BROTHER COMPLEX – Part 2

BROTHER COMPLEX – Part 2 

Title : Brother Complex [Revision version]
Author : mamoTHo
Main Cast : Choi Minho (Brother), Choi Minhye (Little Sister)
Other Cast : Taemin, Kim Yenyoung
Lenght : Sequel
Genre : Bromance – family
Rate : PG 13

This Story©mamoTHo

*****

..MINHYE POV..

Aku mengurung diri di kamar seharian. Hari ini hari minggu, dan kemarin adalah hari yang sangat tragis untukku. Aku benar-benar tidak mau keluar dari kamar. Bahkan tidak mau makan. Sireo!

Knock~knok~knock~~

Kudengar ada yang mengetuk pintu kamarku. Itu pasti oppa-ku. Masa bodo! Aku tidak peduli!! Aku kesal padanya!!

“Minhye–ya, Kau jangan mengurung diri terus. Aku bertanggung jawab hari ini atas kamu.” itu suara Minho-oppa. Hah, tidak mau. Aku tetap mau mengurung diri di sini.

KNOCK~KNOK~KNOCK~~

Ketukan pintu itu terdengar lebih keras dari yang tadi.

“Minhye–ya, eomma dan appa sedang tidak ada. Kau jangan manja. Cepat keluar dan masaklah. Aku tahu kau lapar.”

Huh. Aku mendengus makin sebal dengan oppa-ku. Aku yakin dia hanya peduli dengan dirinya sendiri. Aku rasa yang lapar itu bukan aku, tapi dia!

Jam menunjukan pukul 4 sore, dan aku belum keluar kamar juga. Sebenarnya aku memang lapar. Tapi, aku tidak mau keluar. Aku ingin oppa-ku berpikir keras. Semuanya kan karena kesalahannya. Karena sifat dia yang over protektif gak jelas itu. Lagi pula dia kan tidak akrab denganku. Kenapa selalu sok mengaturku sih?! Ih dia memang menyebalkan!!

Knock~knok~knock~~

Tidak lama kudengar ketukan pintu setelah 1 jam tidak berbunyi suaranya. Hah, kukira oppa benar-benar mendiamiku.

“Minhye-ya!!!” sahutnya lagi padaku. “Kalau kau tidak mau keluar kamar juga, aku akan bilang pada orang tua kita kenapa kau berkelakuan seperti ini.”

Hah, dia mengancam? Tidak mempan! Paling itu cuma gertakan saja.

“AKU TIDAK PEDULI, OPPA!!! SILAHKAN!!!” akhirnya aku mengeluarkan suaraku setelah diam membisu sedari tadi siang.

“BAIKLAH KALAU BEGITU, SAENG!!” katanya balas menyahutiku dengan nada yang tinggi pula.

Samar–samar yang kudengar dari luar kamar.

“Yoboseo eomma..”

“Ne..”

“Ah eomma baik-baik saja di sana??”

Aish, apa oppa serius menelpon eomma? Oppa macam apa sih dia?! Seharusnya dia tidak usah jadi oppa-ku kalau merepotkan seperti ini. Aku benci.

“Oh Minhye?”

Ah oppa, apa dia serius ingin bilang pada eomma sekarang.

ANDWAE!!!!!” pekikkku sambil menyambar pintu dan pada akhirnya menunjukan batang hidungku. Kulihat oppa sedang  berdiri di samping pintu sambil menggenggam ponselnya. Dia langsung melihatku yang kini sukses memperlihatkan diri lagi.

“Ne, Minhye baik-baik saja kok, eomma.” ucapnya berbicara pada teleponnya lagi. Fiuhhhh! Akhirnya aku bisa bernafas lega karena dia tidak mengatakan sesuatu yang aneh pada eomma.

Yaa! Akhirnya kau keluar juga.” katanya malah berujung mencibirku. Aku tidak peduli dan merampas ponsel miliknya.

Eomma??” sahutku pada berbicara pada telepon. Tapi, apa yang kudapat coba? Tidak terdengar suara apapun di saluran telepon. Dan saat kulihat layar ponselnya ternyata mati. Bagus sekali oppa. Kau cerdas!! Sukses mengelabuiku!

YAA!!!!!!” teriakku kesal pada namja yang sekarang sukses terkekeh padaku.

Aku masuk ke kamar lagi, tidak mau dekat-dekat dengan oppa sinting yang selalu saja usil padaku. Aku berniat untuk melanjutkan aksi mogok bicara dan makan. Saat sedang menutup pintu tiba–tiba saja sesuatu menahannya. Oppa-ku masuk ke kamarku. Arghh.. tidak! Dia pasti marah melihat kamar yang rusak ini. Kamarku memang sedang awut-awutan. Bantal di bawah, tisu yang berserakan di mana–mana, sampah cemilan pun ikut menjadi pemandangan yang merusak mata. Yeah, benar saja, sekarang dia tercengang melihatnya terdiam.

OPPA!! KAU JANGAN SEMBARANGAN MASUK!”

Eh, apa ini? Kenapa oppa tiba–tiba mendekatkan wajahnya padaku, pikirku jadi dag dig dug menghadapi perlakuan anehnya saat ini.

“Kau menangisi namja itu lagi, huh??”

Deg! Namja itu? Aku yakin wajahku memerah. Bukan karena namja itu, tapi karena aku jadi berdebar karena wajah oppa yang terlalu dekat.

..Flashback..

“Minhye–ya, aku ingin bicara denganmu.”

Siang hari itu, Taemin menyapaku dan mengajakku pergi ke kelas kosong. 

“Wae, Taemin-ah? Kenapa kau membawaku kemari?” tanyaku namun dia hanya diam tidak seperti biasanya, “Isshhh… jangan bilang kau ingin berduaan denganku di kelas kosong ini? Uhhh, Taemin, mulai jadi yadong ya?”  

“Mianhae, kita sudahi saja sampai di sini, Minhye!”

Aku sungguh tidak mengerti yang baru saja dikatakan oleh Taemin. Lagi pula ‘Minhye’? dia tidak memanggilku dengan embelan ‘chan’?

“Aku rasa aku bukan namja yang baik untukmu. Mianhae…”  

“Minnie, maksudmu apa? Apa yang kau maksud itu ki-kita pu-putus?” tanyaku mulai cemas.

“Ne.”

Aku kaget kenapa namja manis yang baru kupacari selama 1 bulan itu bisa-bisanya berbuat setega itu. Dia baru saja mengiyakan pertanyaanku.

“Tapi kenapa, Taemin? Apa aku ada salah padamu??” aku berusaha bertanya padanya, karena jujur saja aku tidak mengerti kenapa dia tiba–tiba jadi begini.

“Tidak, hanya saja, aku tidak bisa pacaran seperti ini denganmu.”

Aku merekam kata–katanya barusan. ‘seperti ini’? Seperti apa maksudnya?

“Kau akan paham nanti, Minhye-ya.” katanya melanjutkan kata–katanya. “Oppa-mu,  aku tidak suka.”

Deg! Aku sungguh kaget Taemin dengan lantang bilang tidak suka oppa-ku. Apa aku tidak salah dengar? Dia tidak suka oppa? Apa itu berarti… Ah tidak mungkin!

“Minnie. Kau aneh deh!  Kau kan tahu dia memang begitu!” yeah, aku cukup sebal saat dia jadi menjelekkan oppa-ku, padahal dia tahu sifat oppa memang seperti itu.

“Tapi dia berlebihan, Minhye. Aku tidak suka hubungan kita dicampuri oleh orang lain.” terangnya padaku dan aku hanya menatap tajam padanya. “Mianhae.. mungkin oppa-mu memang benar-benar menjagamu. Kalau aku punya yeodongsaeng pasti aku juga akan seperti itu…,” Taemin mendesah pelan, “… Tapi,  tidak se-over protektif itu.” 

“Minnie…” aku merasa hampir menangis. Mataku sepertinya sudah berkaca-kaca saat ini. Suaraku parau dan terdengar memohon disaat memanggilnya.

“Sampai nanti, Minhye-ya. Mianhae.. jeongmal mianhae.” katanya lalu meninggalkanku.

Seperti hampir menangis, aku masih tidak menyangka apa yang baru saja kualami. Diputusi oleh namja yang disukai. Benar-benar kusuka. Namja berambut blonde, bertubuh tinggi, bermata angel, dan namja yang kupercaya tidak akan berbuat macam-macam padaku, kini malah memutuskanku begitu saja.

Sungguh menyedihkan aku ini, batinku dalam hati sambil mencari tempat duduk sembarang di kelas kosong itu. Aku menidurkan kepalaku di meja dan mengambil ponsel yang ada di saku almamaterku. Kucari nomor kontak ‘cute Taemin’ lalu kuhapus. Benar-benar harus kehilangan dia? Hubungan yang sangat singkat.

“Hiks!” tidak terasa air mataku keluar. Padahal aku sudah berusaha menahannya sedari tadi. 

Taemin bilang dia tidak suka dengan oppa-ku. Tapi kenapa?? Aku kira dia baik-baik saja dengan oppa.

“OPPA!!!! HUEEE….” akhirnya aku menangis sepuasnya di kelas kosong itu.

***

Setelah setengah jam kuhabisi dengan menangis, aku pergi dari ruangan ini untuk mencari namja bernama Choi Minho itu. Pokoknya akan kupukul dia!!!

Saat berusaha mencarinya, tepat, aku melihat oppa sedang berbincang dengan segerombolan namja yang sudah kuduga adalah teman-temannya. Dia berjalan tidak jauh dengan jarakku sekarang. Dan seperti biasa, tidak aneh dengan sikap dinginnya juga.

Kulihat banyak yeoja-sunbae yang memperhatikannya di koridor–koridor kelas. Mereka menatapnya, padahal oppa hanya sedang melewati kelas yeoja-sunbae tersebut, bahkan mereka berbisik dan membicarakan oppa-ku. Entah apa yang mereka bicarakan tapi itu terdengar menggelikan di telingaku.

“OPPA!!!!” panggilku pada namja yang bernama Choi Minho itu dengan berteriak.

Minho-oppa langsung melihat heran ke arahku yang ada 3 meter di depannya. Mungkin ini pertama kali dalam seumur hidup aku menyapanya di sekolah. Seperti yang aku ceritakan, walaupun kami saudara, tapi kami tidak pernah bertegur sapa dimanapun, termasuk di sekolah ini. Benar-benar hubungan persaudaraan yang aneh kan?

Semua haksaeng di sepanjang koridor melihat ke arahku yang berteriak memanggil Choi Minho itu dengan sebutan oppa. Di sekolah ini memang jarang sekali ada yang tahu kalau namja bernama Choi Minho adalah oppa-ku. Makanya, tidak aneh kalau di antara mereka mungkin ada yang mempertanyakan kenapa aku bisa menyahut namja populer itu dengan sebutan ‘Oppa’.    

Oppa benar-benar mengabaikanku. Dia tidak menggubris sahutanku padanya. Aku rasa dia juga kaget dan tidak mau jadi menambah perhatian orang-orang padanya. Tapi, mau bagaimana lagi aku sangat kesal, dan aku sudah tidak peduli apa kata orang-orang lagi.

Aku berlari ke arahnya, dan merebut oppa dari kerumunan teman-temannya.

“Ada apa nih??” kudengar salah satu temannya berkomentar. Mungkin dia aneh aku tiba–tiba menarik orang ini.Aku tetap tidak mempedulikan mereka. Dan tetap fokus dengan oppa-ku.

“Oppa, aku benar–benar—“ 

“Hei,  yeoja!!!” teriak seorang siswi yang ada di depan kelas memotong ucapan  yang baru saja kulontarkan pada oppa-ku.

Ah, molla! Aku tidak peduli. Aku sudah hampir menangis di sini. Tapi, aku tahan itu semua. Tidak di saat aku sedang jadi pusat perhatian, juga tidak saat aku sedang bersama oppa-ku.

Aku langsung menarik lengan oppa lebih kuat lagi, agar kita pergi dari kerumunan siswa yang tidak mengetahui status kami ini.

“Aish,  agresif sekali yeoja ini.” aku mendengar samar salah satu dari teman oppa bergumam.

“YAA!!” teriak seorang yeoja yang kini menghampiri kami. Itu yeoja yang barusan memotong kalimatku. Apa dia baru saja membentakku karena aku bersama Choi Minho? tanyaku dalam hati.

“Yaa! Kenapa kau bersamanya?” tanyanya sengit padaku.

Aku ikut menatapnya dengan sinis. Dia tidak tahu apa-apa, tapi malah membentakku. Tiba–tiba saja tanganku ditarik dengan paksa oleh yeoja-sunbae itu, tapi oppa-ku ikut menahannya saat aku berusaha tidak lepas dari tangan oppa.

“Dia itu adik perempuanku.” kata oppa memberitahunya dan semua haksaeng di sana langsung menatap ke arah kami tidak percaya. Termasuk teman oppa sendiri.

“Yaa, Minho-ya, kau tidak pernah cerita memiliki yeodongsaeng. Aish, tahu begitu aku—”

“Jangan macam-macam!” ancam oppa memotong ucapan temannya yang tak penting itu.

Yeoja-sunbae itu sama herannya, dia malah terlihat malu karena pernyataan oppa-ku. Masa bodo. Aku hanya ingin keluar dari sini dan segera mengintrogasi oppa-ku. Hubunganku dengan Taemin.. aishhhhhh.. mengingat itu aku jadi tidak tahan untuk menangis lagi.

Mataku jadi berkaca-kaca saat ini. Aku sudah hampir menangis di depan oppa dan di depan yang lain. Kurasa oppa sadar karena tiba–tiba saja dia langsung merangkulku dan menyembunyikan wajahku di bawah lengannya.

“Kajja!!!” katanya sambil berjalan membawaku pergi dari sana.

 “Kyaaa~ aku ingin seperti itu..”

“Ah sungguh beruntung sekali menjadi yeodongsaeng Minho”

“Ah~ kenapa baru tau dia punya adik ternyata.”

“Benar-benar tidak menyangka, tahu begitu dari dulu yang kudekati adiknya terlebih dahulu..”

Itu yang kudengar sepanjang perjalanan saat aku bersembunyi di ketiak Minho-oppa. Perkataan siswi-siswi itu sungguh membuatku geli. Ada apa mereka dengan Choi Minho, ah?? Apa Choi Minho ini begitu populer?Aish, mereka akan menyesal jika tahu kelakuan sebenarnya dari  namja ini. Namja cuek, dingin, gak jelas, overprotektif seperti ini, apa yang bisa dibanggakan?

Oppa terus membawaku. Entah aku mau dibawa ke mana, yang jelas dia masih saja menyembunyikan wajahku di sana–di tempat paling menyebalkan–yaitu ketiaknya.

***

“Dasar babo!” dia mengataiku saat kami sudah berhenti di suatu tempat yang lumayan sepi.

“Yaa!! Ini semua salahmu!”  teriakku tidak kalah sengit padanya.

“Semua jadi tahu kalau kau yeodongsaeng-ku. Kau tanggung akibatnya.”

“Kenapa memangnya? Sok populer sekali?!” ucapku kesal sambil mendengus sebal.

“Kau juga, kenapa hampir menangis tadi, ah? Kehilangan balon?”

Aku jadi ingat masalahku dengan Taemin lagi. Tanpa pikir panjang aku langsung menginjak kakinya dengan keras yang baru saja mencibirku.

“AAHHHH!!!!! APA APAAN KAU????” teriaknya padaku.

Huh, aku puas sekali. “Kau pikir sendiri!! Kau bicara apa pada Taemin-ku, ah?”

“Memangnya kenapa? Aku tidak pernah bicara padanya. Kau kan tahu aku tidak pernah bicara dengan orang asing.”

“KAU BOHONG!!” teriakku sambil memukul dadanya dan tidak sadar air mata sudah turun dari pipiku saat ini.

Oppa terlihat terkejut melihatku seperti ini. Aku langsung berbalik dan menutup wajahku yang sedang menangis dengan kedua tanganku.

“Kami putus, Oppa…” isakku terang-terangan sedang bersedih kali ini karena aku mengatakan itu sambil menangis.

Oppa lalu memegang bahuku dari belakang dan menggiringku untuk merapatkan badanku ke dinding.

“Kau, menangislah di sini. Aku tidak mau lihat wajah yeodongsaeng-ku menangisi seorang namja.” katanya yang malah membuatku semakin ingin menangis.

“Akan kutunggu, tapi jangan lama-lama.” lanjutnya lagi yang membuatku menangis hebat saat itu juga di balik dinding.

..Flasback end..

“Oi, sudah beres melamunnya?” sahut oppa membuyarkan lamunan akan kesedihanku.

YAA!! KELUAR!” teriakku pada oppa, sadar karena dia ternyata masih bertengger di kamarku saat ini.

Kulihat oppa melihatku. Dia terlalu dalam melihatku saat ini. Apa ada yang aneh dengan mataku saat ini? pikirku cemas karena oppa terus memandang mataku, tapi dengan alisnya yang bertemu.

“Kau jadi kelihatan jelek, saeng.

Arghhh… sialan! Sempat-sempatnya mengolok–olokku disaat tragis seperti ini.

“AKU TIDAK PEDULI, OPPA. AKU MASIH BERDUKA!!!”

Yaa!!! Kau ini sungguh keras kepala. Aku bilang, namja itu payah. Bagaimana dia bisa menjagamu kalau dia mudah menyerah seperti itu, Minhye?? Kau tidak pernah dengar kata-kataku sih.”

Loh, kenapa oppa jadi yang marah?

“Kau tidak seharusnya pacaran dengan namja lembek seper—“

“ARGHHHH!!!” teriakku tidak mau dengar dan menutup kedua telingaku rapat-rapat dengan kedua tanganku di sana.

“Sudah. Ayo, kita makan!” katanya sambil menarik tanganku paksa.

Ah, apa ini. Sialan! Dia curang. Dia kan namja, dan aku yeoja, aku tidak bisa melepaskan genggamannya walau aku meronta sekuat tenaga.

Oppa lepaskan!” pintaku padanya, tapi sepertinya dia tidak peduli dan terus  membawaku berjalan turun hingga akhirnya terdampar di dapur.

Oppa sakit!” kataku sambil meringis padanya.

“Makanya nurut!!” katanya sambil melepaskan tanganku pada akhirnya.

“Aku tidak lapar, oppa!”

“Aku yang lapar, saeng!  Sedari tadi siang aku belum makan masakan rumah.”

Mwoya? Benar dugaanku. Benar, yang ada dipikiranku barusan. Dasar oppa yang tidak tahu diri. Benar-benar aku sebal dibuatnya. Dia bukannya memikirkanku, tapi malah memikirkan perutnya yang keroncongan.

Sireo! Kau beli saja kalau lapar.”

“Sudah dari tadi pagi. Masa harus makan makanan luar lagi sih? Kan ada adik perempuank yang pintar masak. Kenapa tidak dimanfaatkan. Bukan begitu??”

Sial pemanfaatan secara terang-terangan, umpatku dalam hati.

 “Ayolah, saeng..” katanya memohon padaku.

Baru sekali dalam seumur hidup aku melihat namja ini memohon padaku, yeodongsaeng-nya! Hah, ada apa akhir-akhir ini dengan namja bernama Choi Minho itu?? Dia jadi banyak bicara denganku.

Baiklah, tidak tega melihat oppa-ku yang seperti itu, aku pun memasak untuknya.  Aku buatkan nasi goreng spesial. Dan setelah selesai membuat dan memberinya makan, aku melihat oppa makan dengan lahap di hadapanku. Dia lupa dengan sikapnya yang memohon barusan padaku. Sudah ada makanan, aku terlupakan. Dasar cuma jadi oppa kalau ada maunya.

“Kau makan, Minhye!” sahut oppa tiba-tiba.

Ah! Apa aku tidak salah dengar, oppa? Kau menyuruhku makan? Biasanya kau selalu merebut jatah makananku, gumamku dalam hati tidak mau menjawabnya.

Aishhh.. Masa harus seperti ini baru kau mau makan?” katanya sambil mengambil  sendok makanku dan menyendoki nasi itu. “AAAA….” lanjut oppa hendak menyuapiku.

Bodohnya, aku lupa akan kejengkelanku padanya hingga aku menurut dan melahap sendok pertama seumur hidup dari oppa-ku itu. Sungguh, dia benar-benar terlihat seperti seorang kakak saat ini. Andai sedari dulu dia baik padaku.

“Bagus!! Enak, ‘kan??” tanyanya padaku yang kutanggapi dengan anggukan. “Nih lanjut sendiri!”

Tuh kan, tenyata hanya bersifat sementara kebaikannya.

Oppa! Apa kau tidak punya maksud apa-apa padaku?” tanyaku mulai penasaran dengan sikapnya yang begitu ramah padaku akhir-akhir ini.

Wae?”

“Akhir-akhir ini kau bertindak seperti oppa–ku, oppa.”

“Aku kan memang, oppa-mu.”

“A-ani, benar-benar seperti oppa-ku, oppa.”

Kulihat dia menghela nafas. “Kau dengar baik-baik ya saeng, aku hanya tidak suka melihatmu menangis.  Apalagi karena namja.”

*****

“Aku tidak akan memikirkan nama Taemin sekalipun dia masuk dalam kehidupanku lagi. Aku harus bisa!!! Bangkit, Minhye-ya!!!” kataku pada diri sendiri saat bercermin.

Appa, eomma kami berangkat!” ujar oppa pada eomma dan appa saat kami melesat ke luar rumah.

“Minho, jaga Minhye yah?” eomma memperingati.

Ne, selalu eomma.”

Apa aku tidak salah dengar? Biasanya tidak pakai kata selalu.

Hari ini adalah hari di mana aku harus ke sekolah. Aku pasti akan melihat Taemin lagi di kelasku. Apa yang harus kulakukan nanti saat berpapasan dengannya? Pikirku mulai mengkhawatirkan kejadian  yang belum tentu terjadi di depanku.

Aku berjalan dengan oppa-ku dengan jarak yang tidak pernah berdekatan menuju subway. Aku bilang apa. Kami tidak dekat. Dia mana mau menanyaiku, menyapaku,  berbicara denganku, berdiri di dekatku, apalagi menyadari keberadaanku.

Malah pernah ada suatu saat yang paling menyedihkan dalam hidupku. Itu saat aku tertinggal yang  akhirnya membuatku terpisah  darinya. Oppa-ku Minho, tidak pernah sadar kalau aku sudah tidak sadar di sampingnya. Dia memang tidak peka. Aku selalu berharap setibanya di sekolah dia mengkhawatirkan aku atau apa setelah aku menghilang darinya karena insiden ketinggalan itu, tapi yang ada, dia tidak pernah bertanya sekalipun padaku. Berkomentarpun tidak. Sungguh menyedihkan aku ini, batinku dalam hati.

Kini Kami berdua berdiri di kereta, transportasi satu-satunya menuju sekolahku di SHINeeTown Senior High School. Kami berdiri saling diam, seperti tidak kenal satu sama lain. Aku lihat banyak yeoja yang memperhatikan oppa di dalam kereta. Aku jadi penasaran. Apa sih yang mereka lihat dari namja yang statusnya itu oppa-ku?!

Kuputuskan untu memandang oppa-ku lekat. Aku baru sadar ternyata oppa-ku tampan juga, pikirku saat melihat sosok jangkung tidak jauh dari tempatku berdiri.  Kenapa aku baru sadar sekarang ya?

Oh ya, Sebentar lagi dia kan akan lulus. Choi Minho, oppa-ku, duduk di tingkat 3 Sekolah menengah atas. Sementara aku, Choi Minhye duduk di tingkat 1 sekolah menengah atas juga, masih anak bawang.

*****

“Minhye, kau benar-benar yeodongsaeng Minho-sunbae??” tanya seorang haksaeng saat aku baru saja tiba di kelasku.

Yaa! Minhye, serius kau benar adiknya?” tanya seorang haksaeng lain lagi yang akhirnya aku jawab dengan anggukan. Dan sedetik kemudian mereka langsung histeris.

“KYAAAA~~ kenapa tidak bilang dari dulu?? Dia itu pujaanku.” pekik seorang yeoja menghampirku. Itu teman dekatku, Kim Yeonyoung.

“Young–ah,  jadi pangeran yang sering kau ceritakan padaku itu, dia?? A-ani maksudmu.. itu.. oppa-ku?” tanyaku cukup takjub dan menatapnya tidak percaya. Dia tersipu malu dan kemudian mengangguk cepat.

Omomo!” sungguh aku mual ingin muntah mengetahui kenyataan pahit ini. Aku sampai sempat membayangkan pria pujaan Yenyoung itu memang keren. Tapi, ternyata, dia malah oppa-ku.

“Ah, kau bantu aku lah, Minhye.” pinta Yenyoung sambil menarik-narik tanganku.

Aku baru menyadari oppa sangat populer di sekolahku. Tidak hanya Yenyoung yang suka padanya. Bahkan, temanku yang lain pun minta aku mendekatkan mereka dengan oppa sombong yang bertengger di rumahku itu.

Karena kejadian memanggil oppa, aku memang benar-benar kena batunya. Bahkan yeoja-sunbae jadi cari muka di depanku. Mereka jadi bersikap manis padaku, padahal sebelumnya tidak pernah. Malah kadang aku jadi hoobae yang di istimewakan oleh mereka.

Arghhhh… oppa tolong aku!! Aku bahkan tidak dekat denganmu, tidak tahu banyak tentangmu. Otthokhae??? Apa yang aku harus jawab dari ratusan pertanyaan yang mereka lontarkan padaku?? Kenapa aku yang malah jadi sasaran?! Aku sungguh tidak tahu kau sepopuler itu!

*****

Rasanya sepi sekali. Aku sudah menjomblo selama seminggu. Tidak ada sms kata-kata gombal lagi di ponselku. Tidak ada panggilan sayang yang selalu mampir juga. Yang ada yang mampir ke ponselku hanya teror dari setiap yeoja fans-nya oppa. Ah, rasanya ingin ganti nomor saja.

“Aku ingin punya pacar lagi!” teriakku sambil bangkit dari tempat tidurku.

Seperti janjiku pada diri sendiri saat itu. SMA Aku pasti akan menemukan cinta! Ikrar yang baru saja kupamerkan dengan gamblang pada kelulusan SMP kepada teman-temanku.

“Dengarkan aku, pokonya saat aku menginjakan kakiku di SMA, aku janji akan menemukan cintaku di sana.”

Aku masih ingat kata-kata itu!

Tapi yang ada semua hancur karena satu manusia yang bertengger ria di kamarku. Dia Choi Minho, oppa yang tidak sedarah denganku. Ah, sungguh sebal. Kenapa dia harus iseng mengganggu hubungan orang lain sih?!

Sebentar!  Aku jadi ingat. Aku tidak pernah sekalipun melihat oppa jalan dengan seorang yeoja. Apa jangan-jangan dia tidak sedang berpacaran? Atau malah tidak pernah? Tapi kenapa? Bukannya fans-nya itu banyak sekali? Masa tidak ada satupun di antara mereka yang mencuri hatinya?! Aku mulai memikirkan oppa-ku dan hal lain yang tidak penting dengan oppa-ku itu.

Ahhhhh, aku sadar! Tiba–tiba terlintas dugaan akan oppa.

Jangan-jangan dia iri padaku yang selalu memiliki pacar selama menginjakan kakiku di sekolahnya, apalagi aku baru tingkat satu. Ah, apa karena itu ya, makanya dia mencampuri setiap urusanku?

Baiklah, kurasa cara satu-satunya untuk membuatnya tidak mencampuri urusanku yaitu mencarikan pacar untuknya. Oke, Proyekku dalam waktu dekat. Mencarikan yeojachingu untuk oppa!

*****

Aku pergi ke kamar oppa-ku. Dan mengetuk pintu kamarnya. Tidak ada jawaban dari dalam kamarnya. Aku pun memutuskan untuk membuka pintu itu. Ah, tidak dikunci, kataku dalam hati saat menyadari kamar penuh privasi oppa bisa terbuka.

Aku masuk ke dalam namun tidak mendapati oppa di sana. Yang kudapati hanya pemandangan yang jauh dari kamarku. Kamar oppa sangat rapih. Sedangkan kamarku, ah, tidak usah ditanya. Sangat buruk.

 “Oppa??” panggilku saat masuk lebih dalam lagi, berharap mungkin oppa bersembunyi di sudut kamar.

Oppa??” aku terus memanggilnya. Tapi, nihil, masih sama tidak ada jawaban.

Aku keluar mundur dari kamar itu sambil menutup pintunya. Saat berbalik mau berjalan, aku menabrak sesorang disertai makian dari orang itu.

“HEI, LIHAT-LIHAT!!!!”

Itu oppa-ku. Aku menabraknya tidak sengaja. Dan yang lebih membuatku kaget lagi, ya ampun, aku melihat tubuh seorang oppa hanya dililit oleh sebuah handuk yang menempel di pinggangnya. Dia saat ini berdiri di depanku begitu saja sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Aku malah terus menatapnya saat ini dengan mulut terbuka. Mungkin aku jadi terlihat mupeng.

Ah tubuh Minho-oppa keren sangat! Pekikku dalam hati. Absnya yang basah sungguh sungguh keren! Oppa sehabis mandi keren!!

“MINGGIR!!” perintahnya padaku sambil menyingkirkan aku yang masih berdiri di depannya. Dia pun masuk kamar dan membanting pintunya.

Eh, aku kan mau membicarakan sesuatu dengannya, kataku dalam hati sambil  membuka pintu kamarnya sembarangan tanpa mengetuk terlebih dahulu.

“Arghhhhh~~~ dasar yeodongsaeng babo!” pekiknya sambil melempar handuk kecil yang sekarang sukses menutup wajahku.

Kenapa dia? Pikirku masih mematung saat ini.

“Kau jangan lihat dulu! Aku sedang pakai celana! Dasar bodoh!”

Aku tertawa pelan dalam hati saat mengetahui oppa-ku sebenarnya sedang memakai bajunya. Astaga, nyaris saja.

Masih dalam posisi berdiri mematung dengan pandangan gelap, oppa datang menghampiriku dan mengambil handuk yang baru saja dilemparkannya ke wajahku.

Yaa! Apa kau mau mengintip, ah???” katanya tepat di depan wajahku seolah-olah aku ini mesum.

Yaa! Oppa! Aku mau bicara!” ucapku agak memaksa padanya yang tiba-tiba melengos ke tempat tidurnya.

Oppa-ku diam dan malah membaca buku sembari tiduran di sana.

Oppa!” panggilku agak kesal karena dia tidak mengacuhkanku. “Oppa, apa kau memiliki yeojachingu?” tanyaku ikut duduk di samping tempat tidurnya.

Oppa jawab aku!” kataku sambil menggerak-gerakkan badannya.

Wae? Wae? Wae, saeng?”

“Apa kau sudah punya yeojachingu, oppa?” tanyaku sekali lagi.

Oppa mengegeleng-geleng kepalanya, “Tidak penting.”

Yaa!!!” aku jadi emosi saat mendengarnya mengatakan kata ‘tidak penting’ barusan.

Hening. Kami pun jadi terdiam.

“Aku mengerti sekarang, oppa,” aku menggantung kata-kataku di sana,  “Pantas saja kau selalu usil pada kehidupan cintaku.”

Dia langsung bangun, ikut duduk di depanku, dan mulai ikut serius dalam pembicaraan ini.

“Maksudnya??” tanyanya seperti meremehkan.

“Kau iri padaku kan? Kau iri karena aku selalu berpacaran, sedangkan kau tidak? Kau juga iri, karena aku yang lebih dulu memulainya, ‘kan? Iya kan, oppa? Makanya kau selalu mengganggu hubunganku.” ucapku menjelaskan dengan sedikit berlebihan.

“Selalu disangkut pautkan. Pembicaraan yang tidak menarik. Sana!” dia berbaring lagi di tempat tidurnya. Aku dicueki. Dasar oppa yang aneh! Aish, Aku juga jadi malas bicara padanya.

*****

“Minhye, aku boleh main ke rumahmu??” tanya Yenyoung saat bel pulang berbunyi.

Huh, tumben dia ingin main ke rumahku? Pikirku penuh curiga sambil membereskan peralatan sekolahku.

Apa dia ingin curi perhatian pada oppa-ku? Serius?  Eh, tapi, bukankah ini suatu kesempatan? Iya kesempatan, benar-benar kesempatan, karena dengan begini aku bisa membuat Minho-oppa tertarik padanya. Nanti, siapa tahu oppa mau berpacaran dengannya, dan akhirnya aku bebas dari semua sikap  over protektif oppa. Yes!!

“Baiklah Young–ah. Kajja!” ajakku sambil tersenyum sudah bahagia akan rencanaku.

Setibanya di rumah, Yenyoung terlihat bahagia sendiri. Dia dan diriku sedang duduk di ruang keluarga yang letaknya tepat di depan kamarku dan kamar oppa. Dari tadi dia selalu memandangi pintu kamar oppa-ku yang tertutup rapat. Yeah, seperti biasa oppa-ku menjadi mayat hidup di dalam kamarnya.

Yenyoung kelihatan gelisah saat ini. Padahal kami berdua tadi sedang asik membaca majalah khusus gadis di sini, membolak-balik halaman dan mencari fashion-fashion keluar baru dari majalah tersebut.

“Minhye-ya, oppa-mu kapan keluar??” bisik Yenyoung padaku. “Aku benar-benar ingin melihat dia memakai pakaian rumahan.” Aku terdiam belum menanggapinya. “Ah, pasti tampan.” lanjutnya kemudian tak ada yang peduli.

Sepanjang kami di sini, kami hanya membicarakan oppa. Temanku yang satu ini benar-benar menyukai oppa. Dari tadi dia berbicara terus menerus tentang oppa. Padahal aku bosan mendengarnya.

Kenapa aku jadi ikut-ikutan repot demi mencarikan pacar untuk oppa-ku sih? gerutuku dalam hati.

Aku makan orange cake yang disediakan eomma untuk kami, temanku pun ikut memakannya. Orange cake! Tiba- tiba aku teringat sesuatu. Oppa kan sangat suka orange cake. Iya, dia suka, pikirku langsung terbesit dengan ide yang akan kugencarkan nanti.

Knock~knock~knock~~ Aku mengetuk pintu kamar Minho-oppa saat ini.

Oppa,  keluarlah. Aku bawakan orange cake kesukaanmu. Bukakan pin—“

Tidak disangka orang yang kumaksud membuka pintu secepat kilat. Dan entah mataku sudah rusak atau tidak, yang jelas, kulihat raut oppa saat ini terlihat sangat gembira.

“Ini..” kataku sambil memberi orange cake itu beserta piringnya. Dia tersenyum padaku saat ini juga. Ah, sumpah demi apa dia jadi tersenyum begitu?

Gomaweo, saengi-ya..” katanya sambil mencubit pipiku. Omo! Aku dicubit. Tidak salah?

Aku langsung menoleh ke belakang, ke tempat Yenyoung yang duduk mengawasiku. Wajahnya terlihat cemberut saat melihat ke arah kami. Apa dia baru saja mengira kami seakrab ini? pikirku. Andwae! Andwae!

Aku melihat ke oppa lagi yang masih berdiri di depanku. Kulihat dia pun tersenyum pada temanku. Sungguh, tidak disangka–sangka. Ada apa dengannya hari ini?

Aku membalikan badanku dan berjalan ke arah gadis yang saat ini terpancar semburat merah di wajahnya. Dia memerah dan tersipu malu. Aku yakin, dia baru saja menjerit dalam hati karena barusan melihat senyum yang terlukis di bibir jutek oppa-ku yang bernama Choi Minho.

Tiba-tiba saja dia menarikku dan berbisik di telingaku. “Hei, apa kau seakrab itu dengan oppa-mu?”

Tuh kan, benar apa yang kuduga tadi. Pasti deh dia menyangka aku akrab dengan  namja itu.

“Aku iri!”

“A-ani.” kataku dengan cepat. “Itu untuk pertama kalinya dia mencubit pipiku loh. Kau jangan salah paham.”

Aishh,  bohong. Pokoknya aku iri deh. Aku juga pengen jadi yeodongsaeng-nya Minho-oppa.” katanya sambil bersender padaku.

Hallooo?? Tidak salah dengarkah aku barusan? Menjadi yeodongsaeng-nya? Jangan harap! Itu pemikiran yang buruk. Ralat, sangat buruk. Dia pasti tidak akan bicara seperti itu kalau sudah tahu sifat over lebay oppa-ku.

*****

Beberapa hari kemudian beberapa temanku makin banyak yang main ke rumah karena oppa. Aku memang sengaja melakukan itu. Aku hanya ingin oppa melihat beberapa temanku dan merasa tertarik pada salah satu dari mereka. Tapi rasanya, oppa sudah tahu akal busukku yang terlalu terang-terangan hingga akhirnya memanggilku disaat aku dan para teman perempuanku itu berisik di depan kamarnya, sengaja mencuri perhatiannya.

“Minhye, kau merencanakan apa sih??” tanyanya yang menarik paksa diriku kesal masuk ke kamarnya.

Nde?”

“Kenapa sering sekali kau membawa teman-temanmu kemari, ah?”

“Kenapa memangnya? Mereka kan perempuan. Masa aku masih tidak boleh bergaul walau dengan perempuan sih, oppa?” kataku beralibi yang membuat oppa jadi menatapku dengan sinis, seakan mau memakanku dengan matanya yang menyeramkan itu.

“Risih tahu!” dan dia berujung emosi sambil menendangku ke luar kamarnya.

Huft. Begitulah oppa-ku. Sepertinya, aku akan gagal dengan ide busukku. Dia benar-benar kelihatan tidak tertarik. Aku harus bagaimana lagi?

*****

Saat ini aku sedang menyendiri di taman belakang sekolah. Aku sedang melamun, dan yang kulamunkan adalah sesuatu yang membuang-buang waktu. Aku benar-benar bingung deh tipe kesukaan oppa seperti apa.

Aku menengadahkan kepalaku ke atas melihat burung berkicau di pohon. Dua ekor burung yang sedang bermain satu sama lain. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga. Pasti mereka akur. Andai aku dan oppa juga akur.

Aku memandang lurus ke depan lagi merasa lelah dengan pikiranku sendiri. Dan aku terkejut ketika melihat tidak jauh di seberangku ada dua orang yang jadi menarik perhatianku. Sosok itu aku kenal, pikirku dalam hati.

“Itu oppa!!!”  pekikku girang seperti telah menemukan sesuatu yang membahagiakan, padahal sama sekali tidak.

Aku buru-buru sembunyi di balik pohon mengintip Minho-oppa dan seorang siswi yang berjalan ke arah kursi yang barusan kutempati.  Siswi itu tidak asing bagiku. Ah ya, aku pernah lihat orang yang bersama oppa itu. Dia yeoja-sunbae yang pernah meneriaki dan menarik tanganku saat aku berteriak memanggil Minho, dengan sebutan oppa. Ya, aku yakin, itu yeoja yang sama.

Sebentar! Apa aku tidak salah lihat. Aku lihat dia baru saja memberikan sesuatu pada oppa. Sebuah surat? Apa itu surat cinta?

Deg! Kenapa aku jadi berdebar saat ini? Apa oppa sedang ditembak oleh  yeoja-sunbae itu?

Hyaaaaaa!!! Oppa-ku benar-benar ditembak oleh seoran yeoja, pekikku dalam hati terlalu girang. Aku pun menguping dengan cermat dengan apa yang sedang mereka bicarakan di tempat tersebut.

“Kau tidak perlu menjawab sekarang, Minho–ssi,” samar- samar terdengar suara dari yeoja kecentilan. Astaga, dia benar-benar menembak oppa-ku.  Dan dia menunggu jawaban dari oppa! Sungguh keren keberaniannya!    .

*****

Aku sungguh tergesa-gesa pulang kerumah. Aku benar-benar ingin cepat sampai ke rumah dan menemui satu orang.

“Minhye, kau sudah pulang nak?” tanya eomma padaku yang baru saja menyambar pintu dan masuk ke dalam rumah.

Ne, eomma.” jawabku sambil mengecup eomma dan eomma-ku tersenyum, yeah, eomma sangat cantik sama sepertiku.

Eomma, oppa mana?”

“Tumben kau menanyai oppa-mu?” kata eomma yang kutanggapi dengan senyum. “Dia sedang di kamarnya.”  .

Dengan segera aku pun pergi ke kamar oppa, dan langsung dengan tidak sopan membuka pintunya sembarang.

YAA! Akhir-akhir ini kau tidak sopan, Minhye!” omel oppa-ku saat mengetahui orang yang masuk itu aku.

Aku juga sadar. Sangat sadar kalau akhir-akhir ini aku tidak canggung lagi padanya. Aku selalu merasa jadi lebih dekat dengannya.

Oppa,” panggilku sambil menjatuhkan diri di ranjangnya, dan tidur di sebelahnya.

 “Yaa!! Kau jangan tidur di ranjangku!!” katanya melarangku. Dasar oppa pelit.

Oppa, aku tahu.”

“Iya kalau kau tahu bagus, dan sana, segera keluar dari sini.” katanya mengomeliku lagi.

Aku tidak peduli dan tidak turun dari tempat ini. Ranjang double, yang bersprei biru tua, warna kesukaannya. Aku sedikit bergeser mendekati oppa yang mengotak-atik Ipod miliknya. Aku menatap oppa dari jarak sedekat ini.

Oppa, aku tahu, kau baru di tembak kan  barusan? Iya kan?” godaku padanya sambil terus menantang terus menatapnya.

Dia mendelik padaku sebentar.“Kenapa memangnya??”

“Kau terima atau kau tolak, oppa?”

“Bukan urusanmu.” katanya masih saja menanggapiku dengan dingin, padahal aku sedang berusaha peduli padanya. Yeah, walau aku tahu, ini sih dukungan agar dia segera punya pacar.

“Sana pergi!”

“Ih oppa! Aku sedang peduli padamu tahu! Semua tentang oppa jelas-jelas urusanku. Aku ingin kau segera punya pacar. Titik.” kataku berpura-pura marah padanya. “Kalau kau punya pacar setidaknya level kita sama!” tambahku lagi dengan sedikit meninggikan nada bicaraku.

Minho-oppa mendelik kearahku dengan pandangan sebal. Apa aku begitu menyebalkan saat ini? Ah, masa bodo.

Oppa, pokoknya kau harus segera punya pacar.”

“Kenapa memangnya?” tanya oppa-ku sengit.

“Soalnya aku tidak mau kau mengatur-ngatur urusan cintaku. Kau selalu menggangguku, oppa. Aku tidak suka!” kataku jadi melantur ke mana-mana. Padahal, yang ingin kukatakan bukan ini. tapi, ya sudahlah. Dia malah menaikan alisnya padaku saat ini. Tidak menanggapiku pula. Hah. Benar-benar ya dia ini.

Oppa, aku mau jujur. Aku benar-benar sebal dengan sifat over protektifmu!” kataku sambil pergi dari kamar itu. “Pokoknya pikir baik-baik, oppa.”

..TO BE CONTINUE..

~This story is mine. This plot is mine. Say no to plagiarsm.~
  ~ Publish by mamotho @ https://mamothozone.wordpress.com/~

~ Otte? Yap, proyek selanjutnya, memang mencarikan minho pacar!! Sippp! Semoga suka sama part ini.

~ Don’t forget to leave comment^^/

About mamotho

Special Girl. Always loved her self, and know what makes she herself happy. Fangirlling is also her spirit (ʃƪ˘ﻬ˘) SHINee is her oxygen too!

Posted on 19 March 2011, in BROTHER COMPLEX, SEQUEL, SHINee FF and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 48 Comments.

  1. ini mah si MIhye yang jd Overprotec
    wkwkwk
    Kyaaa… mupeng mau punya kakak kyk mino..
    tp.. tp.. apes juga sih klo hrs putus ma cwok2…
    si Mino naksir adeknya nih ye… *yakin aku*
    oke lanjt ke berikutnya
    *untung bacax pas partx dah komplit * yihi~

  2. Lanjut…..

  3. mino naksir minhye ini mah apalagi mereka kan enggak kandung hoho xD

  4. Annyeong.. Readers baru… Mau meninggalkan jejak yg manis dan imut sprti sya… Kekeke~ *kepedean==”* Setelah UAS selesai baru mampir lagi buat baca+coment… Kekeke~
    Man Seung Hyo imnida, 16 yo, elFlawless, B2uty, Shawol, VIP , blackjack , aff(x)tion , cassie , primadona, etc.. Hahaha XDD *maruk abis#plak#*
    sebaiknya aku menghilang dlu sebelum di ceburin.. Wkwk XDD
    kpan2 saya akan nyasar ke sini lagi… *apaan seh==”#gaje#*
    #BOW#
    *salam sayang anak ayam*
    ^o^

  5. unnie bikin semuanya ribet! #salah
    hyaah, yang penting lanjut ya sampe tamat.

  6. seru eonni,saya mau baca part 3 nya dulu ya penasaran 🙂

  7. eonni aku baru baca ff yang ini, minho kayanya suka ni ma minhye.
    lanjut baca ke part 3 ya. ke part 3 ya.

    • Loh baru baca? aku kira udah loh. kk~
      yadah ga apa2.. tapi jangan ilfil ma minho disini. soalnya karakternya beda sama di ff ‘minho ssi gomawo’ yang polos itu. #plak

  8. Sumpah dah si Minho bener2 aneh. . Banyak yeoja yang suka tapi Minho cuek bebek aja.
    Ck, Minhye kok mauan punya oppa aneh kaya dia. wkwkwk
    *di plototin Minho xD

    Ceritanya makin lucu aja.

    Lanjut part 3 ^^unya oppa aneh kaya dia. wkwkwk
    *di plototin Minho xD

    Ceritanya makin lucu aja.

    Lanjut part 3 ^^

  9. Hyaaah…
    Jadi + Mupeng pengen punya Oppa kaeg Minhoo…
    Hahaha…
    Tp miris jga klo musti putus b.kali2 ma pcar… *kagak maauuu*

    Lanjuut dlu k.part slanjut.a 😀

  10. mybabyLionOnew

    td mau komen ap ya.. lupa..
    lanjut aj dehh.. kkkkkk

  11. TOSSS!!!! KITA SAMA MINHYE-YAAAAA!!
    AKU JUGA GA MAU PUNYA OPPA KAYAK GITU!!
    NYEBELIN!!!

    Heyyyy~~~~ Minhye.. jangan terlalu akrab sama perempuan, ne?? nanti lesbian kau nanti *astagaaaaaaaaa*
    Err… Minhye.. kau ituu.. babo atao bolot sih?? kalo udah liat Minhop abis mandi… langsung SERAAANGG!!!! #loh??? #digampar *otak yadong*

    huehehehehe~~ stop dulu yaa.. besok aku baca lagii.. XDD

  12. sejak baca ff-ffnya eonni disini, pandanganku terhadap Minho berubah!

    baru kali ini aku bener-bener pengen punya nasib yang sama kayak cast di ff-ff manapun. aku pengen kayak Minhye, punya oppa jelek kayak Minho *plak* pokoknya mauuu~ tapi cuma sebatas oppa aja, ga lebih. gaada alasan khusus sih, tapi mau aja entah kenapa~

    aku lanjut besok deh ehehe

  13. Ternyata yg part ini belum baca-_-
    Lanjuuuuuttttttttt!!!

  14. .leave comment
    .mian cuma nyepam
    .muehehe
    .tp aku sukaaa

  15. Minhye sesedih itukah putus ma taemin

    Whaattttt satu sekolah ƍäªќ da yg tau klo minhye dan minho sodara!!!
    Bener2 tak terekspos Ƴɑ̤̥̈̊ªªªª!!!

    ​​˚(*)•.¸`*•.¸˚(*) ••(*)˚¸.•*´¸.•(*)˚
    •‧‧※‎​:s ĴìíàáĤ:s ‎​※‧‧•
    ,.•(*)¸.•*˙,.•(*)´˚`(*)•.,˙*•.¸`(*)
    Bagaimana minhye pnya pndat klo minho overprotectif sama adeny cuma gara2 oppany lum pacaran!!!

  16. minho super duperb protektif sama minhye, padahal minhye cuman mau oppa nya punya yeojachingu. sampe kapan minho bakal ttep over protektif ke minhye. ckckckckck

  17. aduuh , no coment deh thor . bingung mo koment ap . heheh
    mau lngsng cuus k part slanjut’y aj 😀

  18. Mamoth eon datang \(^0^)/ Maaf ya telat membalas. Aku bikin lapak nih di bawah:

    @mybabyLionOnew: hmmm ==
    @reenepott : Kamu udah sering baca ini berulan-ulang dek. Kaga bosen napaaahhh 😀 gomawoh tapi yaaa
    @AlsKey :Iya deh alsss.. Makasih. Minho terlalu baek lebay alay disini. Heheh
    @rachmi fadila raveline: Dan udah? /jitak\
    @MinNett : Ga sah dibilang nyepamnya ateuuuh
    @My Lovely Mon5ter : Iya minhonya sih ganjen di sini 😀
    @cindy : Sampai cinta menyatukan keduanya. -___-”
    @trya001 : Bingung napaaah?

  19. uyeeeeeee makin seru XD kesian amat minhye diputusin._. lanjut ah bacanya kkkkk xD

  20. Wkwkwk, kdng adenya jga kocak, kk~
    Nice FF thor 😉

  21. ngakak ga bernti berenti pas baca kalimat yg ini xD :
    menyembunyikan wajahku di sana–di tempat paling menyebalkan–yaitu ketiaknya.
    wakakkak xD
    keteknya minho wangiii kalee, dia kan model ikan rexona/apa ini/
    ad0h minhoooo lo kok lebay ngalay over bgt sih disiniii??-_-
    ahhh pokoknya ini ff favorit aku setelah ff HOMI couple.wkwk
    koplak bgt dah tuh sista-brotha itu.wkwk
    ahh pas liat minho cuma pake anduk doang, otak mesum ku langsung tancapppp/plak
    wkwk

  22. hahaha si minhye frustasi abis putus sama taemin

  23. Wkwkwkwk~
    Minho ko galak amat, sih?
    makin seru, eonni ^^

  24. Demi apa deh, tetep pengen punya kakak kayak Minho walaupun nyebelinnya minta ampun. Jadi bayangin Minhye itu diri sendiri. Keren banget unn FF-nya ♉(˘♢˘)♉

  25. Kerrrenn.. Lucu jg si Minhoo..

  26. Aku mupeeeeeng demi apa pas si Minhye liat Minho abis mandi. Abs-nya bikin ngiler~~ Mupeng pokonyaaaa~! Pengen ikutan jadi yeodongsaeng-nya Minho dong, masih ada lowongan ga? *eh
    Awkay, next chapter!

  27. Aigooo~ tidak kah minhye memikirkan perasaan minho ??

    Okey next part

  28. Wah.. Mupeng banget punya oppa kyk minho^^
    Ga kebayang gimana keren dan lucunya senyum minho pas di ksh orange cake^^
    Lanjut next part thor^^ thanks^^

  29. nandacamilla

    diem aja udah ganteng, apalagi senyum ya? huah *melting*
    well sekian komen gaje nyaa dadaaahh ;D

  30. Minho michoseooo!!*lirik.bagian.flashback

    ahh itu minhye nya juga kelewat lebay kaya nya ahahaha tapi aku suka aku suka hihihi

  31. meninggalkan jejaak hhe
    binguung mw komen apaa eon epep nyaa daeebaak dah pkok nyee

  32. siapakah calonnya??

  33. Huuu knpa minhye sngat ingin minho punya yeojachingu? Ah mgkin nanti minhye bkal cmbru klau dia jga suka minho,huhu tmbh romantis critax ^^ oy eonni aku udh minta pw lwat fb tntang MCLA tpi ndak di replay,fb ku L Kim.. Jebal ~_~

  34. Tiara indah olivia

    Kyaa itu siapa lagi yang ngasih surat cinta…?
    Pokoknya tolak,,tolak,,tolak,,tolak oppa,jangan pacaran sama itu sunbae… Ck #demo
    udah Minho oppanya jodohin ama aku aja #Ngomong ama Minhye

  35. huaaaa
    sumpah q tu penasaraaan tgkat akut ma pov nya minho,,
    huhu minhye kyanya serius nih nyuruh minho pcran.othoke??
    Next

  36. minhye dptusin taemin..huhuhu..
    smpk minhye mnt minho bwt gk ngrus dia gmn critany wkwk

  37. aaaaaaa minhonya jutek bgt demi apapun xD

  38. Maya dhiafakhri

    Kapan lagi coba diperhatiin sama Minho 😀 ya ampun gak sabar baca part selanjutnya. Oh yaah aku lupa! Anyeong aku readers baru pacarnya jinki oppa #plaakk sekian dan terimakasih. Ceritamu bagus kakak eh author aja deh 😀

  39. Hwaa.. Pengen tau perasaan minho sebenernya. Lanjut chap 3..

  40. Yg jd oppa g mau saeng’a dkt” namja .. yg jd saeng maksa oppa’a hrs punya yochin .. dr pd ribut” gtu, mending kalian aja yg pacaran *du dud du ~ #pasang watados 😀

Leave a Reply to trya001 Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: