‘itu’, Minho?” Key masih menatap tidak percaya.

“Dengan noona galak seperti Hyeyo-noona. Kok bisa? Bagaimana?” Jonghyun terlihat sangat excited di antara yang lainnya. “Wuah.. Daebak!”

“Kalian berlebihan. Ini sesuatu yang biasa.” sambar Onew-hyung santai.

Key mendelik padanya. “Onew-hyung, itu tidak biasa kalau dengan noona itu. Sungguh tidak biasa. Apalagi dia galak bukan main.”

“Apa sih yang hyung bicarakan?” tanya Taemin masih membersihkan bajunya yang kena noda cokelat—entah semburan dari Key atau Jonghyun—dengan air putih.

Key beralih duduk ke dekat Taemin dan membisik di telinganya. Entah apa yang dibisikannya, kulihat Taemin membulatkan matanya. Dia menatapku terkejut tanpa berkedip.

“Lanjut!” Jonghyun melempar tisu padaku.

“Jangan kau ceritakan, Minho. Itu privasi orang yang hidup berumah tangga. Kau tidak boleh menceritakannya.”

Aku menoleh pada Onew-hyung yang masih memainkan ponselnya. Kurebut ponselnya karena penasaran. Seketika itu pun aku membulatkan mata saat melihat apa yang kini meloloskan topikku darinya. Yeah, yang membuat dia santai bukan main menanggapiku.

“HYUNG!!” teriakku padanya. Apa yang dia pikirkan di pagi hari dengan membaca artikel mengenai sex. Tadi saja dia bilang aku tidak boleh menceritakannya, rupanya, dia sedang berfantasi sendiri dengan artikel gila itu.

“Aku googling untuk mengetahuinya.” Dan dia kini malah cengengesan.

“Apa yang kau lihat, hyung?” tanya Key dan Jonghyun berbarengan pada Onew-hyung. Karena itu juga, si leader langsung memasukan ponselnya dan masuk topik dengan serius.

“Lanjut pada Minho!” katanya tidak mau diintrogasi.

Key dengan cepat mendelik padaku. “Minho! Serius kau melakukannya? Kapan?”

“Semalam.” jawabku. Ada nada bangga saat aku menjawabnya.

“Tapi apa yang bisa membuatmu jadi melakukannya. Pasti ada stimulus dulu. Aku yakin!” Jjong beradalih dan menatapku curiga seakan ingin mengetahui semua detil dengan jelas.

Aku mendesah pelan. “Entahlah, aku tidak menguasai permainan, dia menguasainya.”

Semua menaikan alis serta membulatkan mata. Aku tidak akan menceritakan lebih dari ini. Aku yakin fantasi mereka akan bermain dan membayangkan Hyeyo-istriku seperti itu.

“Kalian naked??”

“Tentu saja!” lagi-lagi aku terlalu bersemangat. Kulihat Taemin menutup mulutnya dengan tangan. Dia yang paling kelihatan shock, sedang yang lain semakin antusias menggali informasi. Tidak lain selain Onew-hyung yang kemudian mengambil tisu dan menutup hidungnya. Dia baru saja mimisan.

“Yaa! Hyung! Kau membayangkan apa?” sungut Key padanya.

“Jadi kau dan dia naked seriusan? Serius Minho itu terjadi? How how?” Jonghyun semakin antusias.

“Sudah kubilang dia yang menguasai permainan. Dia benar-benar hilang akal sehat.”

Onew-hyung mengambil tisu untuk yang kedua kalinya. Err! Kurasa cukup sudah kututup cerita ini. Semuanya semakin berfantasi liar. Taemin masih mematung. Dia tidak bicara sedari tadi. Entah kenapa aku malah jadi ingin menggodanya.

“Tae-ya! Mengertikan? Sekarang noona tempatmu bergelayut itu sudah menjadi milikku seutuhnya. Kau tidak boleh dekat-dekat dengannya lagi. Itu kularang.”

~~♥♥♥~~

Kebahagiaanku tidak berlangsung lama. Entahlah, setelah kepulangan dari Paris, tepatnya untuk setiap harinya, aku melihat Hyeyo selalu murung dan marah-marah tidak jelas. Akhir-akhir ini dia memang sangat sensitif. Makanya saat aku melempar buket bunga yang dia teriaki minta ampun itu, aku menariknya agar ikut bersamaku. Aku akan mengajaknya kencan. Tidak peduli dia menolak atau tidak, yang pasti akan kuajak dia. Aku bosan melihat dirinya yang murung. Apalagi sudah hampir 2 minggu aku seperti tinggal satu atap dengan zombi. Sudah sakit, tidak mau dibawa ke dokter, mengurung diri di kamar, dan hanya menatap layar netbook kosong, aku benar-benar tidak suka dia yang seperti itu.

“Malam ini, berjanjilah padaku kau tidak akan bersedih.”

“Aku tidak sedih.”

“Oke, aku anggap iya.” Aku langsung turun dan membukakan pintu mobil untuknya. “Siap untuk berkencan?” kataku langsung mengulurkan tangan. Dia medongak melihatku, dan menyambut tanganku sambil tersenyum.

Kami akhirnya berkencan. Menikmati pemandangan indah yang ditawarkan Namsan tower, makan bersama dan pada akhirnya berkaraoke tentu saja membuat kami jadi dekat. Dan setelah itu, tidak disangka-sangka Hyeyo mulai gila karena menjadi cerewet padaku. Tidak biasanya Hyeyo menceritakan sesuatu lebih dari 1 topik. Malam ini dia begitu menyenangkan. Yeah, hingga akhirnya dia mulai mencari tahu apa saja menyangkut diriku.

“Minho. Siapa So Eunso?”

Aku melirik ke sebelah, dan kulihat dia mulai kacau dengan sojunya. Hyeyo meneguk minumannya tanpa ampun. Ini yang kedua kali aku mendapatinya menikmati minuman sejenis alkohol. Aku baru tahu dia sangat suka minum.

“Yaa! Minho! Siapa Eunso?” tanyanya dengan nada yang lebih ditinggikan. Suara di ruangan ini pun begitu keras karena playist lagu memang masih terputar.

“Kenapa memangnya?” aku mendekatinya dan merapihkan syal yang dikenakannya yang mulai berantakan karena sedari tadi dia menarik-nariknya merasa gerah.

“Siapa So Euso? Aku tidak kenal. Aku lihat di channel gosip kau dekat dengannya.”

“Kau menontonnya? Dia teman. Kenapa?”

“Apa kau menyukainya? Kenapa kau bergaul dengan seorang noona? Aku merasa janggal.” katanya. Sudah kubilang dia sekarang jadi banyak bicara bukan?

“Memangnya kenapa, Nyonya Choi?”

“Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya tidak suka.”

“Apa karena cemburu padaku?” tanyaku mulai mengerti ekpresinya sekarang. Aku cukup berdebar menanyakan itu.

Hyeyo mendelik padaku.Wajahnya merah karena mabuk. “Mungkin!”

Tepat dugaanku, dia baru saja cemburu.

“Yeah, mungkin aku cemburu. Mwo? Aku cemburu? Mungkinkah?” kini dia melihatku dengan tatapan kelewat cute. Wajahku sepertinya memanas.

“Tidak perlu cemburu. Aku lebih suka berada di samping noona sepertimu lebih lama, ketimbang noona di luar sana.”

Kulihat dia tersenyum sangat manis. “Kenapa?” tanyanya.

“Tidak ada alasan. Aku memang menyukai seorang noona.”

“Kenapa?” matanya jadi terlalu serius menatapku.

“Kau memanjakanku.”

“Aku tidak pernah memanjakanmu.” Dia merosot ke bahuku. Entah dia sadar atau tidak, kulihat Hyeyo begitu seperti anak-anak sekarang.

Aku letakan tanganku di puncak kepalanya. “Tapi aku bisa bermanja terus padamu, dan kau tidak marah. Aku suka. Kau membuatku nyaman.”

Dia terdiam dan setelah itu menatapku dengan gaze yang begitu cantik. Sudah kubilang, aku suka mata dan tatapan istriku. Tidak heran, aku selalu ingin dia menatapku.

“Aku juga suka kalau kau mulai bertindak seperti bayi besar.” katanya membuat jantungku hampir melompat. “Um.. Mungkin seperti ini. Chup!” dia mengecup pipiku, lalu berdiri mengambil Mic dan bernyayi lagi. Manis. Aku merasa istriku sangat manis. Terkadang efek minuman, membuatnya terlihat berbeda untukku. Dia terlihat lebih tanpa beban saat ini.

Dan tanpa kuduga, setelah pulang dari sana, dengan naluri suami-istri yang entah harus kujelaskan dari mana, kami bercinta lagi untuk yang kedua kalinya. Aku sangat bahagia. Baiklah, setelah kebahagiaanku untuk pertama kalinya di Paris, kini aku merasakannya lagi, tepat di rumah kami. Aku tidak melakukannya hanya sekali, mungkin beberapa kali di malam yang sama. Kami terlalu bersemangat di malam yang kedua.

~ ~♥♥♥~~

Next morning!

Aku sangat bahagia. Yeah, sangat bahagia, bahkan hampir bahagia lagi kalau saja tidak ada yang menginterupsiku dengan vidio sampah macam ini. Aku benar-benar marah! Emosiku tidak terbendung saat melihat apa yang ada di depan mataku sekarang. Aku menatap layar handycam dan melihat beberapa rekaman edit tentang kelakuan istriku selama ini.

“Damn!”

Tidak kusangka aku bisa meledak-ledak seperti ini. Sangat terekam jelas, Hyeyo masa SMA dan masa kini. Masa pacaran dia dengan namja yang serupa yang kutemui di Paris itu. Pacaran berlebihan, ini membuatku geli. Sedang yang paling membuat emosiku memuncak, karena dia melakukan itu lagi dengan pria ini tepat di hari kami terbangun setelah melakukan percintaan kami. Dia penuh nafsu mencium namja ini, mirip seperti yang dia lakukan padaku. Hyeyo benar-benar terpancing oleh pria macam itu. Apa dia lupa kalau dia memiliki suami? Ke mana otaknya saat itu? Aku benar-benar ingin menamparnya. Dan pria ini. Siapa pria ini? Kenapa justru mengganggu kami? Mengganggu hubungan yang sudah hampir 100 persen sempurna.

“Minho Akan kujelaskan…” mata Hyeyo memerah sudah berkaca-kaca. Dia menjelaskan semuanya sambil menangis. Aku mendengarnya walau entah pikiranku sekarang melihat dia dari sudut mana, tapi aku dengar semua penjelasannya.

Sakit! Entah kenapa aku pun merasa sakit! Hyeyo yang kukenal, tak kusangka masa lalunya lebih liar dari kelihatannya.

“Minho dengarkan dulu..” katanya terisak. “Itu masa laluku. Masa lalu yang pernah kutakuti jika kau mengetahui semuanya. Gaya berpacaran kami memang berlebihan. Aku tahu aku salah, tapi aku sudah tidak seperti itu lagi.”

Kepalaku terlalu pusing untuk mendengarkan penjelasannya. Aku tidak terima Hyeyo melakukan semua ini padaku. Terlebih lagi pada pria yang mengganggu hubungan kami. Dia menyentuh istriku. Dia membuat Hyeyo seperti ini.

“Bukankah kau sudah bilang padaku ini masa depanku dari masa lalu?”

Deg!

Aku merasa tersentak. Dia masih ingat ucapanku tempo itu. Ya, sekarang aku ingat. Aku sadar sepenuhnya, kenapa dia sepulang dari Paris jadi berubah. Dia ketakutan dan sempat menanyaiku kemarin kalau aku tahu masa lalunya, aku akan marah atau tidak. Mungkinkah karena bertemu  pria itu? Inikah maksud semua dari sikap istriku?

“Minho.. Ini yang selama ini kutakutkan.” isaknya makin parah.

Aku mendesah. “Aku memaklumi masa lalumu, tapi tidak seperti ini. Kau mencium pria itu dengan bernafsu juga di hari di mana kau sedang bersamaku—setelah aku melewatkan hal yang bahagia. Di mana pikiranmu? Apa kau terlalu gampang terbujuk? Di mana kalung pemberianku juga? Apa ada pada namja itu juga?”

Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan itu. Dia sudah menangis dan ingin kupeluk. Tapi tidak, aku butuh penjelasannya. Dia harus jujur walau itu sangat sulit dikatakan. Aku terdiam. Atmosfer ini benar-benar jauh dari yang tadi pagi.

“Aku memang bodoh! Aku akan menyelesaikannya sekarang. Terserah padamu ingin menceraikanku atau tidak!” katanya malah membentakku.

Mwo!

Bukan ini yang kumau, Hyeyo! Ini bukan solusi. Dia benar-benar dewasa atau tidak sih? Aku butuh ketenangan. Aku sedari tadi menahan untuk mengatakan hal kasar walau pada akhirnya dia terus menangis karena ucapanku, tapi kini malah dia yang berbalik marah padaku.

“Noona, siapa yang ingin menceraikanmu?”

Dia diam saja. Sungguh benar-benar keterlaluan berpikir seperti itu.  Menceraikan? Jangan bodoh! Aku sudah terlalu jauh padanya. Perasaanku, aku tidak mau perasaanku menjadi korban dari semua ini.

“Kau dasar bodoh, Hyeyo!”

Dia menatap tajam diriku. “Bilang saja, Minho. Kau tadi bilang aku menjijikan. Aku sudah tahu resiko ketika kau mengetahuinya. Aku sudah tahu!” katanya malah pergi. Kenapa noona itu seperti anak-anak? Kita bisa membicarakannya baik-baik.

Aku menjegatnya dan menahannya. Tapi apa daya, dia terlalu bodoh dan meronta minta dilepaskan! Dia tidak mendengarkanku dan lebih suka menduga masa depan yang belum pasti itu.

“Bodoh! Kenapa otakmu benar-benar tidak terlihat seperti seseorang yang usianya 2 tahun di atasku.” kataku sudah kesal. Argh! Ini membuatku frustasi!

~~♥♥♥~~

Hari di mana aku untuk pertama kalinya bertengkar hebat dengan istriku, di malam harinya Hyeyo tidak pulang. Dia membuatku benar-benar khawatir. Walau aku marah, aku tahu aku terlalu lemah hingga tidak bisa membiarkan dia yang masih dalam keadaan sakit memiliki pikiran seperti ini. Ke mana dia? Panggilanku diabaikan dan kucari di rumah orang tuanya, dia tidak ada. Aku juga tidak sebodoh itu untuk bilang pada orang tuanya kalau anak mereka menghilang. Aku bisa digantung oleh eomonim bahkan eomma sekaligus.

Aku benar-benar cemas sekarang.

Aku sudah menceritakan semuanya pada para member dan mereka mendukung keputusanku untuk tidak masuk dalam permainan si namja berengsek yang telah meninggalkan gadis itu selama 5 tahun. Aku sekarang sudah mengetahui semuanya, aku percaya semua yang dijelaskan Hyeyo dua hari yang lalu benar adanya tanpa dia tutup-tutupi lagi. Dan dengan bodohnya, Lee Taemin menyembunyikan semuanya. Dia yang tahu keberadaan Hyeyo selama ini dan setelah Hyeyo menghilang lagi, dia baru panik dan bercerita padaku. Sekarang, aku tidak punya klu sedikit pun Hyeyo tinggal di mana? Lee Taemin!! Coba kalau dia menceritakanku dari awal. Pasti tidak akan seperti ini.

“Sabar, Minho! Nanti kita akan menemukan noona! Aku akan berusaha mencarinya.” Key mengusap punggungku. Sekarang semuanya ikut panik masuk ke dalam masalahku.

“Aku akan mencari tahu tentang pria itu.” Onew-hyung langsung pergi meninggalkan dorm. Entahlah, apalagi yang ingin dia ketahui tentang pria itu, yang jelas, aku sudah terlalu pusing untuk mengambil langkah selanjutnya.

“Lee Taemin! K-kau! Ah!” pekikan itu berasal dari Jonghyun yang menjitak kepala si maknae. Yah, walau aku sebal pada Taemin karena dia menutupinya, tapi aku tahu, Hyeyo pasti memintanya bungkam, dan Taemin yang sayang padanya sudah pasti menurutinya.

“Aku juga tidak tahu noona akan minggat. Dia terlihat betah tinggal di rumahku. Apa lagi eomma sangat memperlakukannya dengan baik.”

“Tapi, sekarang?” Jonghyun terus mengintrogasinya.

“Iya. Maaf. Seharusnya aku tidak ngotot saat berbicara dengannya di telepon. Aku hanya meminta noona untuk pulang.”

“Ah! Otakmu di mana, Lee Taemin. Dia jadi pergi, kan?”

“Iya.. Noona memang keras kepala, hyung. Dia selalu bilang ingin menyelesaikan masalahnya sebelum menemui Minho-hyung. Aku rasa dia memang menyukai Minho-hyung.”

Pletak!

“Di saat seperti ini kau masih menduga Hyeyo-noona menyukai Minho atau tidak. Sudah pasti suka! Bodoh!” cercaan demi cercaan menghujam Lee Taemin. Jonghyun terlihat sangat emosional sekarang.

Kulihat Taemin merosot ke lantai. Dia menelungkup dan menenggelamkan wajahnya. Dia merasa bersalah dan tentu saja sedih karena dimarahi terus-terusan oleh Kim Jonghyun.

Aku masih duduk di tempat tidur yang dulu merupakan tempat tidurku bersama para member. Kepalaku  memikirkan beberapa hal yang aneh yang terjadi akhir-akhir ini pada kehidupan pernikahanku. Pria itu. Siapa pria itu. Berani sekali orang itu menghancurkan semuanya. Dia pikir aku akan menceraikan Hyeyo setelah apa yang aku rasakan selama ini. Aniya! Aku sudah terlalu jauh bersamanya. Dan kini, Hyeyo dengan bodoh berotak polos malah minggat dari rumah.

2 bulan lebih, siapa sangka aku sudah menyukainya. Aku memang menyukainya bahkan sudah mulai menerimanya saat pertama kali bertemu dengannya. Dia juga adalah salah satu wanita yang membuatku mudah menciumnya. Aku pun sudah melakukan honeymoon yang tidak pernah dilakukan namja itu karena rupanya Hyeyo memang masih menjaga dirinya sebagai wanita selama ini. Jadi apa yang kutakutkan? Masa lalunya yang kelam? Aksi berpacaran atau aksi hilafnya saat di Paris?

Tidak, aku yakin dia menangis pun karena merasa bersalah padaku. Dia merelakan aku menceraikannya karena dia sudah terlalu bingung berucap, bukan ingin kembali pada pria itu. Aku terlalu positive thinking, huh?

Ya tentu saja, bukannya aku seorang leader di rumah kami, seorang yang harus siap menyelesaikan beberapa masalah dan bukan bayi besar yang seperti yang ada dipemikirannya. Aku memang bayi besar padanya. Tapi pemikiranku luas lebih dari bayi besar yang sering dia elu-elukan.

Aku jadi merindukannya sekarang.

~~♥♥♥~~

Aku terbangun dengan lemas di kamarku sendiri. Mataku mengawasi kamar ini. Setelah bercerita pada para member, aku memang pulang ke rumah berharap Hyeyo akan pulang.

Jam 01.00 siang? Pantas saja aku kelaparan. Semenjak Hyeyo tidak ada di rumah nafsu makanku jadi berkurang. Aku ingin makan masakan buatannya. Lidahku sulit untuk beradaptasi lagi setelah beberapa bulan hanya makan masakan buatan istriku sendiri. Dia sungguh kejam kan sekarang?

Drrt… drrt.. drrt.. suara getar ponsel menghentikan lamunanku. Ponselku yang berada di meja sebelah tempat tidur segera kuraih. Kibum? Pikirku sambil menatap layar ponsel masih lemas.

“Minho kau di mana?” pekiknya membuatku menjauhkan gagang telepon.

“Ada apa, Kibum?”

“Bodoh!! Cepat ke taman kota. Aku menemukan noona!”

“Istriku?”

“Iya siapa lagi! Palliwa. Dia benar-benar kesulitan sekarang.”

“Maksudmu?”

“Minho cepat datang kemari sebelum Soohyun, pria bejat itu, merebutnya!”

katanya panik yang dua kali lipat jadi membuatku lebih panik dan langsung berlari cepat ke tempat yang dimaksud. Tidak peduli wajahku berantakan tanpa penyamaran. Aku hanya ingin menemui Hyeyo saat ini.

~~♥♥♥~~

Aku sampai di tempat yang Key maksud dan melihat Key sedang bersembunyi di balik pohon. Aku menghampirinya dengan tidak sengaja membuatnya kaget.

Beberapa jarak di depan kami, aku melihat Hyeyo sedang duduk di bangku taman dengan namja itu. Aku panas dan ingin segera merebutnya, tapi Key melarangku. Dia membiarkan aku melihat apa yang akan aku lihat agar aku yakin dengan keputusan yang aku pilih. Aku cukup khawatir. Takut pada kenyataannya kalau Hyeyo benar-benar plin-plan dan pada akhirnya kembali pada orang itu.

Mataku membulat saat melihat Soohyun menarik tangan Hyeyo dengan paksa.

“Lepas!! Lepaskan!!” Hyeyo menjerit. Aku melirik ke arah Key. Aku tidak bisa membiarkan dia kesakitan. Tapi Key masih saja menahan tanganku agar tidak sedikitpun maju.

Kulihat Hyeyo bahkan menjatuhkan dirinya ke rumput dan muntah lagi. Dia belum sembuh. Hatiku mencelos tidak tega melihat ini. Akan kuberi pelajaran pada orang sialan itu.

Key masih menahanku saat aku hampir melangkah. “Sabar, Minho. Biarkan noona berbicara dulu. Dia pasti akan melawannya kalau dia benar-benar hanya ingin kembali padamu.”

“Dia hanya seorang perempuan, Kibum. Tidak mungkin bisa melawannya.”

“LEPASKAN, KIM SOOHYUN!!” teriakan itu membuatku beralih.

Aku tidak bisa diam. Dengan sedikit kekuatan, kudorong Key agar tidak menahanku lagi. Aku menghampiri Hyeyo yang sedang ditarik paksa oleh namja berengsek itu. Kupukul langsung wajah pria itu. Key berlari mengejarku dan berusaha meleraiku. Tapi percuma, aku tidak bisa berhenti. Aku sudah terlalu marah sekarang. Dia telah membuat gadis ini terjatuh dan telah membuatnya jauh dariku selama 2 hari. Ini tidak bisa kubiarkan begitu saja.

“Yaa!! Kau bocah sialan!” umpat pria tak tahu diri itu padaku. Huh, aku memang bocah sialan. Dia lebih sialan lagi, karena masih saja merebut istri orang.

Aku melihat Hyeyo sebentar. Dia kini menangis sambil memegang erat sebuah benda di tangannya. Kalung itu? Hatiku melemas. Jangan bilang dia bertemu dengan namja ini hanya untuk sebuah kalung.

“Sudahlah, Minho! Bisa gawat kalau netizen melihat!” Key berusaha melerai lagi. Aku tidak peduli. Aku rasa memang pria bejat seperti Kim Soohyun ini yang harus kuhabisi.

BUGH! Aku memukulnya lagi, sekalipun Hyeyo kini berada di belakangku memelukku. Hatiku melemah sebentar. Ini pertama kali Hyeyo memelukku dari belakang. Entah aku percaya diri atau apa, yang jelas aku yakin Hyeyo pun memiliki perasaan yang sama denganku. Merindukanku.

“Minho, noona pingsan!!” teriak Key dan aku menoleh padanya.

Hyeyo sekarang tak sadarkan diri. Aku khawatir sampai tidak sadar wajahku jadi terhantam lagi oleh pukulan pria berengsek di depanku. Tidak akan kuampuni. Aku pun balas lagi.

“Minho sudah! Sudah, Minho!! Kau tidak lihat noona sekarang tidak sadarkan diri!!” Key terus-terusan panik, hingga akhirnya tidak lama dari perkelahian kami, orang-orang datang melerai perkelahian ini.

Ini pasti akan masuk infotaiment. Aku tidak peduli dengan nama baikku, karena itu yang sedang kujaga, sedang dirinya, bukankah pria ini akan menjadi seorang film maker nanti? Apa jadinya kalau citranya sudah buruk di masa sekarang?

~~♥♥♥~~

Onew-hyung dan Jonghyun datang menemuiku. Sekarang aku dan namja gila ini sedang di kantor polisi untuk mengurusi semuanya. Sedang Key dan Taemin sudah pasti membawa Hyeyo ke rumah sakit, karena sedari pingsan tadi Hyeyo belum sadar juga.

Aku masih cemas dengan kondisinya. Tapi, aku malah terdampar di sini karena perkelahian itu. Sudahlah, setelah ini berakhir, aku pasti akan menemui istriku tidak lama lagi. Aku harus memastikan semuanya tidak akan kacau balau lagi karena pria yang tak ingin kusebut namanya itu.

“Minho, apa yang mesti kau lakukan sekarang?” tanya Jonghyun padaku. Entah kenapa, aku malah menyeringai.

Mataku tidak beralih sedetikpun dari namja berengsek yang duduk di kursi tidak jauh dari tempat kami diintrogasi barusan oleh polisi. Timbul niat busukku untuk membuatnya jera.

“Soohyun! Namamu.. bukan begitu?”

“Kenapa, huh? Tidak puas menghajarku?”

“Tidak, bukankah kau tidak sadar kalau perbuatanmu itu benar-benar melanggar hukum?” dia terdiam mendengarku sambil mengompres hasil pukulan tadi.

“Film maker? Apa jadinya ya kalau dunia tahu kalau seorang film maker yang sudah kuliah jauh-jauh di Paris mempunyai sedikit perilaku menyimpang. Dengan merekam tiap adegan mesumnya bersama gadis dan dijadikan koleksi pribadi? Huh!”

Dia manatapku tajam. “Maksudmu, bocah ingusan?”

“Huh, kau pura-pura tidak mengerti juga. Aku bisa dengan cepat menyebarkan fakta itu. Bahkan aku tahu ayahmu rupanya orang terkenal juga di dunia perfilman.”

Kini dia menatapku tajam dengan sedikit deru nafas yang memburu. Sepertinya orang ini emosi sekarang. “Jangan bercanda. Kau akan merusak nama baik istrimu sendiri.”

“Tidak, dia bukankah terlihat seperti korban. Dia tidak tahu kau merekamnya diam-diam saat di mobil itu. Sungguh menjijikan dirimu!”

“Huh.” Dia baru saja mendengus padaku. Kelihatannya dia benar-benar menganggap remeh ucapanku.

“Kim Soohyun, anak dari Kim Minsoo. Kau jauhi kehidupan kami atau aku akan  melakukan apa yang akan kulakukan dengan ucapanku tadi. Aku tidak hanya mengancam seperti yang kau lakukan.”

Aku menggeser kursiku ke dekatnya. Entah keberanian apa yang menghampiriku. Aku merasa jadi bukan seperti bayi besar.

“Lagipula apa yang kau harapkan dengan perempuan yang sudah jadi milik orang lain? Apa kau tidak malu? Bahkan kau meninggalkannya dan sekarang kau merasa takut kalau hobimu terbongkar? Sebenarnya mana yang jadi prioritas utamamu?”

Dia menggeretakan giginya saat melihatku. Matanya penuh emosi.

“Kau tidak benar-benar mencintainya? Kau hanya merasa malu, karena Hyeyo menikah duluan tanpa kau ketahui, bukan?”

Tidak lama dari situ seorang sosok orang tua yang kukenal masuk menghampiri kami. Tidak asing, dia adalah film maker yang terkenal dan dia ayah dari anak ini, pria yang memiliki gangguan jiwa yang hampir merusak kehidupanku.

“Aboeji?” sekarang rupanya dia mulai merasa ucapanku benar. Mata orang itu terkejut bukan main saat melihat ayahnya.

“Soohyun! Sudah kita pulang. Ayah sudah urusi semuanya. Dan kau Minho, aku pastikan dia tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi.”

Aku tersenyum mendengarnya dan beralih menoleh ke arah Jonghyun dan Onew yang ada beberapa meter di belakangku. Mereka menunjukan jempolnya padaku. Aku sudah dewasa bukan sekarnag? Aku bisa menyelesaikan masalahku dengan kepala dingin.

Dari pada mengancam anaknya, ayahnya memang lebih mudah diancam. Onew-hyung memang hebat dalam mendramatisir sesuatu. Semua berkat keahlian detektif sang leader. Dia yang sudah menceritakan semuanya pada Kim Minsoo, legendaris director yang terkenal.

~~♥♥♥~~

Aku pergi ke rumah sakit. Dan betapa terkejutnya saat aku diberitahu oleh dokter kalau Hyeyo istriku tengah hamil selama 2 Minggu. Rasanya berton-ton pikiranku  menghilang begitu saja dan diganti dengan kebahagiaan yang tak pernah kubayangkan akan datang secepat ini. Dia hamil? Aku hanya melakukan itu dua kali dan dia hamil? Aniya, kurasa malam kedua bisa terhitung beberapa kali, aku lupa menghitung pastinya.

Ini terlalu membahagiakan. Masalah dengan masa lalu Hyeyo selesai dan kini aku bisa hidup dengan Nyonya Choi—panggilan sayang untuknya—dengan damai. Namun, rupanya aku salah, karena ternyata masalahku tidak berakhir begitu saja. Hyeyo tidak terima dirinya tengah mengandung. Dia benar-benar tidak ingat apa yang telah kita lakukan di Paris. Tidak juga yang di rumah kami sendiri. Benar dugaanku, dia hanya melakukan itu karena mabuk.

“Tidak percaya? Mau coba?” kataku sambil menyodorkan sebuah test pack. Aku memang sudah menduga akan seperti ini.

Hyeyo merampas test pack-nya dan menutup pintu kamar mandi dengan membantingnya.

“HYAAAAAAA!!!!!!”  sebuah teriakan tentu saja mengagetkanku yang sedang berdiri menunggunya di luar kamar mandi.

“Yaa.. Kau kenapa, Hyeyo? Apa kau baik-baik saja di dalam?” jujur saja aku jadi panik sekarang. Kenapa lagi dengan istriku? Dia selalu membuatku seperti ini.

Sebuah isakan tidak lama terdengar dari jeritan tadi. Dia bahkan tidak menanggapi pertanyaan dan kepanikanku di luar.

“Yaa~ Hyeyo, kau kenapa menangis di dalam?”

“Berisik kau, Minho!! Aku akan membunuh diriku sendiri sekarang karena sudah hamil tiba-tiba.” teriaknya dari dalam. Jelas saja aku jadi melompat kaget. Apa tadi dia bilang? Hamil tiba-tiba? Dia bercanda.

“Jangan bodoh! Itu anakku, Hyeyo! Kau tidak hamil tiba-tiba.”

Dia membuka pintu bersamaan dengan ucapanku tadi. Wajah kusutnya kulihat, terutama sisa air mata yang menggenang di pipinya. Mataku teralih pada test pack yang dipegangnya, dan karena itu, dia dengan cepat menyembunyikannya.

“Siapa yang menghamiliku? Kenapa kau bilang itu anakmu, Minho?”

Kutarik dirinya agar keluar dari kamar mandi. Dan karena itu pula, dia meronta minta dilepaskan. Er! Orang hamil apakah semuanya seperti ini? Sungguh menyusahkan.

“Masih ingat tentang siklus, em, maaf, menstruasi seorang wanita yang pernah kau ceritakan padaku?”

“Kenapa memangnya, huh?”

“Coba kau lihat tanggal berapa sekarang.”

“28. Kenapa?”

“Di sana sudah jelas. Sekarang kau lihat tanggal 12 yang kau lingkari. Kau sudah telat, Nyonya…”

Mata Hyeyo membulat. Huh, pasti dia tidak percaya aku memperhatikan itu dengan detil. Lagi pula, kenapa bercerita, dan melingkari tiap tanggal dengan spidol merah. Membuatku jadi tahu saja.

“Ta-tapiii..”

“Hyeyo-ya.. Sudahlah jangan bercanda terus. Aku sudah terlalu lelah hari ini.”

“Jadi kau yang benar-benar menghamiliku??”

“Tentu saja. Memangnya siapa lagi? Aku suamimu. Aku yang menghamilimu. Dan malaikat kecil yang ada di perutmu, itu adalah anakku.”

Dia menangis begitu saja dengan kencang. Dan setelah itu melesat secepat kilat pergi ke kamarnya. GOSH! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Memang ada yang salah dengan ucapanku barusan? Kenapa dia begitu terkejut.

Aku tidak bisa diam saja. Kurasa perempuan seperti Hyeyo memang labil bukan main. Kalaupun kudiami, dia justru akan berbalik mendiamiku. Akhirnya, seperti inilah aku, mengejarnya lagi.

“Hyeyo jangan terkejut begitu.” kataku padanya dari luar kamar. Dia telah sembarangan mengunci pintu.

“MASA BODOH! HARUSNYA AKU BAWA GUNTING RUMPUT DAN MENGGUNTINGMU!”

Apalagi dia mengatakan itu dengan berteriak sangat kasar. Gunting rumput? Memang apa salahnya kalau  ‘melakukan itu’ sekalipun dia tidak sadar 100%? Bukankah kita ini suami-istri?

Aku tidak tahu apa lagi yang dia umpatkan setelah itu. Aku sekarang mencari kunci cadangan untuk membuka kamar ini. Kalau dia berbuat yang macam-macam lagi, aku tidak akan mengampuni diriku sendiri.

Klek!

Akhirnya seorang Nyonya Choi yang sedang mengalami masa beratnya terlihat sedang duduk di tempat tidur sambil meringkuk. Dia memeluk dirinya sendiri dan menangis. Saat aku masuk, dengan cepat dia mengambil bantal seakan-akan ingin memukulku.

“Kenapa melakukan itu? Bukankah kita punya kesepakatan? Kau jahat!! Jahat!! Aku bilang jangan melakukan itu sebelum kita benar-benar suka, Minho!” katanya membentakku lagi.

Astaga, ternyata dia masih saja ingat dengan kesepakatan kami di awal kami saling mengenal. ‘Tidak melakukan itu dalam keadaan tidak mencintai.’ Karena dia pun pada akhirnya mempertanyakannya.

Apa dia cukup bodoh dan merasa aku tidak mencintainya? Selama aku sesering mungkin memberi perhatian padanya? Seiring sering kugencarkan ciuman dan kecupan di pipinya? Dan sifatku yang selalu bermanja padanya? Apa itu bukan cinta menurutnya?

Dan dia rupanya benar-benar bodoh, tidak sadar aku pernah mengatakannya sekali di Paris. AMOR! Walau aku bergumam saat itu, tapi itu kuhitung sebagai confession.

Baiklah, aku mengaku salah karena aku bercinta dengannya disaat kesadarannya hanya 50%. Aku akan bertanggung jawab untuk membuat semuanya jadi normal kembali. Kurasa masalah ini bukan masalah yang rumit untuk dipecahkan. Sebentar lagi hidup kami akan bahagia. Apa lagi memikirkan seorang malaikat kecil akan menemani kehidupan kami di masa yang akan datang.

“Minho!!” panggilnya pelan, setelah sedari tadi hanya mencercaku dengan kata kasar.

“Jangan berbicara padaku sebelum kau mengingatnya. Entah apa yang ada di pikiranmu sekarang, aku hanya tidak ingin pertengkaran saat ini hanya basa-basi belaka.”

Akhirnya aku pergi dari kamar meninggalkannya. Aku mendengarnya menangis, tapi aku merasa butuh diam. Butuh tenang menghadapi Hyeyo yang umurnya 2 tahun di atasku, yang justru kenyataannya adalah seorang perempuan yang tidak lebih dewasa dariku.

♥To be continue

~This story is mine. This plot is mine. Say no to plagiarsm.~
~ Publish by mamotho @https://mamothozone.wordpress.com/ ~

Mamot note:

~ Otte Semua?? Sudah cukup jelaskah perasaan Minho? Tell me!!

~ Tak terasa, selama hampir dari bulan desember, karena sequel pendek ini, aku akan menamatkannya di part depan. Aku  butuh waktu untuk mempersiapkan part depan. Aku sedang memilah-milah inspirasi ke sana dan mengumpulkan perasaan untuk membuat suatu ending yang manis. Muehehe.. 🙂  Pokoknya, seperti biasa, endingnya akan kuprotek, biar ga ada yang nakal.  Yang belum punya paswordnya, silahkan baca postingan get pasword.
 

Advertisements

About mamotho

Special Girl. Always loved her self, and know what makes she herself happy. Fangirlling is also her spirit (ʃƪ˘ﻬ˘) SHINee is her oxygen too!

Posted on 3 March 2012, in Marry comes Love appears, SEQUEL, SHINee FF and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 212 Comments.

  1. uuummm jd gitu cerita.a..

    minho curang udah liat duluan calon istri.a..

    yah ending.a d protect jg? yg part 4 pun aq blm baca..

    penasaran banget nih.

    aq udah kirim message d fb. d tunggu blsan.a y author..

    ^_^

  2. ff nya baguuus, tp smp sekarang belum baca yg pt4 , last love , sama special storynyaa :/
    tapi ini bener2 daebak ffnyaa . Saya suka saya suka!!

  3. oenni,caranya dapetin passwordnya gimana?

  4. hai kak 😀 aku baru ketemu fanfic ini haha telat ya. tapi aku sukaaaaa bgt sama ceritanya sempet deg-degan pas konflik sama soohyun huhu. bagusss bgt deh hehe keep writing ya ^^

  5. Ternyata… This is how Minho feels..
    Enak banget punya penguntit kaya Minho u,u Aku juga mau~! *eh /lupakan/
    Pokonyaaa keep writing ya! Love this so much!

  6. suka bgt sm ff minho yg satu in ^^ suka suka.. gomawo eonni 🙂

  7. Huuuaaah.. Daebak.. Semuanya jadi jelas masalahnya.. Dan minho ternyata udah mulai tertarik sm hyeyo dari awal pernikahan, tapi emanhg hyeyonya yg msh belom sadar sama perasaannya dia sendiri.. Pas minho bilang dia melakukan ‘itu’ lebih di kekesempatan dia yg kedua kali itu geli banget.. Tapi so sweeet..
    Lanjut next part, thanks author^^

  8. buahahahaha xD
    Asli ngakak gelindingan..yaa ampunnn onjongkey segitunya yaa pas tahu minho & hyeyo udh…#ehmmmm
    Apalg onew ampe mimisan? huahahaha bayangin apa lo bang?
    Kasian taemin..udh g bisa brmanja2 sama hyeyo..pukpukpuk sini sama noona aj taemin xD
    Ckckkk hyeyo kekanakan bgt..lbh tua tp g dewasa…poor minho…xD

  9. wah trnyata ini isi hati minho,saluuut haha.
    Chingu,q ngakak bgt byngin expresi ke empat member wktu minho cerita kdwasaane,apa lg expresi onew yg mimisan haha.ngakak abiz
    kereen pkoknya mah.haha

  10. Onew bnar2 cerdik, cepat tanggap. Tp kok jd mimisan dengar ceritanya Minho, o ow *teringat JOC
    oh~ abang Minho yg suka cengengesan gak jelas, nappeun!. Malah memprovokasi JongKey dg cerita intimnya, heu~

  11. taemin knpa polos bgt sih ah? taemin ga polos. hyeyo gemes ah, katanya udah dwasa heheh, minho keren

  12. ,,, yaaaaaaaaaaa ff nya bagus eonni ,,, ckck huhu knapa part 4 ama 19 di protect ??
    bagi2 pasword nya dong eonni,,,
    kirim ya di
    intan.rani38@gmail.com

    aku tunggu lohh eonni ,,,

  13. ahh so sweetnya minho, lagi bukannya bilang kek gitu “saranghae anae” atau “i love you hyeyo” atau “aku cinta kamu noona” aisssh seriuus gemes sama minho hahahah.

    oke kasian pas baca taemin dipletak gara2 ketauan udah ngumpetin hyeyo ga bilang2 minho udah gitu dgn pedenya bilang kalo hyeyo cinta minho, hahhahaha

    min part4 min

  14. bingung mau komen apa lagi ._.
    ini sgt daebak *O*
    aku suka bgt karakter minhoo disini, nggak plin plan sama cool *O*
    huweeeh lanjut baca :v

  15. Ooh. .
    Ternyata ini minho pov ,aku kira salah bacanya . , ,

  16. Endingnya gmn nih penasaran pake bingit

  17. hallahhh hye kamu inu benar2 dan kamu curang minho udah mengetahui hye sebelumnya dan berpura2 tidak tahu.

KOMEN YO ( ˘ з˘ )/

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: