BROTHER COMPLEX – Part 6

BROTHER COMPLEX – Part 6

Title : Brother Complex [Revision version]
Author : mamoTHo
Main Cast : Choi Minho (Brother), Choi Minhye (Little Sister)
Other Cast : Lee Jinki, Luna
Lenght : Sequel
Genre : Bromance – family
Rate : PG 15

This Story©mamoTHo

*****

..AUTHOR POV..

Hari demi hari telah berlalu dari mimpi buruk yang Minho dan Minhye alami. Kini mereka hanya tinggal berdua di rumah. Rumah seketika menjadi sepi tanpa kehadiran orang tua mereka. Tidak ada lagi seorang eomma yang memarahi mereka berdua, tidak ada lagi eomma yang membuat orange cake untuk Minho, tidak lagi appa yang selalu menasehati keduanya, dan bahkan tidak ada lagi sosok orangtua yang mengecup pipi mereka saat pulang atau berangkat sekolah. Keadaan tiba-tiba berubah dan mengharuskan keduanya jadi lebih mandiri lagi.

Kini, Minho sebagai seorang anak yang paling besar berusaha menjadi sosok yang dewasa untuk adiknya. Dia sekarang sudah sepenuhnya bertanggung jawab atas Minhye, yeodongsaeng-nya. Dia Minho, bukan bocah SMA kelas 3 seperti dulu. Dia Minho yaitu seorang namja yang sekarang mengurusi semua hal demi kehidupannya dan adiknya. Setelah sepeninggalan appa-nya, Minho diberikan wewenang khusus untuk memegang perusahaan game milik ayahnya. Dia bekerja di sana walau belum sepenuhnya memegang penuh karena statusnya yang masih bersekolah.

Hubungan Minho dan Minhye pun jadi semakin membaik. Kedua kakak dan beradik ini kian akrab tiap harinya. Kini sebisa mungkin mereka meluangkan waktu bersama, bercanda bersama, dan yang lebih manis lagi, mereka kadang suka saling berbincang, hal yang dulu jarang dilakukan keduanya.

Minho tidak pernah diam di kamar lagi untuk menikmati kesendiriannya. Kini sudah ada Minhye, yeodongsaeng-nya yang harus dia temani setiap saat dia bisa. Dia benar-benar menjadi seorang kakak yang baik untuk Minhye. Itu bagus, dan Minhye menyukai itu. Minho sekarang memang seperti oppa-nya, oppa  yang diidam- idamkannya, yang selalu manis di depannya, atau membantunya disaat dia merasa kesulitan.

Oppa, cobalah lagi!” pinta Minhye sambil menunjukan sebuah cake di depan wajah Minho dan Minho mengambil sedikit kue yang dicubitnya.

Siang ini mereka yang baru saja pulang sekolah sedang menonton Tv bersama. Hal yang dulu tidak pernah mereka lakukan sama sekali.

“Em, sedikit lagi sempurna.”

“Masa belum juga?” protes Minhye sambil mengerucutkan bibirnya sebal. “Padahal aku sudah buat dengan takaran eomma, tapi kenapa tidak mirip-mirip juga sih.”

Minho terkekeh mendengar Minhye yang hampir tiap hari mendumal karena orange cake. Yap, yang mereka bicarakan itu adalah orang cake. Setiap hari, setiap Minho ada di rumah Minhye selalu membuatkan kue itu untuknya. Namun, hasilnya tidak sesempurna yang Ny.Choi buatkan pada anak angkat laki-lakinya itu.

 Minhye mencubit lagi kuenya dan melahapnya. “Ah! Apa yang beda sih, oppa?!” dumal Minhye lagi.

“Sudahlah jangan dipaksakan, saeng. Buatanmu enak kok!” kata Minho sambil mengambil kue itu dan melahapnya lagi. “Aku tetap suka, Minhye–ya.”

Mendengar itu Minhye jadi tersenyum pada Minho, dan lagi-lagi dengan penuh kesadaran dia bermanja-manja ria memeluk Minho yang ada di sampingnya.

Oppa, aku senang deh kita seperti ini.” katanya dengan manja dan Minho membiarkannya.

“Kenapa? Senang karena bisa menggelayuti tubuhku setiap hari? Cih!”

Aniya oppa. Lagi pula memangnya kenapa? Kau kan oppa-ku. Dan aku berhak melakukan apa saja padamu.”

“Eh?”

“Iya oppa. Pokoknya kau milikku seorang setelah aku tidak punya eomma dan appa. Kau sudah berjanji padaku akan menjagaku. Kau harus bersamaku terus, oppa.”

Minho mengucak rambut Minhye pelan. “Kau lucu. Sejak kapan yeodongsaeng-ku yang menyebalkan jadi manis begini?!”

“Sejak aku sadar kalau kau itu sangat berharga.” ucap Minhye polos dan tidak sengaja membuat jantung Minho berdebar saat mendengarnya.

Minho terdiam. Dia tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi karena terlalu sibuk dengan perasaannya sudah mulai merasa aneh.

“Pokoknya, kalau aku tidak punya pacar, kau juga tidak boleh punya.” lanjut Minhye sambil menyenderkan dirinya di bawah ketiak Minho.

Siang itu Minhye terus-terusan mengoceh pada Minho, sedangkan Minho jadi merasa canggung berada di samping bocah itu.

Oppa, kenapa kau putus dengan Yuri-eonni?” tanya Minhye sembari tetap melihat ke layar Tv dan tetap bersandar pada oppa-nya. Dia mulai menanyakan hal yang tidak penting lagi pada Minho.

“Sejak kapan kau memanggilnya eonni?”

Minhye terdiam. “Sejak dia membocorkan rahasiaku.”

“Eh? Karena dia membocorkan rahasiamu padaku, lalu kau tiba-tiba jadi menyukainya, begitu?”

“A-ani. Tapi, kurasa aku harus memberi penghormatan sedikit pada yeoja itu, oppa. Makanya kupanggil dia eonni deh.”

“Kau lucu!”

Yaa! Oppa, jawab!”

“Tidak mau. Aku tidak mau membahasnya. Kalau membahasnya, aku ingat dirimu yang labil itu, Minhye.”

“Yang mana yah, oppa? Aku merasa tidak pernah labil tuh.”

“Tidak labil? Kau pikir sifat pacaran backstreet-mu itu lucu. Cuma aku yang bisa menahan sifatmu yang satu itu!” terang Minho sambil tertawa mencibir.

Minhye terdiam, merasa tidak enak lagi dengan ucapan Minho barusan. Minho yang melihat jadi sadar kalau dia telah salah bicara. Dia mengelus puncak kepala Minhye lagi. Dia sadar dia baru saja membuat adiknya tersinggung.

Mian. Aku tidak bermaksud begitu.”

Minhye duduk bersandar di sofa tidak memeluk manja Minho lagi. “Oppa, rasanya aku pengen deh punya pacar seperti oppa.”

Nde?!”

“Iyaaa… yang baik padaku, mengerti padaku, punya insting padaku, memarahi sifat jelekku, tapi tidak mau se-over protective oppa. Kurasa, over protective itu menyebalkan.”

Yaa! Minhye–ya! Apa kau baru saja membayangkan sesuatu, ah?”

Aniya, oppa!”

“Apa kau baru saja memikirkan ingin memiliki pacar lagi? Setelah 3 namja jelekmu itu? Apa kau berniat pacaran lagi, Minhye–ya?”

“Tidak, oppa!”

“Kau bohong. Kau masih saja melamunkan sesuatu seperti mengeluh.”

Oppaaa, aku tidak pernah mengeluh.”

“Itu barusan apa? K-kau.. dasar yeodongsaeng yang tidak berubah. Tetap genit pada siapa pun?”

Nde, oppa?! Kau mencibirku barusan?”

Ne. Mau apa, huh?”

Bughhhh! Sebuah bantal sofa dilemparkan oleh Minhye ke arah Minho.

Yaa. Sudah berani padaku!”

“Bwe~~!”

Dan akhirnya Minhye dan Minho berakhir dengan kejar-kejaran di rumah itu. Suasana yang jarang sekali didapat saat eomma dan appa mereka masih ada.

Setelah saling mengejar dari lantai bawah sampai lantai atas akhirnya Minho bisa mendapatkan Minhye. Dia mengangkat tubuh mungil yeodongsaeng-nya dan membawanya ke kamar Minhye. Dan menjatuhkan adiknya dengan sangat sopan ke tempat tidurnya.

Yaa! Oppa! Kau pikir aku karung beras?!” protes Minhye tidak terima di jatuhkan seperti itu oleh oppa-nya.

Bye .. bye… saengie-ya! Selamat berlamun ria.” kata Minho meledek dan keluar sambil menutup pintu kamar Minhye.

OPPA! AWAS KAU!!” ancam Minhye sambil beranjak dari tempat tidur lalu membuka pintu kamarnya kasar.

OPPA!!” teriaknya lagi.

“Eh, si genit keluar~!” ejek Minho pada Minhye sambil terus berjalan menjauh dari kamar itu.

Oppa!! Sini ikut aku!” Minhye menarik lengan Minho dan membawanya berjalan.

Yaa. Kau mau bawa aku ke mana?”

Hari sudah malam, kira-kira pukul jam 10.00. Dan mereka masih saja seperti bocah SD yang bertengkar di rumah yang hanya ditempati oleh mereka.

Dengan kekuatan ekstra, Minhye membawa Minho ke kamar bernuansa biru milik Minho. Dia menjatuhkan oppa-nya di sana. Dan Minho hanya cukup menganga mendapati perlakuan yeodongsaeng-nya.

Oppa, tidur!” perintah Minhye tiba-tiba yang semakin membuat Minho keheranan.

“Minhye, apa kau eomma-ku? Aku bisa tidur kapan saja. Jangan mentang-mentang tidak ada eomma kau berlagak seperti dia ya.”

Oppa, aku serius. Tidur, oppa!”

“Aku belum mau tidur. Baik, aku minta maaf karena ucapanku barusan. Tapi, sudah ya, aku mau ke bawah lagi menonton Tv.”

Minhye mendorong tubuh Minho yang baru saja hampir bangkit.

Oppa, Tidur! Ini sudah malam. Kau lupa besok acara kelulusanmu?”

“Tidak lupa. Sudah sana. Aku bisa bangun tepat waktu walau itu sangat pagi sekali.”

Minhye mendorong Minho lagi yang sudah hampir berhasil berdiri. Gadis itu tiba-tiba menghampiri oppa-nya yang sekarang ada di tempat tidurnya karena  di lempar olehnya. Dia merangkak di atas tempat tidur itu  menakuti oppa-nya dengan perilaku yang di luar kesadaran seorang Choi Minho.

Yaa! Minhye–ya. Kau sedang apa? Sana, ah? Ini ranjangku!”

Ooo…oppa…” kata Minhye dengan nada sedikit digenitkan. Dia kini berujung menggoda kakaknya sendiri.

Yaa! Kau sedang apa, ah?”

“Oooooo..oppa. Tidur yaaaaaa..” katanya lagi sambil menakuti-nakuti dengan tingkah agresif. “Kalau kau tidak mau tidur. Aku tidur di sini loh oppa.”

Yaa. Apa yang kau pikirkan? Sana. Hush! Hush!”

“Ahahhahahaaa~~~” tawa Minhye pun keluar dengan puas melihat Minho yang ketakutan setengah mampus menghadapi dirinya yang seperti itu. “OPPA!! LUCU!!!!” ejek Minhye tidak sadar kalau Minho kini mengerucutkan bibirnya sebal.

Grebb! Minho menarik yeoja itu dan menjatuhkan dirinya ke pelukannya. Kini dia tidur dengan ditindihi oleh Minhye di atasnya.

Yaa. Oppa! Lepaskan!”

Sirreo!”

Yaa! Aku becanda, oppa.”

Sirreo! Aku mau tidur dan kau katanya mau tidur denganku.”

YAA, OPPA! Jangan gila! Aku ini yeoja, oppa!”

“Iya, kau yeoja dan yeodongsaeng-ku.”

Minhye terdiam tidak berusaha melepaskan dirinya dari Minho lagi. Mereka kini saling menatap.

Oppa, aku jadi ingat eomma dan appa.”

“Aku juga selalu ingat mereka. Tapi, kenapa kau tiba-tiba mengingat mereka?”

“Apa kau tidak ingat, oppa? Setiap sehari sebelum upacara kelulusan, eomma dan appa kan sering tidur bersama kita. Saat aku SD, SMP, mereka menemaniku. Pasti padamu juga kan, oppa.” cerita Minhye masih dalam keadaan saling memeluk.

Ne, aku ingat.”

Tiba-tiba Minhye membiarkan dirinya menyender di dada bidang Minho, membuat Minho jadi agak tidak konsen dengan posisi saat ini.

Oppa.. Kau jangan pernah meninggalkan rumah ini setelah lulus nanti. Kau tidak boleh kuliah yang mengharuskan kau menginap di asrama. Aku tidak akan suka sendirian.”

Minho tersenyum walau Minhye jelas tidak melihat karena Minhye menyembunyikan wajahnya di balik dada Minho.

Oppa.. Aku akan menggantikan eomma dan appa tidur di sini untuk menemanimu.”

Nde?!”

“Iya, oppa. Aku di sini kan yeodongsaeng-mu. Aku satu–satunya orang yang kau miliki. Aku mau tidur di sini menemanimu sebelum hari kelulusanmu besok tiba.”

Nde?!!!”

Oppa tidurlah.  Aku juga akan tidur.” ucap Minhye sambil memeluk erat Minho dan Minho hanya membeku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Minho hanya berharap agar debaran hatinya jangan sampai terdengar oleh Minhye karena posisinya yang benar-benar dekat sekarang. Dia benar-benar kerepotan kalau Minhye sudah bertindak manja padanya.

*****

..MINHYE POV..

Mwo? Begitu terkejutnya aku saat melihat ruangan di mana aku berada bukanlah kamar Minho-oppa. Ya, pagi ini aku terbangun di kamarku. Padahal aku yakin  kemarin aku menemani oppa tidur di kamarnya. Bukankah begitu?

Aku turun dari ranjangku. Dan bergegas ke kamar yang terletak di sebelah kamarku.

Oppa saayaaaang… Apa kau ada di dalam?”

“MINHYE–YA, DIAM! JANGAN MENGGODAKU PAGI-PAGI!” teriak oppa kudengar. Huft. Aku kan hanya bertindak sebagai yeodongsaeng yang baik. Kenapa oppa malah tidak suka?

Klek!

Pintu kamar oppa terbuka membuatku melompat kaget. Kulihat Minho-oppa sudah berdandan dengan rapihnya. Rambutnya yang cepak sangat terlihat rapih. Pakaiannya juga terlihat sangat elegan. Oppa benar-benar beda. Ini benar-benar upacara kelulusan.

“Kenapa diam saja? Minggir!” usir oppa padaku dan aku sadar kalau aku dari tadi melamun melihatnya.

Yaa, oppa! Kau sungguh tampan!” kataku untuk pertama kalinya memuji dia dengan terang–terangan. Sudah kukatakan kami akur sekarang.

“Berisik. Cepat mandi. Bukannya kau mau datang di upacara kelulusanku?”

“Ah ya! Aku hampir lupa. Bodoh!” rutukku pada diri sendiri.

“Iya kau memang bodoh. Cepat mandi!”

Setelah diomeli untuk mandi setidaknya aku belum becus menjadi eomma di rumah kami. Kami seperti main rumah-rumahan. Sekarang, aku berlagak seperti eomma dan oppa berlagak seperti appa yang mencari uang dan menghidupi semua keperluan kami. Hihi.. Apa ini hanya perasaanku saja? Tapi, kenapa aku sungguh merasa bahagia?

Setelah selesai mandi dan memakai seragamku, aku keluar kamar lagi dan menyahuti oppa dari luar kamarnya.

Oppa sayaaang….” sapaku lagi-lagi dengan sebutan baru pada oppa-ku.

Klek!

Lagi–lagi aku melompat kaget dibuatnya. Dia selalu mengejutkanku hanya dengan membuka pintu saja.

“Berhenti memanggilku itu. kau agak aneh, Minhye-ya.”

Oppa, aku tidak aneh. Aku sangat suka memanggilmu itu. Kau sungguh manis akhir-akhir ini, oppa. Dan aku sangat suka!”

Ne.. ne.. ne!! Tapi berhentilah memanggilku itu. Itu terdengar aneh di telingaku, Minhye-ya.”

Gerae kalau oppa melarang. Aku cukup memanggilmu oppa saja.”

“Bagus.”

Aku hanya cengengesan menanggapi Minho-oppa. Dia memang benar-benar lucu deh, pikirku sedikit ganjal dengan diriku sendiri. Kenapa aku jadi merasa dekat dengan oppa?

“Tunggu!”

“Apa lagi, oppa? Nanti kita telat!” omelku karena dia tiba-tiba menghentikan langkahku yang sudah hampir turun ke bawah. Kan, kita sudah mau pergi ke upacara kelulusannya.

“Minhye-ya, aku belum pakai dasi. Apa kau bisa memasangkannya?”

Tuh kan! Apalah Minho-oppa tanpa diriku. Walau aku hanya yeodongsaeng-nya tapi aku pintar mengurus rumah termasuk memakaikan dasi pria.

Akhirnya aku menghampirinya lagi dan memakai dasinya. Kulihat Minho-oppa tidak melihatku. Dia pura-pura tidak melihatku. Apa aku terlihat buruk saat ini hingga dia tidak menatapku?

“Berapa nilaiku kalau aku mengurus rumah tangga?” tanyaku iseng padanya sambil tetap memasangkan dasinya.

“Tidak buruk!”

“Eisshh.. kalau mau bilang seratus juga tidak apa-apa, oppa! Aku akan memberimu seratus juga karena kau sudah berusaha keras menghidupiku!”

*****

Di upacara kelulusan Minho-oppa, mungkin yang lain berbahagia karena orang tua mereka bisa datang. Tapi, oppa-ku tetap bahagia karena masih memilikiku saat ini, dan aku datang di upacara kelulusannya. Aku yakin dia bahagia masih memiliku.

Oppa chukae!!” teriakku pada Minho-oppa yang tampan yang sekarang berdiri menghampiriku.

“Minhye!” pekiknya terkejut melihatku di luar gedung.

Ndeeeeee!” responku sambil memberi aegyo cute yang spontan membuat oppa malah menjitakku.

“Jijik tahu!”

“Iyaaaa.. Selamat ya, oppa! Aku senang deh kau lulus akhirnya.”

“Iya, terimakasih sudah menungguku, Minhye.” senyum manis terlukis di bibirnya. Oppa benar-benar jadi baik.

“Ini, hadiah kelulusanmu!” kataku sambil menyodorkan bingkisan padanya.

“Apa ini?”

Yaa! kok malah bertanya? Buka saja oppa!” kataku menyuruhnya. “Pokoknya kau harus jaga baik-baik barang ini! Ini langka, oppa! L-A-N-G-K-A!” kataku mengejanya sedikit bersemangat dan oppa makin tersenyum.

Minho-oppa dengan cepat membuka bingkisan dariku. Dia terlihat tidak sabaran!

Aigoo~ Kau dapat ini dari mana, Minhye-ya?” wajah oppa sungguh bahagia saat melihat apa yang kuberikan dan aku hanya terkekeh sombong.

Baiklah, aku setengah mati mencari barang yang kuhadiahkan ini padanya. Setelah aku muter-muter di online, akhirnya aku bisa mendapatkan game yang sudah lama ingin dimiliki oppaslamdunk power jump limited edition—yang kuharap oppa yang pecinta games ini menyukainya.

Gomawo, saeng!” katanya sambil mengelus puncak kepalaku. Aduh, oppa lebih sering bersikap manis di depanku akhir-akhir ini.

Ne, oppa! Selamat atas kelulusanmu. Dan selamat, habis ini kau akan memegang perusahaan dan menjadi namja dewasa. Chukae oppa untuk semuanya!!!!” kataku bersemangat dan dengan refleks aku mencium pipi oppa.

Yaa! Kau seperti anak kecil Minhye–ya!!” omel oppa yang kaget karena perbuatanku.

Bukannya malu atau apa, aku malah tersenyum padanya. Aku malah berdebar- debar karena mencium oppa. Apa ada yang salah di diriku? A-aniya.. Aku hanya terlalu senang oppa lulus, pikirku sambil berbalik karena tidak tahan ingin menyembunyikan wajahku yang sudah pasti memerah.

Yaa! Minhye-ya. Sedang apa kau?!” tanya oppa-ku dan aku malah berjalan menjauhinya.

Sebentar! Apa aku baru saja merasa bodoh sekarang? Kekonyolan tadi itu apa? Aku baru sadar oppa bisa salah paham. Aku kan tidak pernah mencium oppa. Ottokhae?!!

*****

..AUTHOR POV..

Two years later!

Tidak terasa tahun demi tahun telah dilewati oleh Minhye dan Minho. Mereka yang kini beranjak dewasa akhirnya mulai mengerti dengan perasaan masing–masing.

“AKHIRNYA…,” seorang yeoja menghentikan langkahnya saat menatap gerbang utama yang memperlihatkan sebuah bangunan besar di depannya. “…AKHIRNYA AKU BISA MENYUSUL OPPA KULIAH!!!!” pekik yeoja itu bersemangat.

Baiklah, kita perkenalkan lagi, yeoja itu adalah Choi Minhye. Dia yang kini sudah beranjak dewasa, sudah berusia 19 Tahun, dan kuliah tingkat 1 menyusul oppa-nya di SHINeeTown University. Perawakan yeoja itu sudah terlihat berbeda. Dia terlihat sangat dewasa dengan tubuhnya yang semakin tinggi, juga dengan rambut panjang yang dibuat terurai sampai hampir sepinggang.

Oppa, aku datang!!” pekiknya lagi menerobos gerbang itu sambil memeluk buku di dadanya.

Bip!

Sebuah nada ponsel ringan terdengar dari saku Minhye. itu suara message ponselnya.  Yeoja itu merogoh saku coat-nya, mengambil ponsel itu. Tiba-tiba sebuah senyum terlukis di bibirnya saat membaca layar ponsel tersebut.  Ya, tentu saja dia bahagia. Dia baru saja menerima pesan dari Minho, oppa kesayangannya.

From Minho Oppa:

Selamat datang di kampusku!
Selamat menikmati dunia kampus, saeng.
Kau pasti bisa tanpaku.
Fighting!!

Itu bunyi pesan dari Minho. Sederhana namun membuat Minhye tersenyum. Minho, namja yang kini berusia 21 tahun itu sudah berada di tingkat 3 kuliahnya. Namun, karena di semester pertama tahun ketiganya itu Minho mengikuti pertukaran pelajaran , dia jadi tidak bisa menemani hari pertama yeodongsaeng-nya di perkuliahan.

Minhye berjalan sambil mengetik message balasan untuk oppa-nya. Dia begitu riang hingga tidak menyadari kalau ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan.

To Minho Oppaaa:
Ne, Oppa.. Berikan saja pelukan untuk menguatkanku!

Sifat manjanya pada Minho memang tidak berubah. Walau oppa-nya tidak ada. Dia selalu begitu. Selalu meminta hal yang aneh-aneh.

Sebuah balasan datang tanpa harus menuggu lama. Dan itu sukses membuat Minhye makin tersenyum riang sampai seseorang yang sedang memandanginya dari kejauhan ikut tersenyum. Seorang pria dengan kulit putih, berpakaian rapih, dan memiliki senyum yang damai jika kita ikut melihatnya.

From Minho oppa:
*HUGS!*

Pelukan berbentuk message itu cukup memberi kekuatan untuk Minhye menjalankan hari-hari tanpa oppa-nya.

*****

Hari ini kuliah pertama, Minhye duduk dengan tegang di meja baris ke-4 dari depan. Dia sungguh kaku menghadapi perkuliahan pertamanya. Apalagi dia mendengar dari Minho kalau kuliah itu tidak seperti sekolah.

“Hei, Minhye-ya, annyeong..”

Minhye menoleh ke suara tersebut. Seorang yeoja dengan rambut pirang sebahu tersenyum sampai memperlihatkan gumnya sedang menghampirinya. Dia mengambil kursi di sebelah Minhye.

“Apa kau tegang menghadapi kuliah pertama?”

“Luna!” pekik Minhye terlambat.

Ne, ini aku. Apa kau lupa aku ini teman satu kelompok di ospekmu?”

“A-aniya Luna. Aku hanya terkejut memiliki kelas yang sama denganmu.”

“Em.. aku juga. Kurasa kalau kelas kita banyak yang sama, kita bisa berteman.”

Minhye tersenyum. Dari situlah, dia berteman dengan Luna, yeoja yang dikenalnya semasa ospek.

Hari pertama dan kelas pertama cukup membosankan bagi Minhye. Dosen yang cukup tegang di pelajaran ekonomi mikronya membuat dia mengantuk bukan main. Caranya mengajar, pelajarannya, sungguh tidak terlihat menarik. Hal itu tidak hanya dirasakan oleh Minhye, Luna pun merasakan hal yang sama, bahkan mahasiswa lainnya.

Kini saatnya kelas kedua bagi Minhye. Dia masuk ke kelas yang berbeda yang 1 lantai di bawah kelasnya barusan bersama Luna.

Setibanya dan masuk ke kelas itu, dia cukup terkejut karena melihat pemandangan yang tidak biasa. Seorang pria berwajah seumuran mahasiswa sedang duduk di meja yang biasa di tempati oleh dosen. Dia yang telihat ramah karena selalu tersenyum pada setiap mahasiswa yang datang. Dan, tidak seperti dosen kebanyakan, namja itu benar-benar masih terlihat muda jika diperhatikan. Semua mahasiswa yang masuk kelas itu pun sama memandangnya kagum. Bahkan ada yang sampai terjatuh saking takjubnya.

Yaa.. Minhye-ya. Lihatlah, kurasa pelajaran akan menyenangkan.” bisik Luna pada Minhye yang masih memandang pria itu.

Yaa, Minhye-ya. Dia lumayan manis.” bisik Luna lagi terlalu bersemangat.

Minhye ikut mentap namja itu takjub sampai tiba di tempat duduknya. Kini sudah pas pukul 10.00 KST, tepat pelajaran akan dimulai dan semua mahasiswa sudah siap-siap memperhatikan dan duduk dengan rapih. Banyak di antara mereka yang masih berbisik, membicarakan namja yang ada di depan mereka.

Tidak lama, namja itu berdiri dan menempatkan dirinya di tengah ruangan itu.

Annyeonghaseyo, Joneun Lee Jinki imnida, banggapseumnida..” sapanya dengan ramah dan seluruh mahasiswa jadi menjerit ricuh.

“Baiklah, sebelum mata kuliah dimulai, apa yang ingin kalian tanyakan? Kita perkenalkan diri saja dulu. Aku juga baru mengajar. Dan beruntung kalian mahasiswa pertama saya.”

“Hyaaaaa… Senangnya..”

“Ahh… serius..”

“Kau dosen muda!”

Suasana kelas itu makin ricuh. Tidak kalah dengan Luna, teman baru Minhye pun ikut heboh karena sesi perkenalan itu.

 

Lee Jinki
24 y.o.
Dosen @ SHINee Town University

“Jinki-ssi. Kita harus memanggilmu apa sebagai dosen? Kau masih sangat muda untuk kami.” tanya salah satu mahasiswa.

“Em, aku baru lulus tahun kemarin. Kalian bisa memanggilku apa saja.”

“Apa kami boleh memanggilmu dengan Jinki saja?”

“Kurasa itu boleh juga. Kita jadi seperti teman sebaya. Semoga, mata kuliah yang kuajarkan jadi mudah masuk.” kata namja itu makin membuat Minhye terpana dengan senyumnya.

Saat pelajaran sudah dimulai, Minhye terus memandang namja yang bernama Jinki itu. Dia tidak memperhatikannya mengajar tapi memperhatikan orangnya.

Yaa, Minhye–ya. Kenapa kau menatap Jinki dosen kita?” bisik Luna dan Minhye tidak menanggapinya masih melamun.

Yaa, Minhye. Kau kelihatan seperti orang gila.” bisik Luna lagi.

“Eh, apa Luna?”

“Kau melamunkan apa sih?”

“Tidak. Aku tidak sedang melamunkan sesuatu.”

“Bohong. Kuperhatikan kau sedari tadi menatapnya terus, Minhye-ya.”

Yeoja berjaket merah!” sahut suara seseorang dari depan kelas.

Suara itu adalah suara Jinki yang sedang menegur salah satu mahasiswa yang tidak memperhatikannya mengajar. Semua mata mengikuti pandangan Jinki  yang fokus pada satu orang yeoja yang di tegurnya. Itu Minhye. Yeoja yang memakai coat merah saat ini adalah Minhye yang belum sadar kalau sedang ditegur oleh dosennya.

 “Yaa! Luna! Minhye!” bisik temannya sambil mengarahkan, menggerak–gerakan pelan kepalanya agar Minhye dan Luna melihat apa yang ditunjukannya.

Minhye terdiam. Luna pun ikut terdiam. Mereka berdua jadi terkejut ketika mendapati beberapa pasang mata termasuk dosennya yang melihat serempak ke arahnya.

“Apa yang sedang kalian lakukan di sana?” tanya Jinki pada mereka berdua, terutama pada satu yeoja yang kini sedang ditatapnya, yeoja berjaket merah, Minhye.

Aish, ternyata yeoja berjaket merah itu adalah aku, pikir Minhye sambil mengetuk kepalanya. Ini coat bukan jaket tahu.

“Ini gara-gara kau, Luna.” bisik Minhye pada yeoja yang kini menunduk di sebelahnya pura-pura tidak tahu.

Minhye lupa kalau dia telah tidak mengacuhkan pertanyaan dosennya. Hingga akhirnya seorang Lee Jinki kesal dengan mahasiswa pertamanya dan menegurnya lagi.

“Sehabis jam kuliah ini, kamu ikut saya ke ruangan.” perintah Jinki dengan diikuti tatapan pembunuh dari pada semua mahasiswa yang ada di kelas itu pada Minhye.

Hening..

Ne, Jinki-ssi!” sahut Minhye agak telat beberapa menit kemudian yang membuyarkan tawa seluruh yeoja karena dia telah memanggil Jinki dengan sok akrab.

*****

Minhye babo! Di hari pertama kuliah, sempat–sempatnya kau berulah, umpat Minhye dalam hati sembari berjalan ke ruangan Jinki. Dia mengikuti Jinki dari belakang.

Kenapa harus aku sih? Kenapa tidak dengan Luna juga, umpat Minhye lagi-lagi sambil mengeluh.

Mian, Jinki–ssi. Kenapa hanya aku yang dipanggil ke ruanganmu?” tanya Minhye ragu pada dosen yang berjalan di depannya.

Jinki menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap Minhye sesaat. “Karena aku hanya butuh kamu yang ke ruanganku.”

Nde?! Apa Jinki-ssi baru saja memanggilku dengan tidak formal?”

“Baiklah! Em,  Kurasa tidak formal itu lebih menyenangkan.” jawab namja itu yang membuat Minhye menaikan kedua alisnya heran.

“K-kau yakin?”

Ne, aku juga beberapa saat yang lalu mahasiswa bukan?”

Minhye mengangguk dan mengikuti namja itu di belakangnya.

“Baiklah, Namamu?”

“Minhye. Choi Minhye imnida.” jawab Minhye sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya. Jinki menyambut uluran tangan tersebut dan menyalaminya.

“Baiklah. Salam kenal.”

Suasana canggung yang ada di antara keduanya menepis begitu saja. Apa lagi saat mereka mengerjakan hal bersama berdua. Alasan, Minhye dipanggil ke ruanganya yaitu karena Jinki menyuruhnya untuk membantu beberapa arsip di mejanya. Itu hanya alasan, alasan namja itu yang sebenarnya adalah untuk lebih dekat dengan Minhye. Karena, dari pagi tadi, saat Minhye masuk gerbang kampus, namja itulah yang memandang dan tersenyum dari kejauhan karenanya.

“Selesai!” ucap Minhye senang karena setelah ini dia bisa pergi lagi.

Ne, aku juga selesai!” ucap Jinki sambil tersenyum mengikuti gaya Minhye berbicara barusan.

“Boleh aku pulang?” pinta Minhye dengan sedikit ragu.

Jinki terkekeh. “Apa aku sedang menghukummu sekarang?”

Minhye mengangguk ragu.

Jinki terkekeh lagi. “Jadi kau merasa aku menghukummu saat ini?”

Ne, jin-Jinki.”

Jinki tertawa dan kemudian malah mengucak poni Minhye pelan. “Kau lucu, Minhye!” katanya yang tiba–tiba membuat jantung Minhye berdebar.

Minhye jadi teringat Minho. Minho lah yang akhir-akhir ini sering menyebutnya Lucu!

*****

Five Month Later!

Tidak terasa sudah 5 bulan lamanya Minhye di tinggal pergi oleh Minho yang sedang melakukan pertukaran pelajar di Jepang. Seiring berjalannya waktu nampaknya yeoja itu kini sudah terbiasa tanpa Minho. belum lagi saat ini dia sedang dekat juga dengan seorang namja , yang membuatnya tidak kesepian seperti di awal statusnya sebagai mahasiswa.

Minhye kini sedang tidur di kamar. Dia sedang membaca buku catatannya hasil kuliah barusan. Dia sedang menghafal beberapa teori takut nanti Jinki dosen yang sedang dekat dengannya menanyainya.

**Let me seeya LaLaLaLa..Love me hey YaYaYaYa.. Ni apeseon (Oh) neomu jagajyeoseo (Oh) I like U.. (T-ara – Yayaya)**   Sebuah nada dering heboh ponselnya terdengar begitu dia melamunkan oppa-nya. Minhye menatap layar itu.

“Oppa!!” pekiknya bahagia.

“Aish~ cepat sekali diangkat saeng.” kata suara di seberang  telepon yang sudah dipastikan suara berat itu milik Minho, oppa kesayangannya.

“Hehe.. aku rindu, oppa. Makanya, begitu tahu yang menelponku tengah malam begini adalah oppa, aku langsung angkat dengan cepat.”

“Kau rindu padaku? Bukannya akhir-akhir ini kau sering lupa memberi kabar padaku?”

“Hehe.. itu lain lagi oppa. Apa oppa rindu padaku juga malam ini?”

“Ne, nado bogoshipoyo, Minhye–ya.”

“Oppa, cepatlah pulang. Kalau kau terus-terusan di sana, aku akan kesepian.”

“Iya, secepatnya aku akan pulang. Tapi…” terdengar desahan pelan di telepon tersebut,”Bagaimana dengan teman barumu?”

Mereka terdiam cukup lama. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Ya, apa kau sedang melamun?Aku tadi sedang bertanya,Minhye –ya.”

“A-aniya, oppa.”

“Hey~ berbohong lagi padaku?”

“Ne, oppa. Aku memang sedang melamun. Dan, lamunanku akan membuatmu marah karena aku baru saja melamunkan Jinki.”

“Nde?!”

“Oppa tidak usah terkejut begitu. Aku kan sudah ceritakan semuanya pada oppa. Dia namja yang baik, oppa.”

“Nde? Apa kau baru saja mengharapkan aku menyutujui sifatmu yang genit seperti ini pada namja, Minhye?”

“Aniya, aku tidak genit. Tapi, aku memang sedang memperhatikannya, oppa. Dia menarik!”

“Yaa! Minhye–ya, kupingku tiba-tiba jadi sakit.”

“Cih!”

“Bercanda, saeng. Baiklah, apa kau sedang berpacaran dengannya?”

“Aniya, oppa. Kita hanya teman dan kita dekat.”

“Kau membuatku khawatir lagi.” ujar Minho tiba-tiba dengan nada lirih.Mendengar itu Minhye terdiam sejenak.

“Ne, oppa. Aku minta maaf.”

“Kenapa harus minta maaf?  Kau sudah besar sekarang. Kau bisa memilih namja sesukamu. Tapi, aku selalu berharap namja yang kau pilih adalah namja yang tepat.”

“Ne, oppa.”

“Sudahlah, tidak usah sedih begitu. Aku tahu kau sudah gatal ingin berpacaran, ‘kan?”

“Ani, oppa. Oppa selalu saja begitu padaku. Menuduh aku yang tidak-tidak. Aku tidak seperti yang oppa pikirkan.”

“Ne, aku percaya. Kau tidak akan macam- macam di sana.”

Minhye tersenyum sambil memandang langit kamarnya. Mereka bercakap-cakap ria sampai Minhye ketiduran dan akhirnya benar-benar tertidur pulas.

Di tempat yang berbeda, Minho sedang duduk di depan sebuah cafe dan mengotak-atik ponselnya. Dia menemukan sesuatu untuk dibaca yang mengingatkan apa yang Minhye bicarakan barusan.

(5 month ago) From Minhye:
Oppa, hari pertamaku di kampus tidak begitu menyenangkan. Aku kena hukuman oleh seorang dosen baru. Kami jadi membereskan arsip di ruangannya, oppa. Tapi, yang aku sebal, kenapa Cuma aku, sedang Luna tidak.

Minho tersenyum membacanya. Kemudian, dia membuka satu message lagi dari yeodongsaeng-nya.

(5 month ago) From Minhye:
Oppa, aku ralat tentang aku sebal itu. Nama orang itu Lee Jinki. Dia baik padaku, oppa.

Minho sedikit kehilangan senyumnya. Dia membukanya lagi pesan adiknya.

(3 month ago) From Minhye:
Oppa, semua anak di kelasku menyukai namja yang bernama Jinki. Sedangkan Jinki, oh ya oppa aku memanggil dia Jinki. Dia tidak keberatan. Aku lanjutkan, Jinki jadi dekat denganku loh, oppa.

Minho sedikit memberengutkan wajahnya.

(3 month ago)From Minhye:
Aku lupa, oppa. Dia seperti oppa.

*****

“HOAMMMMM~~~!” Minhye menguap saat bangun dari tidurnya. Dia menggeliatkan badannya yang tidur dengan posisi yang tidak nyaman.

“Ah, aku sangat lelah.” katanya sambil beranjak dari tempat tidur. Dia berdiri dan menatap keluar jendelanya yang sudah pagi. “Aku ada kuliah siang untungnya.”

Minhye berjalan gontai ke luar kamarnya hendak turun ke bawah. Dia berniat pergi ke dapur untuk melahap sesuatu. Namun, karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya saat menuruni tangga, dia pun hampir terjatuh kalau saja tangan seseorang tidak menahannya.

“Ah, kau ceroboh sekali!” ujar suara dari orang yang menahan tubuh Minhye yang masih belum terkumpul semua nyawanya.

Minhye menggisik-gisikan matanya pelan. Dia masih sangat mengantuk hingga belum terkejut melihat siapa yang saat ini ada di hadapannya menopang berat badannya. Semenit kemudian, setelah sadar, dia membulatkan matanya ketika melihat sosok yang tidak asing lagi untuknya. Seorang namja bertubuh tinggi, dia menggunakan topi hitam dan jaket kulit cokelat.

“O-Oppa??”

Orang yang menopang badan Minhye saat ini tersenyum. Minhye menggisik-gisikkan matanya takut dia memang sudah salah lihat atau berimajenasi karena rindu pada kakaknya.

Jinca?! Kau benar-benar Minho-oppa?” pekik Minhye terkejut dan Minho hanya tersenyum.

Pandangan Minhye beralih ke bawah tangga. Di sana dia mendapati beberapa koper yang tergeletak begitu saja. Dia lalu menatap oppa-nya lagi dengan takjub.

Oppa..”

Oremaneyo, saengi–ya! I’m Home!!” sapa Minho dengan senyum terbaiknya. Minhye langsung memeluk oppa-nya membuat Minho terkesiap.

Oppa.. Bogoshipo!”

Nado, saeng.” balas Minho dan ikut memeluk yeodongsaeng-nya.

Masih sama-sama berdiri di tengah tangga, mereka saling berpelukan melepas rasa rindu. Hampir 5 bulan lamanya, Minho meninggalkan Minhye sendirian di rumah. Dan, hampir 5 bulan juga di antara mereka saling memikirkan perasaan mereka, walau mereka masih sadar dalam batas wajar kalau rasa rindu, butuh, dan sayang itu hanya sebatas perasaan antara seorang adik dan kakaknya.

Minhye sadar telah memeluk kakaknya dengan berlebihan, tapi dia tetap belum mau melepaskan pelukannya. Suasana terlalu hening, selain bunyi detak jarum jam yang mereka dengar. Masih dalam posisi memeluk, Minhye menengadahkan wajahnya ingin menatap wajah Minho yang lebih tinggi dari dia. Minho pun balas menatap padanya, namun karena ada sesuatu yang lebih menarik dan menghipnotisnya dari wajah Minhye, dia jadi terlihat diam dan terus menatap sesuatu. Minhye sadar akan pandangan oppa-nya. Dia mengikuti arah pandang Minho yang ternyata saat ini sedang melihat ke arah dadanya. Yap, yang menghipnotis Minho saat ini adalah sesuatu yang tidak pernah dilihatnya dari yeodongsaeng-nya, yaitu sesuatu yang telah menyembul dari balik t-shirt Minhye.

 ”YAA! OPPA!!” teriak Minhye langsung menutup bagian itu dengan tangannya untuk menghidari pandangan yadong oppa-nya. Dia kini berbalik membelakangi Minho.

Hari ini, Minho pulang mendadak. Dan akhir–akhir ini semenjak ditinggal oleh Minho sikap genit dari Minhye itu memang keluar. Minhye sering berpakaian mini dan asal di rumah. Dan hari ini,  pemandangan asing yang baru saja dilihat Minho adalah cara berpakaian asal Minhye yang tidak pernah ditunjukan padanya. Celana super pendek dan tank top kurang bahan itu jadi memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuh Minhye yang dulu mungil kini berisi.

Minho memandang yeoja itu dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Dia terlalu terpana atau mesum, entahlah, yang jelas dia sadar kalau yeodongsaeng-nya sudah berubah. Minhye jadi lebih tinggi dalam 5 bulan ini, badannya pun agak berubah, terlebih lagi dia tidak pernah menyangka kalau rambut Minhye jadi sepanjang ini.

Padahal ini cuma 5 bulan. Kenapa yeodongsaeng-ku bisa berubah menjadi seorang yeoja? gumam Minho dalam hati.

Minhye masih berbalik memunggungi Minho sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya seperti memeluk tubuh sendiri.   “Yaa! Oppa! Apa yang kau lakukan? Jangan Lihat!!”

Minho sadar kalau yeodongsaeng-nya malu padanya. Dia tahu, Minhye bukan orang yang pintar menutupi ekspresi seperti dirinya. Minho kemudian melepaskan syal berwarna putih yang melilit di lehernya. Dia membalikan tubuh Minhye yang dari tadi memunggunginya dan melilitkan syal itu pada yeodongsaeng-nya. Kini pemandangan mesum seperti tadi sudah tidak ada lagi. Syal itu sukses menutupi belahan dada yang tadi terlihat.

Minhye terdiam mendapatkan perlakuan oppa-nya. Dia sedikit berdebar namun hanya bisa diam, sedangkan Minho malah tersenyum padanya membuat Minhye seratus kali lebih berdebar saat ini.

“Kau lucu!” kata Minho. Kata-kata itu yang sudah lama tidak di dengar oleh Minhye. ‘Kau lucu’ itulah yang dirindukan oleh Minhye dari oppa-nya.

Oppa, kau kok pulang sekarang? Bukannya semester belum berakhir? Kenapa kau pulang?” tanya Minhye berusaha mencairkan suasana.

Minho tersenyum. “Yang penting aku sudah pulang kan? Apa kau keberatan aku pulang, saeng?”

“A-aniya.. Aku hanya terkejut oppa pulang tidak memberi kabar.”

“Bukannya aku kemarin bilang di telepon secepatnya. Itu aku sudah ada di seoul loh sebenarnya.”

Yaa! Oppa! Jadi kau berbohong padaku kemarin?!” tanya Minhye hampir meledak dan Minho hanya bisa mengangkat bahunya.

“Ish oppa jelek.”

Minho langsung menarik yeodongsaeng-nya lagi kepelukannya.

Yaa, oppa! Wae gurae?!”

“Aku merindukanmu. Sebentar saja.. Aku ingin memelukmu seperti ini.” ucap Minho yang membuat Minhye terkejut. Hatinya berdebar. Dia sungguh berdebar karena oppa-nya sendiri.

Apa ada yang salah, pikir Minhye. Ah, oppa, aku berdebar karena sudah lama tidak bertemu, makanya aku jadi canggung lagi. coba, kalau kita satu minggu bersama lagi, pasti debaran ini tidak akan ada lagi, pikir Minhye lagi meyakinkan dirinya kalau tidak ada yang aneh dari dirinya.

*****

Ini sudah tengah hari. Jam 1 siang Minhye ada kelas dan dia harus pergi ke kampusnya. Dia yang saat ini ada di kamarnya, sedang bercermin melihat pantulan dirinya sendiri.

“Oh, how do I look?” tanya Minhye mengajak cermin berbicara sendiri. “YEPPO!” katanya menjawab pertanyaan yang dia lontarkan sendiri sambil tersenyum.

Minhye berdandan layaknya seorang yeoja dewasa. Berias dengan berbagai make-up koleksinya. Dirinya memang sudah dewasa. Minhye seorang bocah kelas 1 SMA yang dulu dilihat orang lain, kini sudah berubah. Dia sekarang adalah seorang yeoja. Seorang mahasiswa tingkat 1 dan satu kampus dengan oppa-nya yang kini di tingkat 3.

Kini dia sedang memilah-milah coat yang terpajang di atas ranjangnya.

“Ah, yang ini saja! cute!” katanya sambil menyambar coat warna gading yang baru saja dibawa oleh Minho dari jepang.

Setelah selesai dengan urusannya dia turun kebawah dan pergi ke dapur untuk menemui kakaknya.

OPPA!!!” sapanya sambil menghampiri Minho yang sedang duduk di meja makan sedang melahap orang cake yang baru di buatkan Minhye. Minho terdiam melihat Minhye yang berjalan ke arahnya. Lagi-lagi Minho memandang takjub pada yeodongsaeng-nya.

Yaa. Apa kau seperti ini saat menjadi mahasiswa?” tanya Minho pada yeodongsaeng-nya dan Minhye hanya mengangguk.

“Apa ada yang aneh dengan diriku, oppa?” tanya Minhye polos sambil melihat dirinya sendiri.

“A-ani. Hanya, kau tidak terlihat seperti bocah SMA lagi, saeng.” Minho tersenyum padahal di dalam hatinya dia ingin bilang kalau Minhye itu sangat cantik.

Minhye mengambil kursi di depan Minho. “Jelaslah, oppa. Aku sekarang yeoja dewasa. Kau harus ingat itu.”

“Eum.” Minho hanya berdehem pelan menanggapi yeodongsaeng-nya.

Oppa! Kau sekarang agak gemuk ya?” gumam Minhye sambil melahap orang cakenya. ”Yogi, Pipimu jadi sedikit tembam, oppa.” lanjutnya sambil menetakan jari telunjuknya di pipi Minho. Minho sedikit terkesiap dan menjadi gugup.

“Apa kau makan dengan sehat, oppa?”

Ne, aku makin sehat. Dan, sedikit temban, aku rasa tetap tampan.”

“Hiakk~ oppa, kau selalu kepedean. Ne, kau tampan dan keren. Aro!” respon Minhye dengan maksud mengejek.

Bip! Suara ponsel Minhye berbunyi.

Minhye langsung mengambil ponsel itu dari saku coatnya dan tersenyum saat melihatnya. Dia tidak sadar kalau Minho saat ini sedang memperhatikannya dan sempat bingung karena melihat tingkahnya itu.

Yaa! Kenapa kau tersenyum?!”

Oppa, aku harus berangkat!” seru Minhye sambil berdiri dan pergi begitu saja. Ada satu hal di situ  yang disadari oleh Minho. Minhye lupa bagaimana caranya bertingkah di depan oppa-nya. Bukannya yeoja itu selalu manja pada oppa-nya, bukannya oppa-nya yang selalu di elu-elukan olehnya. Tapi ini, kenapa Minho diacuhkan begitu saja olehnya?

“Minhye–ya, aku ikut!”

Nde?!”

“Aku juga akan ke kampus dan menengok beberapa kawan.”

“Jadi, kita berangkat bareng seperti SMA lagi, oppa?”

Gerae. Kajja Minhye! Kita pergi berdua lagi. Apa kau keberatan?”

“A-aniya, oppa.”

“Kalau begitu, kenapa kau jadi gugup?”

Minhye terdiam dan ingat dengan message yang dia terima beberapa menit yang lalu.

From Jinki:
Siang yang hangat!  Kau tahu terangnya siang ini mengingatkan aku padamu, Minhye-ya. Kau tersenyum seperti matahari.

Itulah bunyi message dari Jinki yang tidak di balas oleh Minhye. Sepertinya Minhye juga lupa caranya bersikap di depan Jinki, semenjak oppa-nya datang.

*****

Setelah tiba di subway—salah satu transportasi yang biasa mereka naiki—kereta sangat padat. Minhye dan Minho terpaksa tidak kebagian tempat untuk duduk. Di sana, mereka terpaksa berdiri sambil memegang fasilitas untuk berdiri.

Gwenchana Minhye-ya, aku sudah biasa seperti ini.” seru Minho yang aneh melihat yeodongsaeng-nya. “Kau kenapa melihatku seakan-akan ingin memakanku?!”

Cih, ge’er, aku melihat oppa kan karena aku ingat sesuatu. Jelas ini berbeda dengan terakhir kali aku berdiri dengan memakai seragam dan oppa yang dulu pura- pura mengacuhkanku seolah-olah tidak kenal, gumam Minhye dalam hati.

Yaa. Kau itu doyan melamun ya?”

Aniya, oppa! Aku mau berdiri di sana.” jawab Minhye hampir pergi namun Minho buru-buru melarangnya.

Yaa. Berdiri saja di sini. Memangnya ada yang salah?!”

“Bukannya kita selalu berjauhan kalau berdiri, oppa. Apa oppa lupa?”

“Sudah berdiri saja di sampingku.” pinta Minho yang mulai membuat Minhye aneh.

Banyak yang melihat kearah mereka berdua. Yeoja-yeoja di sana melihat namja tampan yang bernama Minho. Sedangkan Minhye juga kini tidak kalah menjadi pusat perhatian seperti kakaknya. Minhye sudah jauh lebih cantik dari yang dulu. Jadi namja-namja di sana ikut memperhatikannya walau Minhye sendiri tidak sadar. Tapi, Minho lah yang sadar kalau adiknya sedang dilihat oleh beberapa pasang mata namja.

Kesal dengan pandangan para namja yang melihat ke arah Minhye, Minho menyuruh Minhye berdiri lebih dekat dengannya. Minhye menurut saja karena tidak tahu apa-apa. Tapi, sialnya, tindakan Minho tersebut tetap tidak menggubris pandangan namja-namja terhadap Minhye. Namja-namja itu malah terus berbisik. Samar-samar yang didengar mereka memang sedang membicarakan Minhye.

Yaa, saeng. Kau pegang jaketku!” pinta Minho tiba-tiba pada Minhye.

Nde, oppa? Aku sudah pegangan ke atas kan?”

“Tangan yang satu lagi kan menganggur. Ppalli! Nanti kau jatuh!” kata Minho berbohong tetap memaksa Minhye agar memegang jaketnya. “Tidak lihat banyak orang begini? Aku tidak tanggung jawab kalau kau malu nanti.” lanjut Minho yang menutupi alasan kalau dia ingin sedikit memberi sentakan tidak langsung pada mata keranjang namja-namja yang ada di situ. Minhye pun menurut pada oppa-nya dan memegang jaket coklat Minho.

“Perasaan, gak ada efeknya deh, oppa!”

Minho mendesah kesal, karena namja-namja itu masih saja melihat ke arah Minhye. Dia pun dengan segera, mengulurkan tangan kirinya pada Minhye.

“Ya sudah pegang tanganku saja!”

Minhye menatap heran pada oppa-nya, “Oppa kesambet apa sih?!” katanya, tapi malah menyambut tangan Minho.

Akhirnya gertakan Minho yang terakhir itu sukses membuat namja mata keranjang tidak melihat ke arah mereka lagi. Mereka kini berdiri sambil berpegangan tangan seperti orang yang sedang berpacaran. Minhye terdiam dan menurut saja, lain dengan Minho yang tersenyum sendiri karena tingkah kekanak-kanakannya.

..TO BE CONTINUE..

~This story is mine. This plot is mine. Say no to plagiarsm.~
  ~ Publish by mamotho @ https://mamothozone.wordpress.com/~

~ Set dah, part ini di rombak total yah kelihatnya dan makin panjang. Aku tambahin keakraban minhye sama Minho. Soalnya dulu, alurnya terlalu cepet. 

~ Selamat buat ONEW sudah mampir ke sini. Akhirnya kamu, masuk jadi cast. Semoga makin hebring yeah~

~ Adegan di tangga si Minho muka mesum itu, jangan dipikirin ya? cuma daya khayal liar saya doank kok!

~ nothing to say, just comment!

About mamotho

Special Girl. Always loved her self, and know what makes she herself happy. Fangirlling is also her spirit (ʃƪ˘ﻬ˘) SHINee is her oxygen too!

Posted on 31 March 2011, in BROTHER COMPLEX, SEQUEL, SHINee FF and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 53 Comments.

  1. wah aq dh nunggu cerita nie
    bagus lo chingu
    lanjutkan

  2. ranie2minewjongkey

    ceoett yha chingu …

  3. mungkin maksud yang di atas.. Cepet. ahaha~
    gomawoyo.. kasih saran donk. apa gitu..
    biar FF nya makin gereget.

  4. aku ngakak pas Minhye ngeluh ngejomblo…wkwkwk~
    aduh yayangku muncul.. jd ass dos pula.. hmmm~
    ck~ adegan terakhir romantis.. gandengan di kereta.,… mau ><

  5. O’y skrng aq jd suka m onew,dewasa gmn gtu??? Pokoknya karakter2 d ff nie kuat jd aq berpikir mereka mirip kaya itu…

  6. onyu nyu ahirnyaaa haha onyu bakal jadi target minhye selanjutnya kaaah? luna disitu siapa ya? aku kebayang lunfx hoho
    asik tuh pas pemandangan yadong *wadezig

  7. Annyeong.. Readers baru… Mau meninggalkan jejak yg manis dan imut sprti sya… Kekeke~ *kepedean==”* Setelah UAS selesai baru mampir lagi buat baca+coment… Kekeke~
    Man Seung Hyo imnida, 16 yo, elFlawless, B2uty, Shawol, VIP , blackjack , aff(x)tion , cassie , primadona, etc.. Hahaha XDD *maruk abis#plak#*
    sebaiknya aku menghilang dlu sebelum di ceburin.. Wkwk XDD
    kpan2 saya akan nyasar ke sini lagi… *apaan seh==”#gaje#*
    #BOW#
    *salam sayang anak ayam*
    ^o^

    NB :: picnya keren.. XDD
    aaaaaaaa.. Nae nampyeonku akhirnya masuk dialog jga.. Hedeuh.. Jgn di rebut juga dund onewku.. *ditimpuk sendal mha Dubu lovers*

    • Pic yang mana? yang jinki? or?
      ya udah selamat.. karena nampyeonmu sudah masuk.
      haha XD

      sudah tahu jawabannya kan? dia sudah ku rebut lewat Minhye. kk~

  8. Sudh q duga, ortu mreka brdua kecelakaan n meninggal.
    Weh?? Enak bget minhye.
    5 namja msuk smua, tai wan mei
    hahahaha
    udh dh, minho m minhye pcran aj.
    Kbru dlirik onew tuh, pndangan prtma lgsung suka.
    Minho n minhye serasi pasti dh, namjany tampan n yeojany cntik.
    Gemes bget ngeliat kelakuan minho. Childish gtu.
    Next part

    • hehe~ ia mereka jadi tinggal berdua deh.. ngebayangin cuma tinggal berdua gimana rasanya. Huaaahhhhhh~~~~

      *gereget* gigit minho.
      udah sama onew aja… kan onew.. baik.. charming..
      klo minho kan kakanya. kk~
      banyak pertimbangan.

  9. huwaaa akang minhooo makin cintaaa deh vhka.. :**** ^_^
    seneng bgt ngebaca mrk tmbh dkt,, tp dgn perasaaan bla bla bla.. hahaha

  10. dengan perasaan blablabla (?)
    kk~ iya…
    aku jg seneng. lho?

  11. Bagus, bagus, bagus……..

    Akhirnya Onew ku (?) yang imut n cool muncul…….!!! Jadi tambah semangat bacanya……

  12. bagus eonni,minho nya lucu ya eonni 🙂

  13. setelah di tinggal ma ortunya minhye n minho makin akrab ni.

    wow ada onew, dapet peran jadi asdos hebat eum.

    lanjut baca ke part 7 ya.
    wow ada onew, dapet peran jadi asdos hebat eum.

    lanjut baca ke part 7 ya.

  14. Tuh. . Bener dugaanku.
    OrtU Minho ama Minhye kecelakaan.
    LOE, GUE, END~
    Huaaah, aku jadi ikutan mewek. T_T

    Ceritanya DAEBAK!
    Nice. .

    Next part 7 ^^Tuh. . Bener dugaanku.
    OrtU Minho ama Minhye kecelakaan.
    LOE, GUE, END~
    Huaaah, aku jadi ikutan mewek. T_T

    Ceritanya DAEBAK!
    Nice. .

    Next part 7 ^^

  15. hyaaah…
    Yg d khwatirkn akhir.a trjdi..
    appa-oemma mereka kecelakaan..
    Kasian bangeth mereka… 😥

    Haha.. Ada Onew jga nieh…

    Lanjuuuut 😀

  16. mybabyLionOnew

    onyu kuuuuuu
    kyaaaa udh nebak td cwo yg ikut trsenyum itu onyuuu..
    kyyyaaaa bru lulus jd dosennn . kerennn… biasanya klo bru lulus jd asdos dulu…
    coba dosen kmpusku ad yg kyk jinki.. aaaaahhhhhh
    tp aq cembourouuuuu
    jinki.. knp sk sama minhye T.T
    lnjut aj deh bcnya

    • mybabyLionOnew

      oh ya lupa.. kyknya jinki jg ngerasa ya sm keanehan minho.. mknya dy ngedekatin minho dulu buat dptin minhye.. *sotoy
      udh ah lnjut lg

  17. reread!

    akhirnya ada Onew juga :’ aih setelah dirombak, Jinki jadi keliatan sweetnyah! uuu :3 Minho cuma 5 bulan pergi, tapi aku cepet kangennya *loh kok aku?* tapi udah keliatan itu kalau Minho udah ketarketir sama Minhye. cie~

  18. ecieeee abang minho bang minhoo

  19. Kira” onew jd nappeun apa nggak nih? Menurut aq nggak..

  20. ninggalin jejak dlu deh 🙂

  21. My Lovely Mon5ter

    HwAaaaaaa

    Saia dh lama ƍäªќ nongol ke permukaan(?) Langsung koment ja

    Akhirny minho and minhye В̍ȋ̝̊̅̄$äª akrab jga,,,,
    Minhye ngeluh ngejomblo…ckckckck
    Whaaaatttt,,,,, tidur satu ranjang
    X_X‎​.•*˚*•..Hä Ðέê♓.•*˚*•..X_X

    Itu..itu..ada jinki jadi dosen pula,,,

    ​​˚(*)•.¸`*•.¸˚(*) ••(*)˚¸.•*´¸.•(*)˚
    •‧‧※‎​:s ĴìíàáĤ:s ‎​※‧‧•
    ,.•(*)¸.•*˙,.•(*)´˚`(*)•.,˙*•.¸`(*)
    Minho yadong,,,
    Minhyeny jga sich!!!!

    Paliiinnnggg suka pas dikereta
    Minhye dngan bodoh(?)Nya nurut ma minho disuruh pegangan tangan

  22. Mamoth eon datang \(^0^)/ Maaf ya telat membalas. Aku bikin lapak nih di bawah:

    @mybabyLionOnew: Iya dia merasakan itu, mi.
    @Alskey : Iya alssss.. Jinki emang sweet!
    @MinNett : Kamu kenapa ==” /ditampar\
    @Onsy : Gak lahh..
    @trya001 : Ga blh napak-napak doank <–dicekek. Hahah
    @My Lovely Mon5ter: *TOSSS!!* Aku pun suka adegan itu. Hehe

  23. great ! pas ada onew……. suasananya kyk gimanaaa gitu ><
    jadi pingin pnya kakak 😀

  24. Wahaha, si minho msih aja overprotektif. Tpi kayanya dia suka ma adenya..
    Nice FF thor ^^

  25. Kyaaa!!! eonniii aku suka banget part ini
    bener2 dirombak abis-abisan yakk, tp keren eon aku suka bnget, kedekatannya minho & minhye kerasa bnget d.part inii, iiih jd envy sndri ma mrka 😀

    oia eon, mianhae, jongmal mianhae, aku komennya lgsung dipart ini, keasikan baca sihh eon ehehe ^^v
    tdinya aku pen ngecek keberadaan(?) Onew drama & Homi couple, tp ternyata blm ada, iseng2 buka page ff trus buka BC ga taunya abis direvisi, penasaran aku baca aja, ga taunya keterusan ampe lupa komen, lumayan beda dgn yg aku baca di shining story, apalgi part ini, jd lebih panjang. aku jd lebih suka hsl refisi ini eonn.
    Onkey deh eon, kyaknya aku udh kebanyakan bacot deh, aku mau lanjut dlu 🙂

  26. Aaaah,,minho cemburu! Jadi makin seru nih.
    Belum lagi ada jinki my dubu ,hehe
    Triangle love ya thor?
    Cuss ke next part 🙂

  27. Kyaaaaa~
    onew akhirnya nongol *jingkrak2*
    onew oh onew, kenapa suaramu begitu menggoda? *plakk!

    ud mau part2 ending ya, eonni?
    ga sabar pengen baca endingnya kaya apa *brb lanjut xD*

  28. Debaran hati?? Wkwk lucuuuu… Ih si Minho ne sangkig gugupx.. Hti ikut berdebarrr…

  29. Wahahaha minho cembokur tuh .

    Okey next part

  30. Wah.. Minhonya cemburu nih, kalo minho ketemu jinki gmn ya?? Dia bakal cemburu juga apa engga ya?
    Lanjut next part lah..
    Thanks^^ keep writing and fighting^^

  31. nandacamilla

    hualah, geregetan geregetan -_-
    tinggal bilang cemburu gara2 si minhye di liatin, susah 😀
    ngeek, ada jinki sekarang..
    tapi tetep pilih minho lah,wkwk

  32. Kok jadi saya yang tersipu sendiri pas baca smsnya Minho oppa yang *HUGS!*
    akkk…akkk…akk.. Masih adakah orang seperti Minho didunia ini..akkk
    *histeris

  33. Syarifah Fahriah

    minho,cri kesempatan biar bisa pegangan tngan ama minhye

  34. Soosweeeeet bgt omegad.. lopelope aku.. wkwkwk

  35. hahaha,minho ada2 ja tgkahnya.haha
    tp kpan mereka bkal sadar ma perasaan mreka msing2??

  36. minho bener2 mesum xD

  37. Minho sepertinya menyadari perasaannya

  38. Wah baguss thor ff nya..
    Sampe aku gak mau tidur cuma mau baca ff nya xD
    Oke ini berlebihan #abaikan >.<

  39. Maya dhiafakhri

    Minho sweetnya dirimu 😀 maaaauu kelesss. Masa cuma minhye doang! Aku yeojachingumu oppa!!! Eon ceritamu makin cetaarr membahana bdai ulalala -,- oh yah eon aku baru sadar sama posternya :/ itu ceweknya siapa?

  40. Waaah.. Mulai kelatan yaa benih2 suka ny… Hmm..

  41. Cinta itu ajaib, bisa merubah orang yg dewasa jd kekanak”n ckckck… jiah minppa cari kesempatan dlm kesempitan d kereta, modus tuh 😀

    Minppa galau ni ye, gra” ‘saeng’ nya dkt namja lain ..
    Btw ko Minho POV g pernah muncul y eon?

KOMEN YO ( ˘ з˘ )/

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: