Marry Comes Love Appears (love 7)

Marry Comes Love Appears (love 7)

Author : mamoTHo
Title: Marry Comes Love Appears
Main cast : Choi Minho, Jung Hyeyo
Support cast : SHINee member, Kim Soohyun
Rate : PG-13
Genre : Romance –marriage life- fluff
Lenght : Sequel

This Story©mamoTHo

~MARRY  COMES LOVES APPEARS~

Aku menatap cermin westafel yang ada di dekat dapur pasrah. Setelah memuntahkan isi perut yang datang di waktu yang selalu tidak tepat, aku menatap pantulan wajahku di sana. Aku terlihat kacau. Wajahku semakin tirus dan aku terlihat sangat tidak cantik.  Kuikat rambut ikalku yang berantakan. Rambutku sudah lebih panjang sekarang tapi sayang tidak terurus. Mataku, tidak usah ditanya. Setelah pertengkaran hebat dengan Minho, mungkin aku menangis dua jam tanpa henti karena menyesal yang mengakibatkan mataku sukses bengkak.

Aku melihat rekamannya. Aku melihat vidio terakhir yang tanpa sepengetahuanku terekam. Vidio di dalam mobil saat di Paris itu bahkan terlihat menjijikan untukku. Wajar saja Minho marah. Siapa yang tidak marah dan kecewa ketika melihat istrinya berselingkuh dengan pria lain. Yah.. Bisa kuanggap berselingkuh  karena Minho pun tidak tahu kalau aku benar-benar dipaksa masuk dan dengan bodoh membalas ciuman orang yang hampir membuatku gila menunggunya.

Aku mendesah pelan lalu membasuh wajahku. “Minho.. Apa dia bisa  memaafkanku?” aku bergumam entah sudah lemas atau terlalu pesimis.

Aku sudah menjelaskan semua padanya, tapi kini dia malah mengurung diri di kamar tidak mau bertemu denganku. Aku sudah mencoba meminta maaf lagi karena aku terlalu stress mengucap kata cerai padanya. Entah itu terlontar dari pemikiran bagian mana, tapi aku tahu yang seperti ini parah, dan sudah pasti merusak rumah tangga kami. Aku terlalu pusing dan tidak tahu mengatasi masalahku dimulai dari mana.

“Baiklah, akan kucoba lagi!!”

Aku berjalan ke atas menuju kamar kami untuk usaha yang kedua kalinya. Setelah ini, kalau Minho benar-benar tidak membuka kamarnya, aku akan pergi dan mengurus semua hal dengan baik. Yeah, mungkin.

Knock~ knock~ knock~~

Aku mengetuk pintu kamar Minho, dan masih sama seperti yang tadi, dia mengabaikanku. Tidak ada respon darinya. Satu kalimatpun tidak.

“Minho.. Kumohon buka pintunya.” kataku baru pertama kali memohon pada bayi besar itu. Aku benar-benar merasa bersalah padanya. Minho yang sebaik itu padaku, harus kukecawakan seperti ini. Nappeun Hyeyo! Aku pasti akan diomeli eomma karena menjadi sumber kehancuran rumah tangga ini.

Minho mengunci kamarnya walau aku berusaha membukanya. Er! Aku harus bagaimana sekarang. Berlutut depan pintupun aku rasa dia tidak peduli.

“Minho!! Kau tidak tahu bagaimana rasanya memohon pada orang yang lebih muda dariku? Ini pertama kali untukku! Kau keterlaluan!”

Dia masih diam tidak menggubris ucapanku. Aku jadi kesal sekarang. Aku berjalan turun ke bawah. Sesampainya di bawah, kusambar ponsel yang kuletakan dekat TV lalu keluar rumah dengan cepat. Dengan memakai setelan dress asal, aku keluar dengan dandanan seperti ini. Sungguh memalukan.

Aku memencet satu nomor yang mungkin bisa mengeluarkanku dari semua masalah.

“Lee Taemin, kau di mana?”

~~L~O~V~E~~

Two days later!

Aku benar-benar meninggalkan Minho. Aku bukan istri yang baik, huh? Aku memang menyebalkan. Terkadang aku memang tidak bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Aku memang bukan orang yang dewasa seperti yang dikatakan Minho. Kuharap dia tidak mengadu pada eomma aku minggat dan kami bertengkar hebat hampir cerai karena Soohyun.

“Noona, tidak baik kau berlama-lama seperti ini.” sahut Taemin di telepon. Aku sekarang sedang duduk di taman  hampir setiap harinya menunggu Kim Soohyun itu ada di sini. Tapi nihil, rasanya sudah dua hari aku ke sini, tapi tidak mendapatkan apa yang aku mau. Dia benar-benar menghilang begitu saja setelah menelentarkan vidio itu diketahui oleh Minho dan merusak hubunganku dengannya.

“Noona, kau dengarkan aku tidak sih?”

“Biar saja, Lee Taemin. Aku tidak bisa menemuinya. Kau juga tahu aku sudah mengecewakannya.”

“Noona, itu masa lalumu. Kau sudah berniat merubahnya. Sekarang kembali saja pada Minho-hyung.”

“Kenapa? Kau keberatan aku tinggal di rumahmu?” Ya, aku memang berdiam di rumah Lee Taemin dan memintanya bungkam perkara pertengkaranku dan keberadaanku pada Minho. Dia kini tahu sisi kekanak-kanakan dari orang sepertiku. Yeah, aku bahkan lebih anak-anak dibanding Taemin yang masih bersekolah.

“Aku hanya kasihan melihat Minho-hyung, noona.”  

Aku terdiam mendengarnya. Minho? Sudah dua hari ini aku pun memikirkannya. Aku merindukan bayi besar itu. Tidak kusangka waktu begitu cepat dan membuatku sedikit-sedikit menyukainya. Aku menyukainya? Benarkah? Minho, pria yang memiliki segala ketenangan yang istimewa bagiku, yang usianya 2 tahun di bawah usiaku. Apa aku serius?

“Um.. Bagaimana kabar Minho?”

“Dia? Tuhkan, noona juga memikirkannya. Pokoknya dia buruk! Aku rasa dia menginginkanmu kembali, noona! Sudahlah noona, jangan mempersulit posisiku. Aku masih bersekolah, dan tidak begitu mengerti masalah orang dewasa.”

Aku rasa Taemin sekarang kesal padaku. Er! Jadi aku harus berlari kemana lagi. Eomma sudah pasti akan membunuhku kalau tahu aku minggat.

“Taemin, aku akan menyelesaikan masalahku dulu, setelah itu baru menyelesaikan masalahku dengan Minho.”

“Noonaaa, ternyata kau lebih kekanak-kanakan dari yang kukira. Padahal kalian bisa menyelesaikannya bersama-sama. Kenapa sih harus seperti ini?”

Sudah bisa dipastikan Taemin memang kesal padaku. Terdengar dari nada bicaranya yang meninggi tiap kalimatnya.

“Noona, aku masuk kelas sebentar lagi. Apa noona sudah makan?”

“Sudah. Eomma-mu sangat baik padaku. Terimakasih Taemin kau sudah mau bersabar padaku yang seperti ini. Aku akan menyelesaikan masalahku.”

“Noona—“

Kututup teleponnya dan mendesah pelan. Kini aku terdiam di taman seperti biasa menunggu kehadiran pria yang harus bertanggung jawab atas kehancuran masa depanku.

Drrtt…… drrttt… drrtt… drrttt… drrtt…

Ponselku bergetar. Minho meneleponku. Aku mendesah memikirkannya lagi. Aku tahu dia pasti marah karena aku tidak membiarkannya menghubungiku. Mungkin hampir setiap 1 jam sekali saat  kepergianku telepon darinya selalu muncul. Ingin kuangkat. Tapi, aku tidak bisa. Aku harus menyelesaikan masalahku dengan Soohyun dulu. Lagi pula, kenapa sih bocah itu tidak bilang kalau dia menyukaiku? Jangan membuatku dilema sendiri. Aku selalu merasa dia seperti menyukaiku, tapi satu ucapan suka pun tidak pernah kudengar dari mulutnya. Coba kalau dia memperjelas semua sikapnya padaku, pasti aku akan lebih tenang dan membiarkan semuanya berjalan seperti semula.

“Haishh.. Kini aku malah menyalahkan semua pada Minho. Er! Aku memang buruk!”

Aku menatap layar ponselku lagi. Dan seperti biasa, setelah satu panggilan telepon itu, Minho tidak meneleponku lagi. Dia tidak berniat sama sekali mencariku. Sms-pun tidak ada. Huh, apa sih maunya dengan menghubungiku? Ingin mengomeliku lagi??

KIM SOOHYUN!! Ke mana namja gila itu? Setelah membiarkanku kehancuran seperti ini, dia malah pergi begitu saja. Aku bahkan belum sempat menghajarnya.

“Arasoo! Dia tidak ada lagi!” kataku mulai pergi dari tempat ini. Menunggu beberapa jam lamanya juga percuma karena dia tidak bisa datang. “Aku harus pulang!”

Pulang? Pulang kemana? Ini sudah larut, dan aku tidak bisa pulang ke rumah Lee Taemin, apa lagi semenjak aku bilang aku ingin menyelesaikan masalahku, itu artinya aku harus pergi dari semuanya.

Aku tidak bisa pergi pada eomma dan pada teman-temanku. Aku bahkan tidak bisa pergi ke kantor. Aku sudah jadi buronan selama 2 hari ini. Deadline pekerjaanku pun sudah pasti lewat. Aku tidak ada nafsu untuk menulis lagi. Masalahku adalah konsentrasiku sekarang. Dan aku rasa, aku juga akan dipecat dari pekerjaan. Hyeyo yang sekarang, baru kali ini mempunyai masalah yang benar-benar tidak bisa menekankan sisi profesionalisme. Aku benar-benar mengabaikan pekerjaanku. Setidaknya, dulu saat aku hancur juga, aku masih bisa sedikitnya menulis. Tapi sekarang, aku tidak bisa lagi.

“Kenapa aku ada di sini?” aku menatap pagar rumah yang tidak asing untukku. Tidak kusangka, aku justru akan terdampar di rumahku sendiri. Rumah ini yang sudah dua hari tidak kutempati. Aku meghela nafas pelan mengingatnya.

“Bodoh! Apa naluriku berkata aku harus pulang ke tempat ini?” aku pun pergi berjalan menjauh lagi dari pagar. Ini sudah jam 8 malam. Seorang gadis berjalan di malam hari sendirian tanpa tujuan, kau benar-benar bodoh, Nyonya Choi!

Deg! Sekelebat pikiran pun datang.

Nyonya Choi? Panggilan aneh dari Minho. Aku terdiam dan mengingatnya. Kapan terakhir kali aku meninggalkannya? Aku sangat merindukan bocah itu. Apalagi terakhir bertemu—kalau saja tidak ada vidio memalukan itu—kami pasti sudah melakukan sesuatu yang bisa menjelaskan kegamanganku akan dia dan diriku yang sudah saling mencintai atau belum.

“Baiklah, aku akan masuk ke dalam dan mengecek beberapa hal.” kataku sambil mendesah pelan. “Minho pasti tidak ada kok. Dia kan kalau akhir pekan selalu pulang dini hari.”

Aku  pun masuk dengan mengendap-ngendap ke dalam. Kutolehkan pandanganku ke arah dapur dan aku melihat tidak ada kehidupan di sana. Meja makan yang selalu kubuat penuh, setidaknya dengan buah-buahan dan keller makanan, kini kosong begitu saja. Ruang TV yang super duper berantakan, dan baju-baju Minho yang berserakan di mesin cuci karena sudah kepenuhan. Aku mengecek satu persatu ruangan yang ada di sini, dan benar saja, semua terlihat kacau.

Ya ampun, apa aku terlalu lama meninggalkannya?

Aku pun beralih naik ke lantai atas untuk melihat kamar yang sudah hampir kulupakan keadaannya. Kubuka sembarang. Astaga! Ada Minho di sana!!

Aku melompat keluar pelan, tapi mengendap-endap lagi melihat keadaan Minho. Minho kini sedang terlelap. Dia tidak ada syutingkah hari ini?

Kuberanikan untuk melihat dirinya dari dekat. Entah kenapa aku ingin menemuinya dan menatap wajahnya dari dekat. Aku menoleh ke meja di samping tempat tidur, dan lihat, dia tidak menutup dan mengisi mugnya dengan air lagi. Padahal aku tahu tiap pagi saat bangun, dia selalu meminum sesuatu dari sana.

Minho… Beginikah dirimu sepeninggalanku? Aku pikir kau baik-baik saja selama kau tidak serius menghubungiku, kataku dalam hati sambil menatap wajahnya yang damai tertidur.

Haruskah aku membangunkannya? Aku sudah pulang sekarang. Pulang? Oh gosh, tidak! Aku harus menyelesaikan dulu masalahku baru akan menunjukan batang hidungku lagi pada Minho. Tapi aku harus tidur hingga besok bisa pergi ke taman itu dan berharap Soohyun datang.

Haruskah aku tidur di sini? Aku ingin bersama Minho malam ini. Yeah, setidaknya aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku esok saat benar-benar bertemu dengan Kim Soohyun. Entahlah, aku sudah pasrah pada setiap kemungkinan.

“Baiklah, aku akan tidur di sini, Minhooo..” kataku tepat di depan wajahnya. Dia tidak menggubrisnya. Seperti orang mati, dia tidur dengan nyenyak.

Aku beralih naik ke atas tempat tidur dengan pelan. Kurebahkan diri di samping Minho dan tak kusangka Minho bergerak. Dia membuka matanya perlahan dan menatapku. Aku hampir melompat kaget. Apa sekarang dia sadar aku pulang.

Dia memeluk tubuhku dan mendekapnya lalu terpejam lagi.  “Noona, jalja..” katanya yang kemudian terlelap lagi, membuat jantungku jadi berpacu cepat mendengarnya.

~~L~O~V~E~~

Aku kini duduk di bangku taman seperti rutinitas biasa yang kulakukan saat minggat untuk berharap Soohyun datang. Setelah tidur di samping Minho, aku pergi diam-diam lagi di pagi hari dan tentunya saat Minho benar-benar tidak sadar aku ada di sana bersamanya.

Aku benar-benar bahagia bisa menemuinya lagi. Walau dia hanya tertidur, tapi melihatnya saja, sudah cukup membuatku senang bukan main. Sekarang aku sadar, dia memang bisa membuatku bahagia di kemudian hari.

Seseorang datang di hadapanku. Kutatap orang itu dari bawah sampai atas. Kim   Soohyun! Jantungku serasa ingin melompat melihatnya ada di sini. Tepatnya di depan wajahku.

“Soohyun!!” aku membentak dengan sangat kesalnya. Melihat keberadaannya di depanku sudah pasti membuat emosiku memuncak.  “K-kau!! Benar-benar keterlaluan!!!” kataku sambil menampar wajahnya.

Soohyun memegang bekas tamparanku dan menatapku.

“Kau gila! Benar-benar gila, Soohyun!!! Kau merusak semuanya. Aku dan Minho kini bertengkar karena kiriman sinting yang kau berikan padanya. Apa kau tidak berpikir itu—“

Greb! Dia memelukku.

“Maaf.. Aku tidak tahu harus merebutmu dengan cara apa.”

Aku meronta minta dilepaskan. Semanis apapun dia berucap padaku, terimakasih, aku tidak akan kembali padanya. Jangan bercanda.

“Aku selalu melihatmu datang ke sini setiap hari. Aku rasa kau serius ingin kembali padaku.”

Aku hanya terdiam. Tidak tahu mesti berbuat apa, walau di dalam hatiku benar-benar ingin menamparnya lagi.

“Kau, kau jangan pergi lagi dariku.” katanya masih memelukku. Aku masih terdiam berusaha tenang, karena apabila aku marah pun, aku rasa Soohyun akan berbuat lebih kasar.

“Soohyun-ah, harus kubilang beberapa kali, aku benar-benar tidak bisa.” ucapku lirih padanya. Dia melepaskan pelukannya dan menatapku tajam. Senyumnya yang barusan jadi memudar.

“Lalu apa maksudmu menungguku setiap hari di sini kalau bukan ingin kembali? Bukannya kau kemari karena selesai dengan bocah itu?”

Aku mendesah pelan. “Aku ingin mengambil kalung milikku. Pasti kau menyimpannya. Bolehkah aku mengambil barang itu sekarang?”

Dia merogoh satu celananya dan menunjukan kalung yang kusebut di depan  mataku. Astaga, bandul ‘M’ nya apa yang terjadi. Kenapa rusak seperti itu. Kotor pula! Er~ Kim Soohyun! Aku sudah menahan emosiku, kini dia membuatku naik lagi.

“Yaa! Kenapa kau rusak?”

Soohyun diam tidak menjawab.

“Soohyun-ah! Tidakkah kau sadar sekarang? Aku datang ke sini hanya mengambil ini! Apa tidak cukup bagimu mengusikku, setelah vidio mesum  yang kau berikan pada bocah yang tak tahu apa-apa itu. Demi apapun aku tidak akan kembali pada orang sepertimu! Kau benar-benar membuatku hancur untuk kedua kalinya.” bentakkku kasar padanya di taman. Wajahnya mendadak memerah. Sudah pasti dia semakin marah karena ucapanku.

“Oh, bagaimana reaksinya saat melihatnya?”

“Soohyun-ah! Apa kau jadi gila!”

“Iya aku gila dan ingin merebut kembali dirimu. Apa kau tidak sadar?”

“Tidak. Aku bukan milikmu lagi. Aku sudah mempunyai seseorang yang kusayang sekarang. Bukan kamu, tapi suamiku sendiri!”

Soohyun berdiri dan menarikku ke arahnya. “Jangan bercanda, Hyeyo. Aku tidak akan pernah terima kau menyukai orang lain. Kalau kau menemuiku sekarang, itu artinya kau kembali padaku.”

“Tidak! Aku menyukainya pria itu. Kau tidak terlihat seperti mencintaiku. Kau menghancurkanku. Kau kejam! Kau hanya ingin balas dendam.”

Soohyun mencengkram lenganku kasar. Dia membawaku berjalan walau aku meronta. Dia kelihatan sangat marah.

“Lepas!! Lepaskan, Kim Soohyun!!” aku meronta. Soohyun tidak mendengar dan terus mencengkram lenganku sampai sakit.

“Soohyun-ah, aku tidak bisa! Tidak bisa kembali lagi!” jeritku. “Sakit, Soohyun–ah!” teriakku dan dia akhirnya melepaskannya. Lenganku benar-benar sakit dan bodohnya di saat yang tidak tepat, perutku kembali mual dan aku muntah di tempat. Aku menatap Soohyun tajam dan Soohyun balik menatapku penuh tanda tanya.

“Apa yang pria itu lakukan, Jungie?”

Aku masih memuntahkan isi perutku saat ini juga. Lelah! Aku sangat lelah sekarang.

“Yaa! Jungie!! Apa yang pria itu lakukan padamu, huh?!”

“Apa maksudmu??”  aku tidak terima baru saja dibentak olehnya. Apalagi ini di tempat umum.

“A-apa kau telah melakukan itu dengannya? Apa kau sekarang sedang—”

“Jangan bodoh!” teriakku padanya yang belum sepenuhnya mengerti maksud pria itu. Aku terlalu capek dan perutku sakit. Aku tidak bisa berpikir terlalu banyak.

“Bagus! Kalau begitu sekarang biar aku memilikimu. Akan kubuktikan kau benar-benar milikku. Kau sudah tidak bisa menghindar lagi dariku.” katanya menarikku bangun dan menyeretku dengan tangan kasarnya.

“Lepaskan!!” kataku meronta tapi tidak ada orang di taman ini mempedulikanku. Mereka hanya mengira aku pasangan yang sedang bertengkar. Lenganku sakit terkena kukunya yang tajam. Aku rasa sekarang malah terluka.

“LEPASKAN, KIM SOOHYUN!!”

BUGH!!

Seseorang memukul Soohyun tiba-tiba. Sosok pria yang tidak asing bagiku, yang selalu tersenyum dan terlihat tenang padaku, kini memperlihatkan kecemasan dan kemarahannya di depanku. Itu Minho, sosok yang kurindukan selama dua hari ini. Betapa bahagianya aku melihatnya lagi ada di sini. Menolongku.

“Kau pikir aku akan melepaskan gadis ini begitu saja hanya karena vidio sampah itu?”

BUGH!! BUGH!!

Minho memukul Soohyun berkali-kali. Aku terdiam di atas rumput masih menahan rasa sakit yang meremas perutku.

“Ka-kau.. lebih baik menghilang dari kehidupan kami. Jangan pernah kau berharap apa-apa darinya. Dia sudah seutuhnya milikku! Jangan pernah berpikir untuk melalukan hal kotor padanya.”

“Kau—berani memukulku bocah sialan? Seharusnya kau sadar apa saja yang dia lakukan denganku. Tidakkah itu cukup memperlihatkan kalau Hyeyo masih mencintaiku.”

Minho beralih menatapku dan tidak sengaja karena itu dia terkena pukul Soohyun. Aku hanya membulatkan mata tidak bisa berteriak. Aku tidak sanggup. Kibum datang dan menjauhkanku dari keduanya. Dia mengelus punggungku dan menenangkanku yang kini menangis. Entah itu tangis bahagia karena Minho datang, atau justru aku malu—untuk kedua kalinya—karena  mengecewakannya.

Kulihat beberapa orang datang melerai pertengkaran Minho dan Soohyun. Tapi keduanya tidak berhenti meluapkan kemarahannya. Bahkan ini pertama kalinya aku melihat Minho yang tenang berubah jadi emosional.

Dengan langkah gontai dibantu Kibum, aku memeluk Minho dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya. Aku  menangis saat itu juga.

“Minho-ya.. sudahlah.. kita pulang saja. Aku benar-benar lelah.” kataku padanya dan sedetik kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi.

~~L~O~V~E~~

Aku terbangun dari entah aku pingsan atau memang tertidur lama. Yang jelas ruangan ini adalah kamarku.

Kudengar dari Kibum dan Jonghyun kalau ternyata Soohyun sekarang sudah pergi dari kehidupanku. Mereka memastikan namja itu tidak akan datang lagi, walau aku belum tahu pasti saat aku pingsan apa yang terjadi dengannya.

“Noona.. Aku sangat kaget ketika melihatmu diseret namja asing di taman. Makanya aku langsung menghubungi Minho.” seru Key padaku. Apa katanya? Apa itu artinya.. Minho..

“Kami sudah tahu semua masalahmu. Aku juga sudah tahu siapa namja itu sebenarnya, noona. Maafkan aku tidak peka selama ini. Aku tidak tahu noona mengalami hal semacam—dekat dengan pria gila itu.” kulihat dia menoleh ke belakang. Itu Taemin. Apa Taemin yang menceritakan semuanya? Kepalaku benar-benar terasa pusing sekarang.

“Noona, akhirnya kau kembali pada pria yang tepat lagi. Minho adalah pria yang tepat untukmu. Dia yang tercipta untukmu.”

Aku melamun. Memikirkan kata-kata Key barusan. Iya, memang Minho. Tapi tetap saja aku merasa benar-benar tidak pantas lagi baginya. Aku meninggalkannya sendirian karena tidak bisa mengatasi masalahku. Aku membuatnya berkelahi dan telah membuatnya kecewa dengan vidio mesum itu. Tidak, aku terlalu menjijikan.

Suara langkah kaki terdengar masuk ke ruangan ini. Kutengadahkan kepalaku—sambil tak henti memegang pelipis karena merasa pusing—untuk melihat sosok pria tinggi yang berjalan menunduk menghampiriku.

Minho? Jantungku berpacu cepat saat melihatnya. Aku menatapnya terdiam, dan Minho pun demikian. Dan karena itu juga  Key dan Taemin tiba-tiba berinisiatif  keluar.

Minho berjalan mendekatiku. Dia mengecup keningku. “Mian, Hyeyo-ya…”

Air mata mengalir begitu saja saat mendengar suaranya. Aku memeluknya seperti tidak ingin kulepaskan selama-lamanya. Minho.. Apa kau tahu aku sudah jatuh hati padamu? Kau telah membuatku dua hari ini memikirkanmu. Aku terlalu merindukanmu sekarang.

“Minho… Aku..”

“Gwenchana.. Aku tidak akan membiarkanmu diusik oleh namja itu lagi.”

“Mianhae..” isakku makin parah.

“Maaf, aku juga telah berkata kasar dan dengan bodoh tidak membuka pintu saat kau mengetuk pintu kamarku.”

Minho menegadahkan wajahku hingga aku melihat air mukanya yang terlihat tenang lagi seperti biasa. “Mian.”

Air mataku menetes lagi. Minho benar-benar baik. Dia tidak membahas masa laluku sama sekali. Tidak juga mengucap masalah pria itu. Apa yang harus aku lakukan pada pria sebaik ini?

“AH!!!”

Perutku lagi-lagi mual disaat yang tidak tepat. Aku menutup kedua mulutku yang mungkin ingin mengeluarkan isinya. Secepat kilat Minho membawaku ke westafel dan membiarkanku muntah. Dia mengelus punggungku.

“Sudah merasa enakan??”

“Iya..”

Dia memelukku dari belakang tiba-tiba. Sambil memegang perutku dan mengelusnya, dia mengecup tengkuk leherku. Ini sedikit membuatku agak aneh. Kenapa dengannya?

“Terimakasih, Nyonya Choi.” katanya semakin membuatku aneh saja.

Minho membawaku ke kamar lagi dan kembali membaringkanku di ruang tidur. Dia kini duduk di depanku sambil tidak melepaskan tangannya sedikitpun. Aku mungkin terbawa suasana sekarang. Aku merasa Minho sangat manis saat ini.

“Hyeyo-ya.. Percayalah padaku kalau kau akan bahagia bersamaku.” katanya sambil mengecup keningku lagi.

Aku langsung bangun dari tidurku dan menatapnya saat ini. Kulihat sebuah luka hasil pukul berbekas di sudut bibirnya. Aku menyentuhnya dan dia meringis kesakitan. Aku jadi merasa bersalah dan lagi-lagi menenggelamkan wajahku.

Chu!

Minho tiba-tiba menciumku. Ciuman Minho, aku jadi merasa ciuman ini  yang terbaik yang pernah aku terima dari seorang pria. Dia selalu lembut melumatnya, membuatku terbawa suasana walau masih canggung kalau harus ikut membalasnya.

Aku terdiam saat dia menyudahinya begitu cepat. Tatapanku merasa butuh jawaban.

“Perih, noona..” katanya sambil memegang bibirnya yang terluka karena pukulan Soohyun itu. Aku sedikit tertawa dan langsung memeluknya. Belum lama memeluk, dia melepaskannya dan merengkuh wajahku dengan lembut. Dan dengan satu tatapan dia kini mendekatkan bibirnya lagi padaku.

“Tapi aku mau melakukannya lagi.” desisnya langsung meraup bibirku. Jantungku berdebar dengan cepat, dan aku pun terdiam membiarkan dirinya melakukannya. Kurasa Minho mulai bertindak seperti bayi besar karena sekarang dia sudah berani meletakan tangannya untuk meraba punggungku. Dia kini beralih mengecup tengkuk leherku dengan sedikit agresif.

Klek!!

Suara pintu terbuka berbarengan dengan suara eomma yang sukses membuat kami melepaskan diri dari aktivitas ini.

“Aiiaaa.. Mian. Eomma datang di waktu yang tidak tepat.” sahutnya langsung menutup pintu kembali. Aku dan Minho saling memandang dan tersenyum malu.

Minho mengecup bibirku singkat. “I will do it next time!” katanya lalu pergi membiarkan eomma masuk setelah itu. Entah kenapa aku malah berdebar mendengar perkataannya.

Berton-ton beban pikiranku menghilang begitu saja saat Minho tidak membahas Soohyun di depanku. Dia bertindak seperti biasa lagi di depanku, seperti Minho yang bertindak sesuka hati padaku. Dia yang terlihat tenang memang Minho apa adanya.

“AIGOO HYEYO–YA!! Tidak eomma sangka rupanya kau dan Minho…” sahut eomma mulai lagi ingin mengintrogasiku. Aku terdiam dan hanya tersenyum pasrah padanya, karena pada kenyataannya aku sudah ke-gap bermesraan dengan Minho. Eomma pasti bahagia.

“Kau memang daebak!” Eomma tiba memelukku. Dia kelihatan sangat bahagia untuk ukuran yang menjenguk orang sakit.

“Se-sesak!”

“Hyeyo, terimakasih kau telah memberikan eomma dan appa seorang cucu.”

Aku menaikan alisku. Apa eomma tidak salah bicara? Cucu? Siapa yang eomma maksud.

Eomma mengelus perutku. “Kata Minho, baru dua minggu ya?”

“Nde??”

“Jangan berpura-pura, Hyeyo. Kau sedang hamil muda.”

“NDE?” aku membulatkan mataku. Hamil? Hamil apa? Siapa?

“Baiklah. Eomma pulang lagi, tidak mau mengganggu aktivitasmu yang sedang bermesraan tadi.”

Eomma tidak memperhatikan aku yang sedang kebingungan. Dengan seenaknya dia pergi sambil melambaikan tangannya. “Dadah sayaaang…”

~~L~O~V~E~~

Akhirnya aku terdiam di ruangan ini, tidak mengerti apa yang eomma katakan padaku. Dan karena itu pula, perutku tiba-tiba mual lagi. Aku berlari ke luar kamar dan mendapati Minho menghampiriku dengan cepat.

“Astaga Hyeyo, kau mual lagi? Apa begitu rasanya?”

“Mi-Minho.. Tadi eomma bilang aku hamil. Tapi bagaimana mungkin.”

Minho tersenyum membuatku curiga. “Jadi kau sudah tahu?”

“Yaa.. Minho.. Apa maksudmu?”

“Nyonya Choi sayang, kau mengandung anakku sekarang.”

Deg!!

“Jangan bercanda, Minho!”

Dia tersenyum padaku. Entah kenapa aku mulai takut dengan apa yang sedetik kemudian akan dia ucapkan.

“Aku serius. Makanya sejak kepulangan dari Paris kau mual dan muntah terus. Kau hamil 1 bulan kata dokter.”

Kepalaku ingin benar-benar kubenturkan. Bagaimana bisa aku hamil mendadak. Sudah kupastikan wajahku aneh sekarang. Aku shock. Pastinya!

“Tidak percaya?” katanya sambil mengeluarkan sesuatu dari kabinet kecil di kamar mandi ini. Eh? Sebuah test pack dia tunjukan di depan wajahku. “Mau coba?”

Entah kenapa aku merasa geram melihat tingkahnya. Aku langsung mengambil test pack yang disodorkan Minho kasar. Tes urin katanya? Huh, aku tidak mungkin hamil, dasar bodoh!

Dengan segera aku melesat pergi ke kamar mandi. Aku menatap lekat-letak test pack ini, berpikir rasanya ini hal yang buang-buang waktu dan percuma. Heh, aku tidak mungkin hamil hanya karena membalas ciuman Minho. Atau.. Sebentar! Saat di mana aku pagi-pagi terbangun dengan hanya menggunakan pakaian dalam… Apa itu..

Jantungku berdegup kencang sekarang. Apa aku sudah melakukannya dengan Minho? Tanpa sadar? Haissshhh… Tidak mungkin! Kalaupun iya, aku pasti mengingatnya. Jangan bodoh, Minho bayi besarku tidak akan melakukan itu. Dia terlalu baik.

Aku menatap test pack itu lagi setelah menutup pintu kamar mandi dan mendesah pelan. “Ini memang konyol. Tapi aku sungguh penasaran. Bagaimana aku bisa hamil sendiri.”

“Hyeyo-ya sudah kah kau cek itu??” sahut suara dari luar kamar mandi. Masa bodo, tidak kupedulikan! Aku fokus pada apa yang kulakukan saat ini.

Setelah melakukan serangkaian langkah. Kini aku tinggal menunggu. Menunggu 1-3 menitan. Aku menunggu garis apa yang akan timbul dari test pack ini. Satu garis sudah muncul. Satu garis kan artinya tidak hamil. Benar! Aku tidak hamil kan? Aku tersenyum bangga namun tiba-tiba jadi terdiam.

Baiklah, aku akan tunggu 5 menit lagi agar bisa bernafas lega. Takut, tiba-tiba garisnya jadi bertambah.

“…”

“…”

“…”

Setelah menit yang dinantikan tiba!

“HYAAAAAAA!!!!!!”  aku berteriak histeris yang kemudian disertai ketukan di luar pintu dari Minho yang panik.

“Yaa.. Kau kenapa Hyeyo? Apa kau baik-baik saja di dalam?”

Apa-apaan ini? Di sana terlihat 2 garis strip berwarna merah. Itu artinya positif. Aku positif hamil. Kok bisa?? Kok bisa?? Kok bisa???

Aku sangat terkejut melihat hasilnya. Bukan terkejut lagi, aku merasa lemas dan merosot ke lantai. Aku terus-terusan berpikir kenapa aku bisa hamil. Ini anak siapa? Dan kapan aku melakukannya? Kok aku bisa tiba-tiba hamil? Apa yang harus kulakukan? Atau, mungkinkah ini anak Soohyun? Astaga! Memang apa yang kuperbuat? Yang memiliki kemungkinan lebih besar ini anak siapa memang cuma Minho.

Minho? Tidak mungkin. Dia itu pria yang baik. Walau dia bayi besar, tapi dia tidak mungkin sejahat itu merusak kesepakatan kita.

O-tto-khae? Bagaimana bisa.. Ini sungguh aneh. Anak siapa ini? Kenapa aku bisa tiba-tiba hamil begitu saja? Aku memang sudah menikah. Tapi bukannya orang bisa hamil karena ada proses terlebih dahulu? Sedangkan aku… Apa?! Apa yang akan kukatakan pada Minho?!

“Yaa~ Hyeyo, kau kenapa menangis di dalam?”

“Berisik kau, Minho!! Aku akan membunuh diriku sendiri sekarang karena sudah hamil tiba-tiba.”

“Jangan bodoh! Itu anakku, Hyeyo! Kau tidak hamil tiba-tiba.”

Klek!

Kubuka pintu kamar mandi. Kutatap matanya tajam dan mulai mencerna maksud perkataannya barusan. Anaknya, katanya?

~~L~O~V~E~~

knock~ knock~ knock~  suara ketukan pintu terdengar.

“AKU TIDAK MAU DIGANGGU!!” kataku berteriak dari dalam kamar. Yeah, aku kini mengurung diri di kamar.

“Hyeyo jangan terkejut begitu.”

“MASA BODO! HARUSNYA AKU BAWA GUNTING RUMPUT DAN MENGGUNTINGMU!”

“Hyeyo, jangan macam-macam. Malaikat kecil kita ada di dalam perutmu.” katanya yang membuatku melihat perut sendiri.

Aku tidak menjawab. Aku malah meluangkan waktu untuk berpikir kenapa Minho bisa santai seperti ini? Kenapa dia tidak marah? Padahal kalau dia merasa waras—apalagi beberapa kejadian memojokanku seperti aku gadis nakal bersama Soohyun—dia seharusnya curiga, atau malah marah besar.

Minho masuk tiba-tiba membuatku melompat kaget. “Kunci cadangan… Kau lupa aku pemilik rumah ini.” katanya dengan bangga lalu menghampiriku, sedang aku sudah siap-siap ingin melempar bantal padanya.

“Jangan bilang kau melakukan itu diam-diam saat aku  di bawah sadar? Jangan bilang kita sudah melakukan itu, Minho!”

Minho memperlihatkan evil smirk-nya padaku. “Memang sudah.”

“HYAAAA—Emphhtt!!” Minho membungkam mulutku yang kaget setengah mati mendengarnya.

“Jangan berlebihan.” katanya masih terus membekap mulutku dengan tangannya.

“K-Kau?? Apa tadi kau bilang?”

“Kita tidak melakukannya sekali.” katanya yang sukses membuatku membulatkan mata. “Di hotel kau yang menggodaku. Aku melupakan kesepakatan itu karena kau yang gencar menginginkannya. Tidak ingat?”

“HYAAAAA!!!!!!!!!” aku berteriak sejadi-jadinya, tidak percaya. “Kenapa melakukan itu? Bukankah kita punya kesepakatan? Kau jahat!! Jahat!! Aku bilang jangan melakukan itu sebelum kita benar-benar suka, Minho!” aku pun memukulnya, lupa kalau badan Minho padahal masih sakit hasil perkelahiannya dengan Soohyun.

“Jadi kau sama sekali tidak ingat?” dia menatap lemas padaku. “Aku pikir ini hanya topik basa-basimu.” Aku terus memukulnya tidak memperdulikan perkataannya.

“Jadi kau sama sekali tidak mengingatnya sedikitpun, Hyeyo?” tanyanya lagi namun dengan intonasi yang meningkat.

“Apa? Apa yang mesti kuingat?? Apa, ah??”

Minho menghembuskan nafas berat. “Sudah kuduga, kau belum benar-benar menerimaku walau kau sudah memilihku.”

“Aku tidak suka kau mengambil kesempatan.”

“Pantas saja setelah melakukan itu, kau bersikap biasa lagi. Huh, ternyata.. yang mengalami perasaan ini…”

“APA?” selaku.

“Lupakan. Jangan marah-marah. Kau tidak ingat sedang hamil?”

“Hyaaaaaaaaa!! Jangan ingat-ingat! Kau menyebalkan. Kau melakukan disaat aku tidak sadar. Itu curang. Sama saja bohong, Minho. Aku setengah mati memikirkan hal ini barusan. Aku pikir aku hamil tiba-tiba. Ternyata.. kau dengan entengnya—”

“Memangnya kenapa kalau aku melakukan itu?? Bukankah kau istriku, Nyoya Choi. Apa kau lupa?!” wajahnya membuatku mengambil kesimpulan kalau dia marah. Eh? Bukannya terbalik. Yang harus marah dan galak karena situasi ini kan seharusnya aku. Kenapa Minho jadi ikut-ikutan kesal?!

“Minho.. Apa kau juga tidak ingat aku mengatakan dengan jelas tepat di malam kita untuk pertama kalinya tidur dalam satu ranjang.” Aku bicara hati-hati agar Minho tidak terpancing emosinya. “Jangan pernah berpikir ingin melakukan ‘itu’ saat kau belum sepenuhnya mencintaiku, menyukaiku dan menerimaku. Apa kau tidak ingat?”

Dia membuang nafas berat lagi, “Kau terlalu lama berkutat dengan kesepakatan itu, noona. Apa sampai detik ini perasaanmu masih sama dengan pertama kali kita bertemu? Bukankah perasaanmu sekarang memiliki perasaaan itu padaku?”

Aku terdiam, ucapannya hampir tepat, tapi entah kenapa aku tidak bisa berucap. “T-Tapi kau sendiri b-belum mencintaiku kan, Minho??”

Ekspresi Minho berubah, dia terlihat kesal saat mendengarnya. “Selama ini apa sikapku kurang menunjukan bahwa aku mencintaimu? Kenapa kau sangat bodoh sekali.” katanya malah mengomeliku. “Usia dua tahun di atasku, tidak menjamin kalau kau sama sekali tidak lebih dewasa dariku.” keluhnya. Kutangkap ekspresi lelahnya saat ini. Kenapa dia jadi yang marah ketimbang diriku sekarang. Ini aneh. Aku yang mestinya lebih galak. Bukan dia.

“Aku tidak peduli. Tetap saja kau pria yang kurang ajar! Mencuri kesempatan! Aku benci pria seperti itu!! Tidak ada bedanya dengan pria-pria di luar sana.” kataku malah mengatainya saking terlanjur kesal. Di dalam pikiranku sekarang hanya ada pemikiran, ‘kalau aku benar melakukan itu dengannya, aku benar-benar sangat malu’.

Minho makin menatapku sinis, dia berdiri dan meninggalkanku. Dia berjalan menuju pintu dengan kesal.

“Minho!!” panggilku.

“Jangan berbicara padaku sebelum kau mengingatnya. Entah apa yang ada di pikiranmu sekarang, aku hanya tidak ingin pertengkaran saat ini hanya basa-basi belaka.”

Jantungku berdegup kencang mendengarnya. Minho terlihat sangat serius. Ucapannya barusan benar-benar sedang tidak dalam kondisi iseng. Kenapa dia yang jadi marah?

Kini aku memandang punggung yang semakin tidak terlihat. Entah kenapa aku jadi begitu sedih lagi. Aku menatap perutku dan kemudian melanjutkan aksiku untuk menangis. Dan mirisnya, Minho tidak peduli padaku.

~To Be Continue~

~This story is mine. This plot is mine. Say no to plagiarsm.~
 ~ Publish by mamotho @https://mamothozone.wordpress.com/ ~

An:
~ Next part khusus MINHO-POV. Aku membuat part itu sengaja karena di awal-awal ada yang minta dan curious mengenai perasaan Minho. Akhirnya kubuat deh. Semoga dengan adanya part depan akan memperjelas semuanya. Dan setelah itu MCLA—singkatan ff ini—berakhir sudah. Hehe~

~ back to point, aku pengen tahu perasaan kalian pas baca part ini bagaimana. Semoga sama dengan yang aku pikirkan.  Hehe.. kutunggu komentarnya!

About mamotho

Special Girl. Always loved her self, and know what makes she herself happy. Fangirlling is also her spirit (ʃƪ˘ﻬ˘) SHINee is her oxygen too!

Posted on 18 February 2012, in Marry comes Love appears, SEQUEL, SHINee FF and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 161 Comments.

  1. whuahahaa bener2 si hyeyo masa hamil gak engeh emangnga kamu gak ngitung kapan datang bulan ya? itu kan udab masuk 1 bulan hamil.haha
    minho jadi kecewa sangat

KOMEN YO ( ˘ з˘ )/

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: