Marry Comes Love Appears (love 3)

Marry Comes Love Appears (love 3)

Author : mamoTHo
Title: Marry Comes Love Appears
Main cast : Choi Minho, Jung Hyeyo
Support cast : SHINee member, Kim Soohyun(Oc)
Rate : PG 13
Genre : Romance –marriage life- fluff
Lenght : Sequel

This Story©mamoTHo

~MARRY  COMES LOVES APPEARS~

Pagi ini, tepat pukul 09.00 KST, aku terbangun karena mendengar suara dering telepon di rumah yang sudah hampir satu bulan kutempati. Namun, karena kantuk masih melanda diriku akhirnya kudiamkan suara telepon yang mengganggu itu dan melanjutkan aksi memejamkan mata. Belum sempat masuk ke alam mimpi, aku baru sadar kalau aku sekarang merasa sesak. Kucoba menggerakan badanku, namun badanku juga sulit untuk bergerak. Kubuka mataku perlahan, lalu kutolehkan padanganku kebelakang untuk melihat sosok Minho yang memang tidur satu ranjang bersamaku.

MWOYA!!!!  Aku langsung spontan terjatuh saat melihat wajahnya persis hampir beberapa senti saja saat aku menoleh. Minho sialan! Sudah kubilang jangan menyentuhku! Ini lagi malah memeluk! Pantas saja aku sesak.

KRING~~KRING~~ KRINGG~~

Suara telepon itu terdengar lagi, membuat aksiku yang baru saja ingin mengeluarkan gunting rumput yang kusembunyikan di kolong untuk menakutinya jadi terhenti.

“Err~! Baiklah angkat telepon dulu saja!” kataku sambil terburu-buru berjalan ke luar kamar. Siapa yang menelepon di pagi hari sih?

“Yoboseyo, di sini  kediaman Choi.”

“Hyeyo–ya?”

“Eomma? kenapa eomma menelpon kami di pagi hari seperti ini? Kami masih tidur.”

“Omona.. Apa kalian bercinta semalaman sampai tidak sadar ini sudah jam 9? Apa eomma mengganggu kemesraan kalian di pagi hari?”

“Ne.. Ne.. Ne.. terserah eomma saja. Kenapa menelepon?”  tanyaku yang sudah malas membahas perkara bercinta kalau dengan eomma. Bercinta apanya, aku masih seorang gadis perawan.

“Kau pasti belum lihat Tv pagi ini. Cepat nyalakan Tv sekarang juga.”

“Ada apa memangnya?” tanyaku sambil bermalas-malasan mencari remote.

“Sudah ikuti saja apa kata eomma.”

Akhirnya aku pun menyalakan Tv-nya setelah menemukan letak remote yang ternyata ada di dalam keller makanan. Pasti itu ulah Minho yang sering sembarangan menaruh remote.

“Pasangan artis yang baru–baru ini menikah menunjukan kemesraan mereka bahkan saat mereka berbelanja bersama di swalayan.”

Suara itu berasal dari chanel yang aku lihat sekarang. Aku terkejut saat melihat tayangannya. Apalagi saat melihat gambar yang menjijikan diperlihatkan di sana. Gambar aku dan Minho yang berciuman di swalayan. ARGH MWOYA! Choi Minho benar-benar harus kugunting!

“How sweet you are, Hyeyo-ya.” suara eomma terdengar lagi di saluran telepon, membuyarkan lamunanku ingin bertindak jahat pada suami sendiri.

“Eomma jangan salah paham!”

Loh kenapa salah paham?  Aduhh~ eomma sungguh iri. Eomma jaman muda dulu tidak seperti itu. Kau memang hebat, Hyeyo-ya. Ayolah segera beri kami keturunan, kami sudah tidak sabar.”

“Eomma ini tidak seperti—“

“Ya,  kau tidak perlu malu. Kalian memang pasangan yang serasi. Sampai nanti. Eomma akan mengikuti perkembangan selanjutnya. Kami di sini senang mengetahui kau bahagia.”

Ne.” ucapku sudah kehilangan kata-kata lagi. Bahagia kata eomma? Aku diancam saat itu.  Minho memang kurang ajar.

~~L~O~V~E~~

YAA, IREONA!! MINHO IREONA!!!!” teriakku pada seseorang yang kini sedang nyaman tidur di tempat tidurku. Tepatnya tempat tidur kami. Setelah dia meminta untuk tidur bersamaku setelah hari itu sampai hari ini, kami memang tidur di ranjang yang sama, dan itu sering membuatku jadi risih.

“Enghh..” kulihat akhirnya dia bergeming, tapi belum membuka matanya.

IREONA, MINHO BODOH!!!”

Greb! Dia malah menarikku ke tempat tidur. Memelukku seolah aku ini sesuatu  yang empuk untuk dipeluknya.

YAA! BANGUN!!!” teriakku sambil meronta.

“Aku sudah bangun, noonaaa..”

Akhirnya aku berhasil melepaskan diri dari otot kekarnya yang menyeramkan. Kuguncang-guncangkan tubuhnya saat ini hanya semata-mata agar dia bangun dari tidurnya.

“KAU HARUS LIHAT INI SEKARANG!!” perintahku padanya tidak peduli aku pun menariknya keluar dari kamar, menyeretnya ke bawah dan membuat dia melihat tayangan dari Tv yang sebelumnya sudah membuatku terkejut karena tayangannya.

Akhirnya dia membulatkan matanya saat melihat tayangan di chanel gosip itu. Tapi sedetik kemudian tanpa kumengerti, dia malah tersenyum penuh kemenangan.

“Bagus! Kita terlihat serasi seperti yang dibilang orang!”

Aku yakin dia tidak sadar mengucapkan itu. Dia masih ada di alam mimpinya. “Jangan bercanda. Cepat Bangun!!” aku pun memukul kepalanya.

“Aku sudah bangun, Nyonya Choi!” ucapnya sambil melingkarkan tangannya di pinggangku.

“Lepas. Apa yang kau lakukan akhir-akhir ini, Minho? Kau sungguh seperti anak-anak!”

“Kau ini pagi-pagi sudah berisik. Apa kau sedang mencari perhatianku?” katanya malah menggodaku. “Jangan tanya aku kenapa! Sudah kubilang aku sedang berusaha menyukaimu. Dengan keintiman ini aku merasa aku akan cepat menyukaimu. Dan, apa yang kau lakukan dengan marah-marah pasti bukan sesuatu yang membuatmu jadi menyukaiku.”

“HHEEE??? Kau bicara apa, Minho?? Kau memang belum bangun. Cepat mandi! omonganmu benar-benar kacau!”

~~L~O~V~E~~

Sejam kemudian, kami menerima kunjungan pagi. Yeah, Key dan Jjong datang ke rumah kami hanya untuk mengolok-ngolok kami berdua karena pemberitaan itu. Begitu mendengar kami yang terliput media tengah berciuman di swalayan,  hebat, 2 jam setelah itu mereka langsung terbang kemari.

Daebak! Kalian selalu mesra di mana saja. Akhirnyaaaaa..” ujar suara yang sudah kuketahui maksudnya yang mengejek.

“Jangan sembarangan bicara. Itu ulahnya, Jjong.”

Yaa noona, wajar saja Minho kesal. Noona ini tidak  mengerti-mengerti sih.”

“Apa lagi, Kibum? Kau seolah tahu apa yang ada dipikiranku.”

Noona, aku rasa Minho sudah tergila-gila padamu makanya dia seperti itu.” Jjong menggeser kursinya jadi lebih dekat denganku. “Iya kan?”

“Heuu?? Tidak lucu, Kim Jonghyun!”

“Pantas saja Minho seperti itu. Noona, kau lebih dewasa tapi—“

“Tapi apa, Kibum?” kataku menyela dan langsung menatap sinis padanya. Soalnya kalau tidak begitu, seperti biasa dia akan mulai menyambar untuk membicarakan topik seputar itu dan itu. Bersabar untuk melakukan ‘itu’ apa salahnya sih?!

“Jangan dengarkan mereka, noona. Apalagi Kibum, dia memang agak sentimentil setelah aku menikah duluan.” sambar Minho menghampiri kami yang sedang ada di meja makan.

“Kau juga! Jangan kebiasaan memanggilku noona!”

~~L~O~V~E~~

Beberapa hari kemudian, setelah jauh dari maraknya pembicaraan orang tentang aksi berciuman di swalayan itu. Nampaknya kehidupan aku dan Minho semakin membaik. Kami lebih terkesan seperti berteman selama sebulan ini. Tidak kusangka lama-kelamaan aku mulai nyaman dengan status menikah ini.

Aku masuk ke kamar tempat Minho berada yang merupakan kamarku juga. Entah apa yang ada dipikirkan Minho, dia akhir-akhir ini sering berdiam di sana, dan membuatku jadi berada lebih sering di luar kamar.

“Aku akan ke luar kota bulan depan. Aku akan menghadiri seminar.” kataku memberitahu nampyeon-ku sekaligus meminta ijin padanya.

“Dengan editor jelekmu itu??”  katanya sembarangan. Dia cuma cemburu pada editorku yang justru lebih tampan darinya. Editorku memang memiliki rupa seperti Choi Siwon super junior. Siapa yang tidak cemburu pada orang yang memiliki ketampanan di atas rata-rata itu?

Ne!”

“Kan sudah kubilang jangan dekat-dekat dengannya. Kok noona tidak menyimak apa yang aku bilang sih?”

“Minhoooo… Sudah berkali-kali kukatakan ini hanya pekerjaan. Kita harus profesional.”

Itulah yang aku ingat saat masih waras untuk mengatakannya.

‘Kita harus profesional!’

Sementara yang terjadi sekarang aku malah terdampar di sini bersamanya. Terdampar di Paris beserta SMent yang akan melangsungkan SM Town concert di Paris. Inikah yang kusebut profesional?? Aku malah terbujuk dengan ajakannya untuk ikut ke Paris.

 ~Flashback~

Setelah aksi meminta ijin tersebut sebenarnya Minho mengijinkanku pergi mengikuti seminar. Namun, tiba-tiba di malam harinya dia pulang dan membawa sebuah kabar baik yang masuk dalam kategori kabar buruk untukku juga.

“Aku akan ke Paris, Nyonya Choi. SM Town concert bulan depan akan diadakan di sana.” kata Minho memberitahuku saat aku sedang santai di ruang tengah menonton Tv.

“Paris?? Jinca??” tanyaku excited dan kulihat dia menyeringai kecil padaku dan terkekeh tiba-tiba. Benar-benar mencurigakan.

“Masih ada satu seat kosong. Manajer memintaku untuk mengisi kursi itu dengan dirimu. Bahkan yang lain setuju karena melihat kemesraan kita di media.”

“Ah aku mau! Aku mau!!” teriakku yang jelas saja ikut senang karena diajak. Apa lagi itu Paris. Aku selalu suka Paris dari dulu. Eropa! Ah klasik! Aku suka, gumamku dalam hati tidak sadar bahwa aku lupa akan apa yang aku lakukan di hari yang sama.

“Bagus deh kalau kamu ikut!”

“Ah! Ya!”

“Europe, Hyeyo! Bukannya kau suka hal-hal klasik?  Aku dengar pemandangan di sana indah. Bangunan-bangunan tuanya pun sungguh bagus dijadikan objek berfoto-foto. Coba kau bayangkan selain eiffel ada museum Louvre, katanya kita akan berfoto di sana, lalu gereja Notre Dame, Place de la Concorde alun-alun terluas di Paris, aku juga tertarik menikmati indahnya sungai seine bersamamu, belum lagi kita bisa bersantai sambil makan makanan enak di Brasserie.” terangnya seperti memanas-manasi hatiku padahal dia jelas belum tahu apa yang membuatku lupa. “Kudengar kita 3 hari di sana. Bahkan disediakan 1 hari untuk free. Sama dengan liburan gratis, ‘kan?”

“Seminarku, Minho. Itu loh yang aku mau bilang! Aku tidak mungkin—”

“Hyeyo-ya, seminar bisa lain kali dilakukan. Tapi, berlibur seperti ini merupakan kesempatan emas. Lagi pula, bukankah ini kesempatan yang baik untuk kita berlibur sekalian. Kau tahu sendiri, untuk menyatukan jadwal—”

“IYA AKU IKUT!!!! PUAS KAU MINHO?!” teriakku dan Minho jadi terkekeh karena telah membuatku kalah telak mempertahankan ke-profesionalanku.

~Flashback end~

Dan seperti inilah sekarang. Aku malah berlibur di Paris bersama kru dan artist SMent yang lain. Aku diterima dengan baik oleh mereka. Aku senang. Yeah, walau komentar mereka terus-terusan membicarakan perkara ciumanku dengan Minho di swalayan itu.  Tuh kan, ternyata perbincangan mengenai pemberitaan itu tidak selesai-selesai.

~~L~O~V~E~~

Setibanya di Hotel tempat kami menginap di Paris, aku dan Minho masuk kamar yang disediakan hanya untuk kami berdua. Kami terpisah jauh dengan letak kamar kru dan artis lainnya. Yeah! Mereka ada di lantai 14-17 sedangkan kami berada di lantai 20. Hanya kami!

“Kenapa cuma kita yang mendapatkan satu kamar sih? Padahal aku tidak masalah kalau harus berbagi kamar dengan Jessica dan Krystal.” protesku saat tiba di kamar hotel.

“Kenapa bertanya? Tentu saja karena cuma kita yang sudah menikah. Jangan berpikiran bodoh untuk tidur dengan orang lain, Nyonya Choi.” katanya sambil mengucak poniku pelan.

Aku diam karena kecanggungan ini. Di rumah saja aku tidak bisa berlama-lama berada di dalam kamar kami sendiri. Justru seringnya, kami hanya tidur bersama saja, sedang melakukan aktivitas lain tidak di kamar, terkecuali Minho yang akhir-akhir ini menguasai kamar di rumah. Dan sekarang,  Arghhh, satu–satunya tempat peristirahatanku hanya di sini. Kamar ini juga akan jadi tempat peristirahatan Minho. Itu artinya aku benar-benar berada dalam satu ruangan sepanjang kami di sini. Aku tidak memiliki gunting rumput pula untuk mengancamnya. Sial.

“Hyeyo–ya..” panggilnya padaku yang akhirnya membuyarkan lamunan akan kecanggungan ini. “Apa kau lupa kita ini pasangan suami-istri?”

“Eum, tentu tidak. Hanya merasa aneh harus berada lama dalam satu ruangan bersamamu.” kataku sambil duduk di tempat tidur sedikit mengistarahatkan diri. “Soalnya, awalnya aku mengira kau akan terus bersama member lain. Apa kau tidak rindu tidur dengan mereka? Sedang yang kutahu, kalian sangat akrab.”

“Iya sih. Tapi, apa aku nanti akan disebut suami yang tidak bertanggung jawab karena menelantarmu di sini tidur sendirian?” tanya Minho mulai membuatku jadi memikirkan kata-katanya. “Haha.. Aku bercanda! Kau lucu! Aku tidak akan tidur dengan mereka! Jangan bodoh!”

Aku ikut tertawa mendengarnya, membuatku sedikit lebih lega, karena aku tadi sempat berpikir menjadi beban Minho ikut kesini.

Aku menatapnya sekarang. “Minho–ya, apa yang kau pikirkan tentang pernikahan ini?? Apa kau berpikir ini membuat ruang gerakmu jadi terbatas?”

“Tidak. Bagaimana denganmu?”

“Sejujurnya aku sudah mulai menyukai pernikahan ini.”

“Apa kau sudah menyukaiku?”

Hening tidak kujawab, karena aku merasa jawabanku masih sama.

“Minho-ya, kita kan dijodohkan, apa sebelumnya kau memiliki seseorang yang kau sukai dan akhirnya melepaskannya?” tanyaku lagi dan kulihat Minho malah tertawa.

“Kau sedang berbicara serius, noona??”

Ish, dia ini. Aku sedang serius bodoh! Umpatku dalam hati jadi tidak bernafsu mengorek masa lalunya. Aku pun bangkit dan hampir pergi dari sana kalau Minho tidak menahanku.

Noona, aku bercanda.” katanya dan membuatku duduk di dekatnya lagi. “Sepertinya kita akan berbincang-bincang nih. Apa yang ingin kita bicarakan? Apa noona ingin mengetahui masa laluku?”

Aku bangkit lagi, karena dari tadi aku tidak menangkap tanggapan serius sedikitpun darinya.

“Iya noona.. iya!”

“Kau memanggilku noona lagi, Minho?”

“Iya, Nyonya Choi. Aku tidak pernah terlibat cinta sama sekali. Kau lihat kan betapa kakunya aku di altar pada awal pernikahan. Aku bukan orang yang bisa semudah itu dekat dengan wanita, apalagi orang itu tiba-tiba langsung menjadi seorang istri.”

Hatiku tiba-tiba berdebar mendengarnya. Serius, apa maksud Minho dia belum pernah menyukai seseorang? Dia pasti bohong! Tidak mungkin orang setampan dan setenar dia tidak pernah terlibat cinta. Memangnya aku gadis kecil yang bisa kau bohongi, Minho?

“Bagaimana denganmu? Apa sebelumnya kau pernah mengalami masa yang disebut cinta itu? Apa dulu kau memiliki pacar?”

Deg! Aku salah telah bertanya itu pada Minho. Kenapa dia jadi balik bertanya padaku. Tidak, aku bahkan tidak mau membahas masa laluku. Otte? Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaannya?

~~A.Mi.GO!!~~~

Selamat! tiba-tiba ponsel Minho berdering tanda suara sms masuk. Dia membacanya dan kemudian mendongak padaku.

 “Mau istirahat atau jalan-jalan?” tanya Minho padaku, “Masih ada 2 jam sebelum rehearsal kata Onew-hyung.  Kudengar kita akan mencari objek foto untuk besok.” lanjutnya dan aku bisa bernafas lega karena akhirnya dia lupa dengan apa yang dia tanyakan padaku.

“Iya aku ikut! Pokoknya kau tidak bisa membiarkan aku yang sudah merelakan ke-profesionalanku hanya untuk diam di hotel.”

Minho pun berdiri dan mengantongi ponselnya lagi. “Hyeyo–ya, kemari!” katanya sambil mengulurkan tangannya padaku membuatku menaikan alisku heran.

“Cepat ambil tanganku!” perintahnya lagi.

Kusambut tangannya dan dia membawaku ke balkon kamar hotel kami.

“Aku mau melihat ini bersamamu.” katanya tiba-tiba merangkulku dari belakang.

Suasana malam di Paris saat ini sangat indah. Apakah ini yang ingin ditunjukan oleh Minho? Aku terus memandang ke luar balkon. Lampu-lampu gedung di luar sana sungguh terlihat seperti kerlip bintang. Langit pun sedang bersahabat malam ini. Memang tidak terlalu banyak bintang, tapi langit benar-benar bersih seperti tidak pernah kena polusi. Semuanya terlihat indah dan menakjubkan bagiku. Walau angin bertiup semakin dingin dan membuat pipiku jadi kering, tapi aku sendiri merasa hangat karena Minho masih mendekap tubuhku. Kami sungguh nyaman dengan posisi ini.

Otte? Kau suka?” Minho masih merangkulku dari belakang. Posisi ini sangat romantis menurutku. Dia meletakan dagunya di bahuku dan terus mendekap tubuhku dengan tangan yang hangat. Kenapa dengan Minho? Kenapa dia akhir-akhir ini berlaku manis padaku?

“Paris negara paling romantis bukan?” tanyanya makin merapatkan dirinya padaku. Omo! Kenapa aku jadi berdebar?

“Apa kau senang bisa berlibur seperti ini?”

“I-iya, aku senang bisa ikut.”

“Sudah kubilang ini pasti akan menyenangkan.”

Aku merasakan sebuah dekapan erat dari Minho. Entah dari mana asalnya, kurasakan pertahananku mulai mengendur sekarang. Aku mendadak berdebar. Bukankah ini salah? Aku menoleh ke arahnya menatap wajahnya. Lebih tepatnya memfokuskan pandanganku pada bibirnya. Jantungku sekarang benar-benar sangat berdebar berada dekat dengannya seperti ini. Kami terdiam.

Saat ini kami sama-sama saling menatap cukup lama. Tidak terasa karena itu, wajah kami semakin kian mendekat. Hampir mendekatkan bibir kami yang beberapa senti lagi tiba.

Knock~Knock~Knock~~~

Suara itu membuyarkan pikiran kotor kami dan kami jadi terlihat sama-sama salah tingkah.

“Minho, Hyeyo, ayo turun kita sudah siap semua. Apa kalian sudah siap?” itu suara manajer-oppa.

Kudengar Minho berdecak sambil masuk ke dalam. “Ayo Nyonya Choi, kita pergi!!” ajaknya sambil menjulurkan tangannya dari kejauhan. Aku pun menghampirinya dan menyambut tangannya.

Ah, tidak, aku benar-benar jadi suka ada di dekatnya. Ini benar-benar di luar dugaanku. Yang kami hampir lakukan tadi, bukankah suatu kebohongan kan? Aku benar-benar refleks hampir menciumnya bukan?Apa karena kami ada di Paris? Apa benar karena negara ini benar-benar yang menstimulus kami berdua jadi romantis? Omo. Aku bukan orang yang cepat jatuh hati pada namja.

“Sepertinya Paris akan jadi tempat honeymoon kita, Hyeyo-ya.” bisik Minho tiba-tiba saat kami turun lift ke lobi.

Honeymoon? Yang benar saja. Apa mungkin di antara kami rasa cinta itu sudah mulai tumbuh? Pada diriku.. sepertinya.. aku merasakan hal yang berbeda.. tapi mungkinkah itu cinta?

~~L~O~V~E~~

Hari pertama dan kedua, aku disibukan untuk melihat persiapan perform mereka sampai hari di mana mereka perform tiba. Jujur saja, Minho memang terlihat menawan. Dia semakin terlihat tampan dan sangat mempesona saat berdiri di atas stage.  Walau pada kenyataannya aku harus menerima salah satu keahliannya, tidak lain adalah dirinya yang sering kali tebar pesona.

Shawol di Paris juga lumayan banyak. Yeah, walau menyebalkan untuk diterima, karena pada kenyataannya kebanyakan dari mereka kontra dengan pernikahan kami. Mereka berpikir Minho melakukan pernikahan ini karena terpaksa. Yap, semua tahu kami dijodohkan. Tapi aku selalu suka gaya Minho yang terlihat tenang juga selalu berusaha membuktikan pada media kalau pernikahan ini juga dilandasi oleh pondasi cinta, walaupun sampai detik ini aku belum mengetahui dia suka padaku atau tidak.

‘Minho is mine.. not her wife’ itu tulisan poster yang kubaca saat menonton konser mereka dari balik panggung. Kurang ajar memang mereka. Mereka pikir aku sudah menjadi miliknya juga? Secara administrasi memang, tapi hatiku belum bisa dimiliki semudah itu. Kalian belum tahu saja Minho bagaimana setelah tinggal sehari saja bersamanya. Dia memang terlihat berkarisma dan dewasa di atas panggung, tapi pada kenyataannya dia memang masih anak-anak. Dan itu sangat bertentangan dengan prinsip hidupku yang ingin menikah dengan namja dewasa. Dia tidak ada dewasa-dewasanya. Dia bayi besar!

“Di mana dia?” kudengar suara dari balik rest room. Dan itu jelas suara Minho yang mencariku. Apa yang dia takutkan, aku tidak akan pergi dari sini.

“Hyeyo!” katanya langsung menyambarku dan aku menjauh karena badannya penuh keringat.

“Bagaimana SHINee tadi?” tanyanya yang kukira mungkin yang ingin dia tanyakan, ‘bagaimana dirinya’ namun dia tidak sanggup mengatakannya.

“Bagus.” jawabku seadanya membuat senyum merekah di bibirnya.

Tidak lama kemudian satu persatu member masuk ke ruangan rest room. Mereka berkeringat semua.  Key seperti biasa selalu merasa risih kalau saja riasan di wajahnya ada yang cacat, apa lagi dia tadi baru saja melukis kelopak matanya sendiri, Taemin lebih terlihat tenang walau aku tahu dia tadi melakukan sedikit kesalahan sehingga membuat moment antara 2min terjadi di atas panggung, Onew langsung menghempaskan dirinya ke sofa dan duduk seenak jidatnya sambil mengangkang tidak sadar kalau di sini ada aku, dan terakhir Jjong, dia menghampiriku dan dengan iseng menggunakan scraft yang aku pakai untuk mengelap keringatnya.

Yaa! Dasar jorok!”

“Sedikit noona… Noona tidak tahu sih orang di luar sana justru tergila-gila dengan baju bekas keringatku.” kata Jonghyun sombong namun tak kupedulikan.

Noona! Minho berkeringat tuh! Tidak kau elap?” Key seperti biasa, telalu banyak bicara, banyak protes dan sering kali membuatku tambah tua.

“Apa kalian semalam tidur dengan baik?” Onew menghampiriku dan melepaskan tangan Kim Jonghyun yang masih menggelayut di bahuku. Sedang Minho yang kini duduk di samping Key dan Taemin melihat ke arah Jjong dengan tajam seperti ingin mengatakan padanya, ‘jauhkan tangan kotormu’.

“Kenapa hyung tanya? Minho belum mendapatkan itu. Kasian yah! Sudah hampir 2 bulan!” celetuk Key makin membuatku geram.

“Tenang saja, noona. Aku menemukan tempat paling hebat di Paris untuk mengatasi masalah hormonmu!” sambar Jjong  dan aku memukul keras kepalanya dengan tas. Dia memang sudah gila.

Hormonku tidak ada yang bermasalah! Aku wanita normal! Aku hanya belum mau melakukan itu! Kenapa sih ke-2 namja ini yang repot? Minho saja tidak pernah sekalipun memintanya.

Hyung, sekarang aku mengerti yang kalian bicarakan. Aku sudah melakukan riset buku di perpustakan tentang masalah Minho-hyung dan noona. Jadi sebenarnya yang menjadi masalah utama kalian adalah—“ Taemin bahkan tidak selesai bicara karena Minho sudah menjitak kepalanya.

Yaa! gara-gara kalian uri maknae jadi penasaran! Dasar bodoh, Jongkey!” omel Minho dan orang yang diomeli hanya mengangkat bahu tidak peduli. Mereka memang duo manusia yang aneh.

Beberapa saat kemudian, seorang koordi masuk ke dalam ruangan tempat kami berada. Dia mulai merapihkan riasan para member. Sedang aku berdiam diri duduk di sofa melihat aktivitas semuanya yang sibuk. Mereka satu persatu dibersihkan kecuali Minho yang masih duduk sambil meneguk minumannya di sampingku. Dia terlihat sangat kehausan.

“Koordi noona, sebaiknya kau bersihkan tuh riasan Minho! Istrinya tidak mau! Katanya jijik!” sahut Key membuatku membulatkan mata tidak percaya dia tega-teganya mengatakan itu di depan orang asing.

“Kibum, kau berlebihan! Aku tidak pernah jijik!”

“Kalau begitu, ya sebagai seorang istri yang baik, kau seharusnya merawat Minho dengan baik, jangan cuma memberinya makan, tapi juga melayaninya!”

Kupingku sudah panas mendengar ocehannya. Dia memang bawel.

Yaa! kau menikah saja kalau mau merasakan bagaimana rasanya. Jangan mengoceh terus!!”

“Sudah kubilang noona, Key-hyung memang sudah gereget ingin menikah. Tapi Minho-hyung mendahuluinya. Dia jadi kalap begitu, kan?”

“Kau, Minnie! Diam! Anak kecil jangan suka ikut nimbrung!”

Koordi yang ada di ruangan kami kulihat sembunyi-sembunyi tertawa. Mereka menertawakanku. Sedang Minho, dia memang kelihatan tidak peduli dengan omongan orang lain. Tetap tenang di sampingku sambil berhadapan dengan PSP-nya. Oh, pantas saja dia tidak peduli, ada yang lebih bagus di depannya sekarang.

~~L~O~V~E~~

Satu hari free yang dijanjikan SMent pun tiba. Hari di mana kami dibiarkan berlibur di Paris.

“Ayo Nyonya Choi bangun! Sudah siang! Kau katanya mau jalan-jalan. Kita free!”

Kudengar seseorang membangunkanku. Itu Minho. Dia mengguncang-guncangkan badanku sedari tadi. Bagaimana dia bisa sesemangat ini padahal kemarin malam baru saja menyelesaikan konsernya? Aku masih capek, padahal aku sendiri tidak melakukan kegiatan yang berarti.

Ppalli.pallie.. Kau kesini karena apa, Nyonya Choi?”

“Europe!” jawabku masih bermalas-malasan untuk membuka mata. Aku terlalu asik terdampar di tempat tidur yang empuk.

“Kau sudah di Europe kan? Lalu apa tujuanmu?”

“Bersenang-senang, Minhoooo.”

“Ya sudah! Cepat bangun! Jangan malas!” perintahnya padaku sambil menarik tubuhku hampir jatuh ke lantai. Aku pun bangun dan mencak-mencak padanya karena kelakuannya barusan dan dia malah terkekeh sepanjang aku mengomel.

“5 menit lagi ya, Tuan Choi.” Aku pun menghempaskan diri ke tempat tidur lagi. Dan karena itu pula secepat kilat Minho menarik, memangkuku, membawaku ke depan pintu kamar mandi. Dia tersenyum membuatku ngeri.

“Masuk kau!” perintahnya sambil mendorongku masuk ke kamar mandi dan menyemprot wajahku dengan air dingin.

YAA!!! Bajuku jadi basah kan?!”

“Iya! Jadi sekarang saatnya mandi!” katanya lalu menutup pintunya dari luar. Dan kini kelihatannya aku memang harus benar-benar mandi. Dia kelewatan. Baju tidurku cuma satu kan?!

Setelah melakukan ritual mandi, aku keluar dari kamar tersebut masih menggunakan baju tidur yang masih basah. Dan seketika aku keluar, aku melihat Minho duduk di seberangku sambil tersenyum hebat.

“Kenapa?” tanyaku sedikit jutek padanya.

Ani, aku hanya senang memikirkan kita akan berlibur hari ini. Kita belum pernah berlibur kan?”

Ah! Gubrak! Tidak penting sama sekali pikirannya. Kukira dia mau bilang apa.

~~L~O~V~E~~

Kami mengunjungi tempat-tempat tua di Paris. Bahkan kami menyiapkan kamera kami berdua. Kami asik berfoto-foto dengan camera digital yang baru dibeli Minho dadakan. Ya, Paris sangat indah.

“Sebaiknya kalian memisahkan diri!” ujar Key sambil mendorong kami keluar dari bus saat kami baru saja mau naik.  Minho tidak melakukan perlawanan sama sekali dan yang semakin membuatku aneh dia sekarang malah tersenyum. Apa dia bersongkongkol dengan bocah itu?

Tidak ada pilihan lain. Aku dan dia benar-benar stuk berada di museum Louvre tempat tadi artist SM dan kru berfoto-foto.

“Gimana nih?” aku menoleh pada Minho yang tinggi tubuhnya di atasku. Ekspresinya benar-benar tenang. Dia tidak marah dan kini malah tersenyum manis padaku dan menggandeng tanganku.

“Bagus! Ayo kita cari tempat yang lebih bagus dari ini.” Akhirnya dia membawaku pergi sambil tidak melepaskan gandengan tanganya. Omo! Ini terlalu indah untuk dibayangkan, bahkan aku benar-benar terdampar berduaan dengannya di negara penuh keromantisan ini.

Kami menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, kami menikmati berfoto-foto berdua, menyusuri jalan sampai tak terlepas dari pemandangan yang bernilai artistik tinggi hanya dari sebuah bangunan, kami juga sempat makan makanan enak berdua. Semua benar-benar kami lakukan berdua. Dan kini kami berdua pun terdampar di pinggir sungai seine seperti yang pernah Minho janjikan. Riak sungai benar-benar indah. Kami benar-benar berdiri dan menikmatinya dari pinggir sungai. Angin pun cukup kencang membuat rambut ikalku jadi makin terlihat bergelombang. Satu kata, Indah! Paris sungguh mengagumkan! Kalau ada kesempatan, aku ingin pergi ke tempat ini lagi dengannya. Sebentar! Tadi, aku bilang dengannya? Bukankah ini salah? Apa Minho benar-benar membuatku benar-benar nyaman sekarang?

Amoure!” Minho memelukku tiba-tiba dari belakang membuatku terkesiap. Dia meletakan pipinya menempel padaku lalu kemudian kamera yang dia pegang menjepret kami sendiri. Dan aku, seperti sudah terbiasa dengan itu kini ikut tersenyum.

Klick!

“Kita punya banyak foto bagus!” katanya lalu mengantongi kamera itu di coat yang aku pakai. Dia memelukku lagi membuatku jadi merasa salah tingkah sekarang.

“Aku punya sesuatu untukmu.” katanya sambil menunjukan sebuah liontin perak dengan bandul huruf M di depan wajahku. Aku menoleh padanya membuat jarak pandang kami hanya beberapa senti saja.

“M?”

“Inisial Minho. Masa tidak kepikiran sampai ke situ sih!”

Aku jadi ingin tertawa, melihat betapa dia terlihat begitu kekanak-kanakan. Dia memang bayi besar.

“Bagus kan?”

“Iya. Bagus!”

“Tentu saja. Aku susah payah mendapatkannya dan itu sudah pasti berebut dulu dengan Max karena dia menginginkannya juga.”

“Changmin-oppa maksudmu?”

“Jangan memanggilnya oppa. Tidak pantas.”

Aku terkekeh lagi setiap dia kelihatan cemburu. Itu membuat perasaanku setingkat lebih tinggi lagi merasakan sesuatu yang berbeda tentang dirinya. Kurasa, cemburunya bisa berarti kalau dia sudah menyukaiku, bukan begitu?

“Itu hadiah ulang tahunmu, Nyonya Choi.” ucapnya sambil masih menopang dagunya di bahuku dan masih memelukku dari belakang, “Maaf aku terlambat. Aku pun tahu baru-baru ini. Aku memang bukan suami yang baik.”

Deg! Hadiah ulang tahun? Aku sendiri bahkan lupa hari ulang tahunku yang bertepatan dengan hari pernikahan kami yang menurutku tidak usah ada perayaan, apalagi hadiah. Ulang tahun yang kemarin memang yang paling buruk. Dan lagi, bukan suami yang baik katanya? Apa dia benar-benar menerima penuh pernikahan ini?

Yaa! Kau banyak melamun. Apa kau mendengarkanku?”

Nde!”

“Kau simpan baik-baik ya!” katanya sambil meletakan kalung itu di tanganku dan dengan refleks tanpa kusadari aku malah mengucak rambutnya dan tersenyum.  Wajahku memanas sendiri.

“Apa kau haus?”

“Eum.. i-iya.”

“Mau kubelikan minum?”

“Bo-boleh.”

Minho mengajak berjalan lagi sambil menggandeng tanganku. Mungkin dengan kami saling bersama seperti ini perasaanku akan tumbuh sedikit demi sedikit padanya. Dan aku rasa, sekarang saatnya membuka hatiku untuk menerima pria lain. Aku benar-benar gugup karena aku harus memulai kehidupan di bawah nama cinta.

“Tunggu di sini, duduk manis, dan tunggu aku!”

Aku tersenyum dan duduk di kursi yang ada di depan air mancur sesuai perintah Minho. Aku benar-benar menikmati hari-hari di Paris. Minho benar-benar baik padaku. Apa dia mulai menyukaiku? Pikirku sambil terus mentap punggung Minho yang berjalan.

Kupegang kalung pemberiannya yang kini melingkari leherku. Aku baru saja memakainya. Dan aku rasa ini benda yang paling indah yang pernah aku terima dari seorang laki-laki. ‘M’ katanya? Dia benar-benar lucu sekarang.

Bip!! Suara tanda pesan masuk dan aku merogoh kantong coat. Eomma? Pikirku bingung kenapa eomma sering kali menggangguku di mana saja. tidak di rumah dengan dering telepon, ini lagi dia mengirimi pesan ketika aku sedang berlibur.

From eomma:
Hyeyo! Sudah ada kemajuan? Bagaimana bulan madu kalian di Paris?

Tuh kan, eomma selalu ikut campur. Masa bodo, aku tidak akan membalasnya. Aku pun memasukan ponsel itu ke saku coat.

Suara langkah kaki terdengar berjalan di depanku. Aku tahu Minho kembali begitu cepat. Uri nampyeon, sepertinya aku akan bilang padanya aku sudah mulai mau membuka hatiku mulai saat ini. Ya, aku juga akan bilang padanya aku akan berusaha menyukainya.

“Sudah kembali—“ aku tercekat tidak melanjutkan kalimatku yang baru saja ingin menyebut nama Minho. Aku terdiam dan kaku melihat orang yang ada di hadapanku sekarang bukan Minho. Tapi..

“Ah, benar dugaanku! Kau Jungie!”

Aku menelan ludah dengan cepat. Tidak salah lagi. orang yang memanggilku Jungie di dunia ini hanya ada satu orang. Dia Soohyun.. Dia namja itu. Pria masa laluku yang menghilang tanpa kabar.

Aku bangun untuk melihatnya lebih dekat. Aku berjalan mendekatinya walau berat untuk  melakukannya. Tidak salah lagi, pria bermata cokelat berbulu mata lentik ini pria itu. Rambutnya sudah lebih pendek sekarang, tapi masih tidak menghilangkan kesan bad boy-nya. Dia memakai blazer dengan kaos biru di dalamnya. Menopang tas di bahu kanannya. Dan, dia memang benar-benar Soohyun!

Oraemaneyo, Jungie-ssi!”

Jantungku berdebar saat ini juga. Jungie-ssi? Aku rindu panggilan itu. Sudah hampir 5 tahun. Soohyun–ah, kenapa kau ada di sini? Kenapa kau baru menunjukan dirimu lagi? Apa kau lupa telah meninggalkanku dalam waktu lama tanpa memberiku kabar?

Aku benar-benar menangis sekarang di depannya. Entah aku bahagia atau justru sebaliknya. Tapi yang jelas dia telah membuatku hancur saat ini juga. Membuatku lupa akan Minho sesaat.

Yaa. wae gurae, Jungie?”

Ne-neo—”

“Hyeyo-yaaaa….” sapa seseorang di balik punggung Soohyun. Dengan cepat aku menyusut air mataku saat sadar kalau itu suara Minho. Aku langsung berbalik dan berjalan meninggalkan keduanya. Hatiku benar-benar kacau sekarang.

Yaa! Hyeyo-ya!” panggil Minho mengejarku dan aku menghentikan langkahku.

Wae gurae? Kenapa kau pergi.. dan..” aku menoleh padanya saat air mukaku sudah seperti biasa. Kulihat dia menoleh kebelakang dan melihat sosok pria yang tadi berdiri di depanku. “Siapa orang itu?”

“Itu?” kataku mengulang apa yang Minho ucapkan. Aku meloleh pada pria yang masih mematung di sana. Dia menatapku dengan air muka yang cemas. “Dia? Mollayo!”

Setelah pertemuan yang tidak diduga itu, aku dan Minho berjalan dalam diam. Mungkin Minho bingung dengan semua ini. Ya pasti dia bingung. Aku juga bingung kenapa namja yang dulu membuat aku sangat mencintainya tiba-tiba muncul kembali. Kim Soohyun yang mengisi kehidupan cintaku saat kami masih remaja. Dia namja yang paling membuatku merasakan kalau cinta itu indah sebelum akhirnya dia pergi menghilang begitu saja. Aku masih memikirkannya bahkan saat memulai hidup baruku bersama Minho. Bayang-bayang namja itu tidak pernah hilang dibenakku sampai saat ini. Dan begitu dia muncul, aku begitu tersakiti yang membuatku lebih yakin lagi kalau aku memang masih mencintainya.

~~To Be Continue~~

~This story is mine. This plot is mine. Say no to plagiarsm.~
 ~ Publish by mamotho @https://mamothozone.wordpress.com/ ~

 

An:

~ Arghhhhh miannnnnnn~ Terlalu panjang partnyaaaa! Udah tahu kan? Bukan onew yg jadi perusuh disini? Ntar klo babang onew jatohnya jadi versi kedua JOC. lol~!

~ Oya, part depan di protect. Paswordnya masih sama. Kenapa kuprotek?? Liat aje ntar. *Evilsmirk*

~ Dont forget to leave comment ^_^

Advertisements

About mamotho

Special Girl. Always loved her self, and know what makes she herself happy. Fangirlling is also her spirit (ʃƪ˘ﻬ˘) SHINee is her oxygen too!

Posted on 31 December 2011, in Marry comes Love appears, SEQUEL, SHINee FF and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 225 Comments.

  1. Ceritanya bagus

  2. Pasword love 4 apa
    Kasih tau dong

  3. OMG!!
    pasti minho bakal cemburu bgt deh…
    penasaran nih chinggu sama ep 4 nya
    minta pw nya dooong
    🙂

    gomawo yah chinggu 🙂

  4. Huahhhh
    Ada Mr. Soohyunnnn
    Koq pake kabur2annn siggghhh

  5. yah. kenapa di protek thor?
    gak enak kalo baca setengah setengah 😥

  6. apa liburan mereka akan kacau dengan munculnya masalalu istri minho

KOMEN YO ( ˘ з˘ )/

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: