BROTHER COMPLEX – Part 7

BROTHER COMPLEX – Part 7

Title : Brother Complex [Revision version]
Author : mamoTHo
Main Cast : Choi Minho (Brother), Choi Minhye (Little Sister)
Other Cast : Lee Jinki, Luna
Lenght : Sequel
Genre : Bromance – family
Rate : PG 13

This Story©mamoTHo

*****

..AUTHOR POV..

Siang yang tidak terlalu terik akhirnya membawa mereka berdua tiba disebuah bangunan besar. Bangunan besar itu, tidak lain adalah kampus Minhye dan Minho. Kampus yang sudah lama tidak dipijak Minho untuk beberapa bulan, tidak terlihat ada perubahan sama sekali. Tetap modern tapi asri. Banyak mahasiswa yang berlalu lalang di sana membuat suasana kampus yang dulu dirasakannya selalu ramai.

Minho dan Minhye jalan berdua dengan akrab. Mereka masuk ke gerbang kampus mereka sambil berbincang. Dan ini untuk pertama kalinya mereka berbincang. Ini suatu pengalaman baru bagi Minhye tentunya.

Ah, menjadi mahasiswa itu enak, pikir Minhye. Tidak ada yang akan menyangka kalau aku adiknya Minho. Pasti semua menyangka aku juga di tahun yang sama dengannya, pikirnya lagi dengan cekikikan.

Yaa! Kau sudah mulai gila Minhye? Apa kau selalu tertawa sendiri saat berjalan masuk gerbang kampus? Memalukan!” cibir Minho pada yeodongsaeng-nya yang diikuti oleh gaya Minhye yang merong tidak peduli.

“Cih! Fisikly, kau terlihat dewasa. Namun, tingkah lakumu, masih sama seperti bocah SMA kelas 1.” cibir Minho makin meledek yeodongsaeng-nya dan Minhye memukul lengan oppa-nya itu.

Yaa. Apa kau sebegitu senangnya bisa berjalan dekat-dekatan denganku?” oceh Minho lagi-lagi yang makin membuat Minhye merong padanya.

Mereka tidak sadar, kalau di tempat lain, tepatnya di seberang tempat mereka berjalan Jinki sedang menatap pemandangan yang tidak biasa dilihat olehnya. Yaitu, Minhye yang berjalan dengan namja. Sudah beberapa hari ini Jinki memang memperhatikan Minhye. Lama kelamaan yeoja itu membuat Jinki tertarik, dan akhirnya Jinki pun memiliki perasaan pada Minhye entah dimulai dari kapan.

Minhye yang terlihat akrab itu dengan seorang namja jelas saja membuat Jinki jadi penasaran. Mungkin di dalam pikirannya itu timbul pertanyaan akan siapa orang yang dekat dengan Minhye itu. Minhye terlihat bahagia tidak seperti biasanya. Ekspresi yang baru dilihat namja itu saat Minhye memberikan senyum, tertawa, bercanda, bahkan sering kali menunjukan ekspresi yang kekanak- kanakan yang belum pernah dilihat oleh Jinki. Jinki hanya tahu, Minhye seorang gadis yang dewasa, berpenampilan sopan, dan baik. Berbeda penilaian dari oppa sebenarnya, Minho selalu menilai Minhye, kekanak-kanakan, genit, dan manja.

“Minhye-ya!” panggil Jinki dari kejauhan membuat aktivitas Minhye yang memukul oppa-nya itu terhenti.

Minhye dan Minho melirik ke sumber suara tersebut. Mereka melihat seorang namja dengan setelan rapih, memakai kemeja berwarna biru muda, berambut coklat, dan menyapa mereka dengan tersenyum ramah sedang menghampiri mereka.  Itu Jinki. Orang yang kini dielu–elukan Minhye pada Minho.

Annyeong, Minhye-ya.” sapa Jinki ramah sambil melambaikan tangannya di jarak yang dekat seperti itu. Itu membuat Minhye geli melihat tingkah Jinki karena dia juga memperlihatkan gigi kelincinya.

Annyeong, Jinki-ssi.” Minhye balas menyapa dan Minho hanya diam di sana.

Minho langsung merekam nama ‘Jinki’ dipikirannya. Dia merasa sudah tidak asing dengan nama itu. Ah, akhirnya dia ingat akan namja itu. Dia memperhatikan namja itu dengan seksama. Pandangan Minho cukup menyebalkan bagi orang yang baru sama-sama bertemu. Dia menatap Jinki dengan tajam, karena Jinki seperti tidak menyadari keberadaan Minho yang ada di samping Minhye.

Inikah yang disebut baik oleh Minhye? Cih, dia bahkan pura-pura tidak melihatku, umpat Minho kesal karena Jinki dan Minhye masih tidak mengacuhkannya.

Mereka berbincang terus. Minho sengaja membiarkannya agar kedua orang yang sedang berbicang itu sadar sendiri akan keberadaanya. Namun nihil.

“Kau lucu sekali, Minhye.” tiba-tiba Jinki mengucak pelan poni Minhye di depan Minho.  Jelas, Minho kaget dan terkejut karena Minhye disentuh dan diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Dia merasa jengkel dan menatap Jinki makin tajam.

Pria yang lumayan ramah, baik, wajahnya juga lumayan, selalu tersenyum,tapi.. rupanya sudah berani menyentuh yeodongsaeng-ku, terlebih lagi di depan mataku yang masih normal, ucap Minho membatin dalam hati.

“Apa kau sudah makan?” tanya Jinki pada Minhye. Dan Minhye malah cengengesan masih lupa dia membawa siapa saat ini. 

“EKHEEEMMMM…” Akhirnya Minho berdeham keras yang membuat keduanya sadar akann keberadaannya. Minhye jadi gugup dan Jinki pun sama jadi melihat ke arah namja yang saat ini berdiri di samping Minhye.

“Ah, aku hampir lupa. Mian, oppa.” kata Minhye sambil mengambil lengan kiri oppa-nya. “Oppa, ini dosen di kelasku. Dia dekat denganku, oppa. Aku sudah cerita kan?!” Minhye lalu gantian melihat Jinki sekarang yang berdiri di depannya. “Jinki, kenalkan ini oppa-ku. Minho-oppa!”

“Oh, oppa-mu yang kau ceritakan itu?” tanya Jinki dan Minhye mengangguk meresponnya.

Pantas, Minhye terlihat bahagia barusan. Cukup aneh untuk seorang yeodongsaeng yang sudah lama tidak bertemu oppa-nya. Tapi..

Jinki menghentikan lamunannya. Dia memang sudah tahu sifat Minho yang seperti apa, karena Minhye sering menceritakannya. Semua tentang Minho sudah pasti Jinki tahu. Jadi dia tidak terlalu kaget saat bertemu dengan Minho yang tiba-tiba terlihat jutek padanya. Namun, karena Jinki orang yang pintar, dia tidak pernah mengambil pusing untuk urusan yang satu itu.

Bangabsemnida Minho!” sapa Jinki pada Minho dengan senyum ramahnya.

Minho hanya tersenyum pelit. “Ne.”

Minho tidak peduli pada Jinki, tidak berusaha menanyakan sesuatu padanya. Dia hanya peduli pada Minhye. Dan tidak menyangka kalau sifat yang dari dulu di buangnya jauh-jauh dan hampir hilang, saat bertemu Jinki telah keluar kembali. Yaitu sifat kekanak-kanakannya yang timbul, yang sengaja membuat iri namja yang sedang dekat dengan adiknya. Minhye belum sadar kalau Minho sebenarnya mulai berulah seperti dulu lagi.

Saengi-ya, kau ceritakan apa saja tentang diriku? Kau diam-diam tukang gosip ya~!”

Ani, oppa. Kau ge’er. Tanya saja Jinki. Iya kan, Jinki-ssi?  Aku tidak pernah cerita macam-macam tentang oppa kan?” tanya Minhye dan Jinki hanya tersenyum menanggapinya.

Yaa! Kau bohong!”

Yang ada, Minho dan Minhye malah bertengkar di tempat itu. Mereka berdua kakak beradik yang paling aneh yang terlihat di pandangan Jinki. Keakraban mereka berdua membuat Jinki cukup iri.

*****

A few day later!

Tidak terasa, hampir seminggu lamanya, Jinki dan Minhye menjadi akrab. Walau oppa-nya ada di dekatnya Minhye tidak ragu mengelu-elu kan namja itu. Minhye terlalu memperlihatkan rasa pedulinya terhadap Jinki pada kakaknya. Dia selalu menceritakan apa pun mengenai Jinki. Setiap habis diajar oleh orang itu, Minhye selalu menceritakan detil kejadian, yang lama kelamaan membuat Minho jadi merasa sebal.

Oppa..” sapa Minhye dan ikut duduk di sofa ruang Tv.

Ne? Apa kau mau menceritakan namja yang sedang kau puja itu padaku lagi?”

“A-ani.” jawab Minhye gugup walau dia tahu tebakan oppa-nya benar.

“Lalu?” tanya Minho sambil menoleh ke samping, tempat Minhye duduk di sampingnya.

Oppa, Jinki ingin mengajakku pergi. Apa aku boleh pergi?”

Yaa! Kau pikir kau ini anak kecil meminta ijin padaku.” kata Minho sedikit tidak terima karena Minhye terlalu kekanak-kanakan sampai harus meminta ijinnya setiap saat.

Oppa! Oppa kan harus tahu.”

Ne, ne, ne! Tapi kau tidak perlu meminta lagi. Kau sudah besar. Kau bukan anakku, Minhye.”

“Aku yeodongsaeng-mu, bukan anakmu, oppa. Lagi pula, aku sudah lama tidak jalan dengan namja, jadi aku perlu bicara padamu lagi.”

“Jadi, kau mau bilang kau cukup takut berhadapan dengan namja. Aku rasa Jinki baik.”

“Ah, oppa menyadarinya. YES!! Yaa~ oppa, aku sudah tahu kau pasti memiliki insting yang sama denganku.”

Yaa!! Aku bukan menyetujuinya ya barusan. Hanya merasa.”

“Iya oppa, aku tahu. Jadi bagaimana, boleh tidak?”

“Memangnya, kau mau pergi ke mana?”

Lotte world, oppa!”

“Cih, seperti anak kecil saja.” cibir Minho yang membuat Minhye mengerucut sebal.

“Tapi, Jinki juga mengajak oppa kok! Itu juga kalau oppa mau.”

Sebentar apa  aku tidak salah dengar barusan. Mengajakku? Apa maksudnya? Bukannya dia mau berduaan saja dengan Minhye, pikirnya mulai mencium sesuatu yang tidak beres.

Yaa, oppa! Otte?” pertanyaan itu menyadarkan Minho dari lamunannya.

Ne, oppa ikut!”

Jinca, Oppa?! Kalau begitu akan kuberitahu Jinki.” kata Minhye langsung bangun, dan pergi.  “Cih, Oppa juga seperti anak-anak mau ikut kami ke tempat seperti itu!”

YAA!”

“Bweeee~~!” ledek Minhye sambil merong.

YAA! DASAR BOCAH!”

*****

Di Lotte world!

Oppa macam apa itu. Cih, tadi dia bilang tempat itu adalah tempat bocah bermain. Tapi kenapa memutuskan untuk ikut. Dasar Choi Minho jelek, umpat Minhye dalam hati.

Aku jadi ingat Taemin deh. Taemin, apa kabar namja itu? Apa dia masih mengingatku? Ah, dia namja baik, manis, dan .. huft! Tapi dia lembek. Aku tidak suka namja yang memutuskanku karena takut dengan oppa. Lalu Kibum, em, Kibum, apa dia sudah bertobat tidak menjadi seorang player lagi? Ah molla! Aku sudah lama pula tidak berhubungan dengannya. Apalagi dengan namja kaleng itu, siapa namanya, Jjong! Cih, semoga dia segera bertobat tidak mempermainkan yeoja seenak otak mesumnya, cibir Minhye lagi pada setiap mantan-mantannya dalam hati.

Minhye dan Minho datang menghampiri Jinki yang sedang menunggu di luar lotte world. Dari kejauhan Jinki terlihat tenang seperti biasanya. Dia Lee Jinki, dosen yang kini merupakan namja yang sedang dekat dengan Minhye, seseorang yang dijaga ketat oleh oppa-nya.

“Jinki-ssi!” sapa Minhye dengan manis.

Jinki memandang Minhye sekejap. Minhye terlihat manis hari ini. dia mengenakan rok mini warna putih, kaos blaster oranye putih tangan panjang dan dengan rambut yang diurai namun dihiasi pita berwarna putih.

“Ekheemmm..” Minho berdeham ketika mendapati Jinki yang menatap Minhye terlalu lama.

“Ah, kalian sudah datang.” sapa Jinki sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia melirik ke arah Minho. “ Senang kau bisa ikut juga, Minho!” katanya sambil tersenyum.

Jinki seperti tidak ada beban sama sekali mengatakan hal seperti itu. Dia tidak keberatan Minho ikut, memang itulah yang dia inginkan. Ingin, lebih mengenal kakak dari yeoja yang kini disukainya.

“Tuh kan, apa kubilang. Jinki itu beda, oppa!” bisik Minhye pada oppa-nya dan oppa-nya mengerenyit heran.

Mereka berjalan bersama ke dalam lotte word. Minhye dan Jinki saling berbincang, sedang Minho hanya lebih sering diam tidak masuk dalam perbincangan kedua insan itu walau Jinki sering mengajaknya bicara. Jinki yang umurnya di atas Minho pun bertindak sebagai hyung yang baik pada Minho. Dia sedang berusaha meluluhkan hati Minho walau Minho memang keras.

Di lotte world ini, mereka menaiki beberapa permainan bersama, walau yang menikmati asiknya sore ini hanya Jinki dan Minhye. Sering kali Minho terlihat bad mood pada Jinki, tapi tidak pada Minhye tentunya. Dia selalu terlihat ikut senang pada Minhye.

Nafas mereka bertiga tersengal-sengal ketika turun dari salah satu permainan yang menguji adrenalin.

“Bagaimana kalau sekarang kita naik yang ringan-ringan? Balon udara. Otte?” ajak Jinki pada semua.

Minho tersenyum meremehkan, “Cih, seperti anak kecil saja.”

Jinki mengerti maksud Minho, namun tidak dia ambil pusing cibiran dari orang yang sedang terlihat cemburu itu. “Bagaimana, Minhye-ya? Apa kau mau?”

Minhye tersenyum riang. Dia mengangguk cepat. “Ne!! Mau!!” katanya bersemangat.

Kini Jinki menatap Minho. “Apa kau juga mau naik mainan seperti anak kecil itu?”

Ucapan Jinki tadi sukses membuat Minho jadi jengkel.

Apa maksud namja ini? sialan, umpat Minho dalam hati. “Ya sudah kalian saja!” kata Minho yang tidak mungkin menarik kata-katanya barusan tentang permainan anak kecil itu.

Minhye berdiri di dekat oppa-nya. Dia menarik-narik pelan blazer oppa-nya. “Serius oppa tidak mau naik?” tanya Minhye memastikan.

Ne saeng, cepat kembali!”

Ne, oppa!”

Minho berjalan melewati Jinki, dia berhenti sejenak saat tiba di samping namja itu. “Kau jangan berbuat macam-macam padanya, arraseo!” bisik Minho memperingati Jinki dan Jinki hanya tersenyum geli mendengarnya.

Jinki tertawa agak meremehkan dan menepuk-nepuk bahu Minho pelan. “Kau memang oppa yang baik!”

Akhirnya, Jinki dan Minhye pun pergi naik balon udara. Sementara Minho duduk di kursi kosong yang ada di sekitar situ. Sambil meminum coke yang baru saja dibelinya,  dia melihat ke balon udara yang dinaiki oleh yeodongsaeng-nya dan Jinki. Dia melihat Minhye melambaikan tangan padanya, yang akhirnya membuat Minho tersenyum padanya.

Yeodongsaeng-nya, satu-satunya orang yang dimilikinya, itulah yang ada dipikiran Minho saat melihat senyum Minhye.

Di balon udara tempat Jinki dan Minhye, mereka terlihat excited dengan pemandangan yang disajikan yang terllihat dari atas balon udara tersebut, walau ini hanya arena indoor. Tapi, lampu kelap-kelipnya memang terlihat indah, jadi wajar mereka berdua kelihatan begitu menikmati.

Minhye menoleh ke sampingnya di mana Jinki berdiri. “Jinki,” panggil Minhye. “Menurutmu, Oppa-ku aneh tidak?” tanya Minhye tiba-tiba.

Ani, dia tidak aneh kok. Kenapa? Apa kau merasa tidak nyaman?”

Aniya~ Semua namja yang dekat denganku selalu mengatai Minho-oppa aneh.”

Jinki mengucak poni Minhye pelan.  Dia tersenyum pada Minhye. “Kalau aku jadi seorang kakak, aku juga akan seperti dia, akan menjaga dan sangat sayang pada adik yang semanis dirimu.”

Deg! Jantung Minhye berdebar saat mendengar kata-kata Jinki barusan. Jinki memang sosok yang berbeda dengan namja lain yang pernah dikenalnya. Jinki sangat dewasa.

“Jinki, kau memang namja yang baik.” ucap Minhye sambil tersenyum.

*****

Setelah turun dari balon udara tersebut, Minhye terlihat pendiam. Dia lebih terlihat pendiam lagi terutama saat berjalan pulang. Sedari tadi dia tidak lepas dari padangannya pada seikat bunga berukuran kecil di tangannya. Ini membuat Minho curiga.

“Kau kenapa, saeng?”

Minhye sama sekali tidak mendengarkan ucapan oppa-nya. Dia masih asik dengan lamunannya dan sering kali terlihat tersenyum sendiri.

Pletak! Minho menjitak kepala Minhye.

Yaa, Minhye-ya! Apa kau melamun, ah?!”

Minhye memegang kepala hasil jitakan oppa-nya itu. “Apayo,oppa!” ringisnya.

“Aku melihatmu senyum-senyum sendiri? Apa terjadi sesuatu saat aku tidak ada?”

“A-aniya.. oppa..”

“Lalu, kenapa jadi gugup saat kutanya?” selidik Minho.

“Baiklah oppa!” Minhye menatap Minho mantap. “Menurut oppa, Jinki bagaimana?” tanya Minhye tiba-tiba. Minho mengerenyitkan dahinya.

“Emm, Jinki? Kurasa dia namja yang lumayan baik. Waeyo?” tanya Minho tapi Minhye lagi-lagi melamun.

Wae, Minhye-ya?” tanya Minho lebih keras dan lagi-lagi Minhye tidak mendengarnya.

Minho melihat sesuatu yang sedari tadi membuat yeodongsaeng-nya senyum-senyum dan melamun. Dia merampas benda itu dari tangan yeodongsaeng-nya.

“Apa ini?” tanya Minho merebut buket bunga kecil yang dipegang Minhye.

Yaa, Oppa! Kembalikan!”

“Ah, aku mengerti.” Minho menatap Minhye dengan penuh curiga. “Kau, dan Orang itu…”

“Mengerti apa, oppa? Cepat kembalikan!” pinta Minhye berusaha merampas bunga kecil itu dari tangan oppa-nya yang dinaikan.

“Apa yang barusan terjadi? Ceritakan padaku!” pinta Minho sedikit memaksa. “Cih, namja yang suka mencuri kesempatan saat aku tidak ada.”

Oppa!! Jinki tidak seperti itu!”

“Kau sudah berani membelanya? Ceritakan dulu!”

Minhye terlihat menimang-nimang permintaan oppa-nya. Dia bingung antara harus cerita atau tidak. Dia menarik tangan oppa-nya dan membawanya ke kursi dekat taman di pinggir jalan.

Yaa! Ini sudah malam. Kenapa malah mau bersantai di sini?”

Oppa, kau mau dengar ceritaku, bukan? Duduk!” perintah Minhye dan Minho menurut duduk di sebelahnya.

“Emm~ Tadi.. Jinki…”

Yaa~ mulai deh. Lama.”

“Baik oppa, tadi Jinki baru saja menyatakan perasaannya padaku.”

Mwo?!” Minho membulatkan matanya. Dia langsung memegang bahu adiknya dengan panik sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya. “Kok bisa? Apa dia mencuri kesempatan? Apa dia menyentuhmu? Apa saja yang dia lakukan di atas sana saat aku di bawah menunggumu?  Bilang padaku dia tadi melakukan apa saja di atas?  Aish~!”

“Tenang, oppaaaaa…” goda Minhye yang mulai mengerti sikap khawatir oppa-nya.

“Bagaimana aku bisa tenang. Kau di atas sana, aku tadi di bawah. Kalau terjadi sesuatu padamu. A-aku akan menyesal lagi.”

Minho nampaknya lupa kalau dia sedang berbicara pada yeodongsaeng-nya bukan pacarnya. Dia terlalu terlihat berlebihan. Sedang Minhye hanya tersenyum pada oppa-nya namun tidak pernah sadar akan maksud sifat khawatir oppa-nya itu.

“Dia tidak macam-macam kok, oppa!”

Setelah cerita dengan panjang lebar tentang kejadian di balon udara itu akhirnya Minho sedikit lebih tenang, karena pada kenyataannya memang tidak ada sesuatu yang aneh yang terjadi pada Minhye.

“Bagaimana, oppa? Apa kau menyetujuiku kalau aku berpacaran dengannya?”

“Kenapa tanya padaku?”

“Selain aku menghormatimu sebagai oppa yang kusayang. Jinki juga yang bilang sendiri padaku agar aku minta pendapatmu dulu sebelum menerimanya.” terang Minhye. “Jangan tanya, aku juga aneh ada orang yang terlalu mempedulikan omongan seorang kakak dari seseorang yang dicintainya.” lanjut Minhye seolah-olah tahu isi pikiran Minho saat ini.

Minho menaikan alisnya. Merasa aneh dengan sikap dan cara Jinki yang seperti itu.

“Iya, Jinki sangat menghormatimu, walau kau lebih muda darinya. Harusnya kau lebih menghormatinya,oppa. Dia kan lebih tua darimu.”

Yaa! Apa kau baru saja menasehatiku?”

Ani, hanya saja… oppa terlalu kaku padanya.”

Sial, bahkan Minhye sudah berani mencibirku karena namja itu. Apa ini tanda bahaya? Apa Minhye akan berubah kalau dekat lebih lama lagi dengan namja itu? Dan lagi, namja itu, cih, baru kali ini ada orang yang minta pendapat padaku karena ingin memacari dia, gumam Minho dalam hati sambil melirik ke arah Minhye yang kini menyender di bahunya.  

Minhye tersenyum. Minho bahagia melihat Minhye tersenyum seperti itu. Dia adik yang benar-benar dia jaga kali ini. Dia tidak mau melukai hati adiknya. Dia ingin adiknya juga bahagia. Dia harus bertindak sebagai oppa-nya walau dia masih belum bisa menghilangkan kebiasaan buruknya yaitu membenci namja yang dekat dengan adiknya.

“Terserah kau saja!” ucap Minho pada akhirnya. “Sepertinya dia memang namja yang baik.”

Yaa, oppa. Serius, kau setuju tidak? Aku tidak akan menerimanya kalau kau tidak suka. Kau milikku, oppa. Kau satu-satunya yang akan kudengar terus.”

Ucapan Minhye membuat hati Minho jadi merasa ganjal pada dirinya sendiri. Apa maksud Minhye mengatakan itu. Itu cukup aneh bagi Minho.

Minho merangkul yeodongsaeng-nya yang masih bersandar di kursi taman bersamanya. “Minhye-ya, apa kau menyukainya?”

Minhye terdiam. “A-aku, selalu nyaman berada di dekatnya, oppa. Dia terlihat baik bagiku. Dan, dia satu-satunya orang yang selalu membuatku jadi sopan di depannya. Apa itu bisa dibilang suka, oppa?” tanya Minhye sambil menengadahkan kepalanya menatap Minho yang ada di sampingnya. Minho ikut menatap padanya. Mata Minhye sungguh bersinar.

“Sampai kapan kau akan terus mendengarkanku, saeng? Aku hanya seseorang yang bertanggung jawab akan dirimu.”

“Justru itu, oppa. Aku tidak mau mengecewakanmu. Kau berharga bagiku.”

Minho mengelus-ngelus pipi Minhye dan Minhye tidak keberatan dengan itu. Dia tetap bersander pada Minho dan memeluknya.

Sebentar, bukannya ini terlihat aneh seharusnya. Kenapa kami seperti ini? pikir Minho saat menyadari Minhye terlalu dekat dengannya dan membuatnya jadi semakin ganjal. Minho pun menjauh dari Minhye.

Yaa~ Jadi kalau aku bilang kau tidak boleh berpacaran maka kau tidak berpacaran?”

Minhye mengangguk dan tersenyum sambil menatap oppa-nya.

“Hm.. Ya sudah. Aku memilih ingin menyerahkan keputusan padamu. Bagaimana?”

Mata Minhye terlihat berbinar-binar. “Jinca, oppa?”

Minho mengangguk dan berdiri dari tempat itu. Minhye pun melakukan hal yang sama.

“Ayo kita pulang, sudah malam. Kalau orang tua kita masih ada. Kita sudah dibunuh karena pulang larut.” ucap Minho sambil berjalan duluan di depan Minhye.

Oppa!” panggil Minhye dan Minho berbalik melihatnya. Sedetik kemudian Minho terkesiap karena Minhye berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat.

Oppa, neomu kamsahayo. Kau baik padaku.” ucap Minhye haru. Minho diam saja mendapati Minhye yang untuk kesekian kalinya bertingkah seperti ini padanya. Dia balas memeluk dan mengusap pelan puncak kepala Minhye.

Ne. Cheonma, saengi-ya.” Minho mengecup puncak kepala Minhye yang membuat Minhye jadi ikut berdebar.

“AHAHAHA~~~~ sudah ah! Aku kelihatan tolol deh akhir-akhir ini. Aku tidak mau manja padamu lagi. Aku sudah besar. Apa kata pacarku nanti kalau melihat  kita seperti ini, oppa.” ucap Minhye tiba-tiba salah tingkah dan langsung meninggalkan oppa-nya yang masih mengerenyitkan dahinya heran.

*****

Esok harinya Minho sengaja menjumpai Jinki, namja yang sudah dekat dengan yeodongsaeng-nya akhir-akhir ini. Dia sengaja menemui karena ingin membicarakan beberapa hal mengenai adiknya. Bukan ancaman yang selalu dia lontarkan pada setiap mantan Minhye, namun lebih terkesan pendekatan.

Minho melihat Jinki sedang berada di kafetaria dan dengan gaya cuek dia mendekatai namja itu.

“Kau serius dengan yeodongsaeng-ku?” tanyanya yang tidak pernah mau memanggil Jinki dengan sebutan ‘hyung’. Jinki menoleh padanya kaget kalau ada seseorang bicara to the point seperti itu di belakangnya.

“Mi-Minho?”

Ne, aku. Apa aku mengganggu makan siangmu?”

“Duduklah. Baru bicara.” ucap Jinki dengan gaya andalannya yang tenang dan ramah.

“Aku sudah tahu. Jadi, kau menyukai Minhye?

Jinki yang mendengarnya tersipu malu dan lagi-lagi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Ah, kau sudah dengar.”

Mereka terdiam untuk beberapa saat.

Jinki menyeruput minumnya dan meletakan setelah selesai dengan makan siangnya. “Baik Minho, aku memang menyukai yeodongsaeng-mu Minhye. Dia terlihat manis bagiku.”

Minho menaikan alisnya.

Apa yang barusan namja ini bilang?  Kenapa dia jadi blak-blakan bicara tentang kesukaannya akan Minhye. Menggelikan, cibir Minho dalam hati.

“Dia yeoja yang baik dan manis. Semenjak kenal aku memang sudah memperhatikannya. Aku—“

Baik,” sela Minho yang kurang begitu suka ada namja yang membicarakan kesukaannya pada Minhye. “Aku cuma takut dia mengalami hal yang buruk seperti dulu. Aku tidak akan membiarkan seorangpun menyentuhnya dengan kasar.” ucap Minho keceplosan, lupa diri akan siapa dia sebenarnya. Jinki menepuk bahu Minho pelan, mengerti maksud Minho barusan. Dan cukup aneh dengan ucapan Minho tadi.

“Kau tenang saja Minho. Aku akan menjaga Minhye dengan sangat baik.”

Minho lalu berdiri merasa kalau pembicaraannya sudah selesai. ”Ne, kalau begitu. Aku bukan merestuimu tapi juga bukan melarangmu dekat-dekatnya. Terserah pada Minhye saja semuanya!”

*****

Minhye berlari menghampiri Minho yang sedang di halaman rumah bermain basket. Dia terlihat sangat senang dan lebih riang dari biasanya.

OPPA!!!” panggil Minhye.

“Kau sudah pulang?” respon Minho santai. Minhye memeluk Minho sesegera mungkin.

Oppa, gomawo!”

Yaa! Kau kenapa?”

Minhye melepaskan pelukannya dan mulai tersenyum, “Aku sudah menerima Jinki!”

Mwo?!” Minho terkejut dan Minhye mengangguk.

“Aku sudah dengar dari Jinki, oppa. Kalau..” Minhye tersenyum lagi. “Ah~ oppa kau ini jaim sekali. Pake bilang tidak merestui tapi juga tidak melarang. Maksudmu apa, huh?” Minhye mencubit lengan Minho.

Yaa.. Yaa. YAA!”

“Ah gwenchana, oppa! Gomawo! Oppa memang keren!” ucap Minhye kemudian dia pergi meninggalkan Minho.

Cih~ dia merayuku, pikir Minho melihat tingkah manja yang semakin menjadi di diri Minhye.

“Minhye-ya, jadi kalian sudah jadian?” teriak Minho.

Ne, oppa!! Sudah!”

Deg!!

Minho tidak menyangka Minhye akan menerima Jinki. Perasaan Minho jadi sedikit tenang tapi masih tidak rela Minhye benar-benar harus membagi perhatiannya pada orang lain.

*****

Kini Minhye di kamarnya sedang melamunkan hari-hari di mana dia bisa dekat dengan Jinki, pacar barunya. Jinki benar-benar pria baru di dunianya. Dan dia merasa Jinki orang yang paling pas baginya.

..Flashback..

Saat beberapa hari yang lalu di lotte world, Jinki benar-benar menyatakan perasaannya pada  Minhye.

“Minhye-ya, sudah lama aku memperhatikanmu.”

“Jongmal??”

“Aku tahu sepertinya tidak mudah untuk kau menjalin hubungan lagi dengan seorang namja, tapi..”

“Tapi apa Jinki?” tanya Minhye masih melihat pemandangan dari atas balon udara itu dan belum sepenuhnya menangkap ucapan Jinki.

“Tapi..” Jinki lalu menyelipkan sesuatu di daun telinga Minhye membuat Minhye terkesiap. Minhye kini jadi fokus padanya.

“Aku mau coba! Sudah lama aku menyukaimu, Minhye-ya.  Saranghaeyo!” aku Jinki pada Minhye dengan berani.

Minhye kaget dan hampir tidak percaya seorang Jinki bisa menyukainya. Karena kaget dia pun jadi diam saja.

“Minhye-ya?” panggil Jinki. “Aku tahu kau bingung. Aku ingin kau berpikir matang-matang. Aku akan menunggu jawabanmu. Otte??”

Tanpa pikir panjang Minhye pun mengangguk. Minhye terlihat salah tingkah dan malu. Hatinya sudah pasti berdebar-debar. Sudah lama tidak ada namja yang menembaknya bukan? Dan Kini dia merasakan debaran itu lagi.  

..Flashback end..

*****

Back song Onew feat lee hyun ji – vanilla love song

Minhye sudah resmi berpacaran dengan Jinki. Kini perhatian Minhye lebih banyak pada namja itu. Dia juga tidak ragu-ragu mengajak pacarnya ke rumah. Tapi, tentu saja atas persetujuan Minho.

Kini satu bulan sudah berlalu. Hari-hari Minhye dan Jinki jadi semakin bahagia. Mereka pasangan kekasih yang tidak neko-neko. Jinki sangat sopan pada Minhye, tidak seperti namja masa lalu Minhye. Jika ingin memegang tangan Minhye saja dia akan minta izin sebelumnya pada yeoja itu. Jinki memang yang paling baik untuk Minhye.

Melihat Jinki yang baik tetap saja tidak sepenuhnya membuat Minho merestui hubungan mereka. Tetap saja dia merasa risih melihat Minhye berjalan dengan Jinki. Walaupun Jinki selalu mengajaknya ikut bersama di jadwal dating mereka. Hal itu justru malah membuat Minho menjadi gedek dan sedikit iri pada mereka. Sama seperti yang dia alami saat ini saat Jinki mengajak makan Minhye dan Minho di cafe.

 “Oppa, kau mau makan apa??” tanya Minhye yang duduk di hadapan Minho. Minho tidak menjawab. Dia hanya melihat Jinki yang duduk di sebelah Minhye.

“Aku pesan ini. Kau juga suka ini kan, Minhye-ya?” tanya Jinki pada Minhye sambil menunjukan buku menu.

“Ah, ne oppa!” jawab Minhye pada Jinki membuat Minho terkejut.

Dia memanggil Jinki dengan sebutan oppa. Sejak kapan? Itulah yang saat ini ada dipikiran Minho. Walaupun Jinki lebih tua 2 tahun dari Minho, tetap saja membuat Minho kurang suka padanya. Dia itu sok dewasa! Yah~ itu pemikiran Minho saat ini.

Oppa!” panggil Minhye pada Minho membuat Minho sadar.

“Aku pesan jus saja!”

“Kau tidak makan, oppa?”

“Masih kenyang! Orange cake yang kau buatkan tadi membuat perutku masih kenyang, saeng!” terang Minho pamer seakan ingin membuat Jinki tahu kalau Minhye mengurusinya di rumah.

Sungguh kekanak-kanakan, mungkin itu yang ada dipikiran Jinki tentang Minho.

Makanan datang. Mereka makan dan kadang berbincang. Walau terpaksa, Minho memang terlihat benar-benar menyebalkan di setiap percakapan.

Setelah makan saatnya Jinki mau menyerahkan uang pada pelayan yang baru saja mengantar bill-nya. Tapi, Minho langsung membayarnya tiba-tiba dengan langsung menaruh kartu kredit dengan sombongnya.

“Eh aku yang traktir kan?”

“Tidak usah. Pakai uangku saja!”

Dan akhirnya, Jinki dan Minho berujung dengan berebutan membayar bill itu.  Mereka berdua kini terlihat kekanak-kanakan. Dan Minhye yang tidak mengerti situasi, tetap santai seperti biasa.

*****

Sepulang dari cafe!

Minhye merasa kakaknya menjadi aneh. Minho selalu diam sepulang dari makan di kencannya tadi. Minho tidak bertanya bahkan tidak sedikitpun menoleh pada minhye. padahal minhye tahu, biasanya minho akan selalu mengolok atau sekedar mengejek kencannya.

Minhye terus memandang oppa-nya, hingga akhirnya minho benar-benar merasa risih karena minhye melihatnya seperti ingin memakannya. Minho pun akhirnya menoleh pada minhye yang membuat Minhye melompat kaget.

“Kau tadi panggil Jinki apa?” tanya Minho pada Minhye yang masih mematung.

Nde?”

“Iya, tadi kau panggil pacarmu apa?”

O-oppa! Memangnya kenapa?”

“Aish~ menggelikan!”

“Loh kenapa? Dia kan lebih tua dariku, oppa!”

“Terserah kau!” raut wajah Minho berubah jadi ketus dan jutek setelah itu.

Yaa, oppa! Tunggu aku! Memangnya kenapa kalau aku panggil Jinki dengan sebutan oppa?”

Minho tetap berjalan di depannya tidak menggubris panggilan Minhye. Dia sendiri bahkan merasa aneh pada dirinya. Kenapa dia harus kembali jadi over protektif seperti ini?  Yang jelas itu juga yang mulai membuatnya jadi berpikir lagi.

*****

..MINHYE POV..

Oppa kenapa sih? Kenapa dia jadi berubah mood seperti itu? Memangnya salah kalau aku memanggil Jinki dengan sebutan ‘oppa’? Aish~! Kurasa sikap oppa yang seperti ini aku kenal. Aku rasa dia kembali seperti dulu lagi walaupun dia berusaha menahannya. Aku tahu dia itu sebenarnya kesal dan mau berulah dengan sikap over lebaynya. Jangan bilang dia mau menakuti semua pacarku seperti yang selama ini dia lakukan? Andwae!

Minho-oppa benar-benar mengacuhkanku. Masa sepanjang kami pulang bersama kami saling diam-diaman. Bahkan sampai masuk rumah pun kami tidak berbicara sepatah katapun. Kenapa si Minho-oppa jadi seperti itu?!

BLAM!!

Kudengar dia membanting pintu. Dia masuk ke kamar dan kembali seperti dulu dan berubah menjadi mayat lagi di kamarnya. Aku pun jadi masuk kedalam kamarku dan mengintropeksi diri. Apa yang salah padaku seharian ini? Aku tidak bermesraan dengan Jinki, aku tidak mengabaikan oppa juga walau ikut, aku berpakaian rapih, dan aku tetap menomor satukan dia sepanjang kami bersama. Tapi kenapa Minho-oppa jadi terlihat marah?

Aku cerita semuanya pada Jinki tentang sifat yang baru ditunjukan Minho-oppa padaku. Dan Jinki hanya menaggapinya dengan tertawa. Benar-benar menyebalkan. Padahal ini sinyal merah! Aku tahu sifat kakakku yang seperti itu!

“Iya sih! Yah, doakan saja Minho-oppa tidak seperti itu!”

“Iyaaa~ oppa memang baik!”

“Nde, oppa! Aku mau mandi. Nanti kalau tidak ketiduran dan capek, aku telepon lagi!”

“Ne.. annyeong!”

Malam ini aku lupa waktu saat menelpon Jinki, padahal aku tahu aku belum mandi. Kudengar suara gemericik air yang mengalir dari shower beserta musik. Aku jadi ingat dulu oppa juga suka begitu kalau dia kesal. Selalu mengacuhkanku dan selalu ditemani musik yang kencang saat melakukan sesuatu. Sekarang aku benar-benar tahu oppa memang sedang kesal padaku.

Argghhhh!!! Sudah lama aku tidak menghadapi situasi seperti ini saat hanya tinggal berdua saja dengannya. Ottokhae?!

BLAM! kudengar suara pintu ditutup dari luar.

BLAM!!!

Ah, kalau suara itu pasti suara dari pintu kamar oppa yang sedang ditutupnya. Tuh kan benar Minho-oppa tidak memikirkanku sama sekali. Ah, benar-benar membingungkan kalau sudah begini. Molla! Aku mau mandi saja!

*****

..AUTHOR POV..

Sudah jam 10 malam. Minhye masih tetap saja mau mandi. Hari ini cukup melelahkan untuknya. Lelah karena aktivitas tadi dan lelah juga karena sikap Minho yang seperti itu.

Kini di luar rumah hujan baru saja turun. Hujan? Yeah, ini hujan pertama di minggu ini. Dan Minhye sepertinya masih asik dengan aktivitas berendamnya. Gadis itu memang sangat suka berendam lama-lama kalau sedang pusing. Berendam merupakan salah satu media relaksasi baginya.

BLEPP!! Lampu tiba-tiba mati seketika.

“KYAAAAAAAAAA!!!!!”

Minhye menjerit kencang. Dia memang paling tidak suka dengan gelap. Lagi pula sudah lama sekali tidak pernah mati lampu seperti ini di rumahnya. Apa gara-gara hujan deras di luar? Dia mendesah pelan berusaha menenangkan dirinya. Akhirnya dengan langkah yang dijaga dalam gelap, gadis itu keluar dari bath tub hati-hati dan melilitkan handuk di tubuhnya. Dia kini menjadi patung karena takut. Tidak ada suara lain yang dia dengar selain suara hujan deras dari luar.

OPPA!!!!” teriak Minhye.

 “OPPAAAAA!!!!!”

Jeritan Minhye menyadarkan Minho. Minho yang tadinya sedang berbaring tiduran jadi kaget melihat sekekelilingnya yang gelap. Dia baru sadar kalau di rumahnya sekarang sedang mati lampu.

OPPA!! KAU DI MANA???” teriak Minhye lagi.

Minho bangkit dari tidurnya saat mendengar suara Minhye. Dia sangat tahu kalau adiknya itu takut gelap. Kalau sudah seperti ini dia pasti ikut kelabakan.

Minho meraba-meraba dinding kamarnya dan berusaha keluar kamar. Dia mencari dari mana suara Minhye berasal. Bang! Suara itu ternyata berasal dari dalam kamar mandi, pikirnya setelah menemukan Minhye.

“Minhye-ya?” panggil Minho.

“Minhye-ya?” Suara hujan diluar terlalu berisik  membuat Minho memanggilnya berulang-ulang.

OPPA CEPAT!!!”

Hanya berbekal penerangan ponsel Minho berjalan menuju kamar mandi tempat Minhye berada.

“Kau keluar saja, Minhye! Aku di sini!” perintah Minho sambil mengetuk pintu kamar mandi.

“Badanku kaku!! A-aku takut, oppa!!”

Deg!!

Terdengar suara Minhye yang lirih. Minho jadi ingat  kalau adiknya memang tidak bisa berbuat apa-apa kalau gelap. Dia pasti akan kaku dan menjadi patung karena saking takutnya. Dengan terpaksa Minho pun masuk ke kamar mandi yang kebetulan pintunya memang tidak dikunci.

Minho mendapatkan Minhye sedang berdiri kaku di depan bath tub sambil memeluk dirinya sendiri.

“Minhye-ya, gwenchana?” Minho mendekati adiknya. Dia memegang bahu adiknya dan tidak disangka, tubuh adiknya kini sedang bergetar. Minhye benar-benar takut dengan gelap.

Yaa! Oppa lama sekali!” Minhye langsung memeluk Minho tiba-tiba. Dan gara-gara itu juga mereka pun jadi terjatuh ke lantai dengan posisi duduk.

Aish~ tidak berubah. Dasar penakut ya!”

Minhye tetap memeluk Minho. Memeluk kakaknya cukup membuat Minhye lebih tenang. Padahal mereka masih dalam keadaan gelap.

“Sudah tahu aku penakut, oppa malah lama!” isak  Minhye sambil mengeratkan pelukannya.

..TO BE CONTINUE..

~This story is mine. This plot is mine. Say no to plagiarsm.~
  ~ Publish by mamotho @ https://mamothozone.wordpress.com/~

 ~ Awww, jangan mupeng oy!! Karena sesungguhnya yang buat udah mupeng duluan! Lol!!

~ Oke deh, kalau kalian kurang dari 17 tahun dan ingin menjaga kepolosan kalian lebih baik kalian back off dari sekarang. Soalnya, semakin lama saya akan menyediakan yang aneh-aneh. Yeah, walau berlaku SKIP donk! Kk~

~ Jangan lupa tetep tinggalin jejaknya wokei!! Oya, liatin donk takut masih ada yang typo. Jadi, bisa saya perbaiki lagi. hehe^^/

Advertisements

About mamotho

Special Girl. Always loved her self, and know what makes she herself happy. Fangirlling is also her spirit (ʃƪ˘ﻬ˘) SHINee is her oxygen too!

Posted on 3 April 2011, in BROTHER COMPLEX, SEQUEL, SHINee FF and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 51 Comments.

  1. yah eonni gmn sich
    aq dibawah 17 tahun lo
    jd terlanjur bacanya
    hiks hiks
    *meluk minho

    • jehhh.. kenapa ga bilang..
      yadah nak’ jgn di pikirin scra mendalam. ini cm fiksi otte!
      be a nice girl otte.
      tenang aja aku ga akan buat NC17++. just NC!ahaha~ sami mawon.

  2. ayooo..yooo.. pada komen donks..
    biar ceritanya makin rame. siapa tau ide kalian menginspirasi author! haha..
    ga susah kan ya buat komen?
    gomawo!*meluk readers*

  3. ranie2minewjongkey

    authorr, jadhii makaind serhuu ..

    update.na jangand lamha’ yha ..

    udahh penasarann nihh …

    hehehe …

  4. Yaaaa…
    Onew ku jadian ma minhye..dan part bberikut ada NC.. *g sabar*
    mamot… aq suka adegan di cafe.. lucu.. ><
    g kebayang Jinki mino rebutan bayar.. wkwkw

  5. astaga jinki mino haha
    woy itu minhye peluk mino? minhye pake anduk ga tuh? hahaha

  6. Annyeong.. Readers baru… Mau meninggalkan jejak yg manis dan imut sprti sya… Kekeke~ *kepedean==”* Setelah UAS selesai baru mampir lagi buat baca+coment… Kekeke~
    Man Seung Hyo imnida, 16 yo, elFlawless, B2uty, Shawol, VIP , blackjack , aff(x)tion , cassie , primadona, etc.. Hahaha XDD *maruk abis#plak#*
    sebaiknya aku menghilang dlu sebelum di ceburin.. Wkwk XDD
    kpan2 saya akan nyasar ke sini lagi… *apaan seh==”#gaje#*
    #BOW#
    *salam sayang anak ayam*
    ^o^

    NB :: “umma.. Umma.. *narik2 baju mamot onn* aku boleh baca yahh, seung hyo ga bakal liat apa2 koe.. *PUPPY EYES*” tanya Seung hyo membujuk authornya.. Wkwk XDD

    • ga di protect. silahkan..
      NC saya juga geje. haaha~
      dan masih terbilang wajar. *HAH?? YAKIN?!*
      asal otak kaga jadi somplak abis baca FF ini. *abaikan*

  7. Wah, kliatan minho ad saingan nich.
    Hahahaha
    mank jinki bda m 3 namja sblumny.
    Kalo jinki mah lbh sabar n kalem gtu.
    Bsa ngadepin minho mlah, tp te2p aj minho yg the best.
    Alna minhye ska m jinki kn krna jinki mrip m minho.
    Ad NC? Omo. . . O.o.
    Nice ff

    • ia nih… masalah bersaing!
      kkk~
      iya Jinki aku buat yang paling daebakkk diantara namja2 sebelumnya. kk~
      ahhh… kau menyerap tiap kata2 yang ada di FF itu.

      benuuuuulllll~
      soalnya jinki mirip minho yang versi baik. eh (?)

  8. huwaaa…
    my nampyeon,, berani sekalii.. salute deh.. ^_^
    minho kesel krn cemburu ato krn risih aja??? heu?? heu??
    hahah

    DAEBAK eon!!… ^_^

  9. risih..
    cembokur juga..
    halah~~
    ntar ada jawabannya di part selanjutnya..

  10. Waduh….

    Aku ngebayangin wajah Onew pas nembak si Minhye….

    Adududuh, setahuku dia tu namja yang polos banget……..

  11. mamot unnie, aku 96 liner..
    kok ada NC? aigoo
    tapi sayang sekali saya udah yadong duluan, ketularan eunhyuk! kk~ *ditampar jewels*
    *mohon untuk para saengi yang mapir ke sini, jangan tiru saya!!*
    otte otte, lanjut ke part selanjutnya!

    • ya udah lahh~~~heheh
      yang penting jangan di ikutin perbuatan2 aneh tuan minho rate yg berlabel NC disini.kk~
      author jg ga kasih pasword jadi bebas sok yang mau baca. slama tdak terjerumus.

  12. hadoh… itu minhye masih pake anduk >< !!
    aaaahhh~! gaswat! *brb nutup mata minppa pake tangan

  13. eonni bagus 🙂
    yah eonni saya kan masih 16 tahun,jadi ga boleh baca dong,tapi penasaran eonni,jadi gimana dong?

  14. Kabar bagus. .
    Ratingnya 17~ wkwk aku suka rating itu. XD
    #pletak

    Minhye itu peluk2 Minho padahal lagi pake handuk. Gmana kalo lampu’a tiba2 nyala. whoa. . Aku tak biza membayangkan.
    hahaha~~

    next part 8 ^^

    • Aigoo~~
      kalau lampunya nyala. ya nyala ajah… paliingan minho jd jedag jedug cekat cekot jantungnya. hahaha~~
      rate 17 yg kau harapkan tidak lain tidak ada. aku salah kasih ratenya. wkwkw~~

  15. ya ampun tu jinki sopan banget, minhye n jinki pasangan yang sama2 polos.

    lanjut baca ke part selanjutnya. .
    lanjut baca ke part selanjutnya. .

  16. Minho… Kau cemburuuu >,<
    Hahah.. Keliatan bangeth..

    MinHye.. Kyaa, jngan main peluk2 gituh donk.. kasian kan Mino oppa jdi gak Konsen gitu#maksud.a# hahaha…
    Minoppa : sabar yah 😀

    Lanjuuut dlu 😀

  17. mybabyLionOnew

    sesungguhnya.. bc bagian jinki n minhye bkin sy tersenyum miris.. huuaaaaa
    minho-ya kita senasib sepenanggungan.. huaaaa

  18. reread!

    di part ini Minho sakit batuk atau apa deh eon? deham deham mulu wkwkwk tapi semakin kesini aku jadi mikir kalau Jinki punya siasat-siasat khusus, trik untuk mendekati Minhye tanpa melupakan keberadaan Minho. alhasil Minhonya yang kepanasan~

    eon, aku masih 15 tahun ._. lanjut aja ya eon ehehe

  19. lanjuttt 🙂

  20. My Lovely Mon5ter

    Minho terlalu over, untung ditanggep santai ma jinki

    Minho mulai panas begitu tau minhye manggil jinki pake embel oppa

    Segituny!!!!!!!

    Duch TBC-nya bikin mikir Ўªήğ nda2 nich?????????????*yadongmodeon*

  21. Mamoth eon datang \(^0^)/ Maaf ya telat membalas. Aku bikin lapak nih di bawah:

    @mybabyLionOnew : Mi, kamu kenapa sihhhhh??
    @AlsKey: Lanjut aja als… No vulgar2 kok!hehe
    @Onsy : ^^b
    @trya001 : 🙂
    @My Lovely Mon5ter: Emang kamu yadong ==”

  22. Heh, aku msih 16th loh eon ‘kkk~
    kadang bingung aku ama sikap siminho.
    Nice FF thor ^^

  23. aiiihh mulai deh tp gpp aku udah diatas 17 koq eonn 😀
    ga tau knp ngerasa seru baca ini pdhal aku udh pernah baca sbelumnya
    ff na mamoth eonni emg slalu bikin greget daebak eon b^^d

  24. Hujan, mati lampu, lagi mandi, di kamar mandi, dan cuma pake anduk o.O
    What will happened tuh? *otakYadong xD*

  25. Wah.. Lucu ya kalo minho lagi cemburu gitu hahahaha^^
    Itu apa si minho ga deg-degan tuh di peluk minhye di kamar mandi, ya walaupun gelap sih hehe^^
    Lanjut next part, thanks^^

  26. trus jadinya yang ngebayarin sapa eon?

  27. Huwaa sbnarx minhye itu suka sma sapa? Ckck ~_~

  28. Udahlah gak banyak ba-bi-bu..
    Saya langsung ke part selanjutnya..
    Wkwkwkwk 😀

  29. Gw jdi pengen di peluk ama minho

  30. yah knpa minhye jadian ma jinki?
    Kasian minho.huhuaaa
    minhYe sadarlah.sadarlah kalau minho mencintaimu.hua

  31. HUHU mereka lama bgt sih menyadari perasaannya masing2 :<

  32. Wah kyanya minho Άϑά hati sm dongsaengny”

  33. Lanjut baca

  34. Jiahhhh eon aku kurang dari 17 thn~~ :3

    Tapi ini seru bangetttt…
    Kalo misalnya ada yg aneh nggakungkin dilakuin lah 😀

  35. Waaaah.. Apa yg trjadi stelahnya.. Si minhye kn cuma pake anduk.. Wakkaka..

  36. MinPpa sama Minhye yg lg pelukan napa aq yg deg”n ..
    untung aq udh 19 thn*plak 😀

    Ff karya mamot eon memang dae to the bak …DAEBAK ^^

KOMEN YO ( ˘ з˘ )/

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: