BROTHER COMPLEX – Part 3

BROTHER COMPLEX – Part 3

Title : Brother Complex [Revision version]
Author : mamoTHo
Main Cast : Choi Minho (Brother), Choi Minhye (Little Sister)
Other Cast : Kwon Yuri, Kim Jonghyun
Lenght : Sequel
Genre : Bromance – family
Rate : PG 13

AN : Pic-nya conditional yo^^/ tetep OC kok cewenya! Ini Pic-nya berasa pas aja kaya anak sekolahan. hehe~

This Story©mamoTHo

*****

..MINHYE POV..

Beberapa hari yang lalu karena ulahku memanggil namja yang bernama Choi Minho itu dengan sebutan ‘oppa’ sekolah jadi gempar. Aku tahu aku salah, karena ternyata orang yang kupanggil oppa itu begitu populer di sekolah ini. Aku benar- benar tidak tahu.

“Minhye–ya!” panggil seseorang padaku yang baru saja masuk kelas.

“Apa benar oppa-mu berpacaran dengan sunbae yang kecentilan itu??” tanyanya padaku dengan begitu berapi- api.

“Apa kau bilang? Pacaran? Aku gak ngerti nih, baru dateng!” kataku menanggapinya dan duduk di kusi hidup dan matiku di sekolah.

Yaa!! Kok bisa oppa-mu jadian dengan dia??” tanya siswa yang berbeda lain menghampiriku.

Aku menghela nafas. Mereka semua kenapa sih? Aku baru dateng langsung pada nyamber aja! Aku jadi menggerutu dalam hati jadi ikut sebal.

“Minhye–ya, beritahu kami!” pinta seorang siswa lain lagi. Aku diam dan menatap ketiga orang yang berbeda dengan alisku yang mengkerut. Jujur saja aku memang  bingung.

Aku menoleh ke bangku yang ada di sebelahku. Ke tempat Yenyoung duduk. Kulihat dia kelihatan sedih.

“Young–ah?” panggilku padanya.

Kim Yenyoung temanku ini tiba–tiba bangkit dari duduknya, dia menarikku dan membawaku berjalan keluar dari kelas ini. Dia membawaku pergi entah ke mana dan tidak bicara sepanjang jalan yang membuatku heran bukan main.

Kami tiba di depan depan kelas oppa-ku. Aku berpikir, inikah yang ingin Yenyoung tunjukan padaku?

Aku melihat oppa keluar kelas itu bersama dengan seorang yeoja. YEOJA?! Pekikku dalam hati dan menoleh ke sebelahku, ke arah Yenyoung. Seolah mengeri maksud tatapanku, Yenyoung  pun mengangguk.

Aku melihat ke arah oppa lagi. Berusaha menangkap sosok yeoja yang sedang menggandeng oppa-ku. Ah  jinca, kok oppa dengan yeoja? Inikah yang barusan  yang membuat panik teman-teman sekelasku? Yeoja itu,  si sunbae yang kemarin kulihat memberikan surat cinta pada Minho-oppa. Apa oppa sungguh-sungguh pacaran sekarang? Benar-benar cintanya padanya?? Pikirku malah jadi khawatir.

Aku menoleh ke sebelahku, aku melihat Young-ah temanku yang setengah hampir menangis saat ini. Matanya sudah mulai berkaca- kaca.

“Mereka benar-benar jadian?” tanyaku padanya dan dia mengangguk pelan pasrah.

“Aku dengar dari yang lain seperti itu. Aku juga kaget dia berpacaran dengan sunbae itu, Minhye.” katanya menjelaskan padaku. Mendengar penjelasannya sepertinya aku butuh konfirmasi dari oppa.

Aku pun mengejar oppa-ku sebelum dirinya menghilang dari padanganku saat ini. Sepanjang jalan yang kulihat tangan sunbae itu tidak lepas dari lengan oppa. Astaga, aku baru sungguh panas melihat itu. Ish, benar- benar kecentilan.

Oppa!” teriakku memanggil orang yang sekarang membuatku sebal. Oppa berbalik melihat ke arahku sekarang dan yeoja yang ada di sampingnya pun ikut melihatku.

“Ah, uri dongsaeng Minhye.” sapa  yeoja itu yang membuatkanku menaikan alis. “Aku jadi eonnideul-mu ya sekarang?”

Mwo? Dongsaeng? Oh No no no! Aku sangat kaget saat mendengar ucapannya.   Apa maksudnya itu mereka benar-benar jadian? Pikirku sambil melihat oppa penuh tanda tanya.

Aku menghampiri oppa-ku, merampasnya dari yeoja itu. “Aku pinjam oppa sebentar, sunbae.” kataku pada yeoja berambut panjang lurus itu dan yeoja itu malah berlagak sok imut.

Ne, saeng.” jawabnya padaku.

Setelah aku membawa oppa-ku agak jauh dari perempuan yang tadi, aku mulai mengintrogasinya.

Oppa, apa kau benar-benar pacaran dengannya?”

Ne,” jawab oppa tanpa ragu sedikitpun.

“Memangnya kau suka??”  tanyaku agak tidak percaya.

“Bukan urusanmu.” katanya agak dingin. “Sudah ya!” lanjutnya sambil pergi meninggalkanku yang masih tidak percaya.

Oppa!!” panggilku dengan nada sedikit lebih tinggi.

“Kenapa Minhye–ya, bukannya kau senang aku sudah punya pacar. Aku tidak akan mengganggumu lagi.”

Oppa! Aku tahu kau tidak suka pada yeoja itu.” kataku seolah-olah tahu apa yang dirasakan oppa-ku.

“Memang belum, tapi akan kucoba.” katanya sambil berlalu pergi meninggalkanku lagi.

Kata-kata itu terngiang di telingaku. Akan dicoba katanya?? Aku tidak salah dengar. Oppa akan mencoba menyukai yeoja itu? Jadi, oppa jadian dengan yeoja yang tidak disukainya sama sekali? Arghhh, oppa benar-benar gila!!

Aku pergi ke tempat young-ah  dengan wajah yang seratus persen memberengut.

“Mereka memang jadian, Young-ah.” kataku padanya sambil mendesah pelan. Temanku itu langsung memasang air muka yang sedih saat mendengarnya.

“Ah, pangeranku sudah pergi. Sekarang dia sudah dimiliki oleh orang lain. Sayang sekali.” Ada nasa menyesal diucapan Yenyoung barusan.

“Namanya sunbae itu siapa?” tanyaku padanya sekalian mengalihkan perhatian temanku yang kelihatannya sedang berduka.

“Kwon Yuri.”

 

Kwon Yuri
18 y.o.
Class 3 @SHINeeTown High School

Aku langsung membayangkan wajah yeoja yang baru saja kuketahui namanya, Kwon Yuri itu. Perawakan yeoja itu memang lumayan, tapi sifatnya, Errrrr.. Aku tidak suka! Dia terlalu genit pada oppa. Aku saja tidak pernah bermanja–manja seperti itu pada oppa-ku. Tapi, sebentar. Apa aku baru saja gelisah karena hal ini? tanyaku pada diri sendiri.

Ah ya sudahlah, benar kata oppa, ini kan mauku agar dia punya pacar. Siapapun yeojachingu-nya aku tidak peduli. Yang penting oppa punya pacar dan proyekku selesai sudah.

*****

Beberapa hari kemudian, setelah menyadari kalau oppa sekarang berstatus pacaran itu. Aku jadi merasa kepikiran. Oppa jadi jarang ada di rumah setelah mempunyai pacar. Padahal, dia itu termasuk orang yang tidak suka keluyuran. Aku yakin, dia pasti sedang bersama yeoja itu sampai jarang pulang cepat. Yuri-eon. Haruskah aku panggil dia dengan sebutan itu? Weeekkk! Tidak mau!

Kuberi tahu,  uri eomma dan appa tidak suka dan menegaskan pada kami untuk tidak mengenal pacaran di usia sekolah. Kami benar-benar dilarang keras untuk berpacaran. Makanya, dari dulu aku selalu sembunyi-sembunyi kalau ingin memiliki pacar.

Dan sekarang, giliran dia, oppa-ku. Oppa-ku lah yang kini malah berpacaran backstreet. Dan, aku dengan sukarela menjaga rahasianya itu walaupun dia tidak pernah memintanya. Aku baik kan? Aku membiarkannya tuh yang sedang asik menikmati indahnya dunia percintaan. Aku tidak pernah berusaha sok-sokan melarang-larang seperti yang dilakukan oppa padaku. Itu terserah padanya.

*****

Hari-hari berikutnya, aku tetap saja seperti ini. Sepulang sekolah, hanya bertengger di rumah sendirian. Dan malah, jadi selalu cemas karena oppa selalu tidak pernah pulang cepat. Gara-gara dia pacaran, sekarang hubungan kami tidak terlalu baik. Kami canggung lagi seperti dulu. Jarang berkomunikasi dan bertegur sapa.

Aku jadi ingat deh pemandangan tiap hari yang kulihat di sekolah pada saat istirahat. Pemandangan yang tidak asing. Aku selalu melihat oppa bersama dengan Yuri-sunbae itu. Aku jadi iri. Aku jadi tidak di perhatikannya.

Mereka jadi terlihat akrab setiap harinya. Bahkan sekarang oppa bisa tertawa di depan Yuri. Yuri pun tidak pernah melepaskan tangannya dari lengan oppa-ku setiap saat. Mereka itu melakukan skinship dimanapun. Aku benar-benar tidak terima!! Apa Yuri-sunbae itu berpikir oppa-ku itu miliknya?!

Sebentar! Sepertinya ada yang salah. Apa aku merasa baru saja kesal karena oppa punya pacar? Apa aku benar-benar tidak suka dengan hubungan mereka?? Aaaarrrgh, Andwae!!

*****

Sebulan kemudian, tak ada yang berubah dari diriku. Aku masih saja menjomblo sampai saat ini. Sekarang malah aku yang kesepian. Giliran Minho-oppa punya pacar, eh,  pamorku malah turun. Padahal niat aku agar oppa memiliki pacar kan agar aku bisa bebas berpacaran. Tapi, sampai saat ini malah belum ada namja yang menembakku.

Sekarang aku sedang berjalan lewat koridor-koridor kelas sambil melamunkan hal yang sama setiap harinya. Lamunan akan kesepian. Sungguh menyedihkan aku ini, batinku dalam hati.

Tak sengaja saat aku sedang berjalan ke kelasku, lagi-lagi aku melihat oppa bersama dengan Yuri-sunbae lagi. Yuri menarik tangan oppa-ku dengan genit. Dan oppa-ku, dengan bodoh mau saja di tarik olehnya. Err.. Payah!

Aku jadi  benar-benar penasaran dengan mereka. Dan akhirnya, aku malah ingin menguntit mereka. Ini salah kan? Aku tahu aku salah. Aku seharusnya tidak seperti ini. Tapi, ya sudahlah, terlanjur mengikuti.

Kulihat, Yuri-sunbae membawa Minho-oppa ke kelas yang kosong. Aku mengintip dari jendela kelas itu sembunyi-sembunyi. Ya, Minhye-ya kau melakukan apa saat ini? gumamku dalam hati terlalu penasaran dengan gaya pacaran oppa.

Omo! Pekikku dalam hati saat melihat Yuri mendudukan dirinya di pangkuan Minho-oppa. Dia bertingkah manja berusaha merangkul oppa dengan genit. Ish, dia sungguh agresif. Tidak salah dia terkenal dengan imej seperti itu di mata hoobae yang lain, pikirku jadi sedikit emosi.

Eitss, sebentar. Oppa-ku malah tersenyum. HHaaaaa??? Oppa!!! Apa aku tidak salah lihat kau tersenyum padanya?! Arghhh.. Kau benar-benar tergoda oleh yeoja ini.  Andwae oppa!! Pekikku jadi geregetan melihat tingkah kakak semata wayangku.

Chu~!

Mataku tiba-tiba saja langsung membulat. Aku terbelalak. Aku shock karena melihat Yuri mengambil kesempatan untuk mencium oppa-ku. Dia baru saja mencium bibir oppa! Tidak!!!!!! Jeritku dalam hati yang melihat itu. Kenapa aku harus melihatnya?

*****

..AUTHOR POV..

BRUKK!!

Sebuah suara terdengar dari luar ruangan. Suara tersebut sukses membuat Minho dan Yuri yang baru saja menautkan bibir mereka jadi terkejut. Dengan cepat, Minho  melepaskan rangkulan tangan Yuri dan mencari asal suara tersebut. Ia kaget melihat bayangan yang cepat berlalu saat menoleh ke sampingnya, tepatnya ke jendela kelas itu. Samar-samar yang dilihat Minho itu adalah seorang yeoja yang memiliki rambut panjang sebahu.

Minhye?? Pikir Minho saat menyadari kalau yeoja berambut panjang sebahu itu adalah yeodongsaeng-nya.

Minho Keluar ruangan itu dengan tergesa-gesa. Dia melihat sebuah keranjang sampah yang berada tidak jauh dari pintu itu terjatuh. Tiba-tiba sebuah pemikiran datang padanya.

“Jangan-jangan dia.. Aishh!” katanya sambil kembali ke tempat Yuri dengan wajah yang cemas.

“Kenapa Jagiya? Suara apa barusan?”

“Aku pulang dulu.” respon Minho tiba-tiba berubah dingin.

Yaa! Suara tadi apa?” tanya Yuri sekali lagi.

“Bukan apa-apa. Sampai nanti.” ucap Minho sambil berlalu pergi. Langkahnya terhenti saat tiba di ambang pintu kelas tersebut. “Oh ya. Satu lagi. Jangan tiba-tiba menciumku seperti tadi. Aku tidak suka.”

Minho akhirnya pulang. Dia pulang dengan cemas sambil memikirkan yeodongsaeng-nya. Dia cemas karena mengira kalau Minhye baru saja melihatnya berciuman dengan Yuri. Walau sebenarnya itu hal yang normal yang dilakukan oleh sepasang kekasih, namun ini beda. Ini Minhye yang melihatnya. Dan, dia takut kalau Minhye akan salah paham padanya.

*****

*back sound: BOA – dont khow what to say*

Minhye pulang dengan wajah yang merah. Dia marah, kesal dan juga kaget melihat pemandangan yang baru saja dilihatnya. Pemandangan yang barusan dilihatnya barusan itu cukup menghilangkan citra baik Minho dimatanya saat ini. Dia mengeluarkan air mata tanpa sadar. Dia menangis, walau bingung sebenarnya apa yang ia tangisi. Minho berciuman dengan yeojachingu-nya, itu bukan urusannya. Namun, ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatnya jadi tidak terima melihat kakaknya jadi seperti itu.

Oppa, apa kau benar-benar suka melakukan hal itu? Oppa kau benar-benar berciuman dengan yeoja itu? Cih, kenapa aku sangat sedih melihat yeoja itu menciummu? tanya Minhye dalam hati sambil menyusut air mata yang membasahi pipinya.

Aku tidak terima, oppa!! Kurasa ada yang salah pada diriku. Aku benar-benar tidak tahu oppa kenapa aku sekarang begitu sedih karena itu? lanjutnya lagi bertanya pada dirinya sendiri.

“DASAR OPPA YADONG!!!” teriak Minhye kesal sambil menendang minuman kaleng dijalan.

DUGH!!

“Auchhhh!” rintih suara namja yang tidak jauh dari Minhye.

Minhye langsung sadar bahwa minuman kaleng yang ditendangnya itu telah mengenai seseorang. Buru-buru dia bersembunyi di balik mobil sedan yang tidak jauh dari posisinya sekarang, lalu mengintip perlahan ke depan.

Seorang Namja dengan tubuh lumayan tinggi dan berambut jabrik terlihat oleh mata Minhye. Namja itu sedang memegang kepalanya yang kesakitan dan mencari dari mana arah kaleng itu mengenainya. Minhye berhenti menatap namja itu dan menarik napas pelan menenangkan dirinya. Takut orang itu sadar bahwa orang yang menendang kalengnya sekarang sedang bersembunyi.

“Semoga tidak ketahuan.” bisik Minhye dalam hati menjaga dirinya agar tidak terlihat.

Selang beberapa menit bersembunyi, Minhye mengintip lagi ke arah yang sama, dia menghela nafas lagi dan mengelus dadanya. “Ah aman. Sudah tidak ada.” katanya lalu bangkit berdiri dan bernafas lega.

NE????” sahut seorang yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya sambil memperlihatkan sebuah kaleng. Minhye langsung nyengir kuda, mengerti maksud orang tersebut.

“Ahhaa~~~aahhha~~~ Mianhae, chingu–ya.” sahut Minhye sok akrab dan langsung melesat pergi dengan tanpang tidak berdosa.

“Kau ini.. haksaeng yang tidak bertanggungjawab yaaa??” sahut namja itu sambil menahan tangan Minhye yang baru saja berjalan beberapa langkah.

Minhye langsung menatap namja itu yang sedang memegang kepalanya sambil meringis kesakitan. Entah itu benar sakit, atau hanya akting, tapi kini Minhye cukup merasa kasihan padanya.

Ottokhae??” tanya Minhye timbul dengan niat baiknya dan tanpa dimengerti tiba-tiba saja orang yang kini bermasalah dengannya tersenyum mencurigakan.

*****

“Aku pulang!!” sahut Minhye riang saat masuk ke dalam rumah.

Saat berjalan ke atas, dia berhenti sejenak karena melihat kakaknya sedang  duduk sambil membaca majalah di depan kamar mereka berdua.

Huh, tumben sekali dia ada di situ . Biasanya seperti mayat di kamarnya, umpat Minhye dalam hati masih tidak peduli dengan Minho. Minhye mengacuhkannya, walaupun dia melihatnya. Dia benar-benar berusaha tidak tertarik dengan apa yang dilakukan kakaknya saat ini juga.

“Kau dari mana saja baru pulang??” tanya Minho geregetan karena Minhye malah tidak mengacuhkannya.

“Bukan urusanmu.” jawab Minhye ikut dingin.

Melihat yeodongsaeng-nya yang seperti itu, terang saja membuat Minho jadi sedikit cemas. Karena, setelah Minhye menjawab dengan nada yang agak datar, setelah itu adiknya malah senyum-senyum sendiri sepanjang menuju kamarnya.

“Kau kenapa?” tanya Minho yang membuat langkah Minhye terhenti saat mau masuk kamar.

“Aku tidak kenapa-kenapa kok. Sudah ya, aku mau masuk kamar dan mandi. Kau tidak lihat aku masih mengenakan seragam?”

“Aku lihat. Dan sudah jam 9 malam kau baru pulang. Dari mana saja kau?” tanya Minho yang malah berubah jadi galak.

“Kenapa memangnya? Terserah aku mau pulang sampai jam berapa. Selama eomma dan appa tidak ada, kau jangan sok mengaturku. Ingat, kau dan aku tidak ada hubungan darah. Aku tidak suka di atur-atur olehmu. Lebih baik kau jangan urusi aku. Urusi saja, tuh, yeojachingumu?!” sungut Minhye bertubi-tubi pada Minho.

Mendengar ucapan Minhye barusan jelas membuat Minho jadi kesal. Tidak ada hubungan darah? Dia jadi ingat hal itu.

Minho menarik tangan Minhye yang berstatus adiknya saat hendak masuk kamarnya lagi. Dia langsung menggiring Minhye ke dinding dan menghimpit tubuh Minhye di sana. Dia mengunci Minhye dengan kedua tangannya yang di letakkan di samping kepala Minhye lalu  menatapnya dengan tajam.

YAA! OPPA!!!” teriak Minhye tidak terima diperlakukan itu oleh oppa-nya. Nafas Minho memburu. Dia benar-benar terlihat marah saat ini.

Oppa, kau apa-apaan sih?!” teriak Minhye lagi pada Minho yang masih menahannya di sana.

“Kau melihat itu, makanya kau jadi marah padaku, begitu?”

Minhye menaikan ke dua alisnya, mencoba menangkap maksud ucapan Minho.

“Iya?” tanya Minho lagi sedikit agak menantang makin mendekatkan wajahnya.

“Melihat apa, oppa? Aku tidak tahu apa-apa.” jawab Minhye berbohong. Wajahnya sekarang sudah memanas.

“Kau yakin, saengi-ya?!”  tanya Minho terus-terusan membuat jarak di antara wajahnya dan Minhye menyempit.

Minhye mengangguk dengan cepat, sudah tidak tahan dengan wajah oppa-nya yang terlalu dekat itu. Jantungnya berdebar cepat. Pikirannya meracau ke mana-mana. Dan, seluruh udara di dekatnya sudah terasa panas saat ini juga.

Oppa, wae geurae? Batin Minhye dalam hati tidak berani melihat mata oppa-nya.

Sadar kalau adiknya sudah merasa canggung dengan atmosfir ini, Minho segera menjauh sedikit darinya. “Ya sudah. Bagus deh. Lagi pula aku suka melakukan itu.”

Deg! kata-kata Minho barusan membuat Minhye tidak percaya dan ingin mengumpat marah padanya.

Oppa suka melakukan hal itu. Maksudnya mencium bibir yeoja atau dicium yeoja atau berciuman, ah? Maksud oppa apa? Kenapa aku jadi sesak mendengarnya? Kenapa?? Apa ada yang salah?  Pikiran Minhye benar-benar mengacau karena kata-kata—suka melakukan itu—yang terlontar dari Minho.

Sebentar! Ya, memang ada yang salah. Aku cuma tidak suka melihat oppa-ku menjadi mesum begitu, pikir Minhye meyakinkan diri lalu menatap Minho ikut tajam juga.

“Dan lagi, bukan urusanmu juga sih!” kata Minho melanjutkan kalimatnya sambil berbalik dan pergi dari hadapan Minhye.

BUGH!!!

Sebuah pukulan dari Minhye terlayang ke kepala Minho saat mendengar kalimat terakhir oppa-nya. Dia memukul kepala Minho dengan tas sekolahnya kasar.

“DASAR NAMJA MESUM!!!!” teriak Minhye sambil buru-buru pergi masuk ke kamarnya. Dia membanting pintunya dengan keras membuat Minho ikut melompat kaget.

“ARGHH!!!!” teriak Minhye dari dalam kamar tidak lama dari itu. Dan hal itu sukses membuat Minho yang mendengarnya tersenyum sambil masih memegang bekas pukulan adiknya barusan.

*****

..MINHYE POV..

Di kamar Minhye!

“Aish, oppa benar-benar menyebalkan! Masih sok-sokan peduli padaku lagi barusan. Hoekk~!”

Mudah-mudahan dia tidak mendengarnya. Tapi yang tadi, benar-benar membuatku deg-degan. Kenapa jantungku berdegup kencang karena oppa?  Kenapa betul-betul gemetaran dan dingin memikirkan barusan? Aish, apa yang kupikirkan! Jelas debaran di jantungku ini bukan karena oppa, tapi karena namja yang kutemui tadi.

“AHHHH, LEGANYA~~!” teriakku sambil menghempaskan diri ke tempat tidur double ini. Aku kini tidur terlentang menatap langit kamarku.

Namja tadi benar-benar membuatku tersipu malu. Dia bilang aku gadis SMA pertama yang membuatnya tertarik?”

.. Flashback..

Jadi beberapa saat yang lalu gara-gara kaleng itu, aku malah jadi mengurusi namja yang belum kuketahui identitasnya itu.

“Masih sakit??” tanyaku sambil mengompres kepalanya dengan es batu yang terkena kaleng yang sengaja kutendang itu.

“Aku baru deh yang namanya berurusan dengan gadis berseragam sekolah sepertimu.” katanya padaku seperti menyesal akan pertemuan ini dan aku hanya diam takut dia malah jadi marah jika aku menjawab.

“Kau sekolah di mana?” tanya namja itu padaku dan aku masih setia mengompresnya.

“Tidak jauh dari sini.”

“Tidak pulang??” tanyanya padaku lagi. Idih, dia seperti ibu-ibu, banyak tanya.

“Ini baru mau. Kenapa memangnya? Bukannya kau tadi marah padaku?”

Dia menghindari es batu yang terus-terusan kukompres di kepalanya. “Sudah, tidak usah lagi.” katanya memberi tahu dan aku mengangguk.

“Apa kau selalu menendang kaleng minuman seperti itu?”  

“Tidak, barusan aku cuma sedang kesal.” kataku memberitahunya walau ini tidak penting sama sekali untuk dibahas.  

“Kau tendang kaleng itu karena kesal?” tanyanya dan aku mengangguk polos.

“Aigoo.. cute!”  katanya sambil mencubit pipiku. “Siapa namamu anak kecil?”

“Yaa!! Aku bukan anak kecil. Memangnya kau sudah dewasa memanggilku anak kecil?” cibirku berani pada namja ini tidak terima karena dia mencubit pipi yang beberapa hari lalu kuingat oppa yang mencubitku.  

“Aku memang sudah tidak sekolah.” katanya sambil mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. Dia menunjukan sebuah kartu identitasnya.

Ah, ternyata seorang mahasiswa, kataku dalam hati sambil melihat kartu mahasiswanya.

 

Kim Jonghyun
20 y.o.
Tingkat 2 @SHINeeTown university

“Jadi namamu Kim Jonghyun?” tanyaku dengan berani padanya.

“Iya, kalau kamu?”

“Aku Choi Minhye. Aku baru masih sekolah tingkat 1 di SHINeeTown Senior High School!” kataku memberitahunya.

“Kau masih kelas 1?” tanyanya seperti tidak percaya padaku. “Kalau begitu, yang sopan padaku.” lanjutnya lagi yang membuat alisku menaik.

“Yaaa.. yang sopan ya? Kau kan di bawah umurku!” lanjutnya lagi.

“Sireo! Kau tidak terlihat dewasa sama sekali. Aku tidak mau sopan padamu. Bweeee…” kataku meledek sambil merong padanya.

Tiba-tiba saja dia malah merangkulku dan mengajakku berjalan pulang. Aku sempat terkesiap karena itu.

“Baru kali ini ada anak kecil tidak sopan padaku. Kau membuatku tertarik.”

Dan ucapannya barusan sukses membuat wajahku memanas. Apa yang dia katakan barusan? Membuatnya tertarik? Ah, hatiku jadi berdebar saat ini juga, gumamku dalam hati sambil berjalan dirangkul olehnya.

Aku memang lemah terhadap gombal pria. Dasar aneh. Gara-gara minuman kaleng, aku jadi kenalan dengan seorang namja. Tak kusangka.

Tapi, Kim Jonghyun ini lumayan juga. Dia membuatku seperti kita sudah seperti mengenal lama. Dia juga memiliki postur tubuh yang lumayan. Good looking. Dan dewasa. Em, haruskah aku bergaul dengannya?

..flashback  end..

Yeah begitulah ceritanya hingga aku bisa mengenal Jonghyun. Namja yang tidak sengaja kutemui karena minuman kaleng. Perkenalan yang aneh dengan seorang namja. Orang seperti dia baru dalam hidupku.

*****

Beberapa hari kemudian, namja yang bernama Kim Jonghyun itu menembakku. Tentu saja dengan gaya yang beda dengan gaya namja anak sekolahan. Dengan seikat mawar merah dan suasana malam yang sangat romantis—gaya namja dewasa—kurasa agak berlebihan juga sih. Namun, tetap saja kuterima tanpa ragu  pernyataan cintanya itu. Yeah, walau aku tahu perasaanku padanya tidak lebih besar dari perasaanku saat aku menyukai Taemin. Tapi, akan kucoba. Lagipula, aku mau menghilangkan statusku yang jomblo ini.

OPPA!! Yeodongsaeng-mu masih naik pamor ya? Kataku bangga dalam hati.  Yeah, walau aku tahu kali ini aku berpacaran dengan namja yang sedikit berbeda. Anak kuliahan.

Haruskah kuberi tahu oppa kalau aku pacaran? Andwae! Bahaya! Nanti dia malah over protektif padaku lagi. Tidak. Tidak boleh! gumamku dalam hati tidak berhenti melamun sambil menggeleng-geleng kepalaku.

Kali ini sangat beruntung sekali mempunyai namjachingu bukan dari lingkungan sekolah. Itu membuat oppa tidak akan pernah tahu. Yeah, aku akan sekalian backstreet saja darinya. Biar saja. Aku juga ingin bebas!

Aku merebahkan diriku di tempat tidur. Aku memikirkan namjachingu-ku saat ini. Dia, Kim Jonghyun, namja kaleng yang akhirnya cukup menarik untukku.

Ternyata, pacaran dengan namja yang kelewat beda umur dengan kita seperti ini ya, gumamku dalam hati. Sering mengajak keluar malam dan sambil membawa teman laki-lakinya. Jujur saja, aku kurang begitu suka. Belum lagi kalau setiap bertemu dengan kawan-kawannya soju selalu siap sedia. Benar-benar suka minum Jonghyun itu. Dia lebih berbeda lagi dengan pacar-pacarku selama ini. Taemin yang manis, Kibum yang playboy, dan sekarang Kim Jonghyun yang agak ekstrim. Aku harus bereksperimen dengan pria macam apa lagi dalam hidupku?

Aku memang baru bereksperimen dengan namja seperti Kim Jonghyun ini. Dan aku sudah menemukan kesebalan bersamanya. Yang paling aku sebal yaitu saat dia mabuk. Omongannya kadang melantur ke mana-mana. Dia juga sangat suka Skin ship. Suka merangkulku, menyentuhku, mengelus rambutku. Untung saja bibirku masih perawan. Tidak mau. Tidak akan pernah kuberikan dengan pria macam dia! Pokoknya aku suka langsung meninggalkannya kalau dia sudah pesta-pesta begitu di tempat karaoke. Dan otomatis, setelah Kim Jonghyun sadar, dia langsung menghubungiku dan marah-marah perkara aku meninggalkannya begitu saja.

Ya iyalah harus aku tinggal. Mau seisi rumah tahu aku pulang malam karena pacaran dengan anak kuliahan tingkat 2??  Jelas-jelas berbeda umur 4 tahun. Umur yang dewasa. Apalagi kalau sampai oppa tahu, aku sudah pasti dibunuhnya. Tidak mau. Tidak boleh ada orang rumah yang tahu.

*****

Di reunian club tennis SMP Kim Jonghyun!

Hari ini aku diajak pergi oleh Jonghyun, panggilan sayang untuk memanggilnya dengan tidak memakai embel-embel oppa walau dia lebih tua dariku. Kami berdua pergi ke acara reunian club tennis SMP-nya.

 “Kawan-kawanmu banyak tidak?” tanyaku pada Jjong saat sudah berada di cafe, tempat kami melakukan reunian.

Jjong terlihat tampan dengan setelan santai namun tetap nyentrik. Dia memang bling–bling, pikirku dalam hati terus melihat otot besarnya yang dia pamerkan dari tadi padaku.

“Paling sepuluh orang. Cuma teman lama kok.” respon Jjong padaku menghentikan lamunanku akan keindahan otot besarnya.

“Aish, itu kan banyak. Kenapa harus mengajakku sih? Ini kan reunianmu.”

“Eissss~~ kau kan pacarku, Minhye. Ya, aku sekalian mau pamer lah.” kata Jjong yang jadi menggodaku. “Yeojachingu-ku itu sangat manis, cantik, bawel dan tentu saja.. menggoda.”

Cih, dia menggoda seperti itu? Dasar namja, umpatku dalam hati yang sebenarnya senang digoda.

Suasana reunian itu sangat akrab sekali. Teman- teman Jonghyun yang pria juga kelihatan sangat asik saat berbincang. Kami saling bercanda, berbincang, dan bermain facts di sana. Sampai akhirnya seorang yang yeoja datang terlambat menyapa kami semua.

Annyeong, oraemaneyo chinguya!”

Aku melirik ke suara itu, mataku langsung membulat hebat saat menyadari siapa yeoja yang baru saja tiba di tempatku, tempat reunian pacarku. Itu Yuri, kataku dalam hati. Dia pun ikut kaget menatap sosok yang dia kenal akhir-akhir ini, yaitu aku, Minhye, sekaligus adik pacarnya.

“Yuri-sunbae??” “Minhye??” sahut kami berbarengan membuat seluruh tamu reunian memandang kami bersama.

Aku lihat dia langsung menatap namja yang kini duduk di sampingku sambil merangkulku. Jjong yang ditatap pun ikut heran dengan situasi ini.

“Kalian sudah kenal??” tanya Jjong pada kami yang masih membeku di tempat kami masing–masing. Aku dan Yuri hanya saling melempar pandangan.

“Yuri, ini yeojachingu-ku.” Lanjut pacarku dengan lantangnya memberi tahu yeoja itu. membuatku ingin menamparnya. Bagus! Tamatlah riwayatku kalau sampai Yuri bilang pada Minho-oppa.

“Minhye-ku manis kan, Yuri? Kami bertemu saat.. AAAA!“ teriak namjachingu-ku karena aku langsung memotong kalimatnya dengan satu injakan kakiku.

Yaa! Kenapa kau injak kakiku?”

“A-aniya oppa, aku tidak injak kakimu.” kataku sambil tersenyum manis di depan namja ini agar dia luluh pada senyuman mautku.

Kini, aku dan Yuri duduk berhadapan. Aku bersyukur dia tidak membawa oppa-ku ke tempat ini. Kalau sampai dia bawa, ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, oppa langsung marah padaku karena tahu aku diam–diam bersama namja. Kedua, oppa akan menyeretku dan membuat namjachingu-ku marah, ketiga, kalau namjachingu-ku marah dan menantang oppa, maka hancurlah acara reunian ini.

Aku mendesah pelan. Untung saja oppa benar-benar tidak datang.

“Huh! oppa-mu payah sekali, Minhye.” ujar Yuri tiba-tiba padaku. Kenapa dengan oppa-ku? Dia mau bercerita tentang oppa?

“Masa, dia tidak bisa datang ke sini coba.” lanjutnya menceritakan padaku. “Masa dia bilang dia tidak enak badan. Huft. Memang dia sedang tidak enak badan ya?” katanya sambil melihatku.

Minho-oppa tidak enak badan? Apa aku tidak salah dengar? Oppa yang anti sakit itu tidak enak badan? Ah, paling-paling  itu hanya alasan untuk tidak bersama dengan Yuri-sunbae saja.

*****

“Aku pulang!!!” kataku sambil menghambur ke dalam rumah.

Kulihat eomma dan appa sudah rapih dengan setelan yang biasanya mereka pakai kalau mau pergi jauh. Loh. Memang mereka mau pergi ke mana lagi?

“Minhye, sudah pulang?” tanya eomma yang menyadari keberadaanku.

Ne, eomma. Eomma, appa, kalian…”

Eomma dan appa berencana keluar kota anak eomma sayang. Ada perusahaan game yang ingin menjalin kerjasama dengan appa.” kata eomma menjelaskan padaku walau masih sibuk dengan menyeret kopernya.

Mwo?! Pergi lagi?” tanyaku tidak percaya, karena akhir-akhir ini mereka benar-benar jarang ada di rumah.

“Iya, tidak apa-apa ya? Minhye kan sudah besar. Lagi pula ada oppa-mu yang menemanimu.”

Oppa? Huft, Oppa, menemaniku? Tidak, dia sekarang lebih suka menemani Yuri.

Eonje, eomma?”

Eomma dan appa menghampiriku, mereka mengusap puncak kepalaku. Ini aneh, tidak seperti biasanya mereka seperti ini padaku, pikirku sedikit jadi khawatir tanpa kumengerti.

“3 atau 4 hari. Bukan waktu yang lama kan sayang?”

“Eum… Eomma. Masa harus ditinggal lagi sih.” aku menggerutu. “Trus, aku harus tinggal dengan oppa sinting itu?”

Nde? Kau bilang apa barusan?”

“A-ani.”

Eomma dan appa menciumku sebelum mereka pergi. Perasaanku entah kenapa sangat berat ditinggal mereka.

“Sampai nanti. Jaga rumah dan jaga diri baik-baik ya?” aku mendengar wanti-wanti eomma. “Dan.. jangan bertengkar lagi dengan oppa-mu. Jangan kau buat kesal dia juga Minhye. Selama appa tidak ada di sini, satu–satunya namja yang menjagamu hanya oppa-mu. Arraseo?!”

Aku mengangguk pasrah. Hmm.. kalau tidak ada oppa di sini, memang hanya Minho oppa-ku saja. Tapi, masa harus dia sih?

“Ah, ya, kau coba tengok oppa-mu, dia sedang tidak sehat.”  .

Nde??” pekikku setengah tidak menyangka kalau oppa betul-betul tidak sehat.

Eomma khawatir pada oppa-mu, jadi kau rawat dia ya?” pinta eomma padaku.

Jadi oppa benar-benar sakit? Aku kira itu hanya alasan agar dia tidak bisa pergi dengan Yuri-sunbae, pikirku yang salah total.

Eomma dan appa pergi ya. Dah sayang…”

“HATI-HATI YA, EOMMAAPPA!!” teriakku tanpa dibalas oleh mereka.

*****

Saat ini aku sedang berjalan ke lantai atas. Aku ingin menghampiri kamar oppa. Aku ingin mengecek, benar dia sakit atau tidak. Yeah, harus kuakui, aku memang agak khawatir mendengar dia kurang sehat dari eomma barusan.

Kini aku sudah berada di depan pintu kamar oppa. Aku sedang menimang-nimang antara masuk atau tidak.

Knock~~knock~~knock~~~

Akhirnya kuputuskan untuk masuk dengan terlebih dahulu mengetuk pintunya. Aku tidak mau sembarangan lagi masuk kamar namja itu.

Tidak ada tanggapan saat aku mengetuk pintu oppa-ku. Padalah sudah berulang-ulang kali kuketuk pintu ini. Aku jadi tambah khawatir.

Dengan pelan-pelan aku buka pintu kamarnya itu. Aku menyembulkan kepalaku di sana, mencari sosok oppa.  Kulihat dia sedang tidur tenang saat aku menyembulkan kepala lebih dalam lagi. Aku memberanikan diri masuk ke kamar oppa pada akhirnya.  Dengan langkah yang pelan aku mulai berjalan menghampirinya.

Aku terdiam saat memandangn Minho-oppa dari jarak sedekat ini. Aku lihat wajah itu sedang tertidur pulas itu. Wajahnya memang terlihat agak pucat. Aku juga melihat banyak keringat yang keluar dari wajahnya terutama di dahinya.

Ah panas, pekik dalam hati saat memegang dahi oppa-ku yang masih tertidur pulas. Hyaaaaaa.. jadi oppa beneran sakit. Oppa sakit.. Ah tidak. Ottokhae?! Aku pun berujung jadi heboh sendiri.

Benar kata eomma aku memang harus merawatnya. Aku benar-benar jadi tidak tega melihat oppa seperti ini. Wajahnya yang biasa menyunggingkan bibirnya dengan sombong itu, tiba-tiba jadi tidak berdaya seperti ini. Omo, Oppa-ku kena ujan badai seperti apa sih jadi bisa sakit begini?

Aku segera pergi ke kamarku dan mengganti pakaianku dengan pakaian rumahan. Lalu aku pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat di campur jeruk nipis untuk oppa minum. Tidak lupa juga aku membuatkan bubur untuknya. Orang sakit kan harus banyak makan-makanan yang sehat, pikirku.

“Ah,  hampir saja lupa. kotak P3K dan alat penurun panas, dan handuk.” kataku saat hampir masuk kamar oppa. Handuk? Ne, handuk, untuk mengelap keringat oppa yang keluar itu. Aku sungguh baik, kataku sombong dalam hati.

Kini aku sedang duduk di samping Minho-oppa. Oppa masih saja tidak bangun. Dia benar-benar tidak sadar aku sedang mengelap keringatnya.

“Mi-Minhye–ya…” Kudengar oppa bersuara. Ah, oppa sudah sadar.

Gwenchana, oppa??”

“Mi-Minhye, se-sedang apa k-kau?” tanyanya lemas padaku.

“Kau sakit, oppa.  Aku sedang merawatmu di sini.” kataku sambil menempelkan plester penurun panas dikepalanya. “Kok oppa bisa sakit sih! Heran deh!”

Go-gomawoyo..” Minho-oppa lalu memejamkan matanya lagi. “Silahkah lanjutkan lagi, saengi.”

Saengi? Ada dua perbedaan saat oppa memanggilku. Saat memanggil saengi, itu artinya dia sedang banyak maunya. Kalau memanggil Minhye, kurasa itulah diri dia yang apa adanya.

Kulihat Minho-oppa telah tertidur kembali. Dia baru saja membiarkan aku merawatnya. Hah? Tidak salah dengar aku. Dia memang aneh dan keenakan. Aku kesal sebenarnya, namun karena hari ini oppa memang sakit. Aku jadi tidak tega dan malah sedih karena dia seperti ini.

Oppa, ini kau minum!” kataku sambil menyuguhkan teh dari jeruk nipis yang hangat setengah jam kemudian.

Minho-oppa bangun dengan lemas dari tidurnya, dan tanpa banyak bertanya dia pun meminumnya. Oppa pendiam seperti ini, oppa sakit seperti ini, kelihatannya lebih manis. Omo~ oppa, kalau kau seperti ini terus, aku pasti suka oppa! gumamku dalam hati tidak sadar dengan apa yang baru saja kuucapkan.

“Kau habis dari mana tadi?” tanya oppa tiba-tiba saat dia selesai meneguk minuman yang kuberikan. Yah, oppa mulai menanyaiku lagi!

“Eum.. pergi bersama teman, oppa.” jawabku berbohong. Untung saja dia tidak membuat pertanyaan dari jawaban yang kuberikan.

Minho-oppa malah berbaring kembali. Kurasa oppa sangat lemas hingga tidak ingin banyak bicara. YES!! Ternyata oppa-ku memang tidak tahu aku habis pergi dari mana.  Dan malah membaringkan dirinya kembali. Good job! Aku rasa Yuri-sunbae tidak membicarakan ini pada oppa. Aku kan sudah mengancamnya.

Oppa?” panggilku padanya, berniat ingin mengajaknya bicara.

Ne.”

Eomma dan appa pergi selama 3 hari.” kataku memberi tahu.

Ne, arayo. Waeyo?”

“A-ani,  berarti kita tinggal berdua donk oppa di rumah ini?!”

Kulihat oppa menaikkan alisnya. Apa dia keheranan karena ucapanku barusan, gumamku dalam hati.

Ne, memang tinggal berdua. Apa yang kau khawatirkan?”

“Kau kan sakit oppa, aku harus merawatmu. Huft.”

“Ah babo!” katanya sambil mengucak rambutku.

Eh? Oppa menyentuh kepalaku seperti itu? Tidak seperti biasanya. Yang aku ingat, oppa itu seumur hidupnya hanya menjitaki, memukuli, dan menganiya kepalaku. Lalu dan kenapa juga aku malah jadi berdebar karena perlakuannya?

“Tenang saja minhhye-ya. Besok aku sudah baik kok. Aku kan namja kuat. Kau tidak perlu khawatir.”

Ne Oppa! Get well soon.” kataku sambil tersenyum padanya.

*****

Sudah hari kedua kami ditinggal oleh orang tua kami. Minho-oppa juga sudah kelihatan normal dan sehat seperti semula. Bahkan makin sehat, terutama setelah dua hari full bed rest di rumah. Enak sekali bisa libur sekolah untuk sementara waktu.

Minho-oppa memang tidak masuk sekolah 2 hari ini. Dan sialnya, Itulah yang membuatku dikejar-kejar oleh yeojachingu-nya, Yuri. Hampir setiap hari dia menanyai kabar oppa-ku. Saat tidak sengaja berpapasan denganku pun, dia selalu mengejar–ngejarku. Malah, beberapa hari ini Yuri selalu meminta padaku agar bisa masuk ke kediaman kami menjenguk oppa. Cih! Bilang saja pada oppa. Minta ijin saja pada oppa. Jangan padaku. Memangnya dia tidak dihubungi  oleh oppa?  Beberapa kali dia meminta padaku pun, jawabannya selalu sama. Selalu  kularang! Membawa dia masuk ke rumah kami dan menjenguk oppa, cih, tidak mau. Oppa-ku harus istirahat. Titik. Eum~ kalau oppa tahu dia marah tidak ya?

Ah, masa bodo. Oppa juga tidak menanyakannya. Juga tidak meminta untuk dijenguk. Jadi terserah padaku saja. Kalau aku tidak mau membawa yeoja itu masuk, ya, tidak mau. Bwee~!

*****

Di ruang keluarga!

Saat ini  kami berdua ada di lantai satu rumah ini. Aku sedang di dapur dan sedang mengamati oppa-ku yang menghabiskan waktu dengan bermain PS akhir- akhir ini. Namja ini sangat suka bermain game, aku tahu itu. Kalau dia sudah main, pasti benar-benar lupa waktu.

Minho-oppa mengambil kesempatan saat orang tua kami tidak ada. Waeyo?? Tentu saja karena eomma akan melarangnya. Karena Choi Minho itu harus belajar untuk menghadapi ujian. Dia kan sudah kelas tiga dan sebentar lagi lulus. Dan sekarang, dia malah asik bermain PS seharian.

“Minhye–ya, kau mau melawanku??” tiba-tiba oppa mengajakku sambil menunjukan stick PS-nya. Eh, tidak salah? Dia mengajakku? tumben.

“Kemari. Kita bermain bersama.” katanya mengajakku lagi. Ah, aku tahu. Ini pasti siasat.

Sireo, oppa! Kau pasti ingin aku tutup mulut supaya aku tidak bilang pada eomma kan?? Sirreo. Tetap akan kulaporkan karena kau sudah sehat dan belum mau sekolah, dan malah bermalas–malasan dengan PS itu.”

“Sana bilang saja pada eomma. Dasar adik gak asik. Kau selalu saja buruk sangka padaku.”

Cih! Oppa seperti tidak melihatku sedang apa. Aku sedang masak makan malam untuknya. Dia malah bilang aku gak asik? AWAS SAJA KAU, OPPA!!!!

Oppa, aku tahu sifatmu. Bweee~~!” kataku sambil merong padanya

“Aishh, dasar orang yang aneh. Ya sudah, masak saja kau yang enak ya, saeng?” katanya sambil melanjutkan permainannya dan aku hanya memberengut kesal.

..TO BE CONTINUE..

~This story is mine. This plot is mine. Say no to plagiarsm.~
  ~ Publish by mamotho @ https://mamothozone.wordpress.com/~

~ Sempet baca- sempet komen. Pesan author, sejadul – jadulnya ini epep- jangan sungkan kasih komen – karena aku tetep baca komen kalian.

~ Part depan saya protek! karena si jjong udah mulai macem-macem di sana! Oke deh^^/ 

About mamotho

Special Girl. Always loved her self, and know what makes she herself happy. Fangirlling is also her spirit (ʃƪ˘ﻬ˘) SHINee is her oxygen too!

Posted on 22 March 2011, in BROTHER COMPLEX, SEQUEL, SHINee FF and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 64 Comments.

  1. knp minhye sama jjong? sama onew aja dong u.u wkwkwk

  2. Penasaran lanjutannya..
    Says readers baru. Salam kenal

  3. Readers baru 🙂 salam kenal..
    Tpi apa aku pernah komment disini ya.. 😮
    Salam kenal thor
    #itu aja xD

  4. yang part 4 password nya apa?

  5. Aku readers baru 🙂
    wahh seru banget thor ini ceritanya
    salam kenal ya 🙂

  6. Hwaa… Udah mulai muncul adegan sweetnya.. Lanjuuuttt … :D. Ehehhee..

  7. Lagi semangat nih baca ff mamot eon 🙂 .. mian y kalo komen aq bertebaran ..hhe

    Terlalu seru kalo baca’a d tunda buat besok .. ^^
    yah part 4 d protec, harus d loncat deh *hap hap lanjut part 5 😀

KOMEN YO ( ˘ з˘ )/

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: