[HOMI Couple] Warm, Sweet, ER!

[HOMI Couple] Warm, Sweet, ER!

Title : Warm, Sweet, ER! (Chronicles of HOMI Couple)
Author :  mamoTHo
Main cast : Choi Minho, Lee Hyemi
Other cast : Krystal, Lee Joongki
Genre : Life – fluff
Lenght : Oneshot
Rate : G

AN :  HOMI COUPLE adalah couple yang terlahir di sequel Start With A Kiss. Mereka adalah pasangan paling byeontae, koplak, bodor, dan bisa dibilang aneh. HO untuk Minho dan MI untuk Hyemi. HOMI COUPLE adalah nama yang mereka buat untuk acara Sport day yang bertemakan HOT COUPLE. Mereka bahkan bertaruh untuk menjadi sepasang kekasih disana, dan mendapatkan gelar yang memang mereka perjuangkan, HOT COUPLE.

Summary : Sebuah sweater mampu membuat Minho-kekasih Hyemi tidak berkedip sedikitpun. Minho menatap sweater itu seperti jatuh cinta. Sayang, begitu dia menginginkannya rupanya sweater itu tidak bisa didapatkanya. Alhasil dia mengurungkan niatnya. Tapi Hyemi, orang yang tidak peduli dengan perayaan semacam valentine, justru malah memiliki ide untuk membuat valentine pertama bersama Minho itu  spesial. Dia berniat membuatnya. Suatu pekerjaan rumahan yang yang sudah pasti tidak terampil dilakoninya, mungkinkah Hyemi bisa?

This Story©mamoTHo

~ Warm, Sweet, ER!! ~

H-14!

Hari ini aku sedang berjalan-jalan bersama Minho. Kalian tahu, ini adalah yang kesekian kalinya. Yeah, Minho sekarang cukup berani untuk membawaku berjalan keluar, walau memang harus tetap menggunakan beberapa penyamaran. Tapi walau bagaimanapun, aku benar-benar senang setiap dia mengajakku jalan bersama.

Aku melirik tanganku yang digenggam oleh Minho. Ini yang paling membuatku berdebar. Saat dia mengisi dan merapatkan jari-jarinya di sela jariku dan menggenggamnya, aku pasti merasa bahagia. Dan tentunya merasa jantungku ingin melompat tak karuan. Hm, Minho tidak tahu. Yang dia tahu, hanya Lee Hyemi, pacar yang tidak peduli padanya. Sampai sekarang, dia selalu saja buruk sangka padaku.

Aku menoleh ke pemilik wajah yang dari tadi bersembunyi di balik syal yang menutupi sebagian wajahnya. Memang harus seperti itu, kalau tidak, yah, tamatlah kita berdua. Ini resiko berpacaran dengan selebritis untukku, dan ini juga resiko berpacaran dengan gadis biasa untuknya. Tantangan besar untuk kami. Yeah, kami selalu menyukai tantangan, seperti biasa.

“Aegy, kita mau ke mana lagi?”

Aegy? Aku selalu malu kalau dia mulai memanggilku dengan sebutan aegy. Terlalu manis bukan? Entah sejak kapan, panggilan itu selalu melekat dan dilontarkan di saat-saat tertentu. Dan saat ini, kelihatannya arti dari panggilan tersebut adalah ‘memelas’.

“Yaaaaa.. Ke mana lagi nih? Memang kau belum mendapat apa yang kau mau?” aku benar kan, nadanya terdengar seperti protes kali ini.

Aku berhenti mendadak dan menatapnya. “Sudah sih! Tapi aku mau jalan-jalan!”

Wajahnya kini memberengut sebal menatapku. Dia pasti marah karena jawabanku.

“Aigoo~ Jadi kita dari tadi muterin jalan gini, kamu ga cari apa-apa? Bener-bener Lee Hyemi!!”

“Heheu~ Aku cuma mau jalan bareng kamu, Minho!”

Minho langsung merangkul pinggangku dan menariknya ke sisinya. “Cuma pengen jalan bareng katamu?” dia menatap mataku dekat lalu tersenyum penuh arti. Aku tahu dia mau apa. “Ya sudah. Sekarang giliranku! Antar aku beli baju!”

“HHHEEEE??? Bukannya kamu tidak pernah mendapat apa yang kamu mau kalau tidak dengan koordimu, Minho?”

“Tidak. Sekarang aku mau mencoba cari sendiri. Kau harus ikut aku!” Dia menarikku dan membawaku berjalan. Aish, Lebih tepatnya, menyeretku berjalan.

***

Aku dan Minho masuk bolak-balik tiap pertokoan sepanjang jalan Myeondong hanya untuk mencari pakaian-pakaian yang dia inginkan. Aku benar kan, dari mengitari 10 lebih butik dan FO yang ada, dia hanya membeli 2 setel. Menyusahkan! Hanya membuatku pegal saja.

“Yaa! Minho! Sudah belum sih? Ini sudah FO ke-8 dari 10 FO yang ada. Aku capek!”

“Kau mau taruhan aku akan dapat apa yang aku mau di FO yang ke-10?”
“Hah? Ke-10??” aku menghampirinya dan memukul lengannya. “Yaa! Hari ini kan tugasmu mengantarku shoping, bukan kebalikannya. Kau lebih ribet dari aku. Terlalu selektif! Hanya baju, Minho! Pilih saja model sesukamu, warna kesukaanmu, kalau masalah harga aku yakin kau tidak ambil pusing. Kenapa susah sekali sih?!”

Minho membisik di telingaku hampir membuatku merinding. “Yaa.. Aku memang selektif. Sama seperti yang kulakukan saat memilih yeoja. Kau adalah salah satu yeoja yang kutemukan dari seribu orang yang menyukaiku. Aku memilihmu dengan penuh perjuangan juga.” Dan kini dia memandangku. Aku tahu ini akan berujung dengan aksi menggoda. Apa coba hubungannya baju dengan yeoja. Haish!

“Ya sudah cepat dapatkan apa yang kau mau! Aku mau duduk dulu!!” kataku sudah lelah berdebat dengannya.

Minho pun kembali mengitari seantero rak baju hanya memandangnya dari jauh sambil  melipat tangannya di dada. Mana ada orang yang memilih baju hanya dengan melihatnya saja. Bodoh! Coba dulu saja kek! Lihat dengan seksama! ER! Kalau seperti ini, tahu begitu aku menyeret Kibum saja untuk mengantarku shoping.

Drrt.. Drrt.. Drrt.. Drrt..  ponselku bergetar saat aku baru saja menyenderkan kepala di sofa tempat tunggu. Ada lagi yang menggangguku selain Minho.

“Ya Krystal, ada apa?” sahutku pada telepon.

“Hyemi!! Aku kebingungan~~!”

“Kenapa?”

“Valentine, Hyemi! Valentine!! Aku bingung harus memberikan Donghae atau Kim Kibum!”

“Sudah kubilang jauhi Kibum, Krystal. Lebih baik dengan Donghae saja!”

“Kalau aku memberi dua-duanya bagaimana?”

“Er~!! Bukannya valentine ini kau akan jadikan ajang nembak. Kenapa malah jadi plin-plan. Pilih Donghae. Titik!” kulihat Minho jadi menatapku. Aku yakin dia merasa aneh pada diriku saat ini. Yeah, karena aku baru saja berteriak pada telepon. Siapa yang tidak aneh, semua orang pun di outlet ini memperhatikanku.

“Baiklah, Donghae-oppa kalau begitu. Sekarang aku harus memberi apa?”

“Kau yang punya hajat, kenapa tanya padaku.”

“Ayolah Hyemi. Bantu aku berpikir saja. Ini demi duo gossip. Aku tidak mau jomblo sendiri sedang kau selalu melesat pergi menemui Minho di jadwal-jadwal kita mencari topik untuk penggosipan.”

Aku memberengut sebal. Astaga, separah itu kah aku dan dia di kampus?

“Hyemi-ya, kau sedang menelpon siapa?” Minho menyahut disela-sela aku berpikir.

“Apa Lee Hyemi?Kau mikir kelamaan!” protes Krystal.

“Hyemi, kau menelepon siapa?” sahut Minho lagi. Aku mendelik padanya dan memberi isarat kalau Krystal meneleponku. Dan setelah itu, tanpa peduli, dia kembali pada rak baju berikutnya.

“LEE HYEMI!!!” teriak Krystal dalam telepon.

“Baiklah cokelat saja yang gampang.”

“Membuat cokelat yang enak resepnya apa sih?” tanya Krystal lagi. Aku sudah membantunya memberi ide, kini dia malah bertanya lagi.

“Mana kutahu, aku belum pernah buat. Lagi pula susah amat tinggal beli. Banyak kok cokelat yang enak yang siap dibeli. Aku punya nomor penjualnya.”

“Hyemi… Apa kau akan memberikan cokelatmu pada Minho dari hasil beli?? Ah jinca!”

“Aku? Aku tidak mau memberi cokelat.”

“Eh?? Kau sudah mempersiapkan hadiahmu untuk Minho?”

“Aku tidak merayakannya.”

“Jangan bodoh!”

“Memang tidak!”

“Er! Lee Hyemi! Kau kan sudah pacaran dengannya. Masa tidak ada yang spesial? Kali ini valentine pertama kalian kan? Tidak mau tahu! Besok kau datang ke rumahku untuk membuat cokelat bersama. Ya ya!!”

“Yaa~ aku tidak—“

“Sudah jangan menolak! Aku tidak ingin dengar alasan konyolmu!” katanya sambil menutup teleponnya sepihak.

Aku mendesah pelan dan melirik ke arah Minho. Seperti mengerti air mukaku yang memberengut, Minho menghampiriku dan duduk di sampingku.

“Wae?”

Aku mengalihkan pandanganku padanya. “Aniya, hanya ada beberapa hal yang harus kuurus bersama Krystal.”

“Apa?”

“Masalah perempuan.”

“Memangnya pria tidak boleh tahu?”

“Tentu tidak.” kataku dan melihat ekspresi kecewa dari Minho. Aku melirik lagi padanya. “Sudah dapat bajunya?”

Kulihat dia kini malah cengengesan. “Belum. Ayo kita cari lagi!” katanya menyeretku untuk kesekian kalinya. As-ta-ga!

***

Benar dugaanku. Setelah mengitari semua FO beserta butik yang ada, Minho tidak mendapat apa yang dia mau. Sebenarnya dia mau apa sih. Sulit sekali mendapatkan apa yang dia mau. Kakiku sudah lemas. Yeah, walau belanjaanku ikut tertenteng oleh Minho dengan baik hati, tapi aku merasa badanku berat untuk dibawa berjalan. Apa naik 2kg membawa perubahan besar dalam  hidupku? Aniya. Aku rasa tidak.

“Minho, bulan ini jadwalmu padat tidak?”

“As usually. Killing schedule!!”

Aku mendesah pelan, merasa pertanyaanku barusan sia-sia. Semenit kemudian dia menggenggam tanganku. Hanya berjalan di dekatnya saja membuatku bahagia lagi. Ini seperti kencan betulan. Kami tidak terdiam di ruang terkutuk untuk bertambahnya nominal ke-intens-an hadir di sana. Hari ini kami benar-benar berkencan.

Minho tiba-tiba menghentikan langkahnya saat aku melamun, membuatku jadi menabrak punggungnya. ER! Apalagi sekarang tentang pacarku ini?

“Yaa! Apa sih?!”

Kulihat dia terdiam menatap sebuah sweater yang terpajang dari balik cermin sebuah toko baju. Dia menatapnya dalam dengan serius. Kutatap dia dari dekat agar dia berhenti memperlihatkan matanya yang terlalu antusias seperti itu, tapi rupanya dia tidak berkedip sedikitpun.

“Kau suka itu?” tanyaku.

Dia menatapku sekarang dan tersenyum. Sebuah sweater rajut berwarna cokelat yang terlihat hangat dengan pola rajut rumit mampu membuat Minho tersenyum seperti itu. Aku benar-benar tidak percaya.

“Ayo Hyemi!” katanya mengajakku berjalan, tapi berhenti dengan cepat saat melihat pintu masuk toko baju menggantungkan tulisan ‘close’ di dekat gagang pintunya.

Sayang sekali, tokonya tutup dan nampaknya sudah tutup dalam beberapa waktu yang lama karena aku melihat debu yang menempel di dinding kacanya. Dugaanku biasanya tepat. Alibi seorang detektif.

Aku melirik Minho. Wajahnya terlihat kecewa. “Sepertinya penjualnya sudah tidak ada lagi.” gumamku padanya. Dia terdiam.

“Kau benar-benar suka pada sweater itu?”

“Em! Aku jarang menemukan rajut dengan pola rumit seperti itu. Aku yakin itu pasti mahal dan susah.”

“Lalu bagaimana?” entah kenapa aku jadi begitu simpati melihatnya. Biasanya kalau dia tidak mendapat apa yang dia mau, dia akan frustasi. Aku tahu betul setelah beberapa minggu berpacaran dengan orang ini.

“Aniya! Sudahlah! Kalau berjodoh aku pasti akan bertemu satu yang seperti itu lagi. Ayo!”

Deg!

Ucapannya hanya untuk sebuah sweater cukup membuatku melayang. Dia seperti berbicara pada seorang gadis saja. Minho, kalau sudah suka sesuatu pasti susah.

“Ayo!” Minho menggenggam tanganku lagi dan membawanya berjalan.

***

Setelah berjalan cukup jauh, kami berhenti di kedai eskrim dan duduk bersama. Aku memesan ice cream cake dengan gambar teddy bear, ukurannya cukup besar, hingga aku sendiri bingung bisa menghabiskannya atau tidak, yang kutahu, rasanya pasti enak, cokelat dan peanut aku suka untuk rasa eskrim. Minho memesan eskrim hanya 1 scoop ke piringnya. Dia masih diet. Susah ya jadi artis, makan saja pake takaran, gumamku sambil melihat dia yang melahap dengan tenang ice cream-nya. Cara makannya pun dilakukan dengan susah karena dia harus menaik-turunkan syal yang melilit di lehernya. Biasa, penyamaran.

Aku lanjut melahap ice cream-ku untuk yang keberapa kalinya. Kami tidak banyak bicara. Sebenarnya aku ingin bicara, tapi kasihan kalau Minho harus konsentrasi dengan eskrim, syalnya dan ditambah diriku. Huft!

Sweater rajut. Tiba-tiba bayangan sweater yang nampak hangat tadi terekam jelas di kepalaku. Kelihatannya Minho begitu menginginkannya. Aku masih ingat betul bagaimana caranya menatap sebuah sweater tadi. Begitu manis. Tatapan menginginkan sesuatu, mengingatkan aku saat dia sedang gencar-gencarnya membuktikan kalau dia serius ingin jadian denganku.

GOTCHA!!!

Kenapa aku tidak memberi sebuah sweater saja di hari valentine? Bukannya itu akan jadi istimewa? Sebuah sweater yang hangat—seperti yang dipajang tadi—akan dipakai Minho saat merasa kedinginan. Oh, itu manis! Dia akan selalu mengingatku.

Baiklah, akan kubeli nanti. Aku menyeringai bahagia tanpa Minho mengerti. Kulihat Minho menatapku. Dan, dia menaikan alisnya.

Membeli? Tidak! Aku harus membuatnya! Iya kan? Aku harus membuatnya. Kesan dan nilainya akan berbeda. Minho pasti bangga padaku kalau aku memberikan sesuatu dari hasil pekerjaanku sendiri.

“Minho. Aku mau ke luar sebentar saja.”

“Ke mana?”

“Sebentar ya?” aku mulai berdiri. Aku terlalu bersemangat memikirkan ide barusan.

“Iya ke mana? Kenapa tidak tunggu selesai makan?”

“Jangan! Sebentar kok. Sebentar saja. Oke?”

Aku pun melesat keluar tanpa menunggu comelanya. Aku berlari cepat agar aku bisa kembali ke tempat Minho dengan cepat juga. Tidak mungkin aku kembali ke tempat itu dengan Minho kan? Aku mau menemui sweater tadi.

“Sampai!” Aku mengatur nafasku saat tiba di area pertokoan.

Senyum bahagia sudah pasti terpancar dari wajahku. Kini aku melihat sweater yang membuat Minho jatuh hati pada pandangan pertama. Aku mengamatinya, dan tidak lama dari itu  kukeluarkan ponsel untuk mempotretnya.

Masih ada 14 hari untuk aku membuatnya. Mungkinkah? Aku terdiam. Sangat mungkin. Karena aku adalah orang yang berusaha. Benar kata Krystal, ini valentine pertama kami. Aku harus membuatnya spesial. Apa lagi selama ini Minho yang terus-terusan berlaku baik padaku.

“Baiklah, proyek utama dalam awal bulan,” aku menatap sweater itu penuh semangat. “Aku akan begadang untuk membuat ini sampai tuntas!”

***

H-13!

Benang wool dengan kualitas terbaik, jarum rajut, buku paduan belajar kilat merajut dan foto, sudah terpajang di atas tempat tidurku. Aku tadi siang membeli ini semua. Demi Minho. Demi valentine kami.

Sekarang, aku harus mulai dari mana? Aku terdiam menatap barang-barang ini.

Aku duduk dan menyentuh buku panduan merajutnya untuk tahap awal. Kubuka lembaran pertama. Lalu lembar berikutnya. Lalu lembar lainnya lagi sampai akhir.

“ARGHH!! Aku tidak bisa melakukan ini hanya dengan otodidak! Ke mana aku harus belajar??”

“HYEMI JANGAN BERISIK! APPA SEDANG SAKIT!” teriak eomma dari luar kamar. Huft! Iya iya! Aku tidak akan berisik. Tapi, aku sendiri bingung harus melakukan ini dimulai dari mana.

Krystal! Tiba-tiba pikiran itu masuk di otakku. Kuraih telepon di samping tempat tidur dan memencet nomor Krystal.

“Krystal ke rumahku sekarang!!”

“HAH??” aku menjauhkan gagang teleponnya karena suaranya begitu memeking.

“Iya ke rumahku sekarang! Ya ya ya? Penting! Akan kubantu kau membuat cokelat juga dan kau juga harus membantuku menjalani proyek untuk valentine-ku.”

“HAH???”

“Tidak mau tahu! Cepat datang kutunggu! Sekarang! Aku tidak ingin mendengar sebuah penolakan!”

BIP!

Kututup teleponnya dan tersenyum menyeringai sambil menatap pantulan wajahku di cermin. Aku terlihat menyeramkan. Sebentar! Aku terlihat agak tembam sekarang. Cuma 2kg doang kok. Hah, tidak usah di ambil pusing. Aku tetap manis.

“Yeppo!!” kataku tidak penting sambil menatap tulisan lipstik pink neon di cermin.

***

H-10!

Aku berjalan gontai ke kampus. Sungguh badanku sangat lemas. Aku benar-benar tidak bergairah dan mataku sudah pasti bengkak. Aku 3 hari ini begadang terus. Aku tidur di jam 4 dan harus bangun di jam 7 pagi. Oh gosh! Kenapa jadwal kuliahku selalu kebagian pagi sih? Dan seharusnya jam 11 kuliahku selesai, aku malah harus melanjutkan aksi kencan di ruang terkutuk itu karena Minho hanya ada di hari senin, selasa, rabu, dan kamis saja. Waktu kami terbatas di sana.

Setelah pelajaran merajut bersama Krystal tiga hari yang lalu, yah setidaknya aku bisa membuat pola ekstra rumit walau benar-benar kaku dan sering salah memasukan pada pola lanjutan yang mana. Hah, merajut tidak mudah. Kalau saja aku bisa membelinya… haish tidak bisa. Aku harus membuatnya. Kesannya akan berbeda.

Dan tanganku.. Tepatnya jariku.. Aku terdiam menatapnya.

Huh, jariku sudah dipenuhi plester semua. Demi sebuah pengorbanan, aku rela tertusuk jarum. Oh my god, pengobanan tiada tara pada kekasihku.

“Hyemi!!” panggil suara yang kukenal adalah suara Minho. Aku melirik ke kanan dan ke kiri takut ada orang yang melihatnya.

“Hai!” sapaku lemas padanya. Yeah, aku memang masih lemas.

Minho menarikku dan membawaku ke sudut locker. Aku tahu, dia tidak ingin ada yang melihat kami berdua berbicara.

“Kau baik saja?”

Aku mendongak padanya yang tubuhnya semakin menjulang tinggi. “Wae?”

Wajahnya seperti membaca air mukaku. Dia terdiam dan mengamatiku dari dekat. Aku sudah tidak peduli walaupun harus diciumnya. Tenaga untuk mengomel, sudah habis sudah karena begadang.

“Eumm.. Kau terlihat pucat.”

“Jinca?”

“Apa kurang tidur?”

“Yaa! Tidak usah ditanya. Tentu saja aku kurang tidur. Aku melakukan ini demi—ups!” aku menutup mulutku keceplosan. Bukannya aku ingin memberinya kejutan. Bodoh. Sekarang aku malah mengumbarnya.

“Melakukan apa?”

“Tidak melakukan apa-apa.”

“Yaa~ Lee Hyemi. Akhir-akhir ini kau selalu terlambat datang ke ruang panas dan kalaupun datang kau malah sering bersender padaku hanya untuk numpang tidur. Ke mana Hyemi yang selalu terlihat bugar itu?”

NET.. NET.. NET..

“Bel jam kuliahku sudah bunyi. Aku masuk kelas dulu. Dosennya galak!” kataku memotong ucapannya. Aku tahu Minho akan mengomel.

***

H-5!

Hari-hariku memang jadi tidak seperti biasanya. Tapi ini semua demi Minho. Aku tahu Minho jengkel padaku, tapi suatu saat nanti aku yakin dia pasti akan tersenyum karena melihat hasil kerja kerasku.

Kerjaanku baru 60%, masih ada 40% lagi sampai semuanya selesai. Aku harus berusaha.

“AWW!!” lagi-lagi aku tertusuk jarumnya. ER! Benar-benar ya butuh usaha membuat sebuah sweater saja. Selama ini aku hanya dengan mudah membeli sebuah sweater tanpa tahu bagaimana cara membuatnya. Akan kuhargai semua sweater yang kupunya mulai dari sekarang.

Huft! Aku mendesah pelan. Aku sudah mengikis jadwal kencan, jadwal renang, dan jadwal menggosip lainnya hanya demi ini. Aku harap Minho tidak marah karena aku terlihat aneh akhir-akhir ini.

Bip! Sebuah pesan masuk ke ponselku. Kulihat itu dari ‘Baby Minho’—nama kekasihku yang tercantum di ponsel.

From Baby Minho:
Hyemi, jawab yang jujur padaku. Apa aku melakukan kesalahan yang fatal padamu?

Aku mendesah. Pasti dia mengira aku marah padanya karena sering meminta cepat pulang. Aku menghentikan aktivitas merajutku dan meneleponnya. Jariku sangat sakit.

“Minho.. Aku tidak marah padamu.” kataku padanya di telepon.

“Hyemi, kenapa menelpon? Aku sedang tech. meeting dengan EO untuk tanggal 14.”

“Hee? Jadi kau sedang sibuk, tapi mengirimiku message?”

“Iya. Ada beberapa pikiran di kepalaku mengenai keanehanmu.”

“Tidak. Aku tidak aneh, Minho.”

“Baiklah sudah kuanggap iya. Kita smsan saja ya. Manajer-hyung sudah melihat ke arahku.” suaranya kini membisik.

“Minho tidak usah sms. Aku tidak bisa balas.”

“Yaa! Tuh kan kau berubah—“

BIP!

Saluran telepon kami terputus cepat. Jangan-jangan Onew-leader telah memutuskannya. Biasanya sih begitu kalau Minho mulai tidak konsen saat bekerja karena diriku.

Aku lanjut merajut lagi, dengan tangan penuh plester ini. Oh, ini benar-benar membuatku sakit.

Bip! Sebuah pesan lagi masuk ke ponselku. Minho lagi?

From Baby Minho:
Kenapa? Kenapa kau tidak bisa membalas. Coba jelaskan itu. Aku menghawatirkanmu!

Dengan tangan sakit akhirnya kujawab jujur padanya. Aku pun mengetik dengan susah payah.

To Baby Minho:
Jariku sakit semua. Sudah ya!

Dan setelah itu, tidak ada pesan lagi dari Minho. Entah dia mengerti atau justru malah sebaliknya, yang jelas, aku jadi merasa ikut bersalah.

KLEK!!

Seseorang masuk ke dalam kamarku. Aku menolehkan pandanganku ke sana. Itu Joongki adikku.

“Noona! Kau akhir-akhir ini mengurung diri—Eh!” katanya memekik langsung menghampiriku cepat. Dia melihat apa yang kupegang dan kulakukan. Sedetik kemudian, dia menatapku.

“NOONA KAU MERAJUT SWEATER???” katanya yang lebih terdengar berteriak di telingaku. Aku pun menyikutnya karena berisik. Kalau eomma tahu, pasti dia menginterogasiku dengan pertanyaan, untuk apa aku membuat ini semua.

“Noona! Ini bukan seperti noona! Serius noona membuat ini?” tanya Joongki terlau antusias.

“Iyaa..” aku menjawab biasa.

“Untuk siapa? Untuk…” kulihat matanya menatapku penuh curiga. Apa dia akan tahu aku akan mempersembahkan ini untuk Minho?

“Untuk pria tinggi itukah??” tepat dugaanku, dia berpikir ke sana.

“Kenapa memangnya?”

“Noona menyukainya? Apa noona berpacaran? Noona, kalau eomma appa tahu, kau bahaya.” Astaga, Joongki baru kelas 1 SMP! Kenapa dia sangat bawel sekali.

“Noona.. noona..” gumamnya lagi seperti mencibir.

“Untuk itu tugasmu bungkam, Joongki!!”

Kulihat dia memberengut sebal. “Tapii…”

“Tapi apa? Kau mau memerasku lagi setelah tempo itu membuatku membobol celengan hanya untuk membelikanmu PSP yang baru? Untung saja Minho berbaik hati mau menyisihkan tabungannya untuk membantuku. Hah! Kau dasar adik sialan.”

“EOMMAAAA~~!” teriaknya tiba-tiba. Aish.. Aku sudah tahu gelagatnya yang seperti ini. Pasti dia mulai mengancamku.

“Baiklah Joongki, kau mau apa?” akhirnya aku berujung lemah padanya. Kulihat wajahnya langsung sumeringah. Aku tahu maksudnya. Kalau tidak menginginkan sesuatu yang mahal, pasti sesuatu itu yang sulit kucari.

“Aku mau sweater yang sama seperti yang kau buatkan untuk pria tinggi itu.”

“Dia punya nama, Joongki.”

“Arasoo! Baiklah, yang sama dengan Minho!”

“Dia di atas usiamu, Joongki.”

“Ara… Ara.. yang sama dengan Minho-hyung!”

Aku tersenyum padanya, padahal di dalam hatiku bergejolak minta dilepaskan dari perasan adikku sendiri. Joongki kurang ajar, ini sudah H-5 dari hari valentine, sweater Minho saja belum selesai kurajut, ini lagi dia malah minta yang sama. ER!!!

“Baiklah noona, aku tunggu hari valentine!” katanya lalu malah pergi begitu saja ke luar kamar. Joongki dasar anak itu!!

***

Valentine day!

Tepat di hari valentine. Sekarang aku tersenyum puas menatap hasil rajutanku sendiri. Sweater rajut untuk Minho sudah selesai sempurna. Aku melirik ke hasil karya tanganku yang lain di sebelahnya, sweater rajut untuk Joongki yang belum selesai. Tinggal 30% lagi memang. Masa bodo. Aku akan lanjutkan nanti sepulang acara kencanku dengan Minho. Yeah, berdoa saja Joongki mengerti.

Drrt.. drrt.. drrt.. drrt..

Aku segera mengangkat telepon dari Minho sambil melompat kegirangan.

“Aegy.. Kita janjian jam 4 sore kan?” tanya Minho tanpa intro terlebih dahulu.

“Iya. Kenapa? Ini masih jam 2.”

“Aniyaa.. Rupanya syutingku lanjut sampai jam 4. Kemungkinan besar aku akan terlambat bertemu denganmu.”

“Oh begitu. Umm..”

“Jangan marah.”

“Iya.. Tidak apa-apa, Minho. Baiklah, nanti kabari aku lagi ya?”

Aku mendesah pelan. Berarti kalau terlambat, apa yang harus kulakukan sambil menunggu jam itu.

Klek!

Seseorang masuk ke kamarku sembarangan. Tidak aneh, siapa lagi kalau bukan adikku sendiri, Lee Joongki.

“Mana kado valentine untukku!” dan kini dia menagihnya.

Dia masuk ke dalam kamar. Matanya mengawasi setiap sudut ruangan. Dan tiba-tiba saja dia berlari dengan begitu senang saat melihat dua buah sweater yang berjejeran di atas tempat tidurku. Dia mengambil satu dan melompat.

“Bagus noona!” katanya dan aku membulatkan mataku. Sweater yang diambilnya salah.

“Itu punya Minho. Punyamu di sebelah kiri. Ukurannya memang tidak jauh, tapi benar-benar beda.”

Joongki meletakan kembali sweater Minho dan menatap sweaternya. Ujungnya memang masih tertempel jarum, dan dia kini mendelik sebal padakku.

“Jadi noona belum menyelesaikannya?” tanyanya sengit.

“Aku tidak ada waktu. Besok akan kuselesaikan.”

“TIDAK!! Aku ingin hari ini! Kalau tidak, aku tidak mau bungkam lagi!” Yaa yaa, dan kini dia malah mengancamku.

“Joongki akan kuselesaikan nanti malam. Hari ini aku kencan.”

“Kau lebih mengutamakan pacarmu yang seperti tiang listrik itu ketimbang adikmu. Huh, aku tidak terima.” Dan dia pergi begitu saja sambil membawa sweater Minho pergi.

Sweater Minho?

“YAA! JOONGKI!! Kenapa kau bawa sweaternya? Kau boleh marah tapi jangan ambil sweaternya! Dan jangan seenaknya menyebut pria tampan seperti Minho tiang listrik! Kau yang kependekan!” aku mengejarnya hingga mendapatkan bocah rese ini. Aku merampas sweaternya, tapi yang ada dia ikut menariknya. Kalau ini rusak, aku harus bagaimana?

“Baiklah Joongki. Aku akan mengajakmu jalan sebagai gantinya. Itu pun sebelum aku bertemu Minho.”

Dia terdiam. Aku rasa dia kelelahan setelah adu tarik denganku. “Ke mana?” tanyanya sambil ngos-ngosan.

“Terserah. Aku yang mentraktirmu.” kataku akhirnya membuat persetujuan lagi dengan adik aneh ini. Dia terlihat menimang-nimang dan kemudian mengangguk. Ya jelaslah dia mengangguk, aku mentraktirnya lagi.

“Kapan?”

“Sekarang!! Sudah sana ganti baju!” kataku padanya.

Aku pun beralih masuk ke kamar dan menutup pintu kesal. Astaga.. Disaat aku ingin kencan, Joongki sialan malah mengganggunya. Hampir saja sweater Minho terancam.

***

“Sudah puas makan cokelat panasnya?” tanyaku pada Joongki yang sangat menikmati cokelat panas di cafe termahal. Dia benar-benar mengeruk kantongku.

“Noona tidak pesan juga?”

“Bagaimana aku tidak pesan, huh? Uangku bisa habis hanya karena kamu seorang!”

“Noona tidak boleh begitu. Aku adikmu!”

“Iya aku tahu!”

Aku pun hanya melihat dirinya yang begitu menikmati cokelat panasnya. Sebetulnya aku benar-benar tergoda dan ingin memesan. Ah, tapi apa daya, uangku tidak cukup. Harga satu cokelat panas ini sama dengan 3x lipat harga yang kubayar saat makan siang di kampus. Er!

Begini deh jadinya. Sambil menunggu jam 4 lebih, aku malah kencan dengan adikku sendiri. Kulihat semua orang yang berlalu lalang di luar cafe berpasang-pasangan, termasuk yang ada di dalam cafe. Semua merayakan valentine bersama kekasihnya. Aku rasa Krystal pun sedang berbahagia sekarang. Sedang aku?? ER! Aku malah duduk berhadapan dengan adikku sendiri. Aku pasti dikira pedopil bergaul dengan bocah.

Dan Minho? Minho memang seorang pekerja keras. Tuntutan pekerjaan menumpuk bahkan di hari valentine. Dia ada pekerjaan dan hanya kosong jam 4 lewat hingga nanti 3 jam kemudian dia harus kembali bekerja lagi untuk perform. Tidak aneh, waktu kami begitu singkat.

“Noona, aku mau ke mall seberang sana!” Dan ini, apa lagi gelagat Joongki. Dia benar-benar membuatku stress.

“Setengah jam lagi aku bertemu dengan Minho, Joongki. Kau jangan macam-macam.”

“Aku bosan diam di cafe ini terus. Cokelat panas sudah habis. Rotinya juga. Ayolah noonaaa. Noona mau membelikanku lagi memangnya?” Apa dia bilang? Ingin kujitak kepalanya.

“Kau mau apa di mall itu, huh?”

“Hanya melihat-lihat. Sepertinya ramai.”

“Betul hanya melihat dan sebentar?”

“Iya!”

“Awas ya kalau kau bohong!”

“Iya janji, noona!” katanya.

***

Janji katanya? Ini sudah lebih dari setengah jam yang Joongki maksud. Dia dari tadi mengitari semua pameran yang sengaja dibuat untuk merayakan hari valentine. Dia mengajakku mengelilingi isi mall ini tanpa tujuan. Dan janjiku pada Minho sudah lewat setengah jam yang lalu. Aku tahu gelagat Joongki yang ada-ada saja.

Aku mendesah dan mengirimi pesan pada Minho.

To Baby Minho:
Minho, kurasa kita harus pending bertemu sejam yang akan datang. Aku janji jam setengah 6 pasti akan tepat waktu.

5 menit kemudian Minho membalas.

From Baby Minho:
Kenapa? Aku baru saja selesai filming.

To Baby Minho :
Adikku macam-macam. Aku harus mengurusnya dulu.

Kataku sudah bingung ingin menjelaskan apa lagi. Kuharap Minho mengerti kondisi semacam ini.

***

Setelah jam yang dinantikan tiba!

Akhirnya Joongki sudah menghilang. Dia begitu bahagianya saat menghilang dari hadapanku. Tanpa berterimakasih aku telah mentraktir dan mengikis waktuku bersama Minho, dia pergi begitu saja tanpa berdosa. Dasar anak bocah.

Aku sekarang sedang duduk di bangku yang ada di pohon di pinggir jalan. Jalanan masih ramai dengan orang yang berlalu lalang sambil berpasangan. Di antara mereka membuatku canggung karena aku meng-gap mereka bermesraan, termasuk saling bercumbu di pinggir jalan. Omaigad, ini jalanan loh. Mereka tidak malu begitu.

Aku menatap jam di tanganku. Ini sudah jam 6 lebih. Kenapa Minho terlambat. Sudah kubilang aku akan tepat waktu, kenapa justru dia  yang sebaliknya.

Aku menatap pantulan wajahku di kaca mobil yang terparkir di pinggir jalan. Aku berdiri dan mendekatinya. Aku rasa tampilanku hari ini sangat berbeda. Aku cantik. Lihat bagaimana aku memakai sebuah bando di kepalaku hanya untuk menghias rambutku. Juga baju terusan warna krem yang hangat ini. Wedges, tentu saja aku pakai karena akhir-akhir ini aku suka dengan jenis sandal yang seperti ini.

Aku duduk kembali dan mengambil cermin dari tas. Kutatap pantulan mataku di cermin. Mataku sudah tidak terlalu bengkak seperti kemarin. Yah, porsi begadangku berkurang saat tinggal beberapa persen saja menyelesaikan sweater Minho sekaligus adikku. Aku menatap sebuah kotak yang kuletakan di atas paha, sebuah kotak 40 x 30 cm berwarna biru dihiasi pita putih untuk Minho. Isinya tentu saja buah karya tangan yang menghabiskan waktu hampir pas 14 hari, yang membuat jariku dibaluti perban seperti ini. Huh, yang penting sudah selesai.

Aku mendesah lagi. Ini sudah jam 6.30. Kemana Minho? Dia telat sejam dan membiarkan aku duduk sendirian diperhatikan orang yang berlalu lalang.

“HYEMI!!” panggil seseorang dari kejauhan. Itu suara Minho. Aku pun bangkit dan melihat dia berdiri beberapa meter dariku.

DEG!

Sweaternya?

Aku menjatuhkan kotak hadiah untuk Minho tepat saat aku melihatnya berlari menghampirku.

Greb! Dia memelukku dan mengecup singkat pipiku. “Aku lama?” tanyanya meski aku masih terdiam mematung. Entah perasaanku kenapa, yang jelas aku sedih dan merasa kecewa.

“Aish, karena kau menyuruhku tunggu sejam lagi manajer memasukanku untuk jadi bintang tamu di starking. Maaf aku terlambat.” kata Minho tidak berhenti mengoceh. Aku masih terdiam menatap sweater yang dipakainya hari ini.

Dia memelukku lagi. “Ah begitu bahagianya kita akan kencan malam ini.”

Air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mataku. Entah aku kesal, marah, benci, lelah atau apa yang jelas aku KECEWA, benar-benar kecewa pada akhirnya.

Minho melepaskan pelukannya dan melihatku menangis. Aku segera menyusutnya dan menatapnya tegar.

“Aegy-ya, wae?” tanya Minho.

Aku mengambil kotak hadiah untuk Minho yang tadi kujatuhkan. “Minho! Ini untukmu! Kau benar-benar mengecewakanku! Kau datang kemari terlambat, membuatku menunggu lama sendirian dan menyaksikan orang-orang pacaran!” omelku padanya. Dia memegang apa yang kuberi tanpa menghilangkan pandangannya padaku. “Kau lihat jariku sekarang. Ini sia-sia! Semuanya sia-sia saat kau bertemu denganku dan memperlihatkan ini!” kataku sambil menunjuk sweater yang dipakainya.

“AKU MAU PULANG!!” teriakku pada akhirnya berjalan pergi. Kulihat Minho 100% kebingungan. Masa bodo.

Aku masih menangis kesal. Bagaimana aku tidak kesal! Sudah susah payah kubuat sweater dengan rajutan cinta untuknya dengan mengikis jadwal kencan kita, tidur 3 jam sehari, diperas oleh Joongki, terlambat dan menunggu Minho di sini, kini Minho malah memakai sweater yang seratus persen dengan motif yang sama. Dia membeli sweater yang sama persis dengan sweater yang kubuat!!

Ah! Aku benar-benar frustasi sekarang!!!

“Hyemi-ya!!” pangil Minho. Dia menjegatku dan menarikku. Dia memperlihatkan sweater yang kini ada di tangannya. Itu sweater yang kubuat.

“Hyemi, apa ini yang membuatmu menangis? Kau membuatnya?” tanyanya dengan nada cemas. Aku terdiam.

“Apa ini juga yang membuatmu aneh akhir-akhir ini? Membuat matamu bengkak, membuatmu tidur di bahuku saat berkencan, membuat jarimu sakit? Gara-gara ini Hyemi? Kau membuatkan aku ini?”

Aku terdiam tapi menatapnya tajam. “Iya! Aku membuat ini selama 14 hari semenjak aku melihat kau begitu jatuh cinta pada sweater yang sama yang dipajang di pertokoan saat kita berbelanja. Dan kini semua percuma karena kau sudah membelinya!!” sungutku kesal padanya.

Dia mengecup bibirku. Aku tahu maksudnya agar aku diam, tapi tidak bisa kupungkiri, aku memang begitu sebal!

Minho memelukku tanpa banyak tanya. “Aegy-ya, aku sungguh terharu.. Terimakasih. Tidak ada seseorang yang berusaha keras seperti ini. Kau yang terbaik.” kata Minho sedikit membuatku bahagia karena sanjungannya.

“Tapi percuma, Minho! Kau sudah memilikinya! Aku terlambat!”

Minho melepaskan pelukannya lalu menatapku. Dan tanpa kumengerti, kini dia malah tersenyum. “Baiklah sweater yang kubeli ini untukmu!” katanya sambil melepaskan sweaternya dan memakaikannya padaku. “Cantik! Pas untukmu!” katanya sambil menunjukan jempolnya. Aku sedikit tersenyum

“Dan sweater buatan tanganmu, akan aku pakai—AAA!!!” teriaknya tiba-tiba membuatku terkejut.

Dia menatapku tajam. Aku terdiam tidak bisa mengartikan tatapannya. Sedetik kemudian, dia menunjukan sweater buatanku yang tadi hampir dipakainya. Tepat di depan wajahku.

Aku tercekat.

“Hyemi-ya, apa yang harus kulakukan dengan ini??” tanyanya pasrah menatapku.

Aku pun menatapnya lebih pasrah. Aku tidak salah lihat sekarang. Sweater yang ditunjukannya yang berasal dari kotak hadiah valentineku adalah sweater yang belum sempurna, alias yang baru beberapa persen jadi. Sweater yang masih menggantungkan sebuah jarum beserta woolnya adalah milik Joongki, bukan Minho.

“LEE JOONGKI!!!”  teriakku sambil menutup wajahku frutasi.

Aku merosot di jalanan dan kemudian berjongkok di hadapan Minho. Entah aku harus menunjukan ekspresi apa lagi sekarang. Aku yang tadi berlari, sempat menangis di depan Minho, marah padanya karena dia memakai sweater yang sama seperti yang kubuat, kini justru merasa salah besar. Urat maluku memang sudah putus, tapi tidak pada urat maluku yang di kondisi seperti ini.

Valentine, huh?

Tidak ada valentine hangat. Tidak ada valentine yang manis. Yang ada hanya valentine yang membuatku.. Er, emosi karena adikku. Aku tidak salah menaruh sweaternya. Aku yakin Joongki yang menukarnya. Adik sialan, perlu aku cincang dirinya. Lee Jongki, awas saja, akan kubuat perhitungan pada adik kurang ajar itu!

~ FIN~

~This story is mine. This plot is mine. Say no to plagiarsm.~
~ Publish by mamotho @ https://mamothozone.wordpress.com/~

An :

~ Holla~~ kembali lagi dengan series HOMI setelah beberapa bulan lamanya! Terakhir itu kan hair wondering ya? Keke~ kubilang, aku akan memberi kejutan terus dengan kemunculan ff ini. Biasanya sih buatnya kalau bener-bener lagi pusing. HOMI akan jadi salah satu ff sederhana. Setiap ffnya emang mood booster aku! Hehe.. Inspirasi ff ini pun biasanya hanya karena memikirkan suatu kata. Seperti, kalau di ff ini, kata pertama yang ada dipikiranku, sweater.  HAHA~ SEMOGA SUKA YA ^^

~ Yang merayakan dan tidak merayakan, valentine memang sebuah simbol saja. Kasih sayang emang bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. semoga kita saling menyayangi ya~ selamat hari kasih sayang. LUV U!! Ini hadiah tepat di hari blog ini ulang tahun.  

About mamotho

Special Girl. Always loved her self, and know what makes she herself happy. Fangirlling is also her spirit (ʃƪ˘ﻬ˘) SHINee is her oxygen too!

Posted on 14 February 2012, in CHRONICLES, HOMI couple, ONESHOT, SHINee FF and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 112 Comments.

  1. Waaaah.. Hyemi kasian banget, pas dia udah cape2 buat sweater trs pas dia liat minho dtg ternyata udah pake sweater yg dia beli. Ngenes rasanya. Udah gitu pas minho mau pake sweater ternyata itu sweaternya joongki, aku kalo jd hyemi juga bakalan marah besar ke joongki dan malu banget sm minho-_-
    Lanjut next part, thanks author^^

  2. kasian banget hyemi, adenya luar biasa menjengkelkan dan minho… lagi2 kau tidak beruntung kkkk

  3. Aku datang gentayangan diberbagai wp cuma buat ngubek2 ff, and finally mampir ksini brangkali ada update an atao yg blum baca…*kebnyakanngomong.
    Ya ampun, eon aq byangi matanya hyemi sudah kyak mata panda, terus lemas tak berdaya spt zombi.. Lemes ngebayangin hyemi yg biasanya koar2 riweuh tiba2 jd kyak layangan gitu…
    Ahh HoMi couple memang bikin stress tp seruuu!
    Eon, di update dong JOC nya! *maksa.

KOMEN YO ( ˘ з˘ )/

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: