Marry Comes Love Appears (love 5)

Marry Comes Love Appears (love 5)

Author : mamoTHo
Title: Marry Comes Love Appears
Main cast : Choi Minho, Jung Hyeyo
Support cast : SHINee member, Hyeyo-eomma, Kim Soohyun
Rate : PG-15
Genre : Romance –marriage life- fluff
Lenght : Sequel

This Story©mamoTHo
~MARRY  COMES LOVES APPEARS~

Aku berlari menuju kamar hotel. Entah apa yang sedang kupikirkan sekarang, yang jelas aku masih terkejut dan benar-benar akan gila karena bertemu dengan pria itu lagi. Aku sungguh menjijikan!

“Hyeyo!!” kudengar seseorang memanggil.

Omo! Itu Minho! Apa yang harus kulakukan, dia sekarang melihatku menangis lagi. Aku harus segera tiba di kamar. Aku tidak sanggup untuk bertemu dengan Minho. Aku benar-benar murka pada diriku sendiri.

“Hyeyo-ya!! Kenapa kau berlari?!” panggilnya terus menerus tapi aku tetap mengabaikannya.

“Yaa! Noona kau kenapa?”

Hm, dia selalu memanggilku noona kalau sedang kelepasan. Minho maaf, aku tidak bisa menemuimu saat ini.

Klek! Kubuka pintu kamar hotel kami, dan bersamaan dengan itu pula tangan seseorang menahanku untuk masuk.

“Noona, kenapa kau menghindariku?” suara itu, suara Minho.

Aku berbalik dan dengan terpaksa menunjukan wajahku yang benar-benar kacau sekarang. Dia terlihat cemas. Aku lihat itu dari air mukanya. Dan karena itu juga aku jadi merasa bersalah pada Minho.

~~L~O~V~E~~

“Aniyaa. Aku tidak apa-apa, Minho.”

“Bohong! Tadi noona menangis. Aku melihatnya. Noona juga berlari dari luar. Kenapa menghindari dan pura-pura tidak melihatku?”

Deg! Apa dia melihatku keluar dari mobil Soohyun juga? Andwae!

“Yaa! Noona, kau kenapa? Kenapa jadi melamun?”

“Tidak.”

“Aku lihat noona dari luar. Sebenarnya ada apa, noona? Kenapa kau selalu menutupi-nutupi apa yang kau rasakan?”

“Minho..”

Air mata jatuh lagi padahal aku berusaha menahannya saat Minho berbicara di dalam hotel kami untuk mengintrogasiku yang sudah mengabaikannya. Aku bukan mengabaikan atau pura-pura tidak melihat. Aku memang sedang frustasi.

“Noona, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa akhir-akhir ini aku jadi sering melihatmu menangis? Kemarin malam, juga siang ini?”

“Minho..” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Aku tidak tahu harus berkata apa padanya. Menceritakan masalahku?  Aku rasa tidak, dia pasti akan terkejut.

Minho menarikku kepelukannya. Membiarkan aku lagi-lagi menangis padanya, walau dia tidak mengerti apa yang kurasakan dan kupikirkan saat ini.

“Noona, baiklah, aku minta maaf. Aku rasa aku terlalu sembarangan padamu.”

Deg! Bukan itu, Minho. Kau tidak bersalah apa-apa padaku. Aku yang salah selama ini. Yeah, walau kamu sembarangan, tapi kamu tidak pernah melupakanku, tidak juga meninggalkanku, dan mengakui keberadaanku.

“Noona, kumohon.. Cerita saja kalau kau mau. Aku akan menjadi pendengar yang baik.”

Aku menengadahkan wajahku melihatnya. Kulihat kedua bola matanya melihatku dengan tatapan sendu. Astaga, aku tidak kuat untuk menatapnya. Rasanya, aku benar-benar malu sekarang. Dan akhirnya aku menangis puas lagi pada Minho.

“Minho.. Aku tidak bisa cerita padamu. Tidak bisa Minhoooo..” isakku terus menangis. “Aku benar-benar bukan istri yang baik. Aku selalu saja membuatmu berpikir. Aku memang bukan orang yang mudah menceritakan sesuatu.. aku..”

Chu~

Minho malah menciumku. Dia benar-benar menciumku. Bibirnya yang hangat membuatku berpikir dua kali. Dia benar-benar berbeda dengan namja itu. Minho-ya, apa ini satu-satunya caramu membuatku menyukaimu? Kenapa kau tidak pernah memberikan alasan yang tepat saat kau menciumku?

“Gwenchana Nyonya Choi, aku akan mencoba membuatmu nyaman berada di dekatku, hingga akhirnya kau benar-benar mau terbuka dan menganggapku seorang teman, bukan hanya seorang laki-laki yang ditakdirkan untuk menikah denganmu.”

“Minho..” aku menatap matanya lagi. Kulihat dia tetap tenang mengatakan itu. Ucapannya barusan benar-benar tidak seperti ucapan seorang bayi besar. Dia sungguh terlihat dewasa.

Minho memelukkku lagi. “Sebentar lagi. Aku yakin sebentar lagi, kita akan benar-benar saling mencintai.”

~~L~O~V~E~~

Aku terdiam di pesawat memikirkan setiap kata-kata Minho sekaligus Soohyun.  Aku sangat merasa bersalah pada Minho, karena akhirnya aku malah memberikan ciuman salah satu keahlianku pada namja lain bukan dirinya.

Hari ini memang hari terakhir kami di Paris. Kami semua akan kembali ke Seoul dan hidup normal seperti biasa. Aku tidak tahu, hidupku akan normal seperti dulu atau tidak, karena rupanya kata-kata dari Soohyun terus terngiang-ngiang di telingaku.

Aku menoleh ke sebelahku. Kulihat Minho sangat ceria sedari tadi. Dia sangat ramah dan semakin baik padaku. Dia sangat perhatian padaku dan tiba-tiba saja berubah menjadi sosok yang sangat dewasa saat ini di depanku. Setelah menyaksikanku menangis dan akhirnya bisa menghentikan tangisan itu, kini dia malah tersenyum sendirian. Bukankah itu kurang ajar? Apa dia tidak merasakan apa yang kurasakan? Aku sangat sedih sekarang memikirkan kehidupan kami setelah turun dari pesawat ini.

“Tertawalah sedikit, Hyeyo. Kemarin-kemarin kau sangat menyenangkan.”

“Ya?”

“Iyaaa.. Aku tahu kau sedang sedih. Tapi, tidak baik kau bersedih terus-menerus, apalagi tidak membiarkan suamimu sendiri tahu akan masalahmu. Kalau itu gara-gara editor jelekmu, sini bilang padaku. Aku akan membuatnya mengerti kalau kau sedang berbulan madu bersamaku. Dia tidak akan memecatmu.”

“Bukan karena itu! Er~~!” Yeah, Minho selalu menyangka kalau aku sedang ada masalah dengan pekerjaan. Dia terlalu polos dan percaya.

“Lalu karena apa? Aku tidak tahu menahu! Kau tidak pernah memberi klu sedikitpun akan kesedihanmu.”

“Iyaaa.. Aku tidak akan sedih lagi!” kataku mengiyakan agar dia tidak banyak bertanya. Alhasil, kini, dia malah cekikikan sendiri.

Kulihat ke seat depan Key sedang menatapku penuh senyum. Bahkan Jonghyun yang ada di sebelahnya pun tak henti-hentinya berbalik menatapku berkali-kali. Mereka benar-benar membuatku curiga.

“Kalian kenapa menatapku seperti itu? Apa kalian mau memakanku?”

“Ishhh.. Noona tidak berubah. Tetap galak walau sudah sangat dewasa.”

“Ne?”

“Aniyaaaa noona. Kurasa kau tidak perlu ke dokter lagi karena masalah hormon itu. Aku sepenuhnya percaya kau memang wanita normal.” sambar Jonghyun ditambah Key yang tertawa di sampingnya.

Aku menatap Minho dan kulihat kini dia bersiul. Ada apa sebenarnya ini?

“Noona, kau sungguh-sungguh membuat Minho bahagia malam kemarin? Hebat! Selamat!”

Yaa.. Apa yang bocah ini katakan? Kenapa dengan mereka? Aku beralih menatap Minho dan dia masih bersiul.

“Noona, berapa lama semalam? Apa melelahkan?” tanya Jjong dan aku benar-benar tidak mengerti. “Aku benar-benar cemburu dan ingin cepat menikah. Kalau menikah dengan seorang noona, kira-kira aku bisa—aaaa!” teriak Jjong saat Onew menjewer telinganya.

“Jjong, kau tidak berubah! Nyonya Choi jangan dengarkan bocah ini. Otaknya memang rusak.” sambar Onew yang tiba menoleh padaku, tatapannya tidak seperti biasanya. Sekarang aku benar-benar bingung.

Aku mendelik pada Taemin yang ada di sampingku. Kulihat dia diam saja sambil membaca buku koala kidsnya. Kenapa dia? Tumben dia tidak berisik seperti biasa.

“Tae-ya.” panggilku. Dia menoleh sedikit dan tiba-tiba saja wajahnya memerah dan menunduk lagi. Lah, kenapa  bocah ini?

“Taemin.. Kau kenapa? Apa aku ada salah padamu?” Dan dia kini berujung pindah duduk ganti posisi dengan Onew.

“Dia sedang marah padamu. Sudah.. nanti juga dia tidak akan marah, Nyonya Choi.” bisik Onew padaku. Taemin marah? Tapi kenapa?

“Noona, aku tidak akan memelukmu lagi mulai sekarang!” ucap Taemin tiba-tiba makin membuatku menaikan alis.

“Baiklah Nyonya Choi, malammu di Paris sungguh menyenangkan bukan?”

“Hyung, jangan panggil istriku dengan sebutan Nyonya Choi. Itu panggilanku untuknya!” sambar Minho pada Onew yang duduk di sampingku. Aku memang dihimpit di tengah-tengah mereka. Aku jadi benar-benar bodoh mendengar percakapan semua member yang tidak secuilpun kumengerti.

Aku kini fokus pada Minho. Dia mendelik padaku dan tersenyum. Tentu saja itu membuatku berdebar. Dia benar-benar membuatku lupa akan masalahku. Senyumnya, sungguh seperti bayi besar yang menginginkan sesuatu.

“Kenapa kau senyam-senyum sedari tadi?” tanyaku lumayan curiga karena satu-satunya orang yang membuatku lupa akan Soohyun lagi adalah Minho. Aku memang serakah bukan? Saat aku dekat Soohyun aku lupa pada Minho, saat aku dekat Minho aku lupa dengan Soohyun.

“Aniya~!” dia mengelak, tapi malah terus tersenyum sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya.

Aku menyenggol lengannya, “Eh, wae???” bahkan disaat aku sedang merasa galau, Minho seharusnya mengerti tidak perlu cengengesan sendiri. Dia kan sebenarnya tahu aku sedang tidak mau cengengesan.

“Apa kau tidak ingat? Atau pura-pura lupa? Bahkan, yang lain tadi mengolok-ngolokmu?” bisik Minho yang malah membuat bulu kudukku merinding. Deru nafasnya terasa di telingaku.

“Pura-pura apa?”

“Baiklah, mungkin sebentar lagi kau akan ingat. Ternyata selain galak dan bernafsu, kau sebenarnya pemalu. Ya sudah, yang jelas aku benar-benar senang bisa mempunyai istri dari sekarang~ chup!” dia mencium pipiku kilat dan kemudian tersenyum kembali dengan lamunannya.

~~L~O~V~E~~

A weeks later!

Sudah hampir seminggu aku benar-benar tidak bergairah menjalani hidup. Bayang-bayang namja yang mengingatkan kalau dia akan kembali ke Seoul minggu ini menghantuiku. Aku benar-benar panik sekarang. Aku seperti mati rasa dari kemarin. Bahkan, aku sempat tidak mempedulikan Minho dan sering kali tidak mengacuhkannya sama sekali. Tapi, mau bagaimana lagi. Kalau sudah dua minggu aku baru bisa tenang kalau Soohyun memang tidak akan menggangguku lagi.

Sebentar! Bukankah aku tidak meninggalkan apapun padanya? No.telp, alamat, atau aku kerja di mana, aku rasa dia tidak tahu.

Bodoh! Kenapa baru ingat sekarang. Lagi pula, siapa tahu dia hanya berpura-pura peduli padaku untuk kembali padaku bukan? Huft!! Tidak. Terimakasih. Seminggu ini benar-benar sia-sia. Seharusnya aku terpikir akan hal itu. Sedari kemarin kenapa pula aku seperti zombi!

“Nyonya Choi…” panggil seseorang padaku. Aku hafal suara itu. “Apa kau tidak mau memasak sarapan lagi pagi ini??”

Ya, semenjak kepulangan dari Paris aku tidak mau lagi memasak atau melayaninya lagi. Aku seperti orang mati di rumah sendiri.

“Apa kau masih tidak enak badan?”

Dan memang itu alasan yang kuberikan agar aku tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa.

“Baiklah, aku akan ke dorm. Kami akan membicarakan sesuatu. Jaga diri baik—“

“TUNGGU!!!” panggilku padanya saat dia melangkah pergi. Aku tidak mau jadi zombi lagi. Cukup. Ini sudah seminggu dan aku tidak mau terlena dalam ketakutan akan keberadaan namja yang bahkan belum tentu benar-benar akan pulang ke Seoul itu. Apa yang kutakutkan? Masa laluku?? Aku rasa kalaupun Minho tahu, mungkin dia akan memakluminya.

“Kenapa?”

“Euuumm.. duduklah!” kataku sambil menggiringnya ke meja makan. “Aku akan memasak untukmu. Apa yang ingin kau makan di pagi ini? Aku akan masak apapun yang kau inginkan? Kau mau apa, Tuan Choi?”

Segurat senyum terpancar dari wajahnya. Matanya bahkan berkaca-kaca sekarang. Dia langsung menyambar tubuhku dan memeluknya.

“Hyeyo-ya, kau kembali!!” katanya sambil memelukku. Kenapa bayi besar ini begitu senang. Apa aku benar-benar berubah selama seminggu ini?

“Kau benar-benar membuatku khawatir. Seminggu ini kau benar-benar seperti orang sakit. Hilang akal. Bahkan kau sering kali mengabaikanku. Aku pikir kau marah!”

“Min..ho. Se-se-sesak!”

“Tidak pernah kubayangkan, harus tidur bersamamu dan kau hanya memunggungiku dengan punggung dingin walau kau biasa memunggungiku. Bahkan kau tidak mau makan bersamaku lagi. Tidak juga menonton TV dan berbincang. Kau hanya melamun dan menatap layar netbookmu dengan mata kosong. Aku tahu kau tidak menulis apapun di sana.”

“Mi-Minho.. Se-se-sesak!”

“Apa kau sudah kembali sekarang?”

Akhirnya aku bebas dari pelukannya. Aku menatapnya. Dia terlihat serius. Bayi besar ini membuatku berpikir. Apa dia sekarang menghawatirkanku? Atau sudah menyukaiku?

“Minho..”

Chu~!! Dia mengecup singkat bibirku.

“Aku rasa kau sudah kembali.”

Aku tersenyum mendengarnya. “Araseooo, big baby. Kita makan bersama yah?” kataku dan dia tersenyum. Hidupku harus benar-benar jadi bahagia sekarang.

Kecupannya, aku sangat suka. Itu membuatku lebih berdebar ketika aku melakukannya dengan Soohyun. Sungguh, aku tidak mau Soohyun hadir dipikiranku lagi. Sekarang aku melihat masa depan. Masa depanku bersama Minho, kataku dalam hati mulai memegang tangan Minho. Aku pasti akan menyukai dan mencintai suamiku sendiri.

~~L~O~V~E~~

“Hyeyo?”

“Ne, eomma!” sahutku di telepon.

“Kau benar-benar sakit? Kata ibu mertuamu Minho sering mengadu kalau kau benar-benar tidak bersamangat semenjak kepulanganmu dari Paris? Ada apa?”

Astaga, Minho selama ini mengadu pada eomma-nya, benar-benar bayi besar dia itu.

“Aniyaa.. sudah tidak lagi. Kemarin memang. Tapi aku sudah tidak apa-apa. Aku sudah kembali. Tanyakan saja pada Minho. Dia sekarang terlihat lebih hidup.”

Eomma terkekeh.“Apa hubungan kalian baik-baik saja?”

“Iyaa eommaaa. Aku rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Apa Minho baik? Kalian sudah 2 bulan bersama. Apa kau sekarang benar-benar menerima perjodohan ini?”

Aku tersenyum mendengarnya. “Eomma, sudah aku bilang, aku tidak apa-apa. Kenapa jadi bertanya mengenai perjodohan? Harusnya kalau eomma ingin bertanya, tanyakan padaku sebelum aku menikah. Aku baik-baik saja kok dengan Minho.”

“Ah, joa! Eomma hanya merasa takut kalau kau benar-benar membenci pernikahan ini.”

“Aniya. Aku masih berusaha menyukainya. Minho orang yang baik. Tapi, kalau aku ingat umurnya yang dua tahun di bawahku terkadang aku merasa ganjal.”

Eomma malah terkekeh. “Bagaimana kehidupan bercinta kalian?”

Ah, eomma mulai lagi. Selalu saja menyambar dengan hal-hal yang seperti itu. Tentu tidak. Aku memang sedang menyukainya tapi aku akan sabar menunggu timing yang tepat untuk melakukan itu dengan Minho. Minho bukan laki-laki, dia tidak pernah sekalipun memintanya.

“Yaa, kau melamun.”

“Ani..”

“Ah, eomma ingat.” pekik eomma tiba-tiba. Aku jadi kaget.

“Ne eomma?”

“Kemarin seseorang pria tampan seusiamu datang ke rumah. Dia bilang dia teman lamamu.”

“Oh? Lalu?”

“Dia meminta alamatmu dan nomor teleponmu. Katanya, semenjak kepergiannya ke Paris…” kupingku langsung tidak dapat mencerna dengan baik. Eomma bilang apa tadi? Paris? Aku merasa sesak. Apa maksud eomma teman lamaku itu Soohyun? Apa dia benar-benar kembali?

“Hyeyo!”

“Ne, eomma.. Apa eommaa.. memberikannya?” tanyaku sambil menahan pusing yang menjalar di syaraf kepalaku. Perutku pun jadi terasa mual.

BRUK!!

“Hyeyo-ya.. wae??” kudengar seseorang menguncang-guncangkan tubuhku. Aku mendengar samar-samar kalau itu suara Minho. Minho? Apa dia sudah pulang? Kenapa dia terlihat begitu cemas?

“Kau sudah sadar sekarang?” tanyanya sambil memperlihatkan ekspresi panik.

Aku berusaha membuka mataku. Aku sudah ada di sofa saat ini. Sejak kapan? Dan apa yang terjadi pada diriku? tanyaku pada diri sendiri.

“Yaa~ kau membuatku cemas. Kenapa kau ada di lantai?”

“Eh? Di lantai?” aku rasa terakhir kali aku menelpon eomma. Dan Soohyun.. Astaga! Kepalaku pusing lagi sekarang. Aku menatap Minho nanar.

“Kau sakit?” Minho mengusap wajahku. “Tadi sejak eomonim menelponmu dia bilang telepon terputus tiba-tiba. Aku punya perasaan yang tidak enak. Terutama saat aku menelepon ponselmu dan telepon rumah tidak ada yang mengangkat. Cepat-cepat aku ke sini. Kau tidak lihat sekarang aku berkeringat?? Aku sangat tergesa-gesa pulang.”

“Minho..” air mukanya yang saat ini benar-benar ingin membuatku menangis. Dia yang biasanya terlihat tenang, sekarang mengkhawatirkanku. Kenapa tidak bilang suka padaku saja.

“Baiklah, aku rasa kau harus tidur sekarang.” Minho langsung memangku tubuhku dan membawanya ke kamar kami. Dia membaringkanku di tempat tidur dan melangkah menjauh dariku setelah itu.

“Eomonim, anakmu baik-baik saja. Wajahnya memang pucat. Aku rasa dia memang sakit.”

Eh, Minho menelepon eomma kah?

“Ne.. aku rasa dia akan banyak istirahat dari sekarang.”

….

“Ne.. terimakasih telah mengabariku.”

Minho menghampiriku kembali. Badanku memang berkeringat. Dan aku rasa mendengar nama Soohyun disebut tadi membuat kepalaku sakit.

“Sekarang kau sakit apa? Aku rasa kau memang harus istirahat banyak. Lebih baik tidak usah bekerja dulu  atau memasak. Biar aku yang memasak mulai hari ini?”

“Eh?”

“Iyaa.. Sepertinya kau harus—“

Aku merampas tangan Minho dan menggenggamnya. Aku menatapnya serius.

“Ya, kenapa?” tanya Minho ikut menatapku.

“Minho, menurutmu aku perempuan seperti apa?” Dia menaikan alisnya. “Menurutmu aku perempuan baik atau sebaliknya?”

“Karena sakit, kau benar-benar lucu.” Minho terkekeh padahal aku serius. Wajahnya tiba-tiba memerah.  “Awalnya aku mengira kau gadis baik, tapi setelah itu kau benar-benar bad girl nyoya—”

“Kalau pada kenyataannya masa laluku sangat buruk, apa kau akan memakluminya?”

Alisnya bertemu dan sepertinya dia bingung dengan pertanyaanku. Tapi kemudian segurat senyum terlukis di bibirnya.

“Bukankah ini sudah masa depanmu dari masa yang lalu. Kalau begitu, kenapa mesti dirisaukan.”

Mendengar dia mengucap itu, entah kenapa berton-ton beban di pikiranku serasa menghilang. Bukankah itu artinya Minho akan memakluminya?

Minho mencium bibirku tanpa persiapan. Dia menyapunya lembut dan hampir membuat pertahananku terhadap serangannya mengendur. Aku sudah terbiasa dengan bibir hangat miliknya. Dia tidak sampai situ saja, dia mengalihkan dengan mengecup tengkuk leherku, aku merasa jantungku berdebar bukan main, bahkan aku sekarang lemas. Dia menyudahinya dengan memberi kecupan singkat lalu menatapku dalam.

“Aku menyukai—“

Kring~~ kring~~ kring~~

“Aish! Tidak lihat orang sedang serius apa?!” dumalnya pada suara telepon dan aku hanya terkekeh. Dia berdiri. “Sebentar, akan kuangkat teleponnya.”

Aku pun terdiam di kamar menunggunya kembali untuk melanjutkan apa yang ingin dia katakan padaku.

Tidak lama kemudian, Minho masuk dengan raut wajah yang kesal. “Nih, telepon untukmu rupanya. Katanya ingin bebicara dengan Jung Hyeyo.” katanya sambil memberikan gagang teleponnya padaku.  Aku pun mengambilnya.

“Kau kan sudah berganti nama sekarang. Kenapa marga Jung masih saja dipakai.” dumalnya lagi.

“Yaa! Kenapa kau membuka bajumu di depanku?!” protesku pada Minho sambil menutup speaker telepon agar tak terdengar.

“Apa Nyonya Choi? Bukankah kau sudah kembali sekarang? Aku bukan bayi besarmu lagi.”

“Er~! Minho jangan sembarangan! Cepat ganti di sana!” kataku menunjuk kamar mandi yang berada di luar pintu.

Minho pun keluar. “Ne, ne, dan sekarang kau berujung jadi galak lagi.”

Aku mendesah pelan, tidak menyangka bocah itu kembali ke watak aslinya yang suka seenaknya. Dasar bayi besar itu. Tingkat kekanak-kanakannya belum hilang juga.

Aku menghela nafas sebelum menjawab telepon. Kustabilkan degup jantungku yang mendadak berlari karena melihat tubuh Minho barusan.

“Yoboseyo?” sapaku.

“Aku rasa kau semakin menikmati duniamu sekarang.”

“Yoboseyo?”

“Apa kau bahagia sekarang, Jungie-ssi!”

JLEB!!

Jungie? Jantungku benar-benar berlari sekarang. Apa ini Soohyun? Kepalaku mendadak pusing.

“Apa kau melupakanku sesaat? Sudah seminggu lebih memang. Aku agak sibuk akhir-akhir ini. Jadi aku tidak bisa cepat menemuimu.”

Tubuhku benar-benar lemas sampai tidak bisa berucap. Minho kembali ke kamar dan menatapku dengan pandangan aneh.

“Kenapa kau diam saja? Apa di sana bocah itu sedang mengawasimu?”

Astaga, apa yang harus kuucapkan sekarang?

“Jungie, jangan berpikir aku tidak serius padamu..”

Kepalaku benar-benar pusing sekarang dan aku menjatuhkan teleponnya tidak sengaja. Minho berlari ke arahku dan menahan tubuhku yang hampir hilang kesadaran lagi. Perutku benar-benar mual sekarang.

“Yaa. wajahmu pucat! Apa kau merasa sakit lagi?”

Sesuatu dari dalam perutku bergejolak seakan ingin mengeluarkan isinya. Aku terus-terusan menahan muntah yang sepertinya minta dikeluarkan.

Aku berlari cepat ke luar kamar dan Minho ikut berlari mengejarku. Setibanya di westafel kamar mandi aku pun benar-benar muntah.

Minho datang dan mengelus-ngelus punggungku. “Kau memang harus ke dokter!”

Aku menatapnya, “Aku hanya pusing, Minho. Gwenchana.” kataku dan dia menggeleng tahu aku memang keras kepala.

~~L~O~V~E~~

Aku merasa mual lagi. Aku tidak tahan dengan sesuatu yang meremas perutku yang memaksa ingin dikeluarkan isinya. Sudah 2x dalam satu hari ini aku muntah. Ternyata aku memang sakit. Badanku terasa pegal semua. Aku memegang punggungku. Menekannya supaya terasa nyaman.

Aku turun ke bawah saat merasa enakan. Kulihat Minho ada di sana sedang menonton TV. Aku ikut gabung duduk bersamanya di sana. Dia bergeming saat melihatku dan duduk kian dekat bersamaku. Kami sungguh seperti suami istri walau tanpa melakukan ‘itu’. Yah, malam ini seperti malam-malam sebelumnya, kami selalu menghabiskan waktu dengan menonton TV bersama, kalau jadwalnya tidak sepadat biasanya.

“Sudah merasa baikan?” tanyanya dan aku mengangguk. “Benar hanya masuk angin?”

“Um! Aku rasa memang kau harus merawatku sekarang, Minho.”

“Tapi, aku tidak bisa memasak. Kau pun tahu.”

“Bukankah kau yang bilang padaku beberapa jam yang lalu kau melarangku capek. Sekarang kau malah protes. Dasar kau bayi besar.”

Chup! Dia mengecup pipiku. “Arraseo noona!”

Jantungku benar-benar berdebar sekarang. Setiap dia melakukan itu, jantungku selalu melompat-lompat tidak karuan di dalam. Inikah perasaan suka? Atau memang hanya aku yang merasakannya, sedang Minho hanya asal berbuat. Kenapa di antara kami tidak ada yang berani untuk mengucapkan kata cinta itu pertama?

Kami menonton film bersama. Minho ikut memberikan perhatiannya dengan merangkulku agar aku merasa hangat. Yeah, aku memang merasa kedinginan sedari tadi.

Saat kami sedang asik menonton, tiba-tiba saja aku merasa perutku tidak enak lagi. Sepertinya aku akan muntah lagi. Dengan tergesa-gesa aku berlari ke westafel terdekat tanpa pikir panjang. Kulihat Minho ikut panik dan mengikutiku.

“Hyeyo-ya, kau kenapa?? Jangan menakutiku dengan muntah terus.” ucap namja itu dengan nada cemas.

Aku terus mengeluarkan isi perutku. Perutku sungguh mual.

“Hyeyo-ya..” Minho mengelus punggungku berusaha menenangkanku yang tak henti-hentinya mengeluarkan isi perut ini.

“Aku benar-benar masuk angin.” kataku saat selesai dengan aktivitas menjijikan barusan.

“Iya, tapi kok bisa?”

“Molla.” Aku mengangkat kedua bahuku.

“Kita ke dokter yah?”

Aku menggeleng. “Aku cuma masuk angin. Bukan perkara besar, Minho.”

Minho tiba-tiba membawaku berjalan sambil menggandeng tanganku, jelas saja aku jadi berdebar. Andai ada alat yang bisa mengetahui detak jantungku sekarang, pasti nilainya akan terus menaik setiap aku merasa bayi besar ini berbuat sesuatu padaku.

“Tunggu di sini!” pintanya sambil mendudukanku di sofa lalu dia malah pergi berjalan meninggalkanku.

Beberapa menit kemudian, dia pun kembali dan ikut duduk di sebelahku.

“Berbalik ke sana.”

“Eh?”

“Aku memang tidak ahli memijat. Tapi aku akan melakukannya.” katanya sambil menunjukan sebotol massage oil. Wajahnya jadi memerah.

“Mi-Minho?”

“Kau bilang kau masuk angin kan? Sini, biar Aku yang massage. Cepat berbalik!” Aku melihat ketulusan dari ucapannya dan aku tersentuh.

“Ayolah~ Aku tidak mau kau sakit. Kalau kau sakit, kau seperti zombi. Aku tidak suka.”

“Aigoo~ kau terlalu baik padaku.” aku tersenyum dan berbalik memunggunginya sesuai perintahnya.

“Maafkan aku jika aku menyentuhmu dari sekarang.” katanya sambil mulai menurunkan piyamaku hingga bisa menyentuh punggung.

Jantungku jadi berdebar bukan main. Ada rasa geli saat seseorang menyentuh punggung wanita. Apa lagi punggungku yang tak pernah disentuhnya.

“Cukup?” tanyanya mulai memijat bahuku pelan. Aku malah melamun tidak menggubris pertanyaannya. Aku terlalu mengurusi debaran dalam hati.

“Awww… pelan-pelan!” protesku saat pijitan Minho terasa kasar. Aku mendengus sebal padanya.

“Makanya kutanya, sudah cukup, nyonya besar?”

“Neee, bayi besar.” jawabku jadi kesal.

~~L~O~V~E~~

Esok harinya!

Saat aku sedang sendiri di rumah, tiba-tiba bel rumah kami berbunyi. Aku turun ke bawah walau lemas. Sebelum membukanya, aku menekan tombol interkom untuk melihat siapa yang berani-beraninya datang di siang bolong untuk menemuiku kalau bukan duo kim itu. Yeah, pasti Minho bercerita sesuatu atau mungkin tentang aksinya memijatku semalam, Minho kan memang comel.

Aku langsung bersembunyi ingin mengisengi dua bocah itu.

“Jungie?”

Aku menahan nafasku saat mendengar itu. Jangan bilang yang ada di depan rumahku saat ini bukan duo manusia yadong itu. Apa yang harus kulakukan sekarang? Soohyun benar-benar pulang. Kenapa dia ada di depan rumah kami? Astaga, aku panik sekarang.

Minho? Kenapa Minho tidak ada di saat seperti ini? Dia sedang tidak bersamaku. Aku tidak akan membuka pintu ini takut kalau namja ini berbuat yang tidak-tidak padaku dan aku berujung jadi menjatuhkan pertahananku lagi di depannya.

Aku mengambil ponsel yang kugeletakan di ruang TV dan menelpon Minho. Si bayi besar tidak mengangkatnya. Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar takut sekarang.

Minho jebal! Angkat! Kataku dalam hati merasa akan mati sebentar lagi saking takutnya.

Nihil, Minho masih tidak mengangkatnya.

Suara interkom terus-terusan terngiang-ngiang di kepalaku. Aku rasa Soohyun tahu aku ada di sini. Karena kalau bukan aku, mana mungkin aku membiarkan tamu di luar dan berbicara dengan interkom sendirian.

Aku harus telepon salah satu member agar mereka ke sini. Aku terlalu takut kalau-kalau Soohyun berbuat nekat. Dia selalu nekat sedari dulu.

Aku menelepon para member dan tidak ada satupun dari mereka tak ada yang mengangkat. Key, Jonghyun dan Onew, tak ada yang meresponku. Aku akan mati kalau seperti ini.

“Taemin. Ya, Taemin harapan terakhirku!”

Aku menelponnya tapi.. nihil tidak juga dia angkat. Astaga aku akan benar-benar mati sekarang.

Kring~~ kringg~~ kringg~~

Tiba-tiba telepon rumah berdering. Aku langsung mengangkatnya berharap ada orang yang mau kubagi perasaan gamangku.

“Yoboseyo?”

“Kau rupanya di rumah? Huh, tidak menerima kedatanganku? Apa kau bermain-main denganku?”

Mati. Ini Soohyun!

“Soo—“

“Aku sudah kembali. Dan akan menepati janjiku tempo itu. Kau menutup teleponku kemarin, dan kini kau tidak menerima kedatanganku. Ada apa denganmu, Jungie? Apa kau tidak merindukanku? Atau..”

Aku menghela nafas dan memejamkan mataku, “Soohyun-ah, aku.. tidak.. bisa.” kuberanikan memberitahunya kalau aku memang tidak bisa bersamanya.

“Huh, kau bercanda lagi?”

“Tidak. Aku serius. Aku tidak bisa. Aku punya kehidupan.”

“Aku juga punya. Kehidupan yang seharusnya bersamamu.”

Ah, kumohon jangan katakan itu lagi di telingaku. Tidak bisa. Aku bukan orang plin plan. Walau aku tidak tahu Minho suka padaku atau tidak, tapi kami berdua berusaha membina ini dari nol.

“Temui aku di tempat kita biasa bertemu saat berkencan.”

“Tidak bisa.”

“Kenapa? kau takut pada bocah itu?”

“Aniya. Aku memang tidak bisa. Soohyun, kumohon..”

“Kau tidak biasa memohon padaku. Jangan katakan itu. Aku menunggumu di sana sore ini. Kalau kau tidak datang, aku yang akan menemui bocah itu.”

“ANDWAE!”

“Huh, bahkan kau sekarang memikirkannya, Jungie? Apa kau sudah membagi hatimu padanya?”

“A-aku..”

“Aku tunggu, tanpa alasan!”

Bip! Dia menutup teleponnya. Apa yang harus kulakukan sekarang?

~~To Be Continue~~

~This story is mine. This plot is mine. Say no to plagiarsm.~
 ~ Publish by mamotho @https://mamothozone.wordpress.com/ ~

An:
~ Selalu membuat dua hal yang bertolak belakang, kebahagiaan dan ancaman. Kkk~ awalnya sweet, bontotnya menyebalkan. Yuhuuu aja deh.. perang Minho ada di depan. Otte kah part ini? tell me~! jangan lupa kasih komentarnya yo^^/

~ Oya, maaf banged aku suka rada lama update/ balesinn ya.. soalnya sekarang timingnya aku lagi puas-puasin maen sama temen-temen sebelum pisah setelah wisuda. Hehe^^/  mohon pengertiannya ya~ sampai berjumpa di part yang akan datang:D

Advertisements

About mamotho

Special Girl. Always loved her self, and know what makes she herself happy. Fangirlling is also her spirit (ʃƪ˘ﻬ˘) SHINee is her oxygen too!

Posted on 28 January 2012, in Marry comes Love appears, SEQUEL, SHINee FF and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 180 Comments.

  1. pregnant! 😀 ahh, akhrnya,, tp lglg soohyun, ah eomma kenapa dkasih? ehm ortu hyeyo gatau masalalu mrk sih, ish sebel
    next->

  2. huaaaa masih sedih, part4nya blm kebaca huaaa.
    ayolah hyeyo jgn tergoda, inget punya minho skrg,
    please gantengku kimsoohyun jgn ganggung hyeyo, dikau sama aku aja kim soo hyun, ne, huaaa

    kerennnnn

  3. makin seru ajaa nih epep…hehe
    daebak eonii..

  4. Apriliya Flames Min'Ppa

    Aih apa sih yg d laku’n hyeyo d part 4 .. penasaran! >.< #blm dpt pw

    Yak hyeyo goyah ni cerita'a? Knp pula g jjur aja sama minho tentang masalah'a, neo nampyeon pasti bakal bantu … gemez dah sama hyeyo n aduh minho, km tuh g berhenti"a bikin orang iri *so sweet ^.^

  5. Soohyun lagi soohyun lagi ,
    kenapa sih dia itu ganggu mulu !

  6. ffnya menarik bgt. Tapi q belum bca yg part 4 minta pwnya dong eon. Di email q rahminimimin27@yahoo.com atau aku minta twitternya dong enon

  7. ada sohyun noh

  8. sebenernya dia hamil kan? tapi itu anak siapa? minho or soohyun? ah molla bikin penasaran aja.

KOMEN YO ( ˘ з˘ )/

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: