BROTHER COMPLEX – Part 1

BROTHER COMPLEX – Part 1

Title : Brother Complex [Revision Version]
Author : mamoTHo
Main Cast : Choi Minho (Brother), Choi Minhye (Little Sister)
Other Cast : Taemin
Lenght : Sequel
Genre : Bromance – family
Rate : PG 13

AN : ‘Revision Version itu, maksudnya sudah terkena proses revisi/ perombakan ulang oleh authornya. Selamat membaca FF ini. semoga tetep suka ^^/

This Story©mamoTHo

*****

..MINHYE POV..

“HARI INI AKU FREE!!” pekikku gembira sambil berdiri menghampiri cermin. Aku fokus melihat wajahku yang kini terpantul di cermin.

“AH, SEJAK KAPAN JERAWAT INI MUNCUL??!!” teriakku emosi saat melihat bintil kemerahan tersebut merusak pandangan mataku. Aku terus melihat pada bintil itu.

ANDWAEEEEE!!!!” jeritku frustasi memecah kesunyian yang ada.

Dug~Dugg~Duggg~

Suara dentuman dinding yang dipukul terdengar dari kamar sebelah. Seperti biasa, kalau aku berisik pasti saja suara itu yang kudengar.

NE, OPPA!!!!!!” sahutku seolah-olah mengerti maksud suara dentuman tersebut.

Oppa-ku memang begitu kalau aku berisik. Tidak bicara atau memarahi, tapi memukul dinding. Aku yakin dia adalah seorang kakak laki-laki yang mengerikan yang pernah aku kenal di dunia ini. Bicara sebutuhnya, memarahiku seenaknya, dan melarang-larang aku sesuka hatinya. Benar-benar Oppa yang aneh.

Aku bercermin lagi menatap pantulan wajahku. Sial, tetap saja jerawat ini tidak hilang. Rupanya memang benar ada jerawat di situ. Letaknya tepat di antara kedua alisku. Wajahku yang mulus kenapa harus dihiasi dengan bintil yang aneh seperti ini! Errr!

EOMMA!!!!!”

Dug~Dugg~Duggg~

Lagi-lagi suara itu yang kudengar dari dinding kamarku. Masa bodo. Aku tidak menghiraukan oppa-ku yang satu itu. Kenapa kamarku harus sebelahan dengannya sih?!

“Arrggghhhhh….. eommaaaaa!!!!”

DUGG~ DUGGG~DUG~ DUGG~ DUGG~ DUGGG~

Suara dentuman tembok itu terdengar makin keras dan panjang membuatku jadi kesal padanya. Siapa lagi, itu kakakku!

Aku pun keluar dan masuk ke kamar yang ada di sebelah kamarku tanpa mengetuk terlebih dahulu. Kulihat namja yang berstatus ‘oppa’ itu sedang bersender di tempat tidurnya sambil membaca sesuatu.

OPPA!!!!  Kenapa sih?? Aku sedang kesal!! Kau jangan buat aku tambah kesal!” teriakku padanya dan dia hanya bertindak sok cool dan kemudian malah mendengus padaku. Mwoya!

“Berisik! Hush hush!!” katanya malah mengusirku.

YAA!! DASAR CHOI MINHO!!!!” teriakku sambil keluar membanting pintu kamarnya.

 

Choi Minho
18 y.o.
Class 3 @SHINeeTown High School

“Minhye-ya!”

Kudengar dia memanggil, terpaksa aku membuka pintu yang baru saja kubanting tadi.  Aku melihat padanya dengan berani. Aku tidak pernah takut padanya.

“Kau memanggilku apa barusan??” tanyanya sambil bangkit dari peristirahatannya. Begini nih kalau aku sudah memanggil dengan tidak sopan, baru deh dia merespon. Memang oppa yang aneh.

Yaa! Kau memanggilku apa barusan?” tanyanya lagi dengan nada meningkat.

A-ani, oppa!” kataku terbata-bata pura-pura tidak tahu. Dia pun kini berujung menghampiriku.

“Tadi aku dengar kau menyebut gamblang namaku! Benar begitu??” tanyanya yang tanpa kujawab pun dia sudah melayangkan sebuah jitakan di kepalaku.

YAA!!! NAPPEUN OPPA!!” teriakku sambil memukulnya dengan tinju merasa tidak ingin kalah darinya. Dan sialnya, dia membalasku hingga akhirnya kami berujung jadi bertengkar di kamarnya. Masalah sepele kalau berurusan dengan namja yang bernama Choi Minho pasti seperti ini. Dia memang gak asik!

Aigoo, kalian sudah besar!” sahut suara wanita dewasa yang tiba-tiba masuk ke ruangan tempatku berada.

Aku dan oppa-ku menoleh ke suara tersebut. Seorang wanita bertubuh tinggi, berparas cantik, bermata sipit, berkulit putih, berambut sebahu, dan berbadan agak berisi sedang berdiri di ambang pintu kamar ini. Itu eomma kami, dan kini eomma sedang melihat ke arah kami sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Choi Minhye! Berapa umurmu sekarang?” tanya eomma lantang dengan nada seperti mengomel. Aku rasa dia memang mengomel.

“16, eomma!”

“Kau harus sopan pada oppa-mu!” Tuh kan eomma memang marah, dan kulihat Minho-oppa yang berdiam di sebelahku malah terkekeh.

“Choi Minho, kau juga!! Berapa umurmu??” bentak eomma padanya juga. Itu cukup membuatnya terkejut. Rasakan!

Ne eomma, 18!”

“Kau kan yang paling besar. Seharusnya kau ajari yeodongsaeng-mu satu-satunya itu!” terang eomma padanya, sedang aku malah asik mendengus mengejek oppa-ku merasa bahagia karena dia juga dimarahi.

Ne, eomma!” jawab oppa-ku pada akhirnya, walau sempat mendelik ke arahku sebelumnya.

“Kalian sudah besar. Jaga sikap kalian.” ucap eomma tegas lalu pergi dari hadapan kami.

Sial kami malah dimarahi. Err.. semua gara-gara Minhho. Gara-gara dia aku harus ikut diomeli. Coba saja dia tidak usah pukul-pukul dinding–sok-sokan punya tenaga kuat–pasti kita tidak akan diomeli eomma.

BUGH!

Sebuah bantal mendarat di wajahku menghentikan umpatanku pada pelakunya. Itu ulah dia lagi. Minho-oppa. Dia memukulku dengan bantal. Sial! Tidak akan kubiarkan aku kalah lagi.

BUGH! BUGH! BUGH!

Akhirnya kami mulai dengan aksi kami untuk saling memukul dengan bantal lagi saat langkah eomma benar-benar tidak terdengar. Sungguh, kami benar-benar kekanak-kanakan saat ini. Tidak ada usia 18 atau 16, kami berdua tetap terlihat seperti anak-anak.

Minho, kakakku. Kuperjelas kakak angkatku. Dia adalah seseorang yang hadir tiba-tiba mengisi kehidupan dan merubah statusku yang anak tunggal dari keluarga bermarga choi menjadi si bungsu. Huh, kebetulan sekali, dia juga bermarga choi. Gosh, dunia memang tidak bisa ditebak, huh! Tak kusangka dia menjadi kakakku dan kenyataannya seperti ini.

Oppa, kau akan tahu akibatnya!” teriakku berusaha menghindar dari pukulannya. Dia masih saja memukulku. Huh, ototnya yang kekar hanya bisa dipergunakan untuk menganiyaya adiknya. Bukankah itu tindak kriminal?

“Apa jelek??” dan dia selalu saja mengata-ngataiku. Tidak terkecuali. Dia belum pernah memujiku–secuilpun tidak–padahal yang lain selalu mengincar gadis SMA sepertiku. Aku cukup cantik.

Aku, Choi Minhye, anak tunggal yang tidak jadi anak tunggal semenjak Minho-oppa hadir, adalah anak yang seratus persen terlalu percaya diri. Yeah, kepercayaan diriku tinggi, tapi berbanding terbalik dengan pola pikir yang masih belum bisa menentukan mana baik dan buruk. Aku memang masih kanak-kanak, tidak heran oppa selalu khawatir padaku. Khawatir? Salah! Kurasa seperti itu bukan khawatir, tapi…

BUGH! BUGH!

Yaa!Yaa!!Yaa!!!” aku meronta saat dia menjatuhkanku ke tempat tidurnya. Er!! Begini nih yang disebut khawatir–aku rasa tidak. Dia malah menganiyayaku lebih parah dengan meletakan telapak tangannya dengan penekanan tertentu pada dahiku.

OPPA!!!! SAKIT!!!” Ringisku dan dia tetap melakukannya. Aku tidak berdaya karena kekuatan Choi Minho itu. Dia memang benar-benar kejam. “Oppa!! Itu jerawatku!!!” teriakku yang membuat dia akhirnya melepaskan tangannya.

Dia mencondongkan tubuhnya melihat bintil jerawat yang ada di dahiku saat ini. “Bagus!” dan dia kini mencibirku. Sialan! Er,aku sudah terlalu kesal dengan semua ini.

BUGHHHH! Kupukul kepalanya dan menjambak rambut cepaknya.

“Benar-benar membuang waktu berurusan dengan kau, kakak sialan!”

Aishhhh,” dia meringis kesakitan. “Kau benar-benar tidak sopan, Minhye!”

Masa bodo. Aku pun meninggalkan kamar itu dan menggerutu di sepanjang jalan menuju kamarku. Cih, kalau ada insiden seperti ini baru deh dia tidak bisu. Biasanya, saat di sekolah, di jalan, bahkan saat berkumpul bersama keluarga dia tidak pernah mengajakku bicara. Dia bicara sesuka hatinya. Kalau aku yang bertanya saja dia malah tidak mengacuhkannya. Benar-benar menyebalkan!

*****

“Minhye, Minho, kita makan!” sahut suara eomma sambil mengetuk pintu kamar kami berdua. Hari ini hari minggu, dan kami sekeluarga biasanya ada di rumah.

Ne, eomma..” kataku balas menyahut.

Sedangkan namja yang bernama Choi Minho tidak balas menyahut tapi langsung membuka pintu dan melesat turun begitu saja. Aku tahu karena aku mendengar langkah cepat bahkan menurutku dia itu berlari. Aku pikir dia punya masalah tenggorokan. Irit sekali dalam berbicara. Heran deh.

Aku pun bergegas keluar kamar menuju meja makan dengan langkah, yeah, bisa dibilang tidak bersemangat. Di sana sudah ada Minho-oppa yang sudah makan duluan. Selalu begitu jika bertemu makanan. Dia memang suka makan. Heran, badannya masih saja bagus seperti itu. Kurasa makanannya tidak menjadi daging.. Omaigad.. dalam seharian ini mungkin sejam aku terus-terusan menggerutu tentangnya. Benar-benar membuatku gila.

“Minhye, kau cepat makan!” perintah eomma padaku.

Ne,” aku merespon sambil mengambil kursi di depan oppa-ku.

Minho-oppa tidak melirikku sama sekali. Dia memang namja yang aneh. Sedari dulu memang begitu. Sejak pertemuan kami saat usiaku masih 4 tahun. appa yang membawanya kemari. Waktu itu namja cilik itu baru saja kehilangan kedua orang tuanya. Jadi, karena appa sangat berhutang budi pada keluarga itu maka appa berjanji akan merawatnya seperti anaknya sendiri. Eomma dan aku malah senang. Aku kan jadi punya seorang oppa dalam hidupku. Pokoknya, dia sudah kuanggap seperti oppa kandungku, pikirku saat itu. Tapi, melihat dia yang seperti ini. Cih~ lebih baik aku terlahir untuk menjadi anak tunggal saja deh.

Minho-oppa memang pendiam. Jarang bicara. Bicara seperlunya. Apalagi kepadaku. Dia lebih pendiam dan lebih lebih lebih jarang bicara padaku di antara keluargaku yang lain. Padahalkan aku ini yeodongsaeng-nya.

Aku mendengus sebal sambil melihat ke arah orang yang kini sedang lahap makan makanannya. Apa dia tidak bisa menerimaku sebagai yeodongsaeng-nya?? Hah, salah! Harusnya pertanyaan itu ada padanya. Seperti, ‘Apa Minhye tidak bisa menerimaku sebagai oppa-nya?’

Bodoh! Kerjaanku dari tadi hanya memikirkan dia. Buang-buang waktu. Aku lebih baik makan. Hana..dul… aku menghitung dalam hati berharap oppa menyadari keberadaanku di depannya. …Set! Yes!! Akhirnya dia melihat kearahku tepat dihitungan ketiga. Dia mendelik ke arahku sambil menunjukan tatapan sinisnya. Lalu setelah itu meletakan jarinya ke dahinya.

“Jelek!” katanya malah meledekku.

Arghh! Sial! Orang itu baru saja meledek jerawat yang ada di jidatku. Dia memang namja yang benar-benar menyebalkan. Aku tidak mau menanggapinya. Masa bodo! Eomma, jadikan aku anak tunggal saja kalau begini jadinya.

Setelah tindakan super menyebalkan itu, sekarang dia malah mengambil sepotong ayam yang hendak kuambil. Dan dengan sopan langsung memakannya.  Arghhhhh… aku ingin sekali berteriak! Benar-benar menyebalkan!! Itu kan jatah ayamku! Bukannya dia sudah makan bagiannya?! DEMI TUHAN aku ingin menangis memiliki oppa yang seperti ini. Andwae!! Menangis untuknya? Cih! Aku tidak akan menanggapi oppa sinting ini. Sireo! Sireo! Sireo!! Aku tidak boleh emosi dan sebaiknya malah harus lebih banyak bersabar, walau terkadang sabar yang kurasakan semakin membuatku terintimidasi olehnya.

“Aku sudah selesai! Jal mogossemnida!!” sahut Minho-oppa sambil  berlalu pergi tanpa membawa alat makannya ke tempat cucian. Sudah kuduga, pasti aku yang akan mengurusi hal itu.

OPPA!!!”

Dia berbalik dan dengan tenang tidak mengerti maksud sahutan kerasku itu. “Waeyo?”

“Kau tidak menaruh alat makanmu ke tempat cucian?”

Air mukanya berubah ramah. Dia tersenyum padaku. “Ah ya, aku lupa. Sekalian ya, saengi-ya?”

HYAAA! Aku sudah tahu dia akan begitu. Dia memang menyebalkan. Saengi..saengi… Merasa aku adiknya kalau sedang ada butuhnya. Cih, dia  benar-benar membuatku naik pitam.

*****

Aku duduk di ruang keluarga yang kebetulan letaknya di depan kamarku dan kamar Minho-oppa. Aku berbaring santai di sofa yang berlawanan dengan balkon itu sambil membaca majalah khusus yeoja. Sedang, Oppa-ku seperti biasa, menjadi mayat di dalam kamarnya.

~cold heart baby! cold eyes baby! let’s go!. mannatda banhaetda keunyeo ege banhaetda. cheoeum boneun sexy (keunyeodo nareul bwa) (Shinee – AMIGO)~  suara ponselku berdering.

Aku lalu mengambilnya dan aku tersenyum begitu melihat nama yang terlihat di layar ponselku. Cute Taemin!

 

Lee Taemin
16y.o
Class 1 @SHINeeTown High School.

Ah, namjachingu-ku menelpon, pekikku dalam hati sambil langsung menggangkat cepat panggilan tersebut.

“Taeminnie…” sapaku terlalu kegirangan.

“Cepat sekali kau angkat.”

“Taemin-ah, kau jangan begitu. Ada apa?? Apa kau rindu padaku??”

“EKHEEMMM!!!” Kudengar dehaman keras dari belakang. Aku menoleh dan melihat oppa-ku sedang berdiri di ambang pintu kamarnya sambil menatap sinis padaku. Tak kusangka oppa mendengar pembicaraan kami.

Dia sekarang malah menghampiriku dan duduk di depanku, menatapku tajam lalu memperhatikanku. Sungguh, aku jadi canggung berbicara di telepon kalau ada dia di situ.

Jadi begini sebenarnya, hanya dia—Oppa-kuyang tahu kalau aku sedang berpacaran. Kartuku memang benar-benar ada padanya. Tidak ada keluargaku yang lain  yang mengetahui hal ini. Kalau pun eomma dan  appa sampai tahu, andwae, jelas tamatlah aku. Aku kan tidak boleh berpacaran.

Aku berdiri dan berjalan menuju balkon, menghindar dari namja bertubuh tinggi yang masih menatapku dengan tatapan mautnya.

“Taemin, mian ada oppa-ku barusan.” kataku bicara pada Taemin lagi setelah aku mendiamkan panggilannya karena ada oppa.

“Ne, aku tahu kok. Kau langsung berubah seketika.”

“Iya, oppa-ku memang menyebalkan, minnie. Kau yang sabar yah!”

“EKHEMMMMM…” lagi-lagi suara dehaman yang lebih keras terdengar.

“Lanjutkan, Minnie. Tak usah hiraukan.” kataku masa bodo tidak terlalu ambil pusing. Taemin malah terkekeh padaku.

“Hari ini kita nonton terus ke karaoke yuk?”

“Ah, aku mau! Aku mau!! Jam berapa?”

“Malam Jam 8, otte?”

Yah, aku jadi lemas mendengarnya. Eomma bisa tahu donk kalau aku keluar malam-malam. Aku pun jadi mendesah pelan.

“Otte, Minhye-chan?”

“Ne Minnie, nanti aku kasih kabar lagi. Ya sudah sampai nan—“ Belum sempat mengucap salam tiba-tiba seseorang merebut ponselku.

“Kau mau membawa Minhye ke mana? Kau kan tau dia itu seorang yeoja. Kenapa harus pergi larut??” dan Itu tidak aneh adalah Minho-oppa yang mengomel di saluran teleponku. Begini deh, dia langsung berulah protektif seperti biasa padaku.

“Ya sudah kalau begitu!” katanya sambil menutup panggilan tersebut padahal panggilan itu milikku.

Oppa kau kebiasaan!!!” teriakku padanya kesal sambil merampas ponselku  yang masih digenggamnya.

“Kau tidak boleh pergi, Minhye! Apalagi berduaan dengan namja!”  dan kini dia berulah melarangku.

“Kami hanya menonton dan ke karaoke, oppa.”

“Karaoke?? Menurutmu tempat itu ramai?”

Ih oppa-ku mulai deh. Selalu bertindak sok mengatur, sok peduli, sok menjadi oppa yang perhatian pada yeodongsaeng-nya.

“Taemin-ku tidak akan berbuat macam-macam, oppa. Dia itu sangat manis! Oppa juga tahu.”

Aku langsung mengingat beberapa saat yang lalu, saat di mana aku ke-gap sedang berduaan dengan Taemin di perpustakaan. Tak kusangka oppa-ku sedang  ada di sana ikut mengawasiku juga–aku juga cukup heran. Saat kami baru saja berpacaran di hari yang sama, Taemin mencoba memegang tanganku. Nah, di situlah aku tahu kalau oppa berada di tempat yang sama denganku–tempat yang sudah pasti tidak pernah di singgahi olehnya—dan  dengan tiba-tiba dia mengganggu kami. Untung saja Taemin itu memiliki sikap yang manly hingga bisa bicara dan menjelaskan hubungan kami pada oppa dengan baik.

Namja itu, Lee Taemin, teman sekelasku tersipu malu saat menembakku di perpustakaan. Kebetulan perpustakaan itu memang sedang sedang sepi di siang itu.

Taemin adalah seorang namja yang tidak banyak tingkah menurutku, tapi juga bukan namja yang pendiam. Dia sangat manis dan menggemaskan, membuatku jadi senang memperhatikannya akhir-akhir ini. Seorang pria dengan tubuh tinggi 2 jengkal tangan di atasku ini sangat menarik. Senyumnya dan kepolosannya aku benar-benar suka padanya. Matanya saat menatapku juga begitu cantik. Salah, maksudku membuatku merasa cantik saat ditatap olehnya.

“Itu yang terakhir  aku dengar darimu saat kau bersama dengan namja yang bernama Kibum!!” ucap Minho-oppa menghentikan lamunanku terhenti.

Kibum? Pikirku. Aku langsung mengingat-ingat lagi.

 

Kim Kibum
18 y.o.
class 3 @ SHINeeTown High School

Aaah.. Kim Kibum, sunbae yang beda 2 tahun dariku. Dia seangkatan dengan Minho, oppa-ku. Dia orang yang periang yang membuatku jadi tertarik padanya. Dia juga namja yang lumayan agresif menurutku, jika dibanding dengan Taemin.

Aku jadi ingat. Saat itu aku sedang kencan dengan pacar pertamaku, Kim Kibum. Saat sedang berjalan tidak kusangka ada beberapa yeoja yang menghampiri kami berdua dan membuat keributan. Mereka mencerca Kibum saat itu. Mengatainya brengsek, playboy dan kata–kata tidak mengenakan lainnya yang membuat keadaan jadi ricuh.

Yeoja-yeoja itu benar-benar emosi. Kalau tidak salah ada tiga orang yeoja. Sumpah, karena baru mengenal Kibum selama 1 minggu, jadi aku tidak mengetahui masalah apa yang sedang menimpanya saat itu. Tahu-tahu disaat aku ingin menahan amarah para yeoja, eh, malah aku juga yang akhirnya kena semprot. Dibilang perusak hubungan orang lah, murahan, yeoja gak bener. Itu jelas membuatku jadi kesal dan menanggapi mereka para yeoja sinting dengan ingin menghajar mereka. Bukannya aku menghajarnya, malah yeoja-yeoja itu yang berbalik menghajarku. Mereka memukulku, mendorongku dan menjambak rambutku juga.

Hening..

Aku mendesah pelan.

Yeah.. Hampir saja aku tidak selamat kalau saja Minho-oppa, tidak buru-buru datang dan mencegah kejadian itu. Membuatku heran juga sih, dia selalu datang tepat pada saat aku membutuhkannya. Benar-benar aneh.

“Sudah ingat??” tanya oppa yang menamatkan lamunanku.

Aku mengangguk. “Ne, tapi dia yang berengsek, oppa! Aku mana tahu dia seperti itu.”

“Itu gara-gara kamu juga, Minhye. Salah pilih namja.” omelnya malah menyalahkanku. “Aku tahu, kudengar kau suka memancing-mancing namja juga kan? Makanya tidak aneh yeoja-yeoja itu mencercamu.”

OPPA! Aku tidak seburuk itu!!” bentakku kesal mendengar ucapannya barusan.

“K-kau—Harusnya bersyukur aku mengetahui sifat pacaran backstreet-mu. Kalau kedua orang tua kita yang tahu bagaimana, huh?!”

Ah ya, benar juga. Dia masih mengunci rapat-rapat rahasiaku dari mereka. Ada juga sih sisi baiknya.

Ne, ne, ne, gomawoyo oppa. Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku yang hampir menurut padanya lagi.

“Terserah kau!” katanya langsung pergi meninggalkanku.

Tuh kan dia memang oppa yang aneh. Terserah aku katanya? Kalau begitu, Bagus!! Aku bisa pergi sepuasnya. Semoga saja tidak terjadi apa-apa denganku. Lagi pula Taemin kan namja yang polos. Mana mungkin dia berani macam-macam. Memegang tanganku pun saja malu-malu begitu. Ah payah, tapi kelakuannya itu membuatku gemas. Malah aku yang jadi agresif sekarang. Hm, efek berpacaran dengan Kibum-sunbae.

*****

Sudah jam 6 aku pun bersiap-siap. Aku melihat cermin dan melihat pantulan seorang gadis dengan kulit putih susu, lengan kecil, dan kaki mungil, wajah oval, alis mata agak tebal—tanpa disangka-sangka—mirip Minho-oppa, bibir mungil, dan rambut lurus sebahu, sedang berdiri memastikan pakaiannya cocok atau tidak untuk dipakai kencannya malam ini. Itu tentu saja aku. Malam ini, aku berikan penampilan yang terbaik untuk Taemin. Aku akan membuatnya mabuk kepayang melihatku.

Aku memakai mini dress yang anggun dan make-up yang kusempurnakan sesuai dengan temanya. Kurasa namja-namja begitu, apa karena diriku yang membuat mereka jadi terpikat ya? Pikirku mulai tak waras.

Aku pun keluar kamar dan mendapati Minho-oppa sudah ada di depan pintu kamarku. Dia berdiri di sana, melipat kedua tangannya di dada, melihat diriku dari ujung kaki hingga ujung rambut sambil mengetuk-ngetukan kakinya. Tatapannya seperti pisau.

“GANTI!!” katanya tiba-tiba memerintahku.

Nde?? Apanya, oppa??”

“Pakaianmu selalu begitu. Kau mau ke mana, Minhye-saeng?? Clubbing?” katanya mencibirku dan mengomentariku. Aku diam saja dan mendengus padanya.

“Kudengar, kau bilang pada eomma mau kerja kelompok. Apa eomma percaya kalau kau pergi dengan dandanan seperti…” Dia menatap pakaianku lagi, membuatku jadi tidak percaya diri harus dilihat oleh mata pria dengan tatapan semacam menuduh.

“Sudah ganti saja!” katanya lagi makin memerintah.

Er! Kalau dipikir-pikir benar juga. Kenapa otakku bisa tidak berfungsi seperti ini? Aku mau kerja kelompok, tapi dandananku 100% seperti mau ke diskotik. Dengan terpaksa dan dengan berat hati, aku pun mengganti pakaianku dengan pakaian biasa dan wajar. Rok denim mini dan T-shirt. Tidak lupa, aku pun menyeka make-up yang berlebihan. Akhirnya aku berdandan casual, kataku dalam hati sambil menatap cermin lagi dan tersenyum.

Aku keluar dan melihat Minho-oppa lagi saat membuka pintu.

“Sudah kan, oppa? Aku akan baik-baik saja. Tenang saja.” kataku padanya dan dia masih melihatku dengan pandangan anehnya. Melihat masih sama dari ujung kaki hingga ujung rambut, dan aku rasa saat ini terlalu lama. Apa dia terpesona padaku?

“Tsk, masih saja begitu.” katanya mendecak sambil menggeleng-geleng kepala dan melengos tidak menghiraukanku—yeodongsaaeng-nya—yang ingin membuatnya sedikit tidak khawatir padaku.

“Apa lagi sih, oppa?? Aku sudah berpenampilan senormal mungkin!”

*****

“Minhye, kau pulang jam berapa??” tanya eomma saat melihatku turun ke lantai dasar.

“Jam 11 malam, eomma.” jawabku menghampirinya.

“Kenapa lama sekali? Memang tugasmu banyak? Kenapa bukan teman-temanmu yang kerjakan di sini?” tanya eomma bertubi-tubi.

Eomma, aku juga ingin mencari suasanan baru. Bosan di rumah terus.” kataku berbohong.

“Bukan begitu, eomma dan appa akan keluar malam dan baru pulang mungkin besok. Aunti-mu, eomma dengar sedang ada masalah, makanya kami mau ke sana.”

Asiikkkk!! Berarti aku bisa pulang lebih larut lagi kalau eomma dan appa tidak ada di rumah. Yayaya!!! Rasanya ingin meloncat saja, pikirku merasa lagu T-Ara itu langsung bergema di telingaku saat ini.

Eomma tenang saja. Tidak usah begitu menghawatirkanku. Aku sudah besar, dan aku jamin aku pasti akan baik-baik saja!” ucapku bersemangat sambil berusaha merayu eomma.

“Bukan begitu, nanti eomma tidak bisa menghubungimu juga. Kau kan tahu sendiri di sana itu sinyal masih jelek.”

Ah, itu lebih bagus lagi, pekikku makin girang. Choi Minhye, di otakmu hanya ada kebebasan.

“Ya sudah. Eomma minta nomor telepon rumah temanmu itu.”

Mwo?? Aku mana bisa memberikannya. Aku kan sebenarnya memang tidak pergi ke rumah siapapun. Mati aku!

Eomma mau apa? Teman-teman sudah kumpul di sana.”

Eomma yang akan mengundang teman-temanmu ke sini. Biar mereka yang ke sini saja, Minhye-ya. Kalau masalah mereka semua sudah tiba di sana, itu mudah. Appa-mu bisa menjemput mereka semua. Kau tinggal beri tahu saja di mana alamatnya.”

Hyaaaa… Andwae!! Ottokhae?! Situasi malah jadi sulit begini. Dan kini aku hanya bisa membeku.

“Choi Minhye, berapa?” kulihat eomma sudah siap-siap ingin memencet nomor telepon dengan menggenggam telepon rumah kami.

Eomma tenanglah, aku yang akan menjaganya.” sahut suara seseorang tiba-tiba. Dia berjalan turun ke lantai dasar dengan ekspresi menyebalkan, sok cool lebih tepatnya. Yeah, suara itu memang milik Minho-oppa.

“Aku akan ikut dengannya, eomma. Jadi, eomma tenang saja. Aku pastikan dia pulang dengan utuh dan selamat.” katanya lalu melihat ke arahku. “Iya kan, saeng??”

Aku hanya diam, masih bingung dengan situasi.

Mau–tidak? Atau kencanmu akan batal.” bisik oppa padaku membuatku sadar. Di situasi sulit begini, pasti saja dia seperti mendesakku.

Ne, oppa akan ikut!” kataku pada akhirnya mengiyakan saran oppa semata wayang. Eomma langsung menghela nafas lega.

“Ya sudah kalau begitu. Memang lebih baik kalau ada seorang dari kita yang ikut denganmu, Minhye.” ucap eomma sambil menepuk bahu oppa-ku dan kulihat  oppa-ku kini terkekeh tanpa kumengerti.

Minho-oppa ini memang ada-ada saja. Pasti deh kalau sudah begini kebebasanku direngut. Yeah, walau aku tahu aku selamat dan bisa pergi dengan Taemin, tapi tetap saja, kalau dia ikut aku tidak bisa berbuat apa-apa kan. Arghhhh… sebalnya!

*****

Eomma dan appa sudah pergi dari rumah. Ah ya, bagaimana kalau kutanyakan pada oppa lagi? Jangan-jangan dia memang cuma berakting tadi. Sekarang eomma kan sudah tidak ada, jadi aku bisa pergi sendiri tanpanya. Kan tidak ada yang tahu ini aku pergi sendiri.

Aku melihat oppa sedang mengacak-acak isi kulkas, seperti sedang mencari sesuatu. Sudah pasti itu makanan. Semenit kemudian mimiknya terlihat bahagia. Orange cake. Aku lihat dia mengeluarkan itu dari dalam kulkas. Yap tentu saja dia bahagia, itu cake kesukaannya. Tiap seminggu sekali eomma selalu membuatkan khusus untuknya, bukan untukku.

Oppaaaa..” panggilku manja sambil menghampirinya. “Kau tidak serius ingin ikut kan??” tanyaku lebih manja lagi sambil menunjukan satu keahlianku pada namja. Merengek.

Aniyo!”

“Ah Jincayo, oppa?” pekikku bahagia saat mendengar oppa tidak akan ikut denganku, “Oppa memang baik. Gomawo oppa..”

“Tumben kau berterimakasih karena aku mengganggu acaramu?”

Nde?”

“Maksudku, aku tidak bercanda, Minhye-saeng. Aku tetap ikut denganmu, dasar bodoh!” katanya sambil menyambar jaket tim baseball kesukaannya dan kemudian menarik tanganku. “Kajja!!!! Ini sudah jam 8. Bukannya kau buat janji jam segitu?!”

Arghhhhh!!!!! benar-benar namja yang satu ini. Kalau sudah begini saja sok-sokan menjadi oppa yang peduli. Oppa, tega nian dirimu padaku yang ingin berkencan.

*****

Aku berjalan bersamanya. Sungguh mimpi buruk. Acara kencanku akan diintili olehnya? Ah, itu lebih buruk lagi. Apa kata Taemin? Aku pasti akan ditertawakan, umpatku dalam hati sambil mendengus sebal pada oppa yang berjalan di sebelahku.

Kenyataan paling pahit dalam hidupku adalah ketika aku pernah bahagia memiliki Minho sebagai kakakku, namun kini aku benci karena dia telah menjadi kakak yang usil padaku. ER!! Dia memang selalu membuatku emosi dua kali lipat saat tidak jelas.

Huh, sialnya di malam yang dingin ini, aku harus menyusuri jalan menuju cinema bersama Minho-oppa. Aku tidak berbicara padanya. Aku hanya fokus dengan arahku berjalan. Hari gini jalan kaki! Inilah resiko backstreet. Tidak merasakan yang namanya dijemput oleh namja yang disuka. Dan oppa-ku, cih, mana mau membiarkan motor kesayangannya ditumpangi oleh orang lain. Sekalipun yeodongsaeng-nya sendiri. Jangankan aku, dia saja jarang memakainya. Kurasa dia hanya membeli barang tersebut  hanya untuk sebuah pajangan. Oppa memang aneh.

Hhaaaacimmmm!!” Aku malah bersin disaat seperti ini.

Cuaca di seoul malam ini memang sedang tidak bersahabat. Cukup dingin untuk ukuran yeoja yang tidak memakai sweater seperti aku ini. Ah, aku ingin cepat sampai. Ingin segera bertemu dengan namjachingu-ku, lalu dipeluk olehnya, pikirku mulai mengandai-andai suatu hal yang mustahil karena sudah jelas tidak bisa kulakukan karena ada dia, gumamku sambil melihat seseorang yang ada di sampingku satu meter. Oppa-ku tersayang.

Jarak di antara kami memang satu meter. Dia hanya fokus mendengar Ipod-nya. Benar-benar tidak mengacuhkanku. Hanya memperhatikan Ipod barang berharga untuknya. Dan lagi, aku mana boleh menyentuh barang-barangnya itu. Dia pasti akan marah. Dia sangat apik terhadap setiap barang-barang. Tidak sepertiku.

Hhaacimm… Hhaaacimmmm…..” Aku pun bersin untuk kesekian kalinya. Karena suara bersinku yang berulang-ulang, Oppa jadi melihat sebal ke arahku. Dia membuka earphone yang melekat di telinganya.

“Sudah tahu diluar dingin, masih saja berpakaian seperti itu.” katanya padaku sambil melepas jaket baseballnya lalu melemparkannya kasar padaku. “Bodoh, pakai itu!”

“Niat tidak sih?” omelku padanya yang kini berjalan kembali dengan fokus mendengarkan Ipod-nya. Jika dia tidak berniat memberikan ini aku lebih baik kedinginan sampai bertemu Taemin.  “EErrrrr… dia membuat mood-ku jelek!”

Tuh kan, tidak tadi siang saja aku menggerutu tentangnya. Sudah beberapa menit ini pun, di mana aku akan mengalami malam bahagia, aku malah sibuk mengumpatnya. Yeah, aku memang mengata-ngatainya sepanjang durasi jalan.

“Dasar oppa jelek! Oppa sok cool! Pokoknya sifat jelek semua ada untuk oppa!!” umpatku lagi dan dia langsung berbalik melihatku membuatku berhenti mendadak.

Waeyo??” tanyanya padaku dingin sembari menunjukan ekspresi paling menyebalkan, yaitu yang memandang rendah orang. Dia tidak mungkin mendengar apa yang kuumpatkan barusan. Ya sudahlah, kupakai saja jaketnya.

Gomawo oppa!” kataku padanya yang kemudian tidak sengaja melihatnya tersenyum. Eh, apa aku tidak salah lihat? Aku menggisik-gisik mataku.

Hyaaa… oppa tersenyum sembunyi-sembunyi! Arghhh, itu sungguh mengerikan mengetahui kenyataan kalau dia benar-benar tersenyum padaku.

“Apa??” tanyanya tiba-tiba menoleh padaku mendadak. Nada suaranya ketus sekali. Aku  memang salah lihat. Tidak mungkin seorang Choi Minho, oppa-ku yang dingin itu, tersenyum padaku. Tidak mungkin, pikirku menyadarkan diri sendiri.

*****

..AUTHOR POV..

“Taeminnie!!” panggil seorang yeoja manis  ber-rok denim diatas lutut dari kejauhan. Itu Minhye, yang disusul oleh Minho yang berdiri di belakangnya, yang baru saja tiba di Box Office tempat di mana Minhye akan melakukan dating dengan Taemin.

“Lama tidak?”  tanya Minhye sambil menggapai tangan Taemin.

Aniya, Aku baru sampai juga kok.” jawab Taemin tidak berhenti menatap Minhye. Air muka Taemin terlihat tersipu malu melihat yeojachingu-nya yang dari tadi menggelayutinya.

Minho masuk di antara mereka berdua. Memisahkan kedua bocah yang sedang bertindak mesra di hadapannya, tidak menghiraukannya sama sekali. Yeah, Minhye memang lupa memberitahu Taemin kalau Minho jadi ikut bersamanya.

“Minnie, oppa-ku ikut, apa tidak apa-apa?” tanya Minhye dengan ragu. Nampaknya Taemin agak bingung. Dia menatap bergantian antara Minhye dan Minho.

“Baiklah.” jawab Taemin yang akhirnya mengiyakan permintaan kekasihnya.

Mereka akhirnya berjalan. Minhye dan Taemin. Dan Minho sendiri berjalan di belakang mereka berdua, hanya mengawasi sepasang kekasih itu, alih-alih takut mereka akan berbuat macam-macam. Sesaat mereka sudah sampai di depan loket untuk membeli tiket setelah mengantri, Taemin dan Minhye sedang memilih film untuk mereka tonton, sedang Minho masih setia mengekor di belakang.

“Kita nonton film action. Transformer 3 3D kurasa bagus.” saran Taemin pada Minhye yang ada di sebelahnya. “Gimana, Minhye-chan??”

“Minnie, kalau kita memilih film itu oppa-ku pasti senang. Dia kan sangat suka film seperti itu. Pasti dia akan mengganggu kita.” bisik Minhye pada Taemin dan Taemin hanya terkekeh pelan.

“Bagaimana kalau kita nonton film yang dia tidak suka?”  air mukanya Minhye terlihat bahagia. Taemin mengangguk pelan, membiarkan yeojachingu-nya mengatur dating ini.

“Ini!” seru Minhye sambil menunjuk film ber-genre romantis pada penjual tiket dan memilih kursi di pojokan yang kira-kira tidak banyak orang duduk di sana.

Joa! semoga filmnya bagus!!” lanjut Minhye menoleh pada Taemin dan Taemin hanya tersenyum. Minhye kemudian mendelik pada Minho. “Oppa, kau jangan ganggu kami ya? Awas saja kalau kau bertingkah!”

Sayang, seorang Minho memang dingin dan pendiam. Jadi, dia hanya diam pura-pura tidak tahu dan tidak menanggapi yeodongsaeng-nya itu.

*****

Di Theater 1!

Minhye dan Taemin sudah duduk di seat mereka sambil menunggu film pilihan Minhye diputar. Beberapa saat kemudian setelah duduk, Minhye menoleh ke kanan dan ke kiri, bahkan ke belakang juga.

Ahhhh.. syukurlah. Oppa tidak di sini bersamaku. Aku Bebas!!, gumam yeoja itu dalam hati.

Film sudah diputar. Tanpa sepasang kekasih itu sadari, seorang namja tiba–tiba  masuk dan  duduk tepat di belakang mereka yang sedang asik menonton. Sepasang kekasih itu, jelas Taemin dan Minhye.

Sudah setengah film di putar, namja itu tidak menonton sama sekali. Dia hanya tertarik pada satu hal, yaitu memperhatikan orang yang ada di depannya. Raut mukanya tiba-tiba terlihat sebal karena melihat seorang yeoja yang dikenalnya itu mencuri-curi pandang pada kekasihnya. Bahkan, kadang-kadang memancing si namja untuk terus duduk berdekatan dengannya

Astaga, yeodongsaeng-ku seperti ini rupanya, gumam namja itu dalam hati.

Yap, yang berada di belakang Minhye dan Taemin adalah Minho yang diam–diam membeli tiket yang sama dengan maksud menguntit adiknya. Dia yang tidak sama sekali tertarik dengan filmnya, memang memiliki kesempatan yang banyak untuk memperhatikan adiknya.  Film romantis? Bahkan Minho sudah curiga kenapa adiknya memilih film tersebut.

Tepat dugaan! Kini dengan mata kepala Minho sendiri, dia melihat yeodonsaeng-nya mulai mendekatkan wajahnya pada pria yang ada di sebelahnya. Kekhawatiran Minho muncul. Adiknya, memang sedikit–bisa dibilang–ganjen. Inilah yang selalu tidak bisa diterima olehnya sebagai kakak yang harus menjaga adiknya.

Cih, dia sekarang ingin mencium namja itu! 

Pletak!

Sebuah jitakan akhirnya mendarat di kepala orang yang baru saja berniat untuk mencium pipi orang yang ada di sebelahnya.

 “Auchhh!” ringis orang itu kesakitan sambil berusaha menangkap orang yang telah menjitak kepalanya di kegelapan. Dengan hati-hati dia memutar kepalanya ke belakang untuk melihat sosok yang dengan kurang ajar mengganggu kencannya. Dia terdiam.

Oppa!!” pekiknya terkejut yang ikut membuat Taemin menoleh kebelakang.

Minho tidak menyahut balik dan hanya melotot pada Minhye. Dia juga memberi isarat pada Minhye, orang yang baru saja berpikiran kotor untuk mencium namjachingu-nya, agar tidak dekat-dekat namja yang ada di sebelahnya.

*****

..MINHYE POV..

Minho-oppa sungguh memalukan. Haiiiissssh… kenapa oppa ada di belakangku sih? Sungguh menyebalkan. Aku benar-benar tidak bisa berkutik kali ini di acara kencanku sendiri. Kalau seperti ini kejadiannya, lebih baik aku batal berkencan saja. Argghhh… Sungguh memalukan!

Film sudah usai, dan aku benar-benar tidak bisa menikmatinya. Apa yang bisa kunikmati coba? Itu film romantis tapi aku dan Taemin benar-benar tidak melakukan hal apapun yang romantis. Aishh~ bibirku, kapan kau menerima kecupan dari seorang namja??

Padahal tadinya, di malam ini, aku ingin sekali merasakan yang namanya dicium oleh namja. Aku sungguh iri mendengar teman-teman di kelas yang membicarakan kemesraan mereka dengan namjachingu-nya. Dicium. Dipeluk. Ah, sementara aku, nihil, sama sekali belum pernah merasakan itu semua.  Paling–paling cuma pegangan tangan. Memang aku ini anak SMP? Huft!

Taemin-ku memang manis. Tidak seagresif namjachingu-ku yang dulu. Kalau yang itu mah brengsek!! Suka mainin perempuan seenak jidatnya.  ARRGHHH, aku benar-benar melantur ke mana-mana.

Kini aku sedang berjalan di trotoar bersama Taemin setelah acara noraebang kami batal. Yeah, acara karaokeku pun jadinya batal, karena situasi canggung yang kami—Aku, Taemin dan Minho-oppa—alami. Taemin jadi sedikit berbeda dari biasanya.  Dia jadi agak berbeda karena sikap ketus dari oppa-ku. Padahal sebelumnya oppa-ku sudah kuperingati untuk tidak ikut campur urusanku, termasuk kencan ini. Saat aku berpegangan tangan saja, dia selalu risih dan meminta kami jalan senormal mungkin. Kalau begitu, aku harus kencan macam apa, oppa??

Mianhae Minnie, oppa-ku memang begitu.” bisikku pada Taemin yang sedari tadi hanya berjalan.

“Ah ne, gwenchana. Aku mengerti.” katanya ikut berbisik  padaku. “Tapi, dia agak berlebihan menurutku.” lanjutnya yang sukses membuatku menaikan kedua alisku. Berlebihan?

*****

“Kau mau rasa apa, Minhye-chan?” tanya Taemin padaku saat tiba di kedai eskrim. Taemin memang berniat mentraktirku eskrim. Taemin juga selalu memanggilku dengan embel-embel ‘chan’. Dia berpikir aku seperti tokoh komik. Dia memang pecinta komik jepang. Makanya tidak heran dia menganggapku seperti tokoh di komiknya.

“Emmmm….” gumamku agak ragu ingin memilih rasa apa untuk kali ini. Ada begitu banyak pilihan di sana, tapi mataku hanya terfokus pada satu rasa yang sudah biasa kumakan.

“Vanila stoberi.”  sahut suara yang tidak asing kudengar. Itu suara oppa-ku. “Iya kan, saeng?” lanjutnya sembari mendelik padaku.

Apasih yang dia pikirkan? Taemin kan yang menanyakanku, bukan dia.  Gara–gara dia wajah Taemin jadi sedikit kecewa. Oppa sialan.

Ne Taeminie, vanila stoberi.” kataku pada Taemin lalu langsung menarik tangan oppa keluar dari situ.

Oppa! Kau jangan berlagak sok baik di depan orang ya?” aku memperingatinya, tapi dia tidak mendengarkanku sama sekali, dan malah mengotak–atik Ipod yang sebenarnya sama sekali tidak ada suaranya. Aku tahu karena beberapa saat yang lalu, saat dia menjatuhkan barang kesayangannya itu, aku mencoba mendengarkan lagu apa yang sedang dia dengar, namun betapa kesalnya aku saat mengetahui kalau dia tidak mendengarkan apa–apa dan yang parahnya lagi, karena sebenarnya batre Ipod-nya itu kosong.

Aku menghela nafas lagi karena Minho-oppa tidak mengindahkan ucapanku.

Oppa!!! Kau berjalan minimal dua meter dariku pokoknya!” kataku memperingati lagi dan kembali ke tempat Taemin. “Kajja, Minnie!!” ajakku pada Taemin sambil menggandeng tangannya tidak peduli apa yang akan oppa pikirkan. Masa bodo. Namjachingu-ku Taemin. Dan Minho, oppa-ku, hanya oppa. Oppa yang usil padaku. Huft!

..TO BE CONTINUE..

~This story is mine. This plot is mine. Say no to plagiarsm.~
  ~ Publish by mamotho @ https://mamothozone.wordpress.com/~

~ Setelah merevisi ini. Ternyata, selain typo, dulu aku sering memasukan adegan ga penting. Dan memotong POV yang gak pas. Hahaah.. alhasil kurobah tapi dengan catatan tidak menghilangkan cerita intinya.

~ Jangan lupa kasih komentarnya^^ dan buat yang ikut baca ulang epep ini kukasih cipok^^/ kasih tau kalau masih saja ada yg aneh. hehe 🙂

~ Pesan author no copas without permission oke^_^ let appraise it!

About mamotho

Special Girl. Always loved her self, and know what makes she herself happy. Fangirlling is also her spirit (ʃƪ˘ﻬ˘) SHINee is her oxygen too!

Posted on 16 March 2011, in BROTHER COMPLEX, SEQUEL, SHINee FF and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 53 Comments.

  1. akhirnya aq bisa baca.. hahaha~
    hah, kocak lah tuh kelakuan si Minhye…
    aisshhh… itu Mino kok jd kakak yg over gitu?
    tapi lucu…
    aq juga mau punya kakak ganteng kyk mino…gyahahaaha

  2. Haha…KEREN lah ceritanya,lucu2 pas tiap part nya so dewasa gmn gtu pdhl mah???haha…. piss ah…

  3. mau punya oppa kaya begitu. haha
    yaah sayang sekali key yg dipake harusnya jjong tuh, playboy cap mutiara hoho

    • tenang baru part 1.. kan castnya belum muanya muncul. ia tak-ia tak??kkkk~
      Oppa kaya minho. boleh~ tapi ga mau klo seketat itu. hue.. T.T

  4. Annyeong.. Readers baru… Mau meninggalkan jejak yg manis dan imut sprti sya… Kekeke~ *kepedean==”* Setelah UAS selesai baru mampir lagi buat baca+coment… Kekeke~
    Man Seung Hyo imnida, 16 yo, elFlawless, B2uty, Shawol, VIP , blackjack , aff(x)tion , cassie , primadona, etc.. Hahaha XDD *maruk abis#plak#*
    sebaiknya aku menghilang dlu sebelum di ceburin.. Wkwk XDD
    kpan2 saya akan nyasar ke sini lagi… *apaan seh==”#gaje#*
    #BOW#
    *salam sayang anak ayam*
    ^o^

  5. good story, like it! ;DD

  6. seru eonni 🙂
    tapi minhye kasian ya digangguin sama minho terus,eonni tadinya saya pikir kok minhye dipanggi sama taemin,minhye chan kan ini di korea ternyata taemin suka komik jepang ya eonni? 🙂

  7. Mamot~
    kamu orang sunda ya? Ada logat sunda di sini. wkwkwk

    Di liat dari gerak gerik Minho kaya yang suka ama Minhye. XD

    Lanjut part 2 ^^

  8. Hyaaah… Brother Compleks.. Ckckck..
    Aku jga mauuu klo kakak.a kereeen kaeg Minho hahahaha…

    Oke Lanjut Part II duluu 😀

  9. mybabyLionOnew

    td bc bts BC… key cm diceritain.. kkkkk
    klo lht key emng bwaanya mikir dy itu cerewet ya *emng bnr*
    kshn bgt emin..
    minho nih naksir minhye.. kkkkkk
    lnjut ah

  10. Idii.. emang kayak gitu yak seorang oppa?? dikit dikit marah, dikit dikit marah.. heuu~~~
    YYYAAKK!!! CHOI MINHO!! MEREKA MAU PACARAN MALAH DIGANGGU!! *jitak*

    Demi apa deh nyisipin foto mereka.. bikin CENGAR CENGIR NDIRI!! eekekeke~

    For poster, udah dari dulu sih herannya *whaaat* itu.. Kim Seo Eun kan??? (pertanyaan pabo)

    Huehehehe… lanjutt daaah~~

  11. reread!

    aku agak lupa bagian mana yang terpotong, bagian mana yang tidak. ampun ._. tapi ceritanya masih bikin deg-degan kok! dan sekarang aku sedang merasakan pahitnya hidup Minhye, ketika sebuah jerawat memasuki hidupnya via selat alis mata (?) *curhat*

  12. Aihhh beneran pernah baca ternyata kyaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!<——– amnesia sesaat-_-

    Daebakkkkk!!!!
    Lanjut dehhh!!!
    Mian nyampah eon-_- yg penting kan koment hhe ;D

  13. .tinggalin jejak
    .hobi baru jadi sering baca
    .tapii baca epep 😀

  14. Akhirny В̍ȋ̝̊̅̄$äª baca ulang Lɑ̤̥̈̊ƍΐ!!!!
    Kocak liat tngkah minhye – minho

    Ckckckck

    Lah itu si minho jga jdi oppa over bngt sich!!!
    But,image cool minho dpt bngt Ƴɑ̤̥̈̊ªªªª!!!!

  15. kyaaay. gk kebayang kalo punya oppa yg super protektif kayak mihoo. padahal taemnya aja gk macem macem kan sama mihye. uhuhuhuhu kasian minhye punya oppa macam minho

  16. untung kakak qu gag seprotektif kyak minho oppa .
    klo iya , bisa mati gaya gue #curcol 😀

  17. wah keren eon crta.a:-D
    Jd pngn pnya oppa ky minho oppa deh;-)

  18. wah eon keren ceritanya
    hehhee

    ga kebayang aku kalo punya oppa yg kya bgtu 🙂

  19. Mamoth eon datang \(^0^)/ Maaf ya telat membalas. Aku bikin lapak nih di bawah:

    @mybabyLionOnew : Iyaa say
    @reenepott : iya kim so eun. Dulu aku selipin bisingan ada yg ga taueun SHINEE!! /dijitak\
    @AlsKey : Yang penting sekarang udah sembuh yaa ==”
    @rachmi fadila raveline : Pernah baca?? LOL!
    @MinNett : SIP!
    @My Lovely Mon5ter : dAN rupanya kamu baca ulang??? *ZOOM BESAR* Gomawoooh yahhh
    @cindy: Ga nak punya oppa kaya gitu. lebehh yak
    @trya001 : bersyukurlah dek
    @Nita27 : Ga mau bayanginnya juga ==

  20. huahahaha >< walaupun ganteng hahaha 😀 mau pacaran malah digangguin._. mari kita lihat ke part selanjutnya~ langsung baca ya^^

  21. Hi New readers 🙂
    Nice FF thor ^^
    siminho terlalu overprotectif 😐

  22. cekikikan sendiri bacanya!wkwk
    itu si minhye agresif bgt, si taemin juga trlalu polos!wakakkakakxD
    sumpah yeh! mana enak dating diawasin sama org laen! drpd dating sama si taemin mendingan dating sama minho aja tuh sekalinn!wkwk
    minho dipart ini ngomongnya dikit bgt-.-
    biasanya seorang choi minho dikarakter eonnie itu rada mesum, manis, dan romantis.
    tapi kayanya buat ff ini tuh kebalikannya deh-_-
    yowesslah! lucu ffnya eon, untung minho cuma kaka angkatnya minhye bukan kandung.hoho

    next part yah eon

  23. Minho nyebelin deh,, susahnya kalo beneran punya kakak yg protective kayak gitu..
    Swiiiiing to the part 2

  24. kakak adik yg aneh…
    tapi seruuu
    next ke part selanjutnyaaaa 🙂

  25. Baguuuusss 😀
    Aku jarang bgt baca ff yg kayak gini.
    waa mau dong punya oppa kayak minho :3

  26. Ini teenlit bangeeet. Aku sukaaaa eonni ^^

  27. ceritanya seru, kakak adik sama-sama cakep.
    senyam-senyum sendiri baca FF-nya.
    mau juga dong punya kakak kayak Minho cool “ƪ(˘⌣˘)┐”ƪ(˘⌣˘)ʃ” ┌(˘⌣˘)ʃ”

  28. Annyeog sya reader baruu.. Wahh ini keren.. Jd ingt kakak q jg hpir sama ma si Minho, jd Minhey q merasakn apa yg kamu rasa.. Hehehe
    Tpi oppa q g’ seover Minho klow soal kencan, g’ nguntiTin mksudx.. Wkwkwk.. Nice storyyy^^

  29. Annyeonghasseyo~~!! Mian aku baru baca ulang FF ini sekarang hehe abisnya baru liat yg revisiannya sih._.v Kalo ga salah sih aku udah pernah baca FF yg ini, tapi aku lupa pas kapan, miaaaan~
    Ah~ coba aja oppa-ku juga beneran Minho, waaah~ surga dunia lah itumah pokonya!
    After all, pas ceritanya. Lucu, Minhye-nya bener-bener kekanakan banget, jadi gemes~
    Awkay, go on to the next chapter!

  30. Waaaaw minho kayanya dia emang udah suka sama minhye dari kecil deh .

    Okey next part

  31. Setelah baca komen di atas, aku malahan pingin pnya kakak laki2 yg bisa ngejagain ade nya. Apalagi kakaknya ganteng kayak minho^^ tapi ya ga over protective juga hehe^^
    Lanjut next part.. Thanks^^

  32. nandacamilla

    waaa, epep nya kereen ;D
    Suka banget sama minho nya, cool, perhatian(yah meski kadang kadang -_- #haha)
    sekian komen gaje ini daadaaahh *melambai*

  33. Onnie ..annyeong~
    salam kenal,, aku suka pake bangett sama ff mu ini hehe 😀

  34. kyaaaaaaaaaaaaa ak baru bacaa ff ini *plaakk
    ff nyaaa bagus eoon. daeeebaaak (y)

  35. livia prilliska

    Bagus .. wkwk #acungin jempol
    Itu si taemin kasian bgt -.- wkwk ,
    Si minhye mau cium” taemin aja sih , untung ada minho . Wkwk jadi bibir minhye masih suci deh . Wkwk
    Slam kenal ya . Aku reader baru . Beru nemu blog ini dari rekomendasian .. wkwk

  36. Hah!! Si minhye mau cium taemin dluan? Oh my god masa cewek nyosor dlu,aigo andwaeee~~ -_-

  37. Tiara indah olivia

    Uuh..kerenn..
    Suka banget sama ff yang bromance… :*
    beruntung banget si Minhye punya Oppa kayak Minhoo..
    Uh jadi iri

  38. haha keren chingu,,haha
    tp rata2 pov nya dari minhye ya,dari minhonya mana chingu?
    Pkoknya keren jalan ceritane,gak sbran pgn bca chap slanjutnya.hehe
    next

  39. haha byangin pnyk oppa kyk minho..B-)
    tp syngny mlah pnyk eonni bnyak
    kekeke
    daebak thor

  40. ya ampun bikin kangen minhooo my eternal bias :3

  41. Minho kak yang overprotective kkkkk

  42. Maya dhiafakhri

    Minho sama adiknya over banget. Kalo sama saya biasa aja -,- Authornya jangan merubah taemin ku yang polos ya 😀 kayak key oppa :3 mukanya gak cocok jadi playboy -mungkin- ceritanya lucu banget saya jadi terharu :’) lanjutkan karyamu thor

  43. Annyeong.. Reader baru yg nyasar bca ff ini.. Ehehe.. Lanjut ke chap 2 yaa..

  44. “Minhye” gadis kepo tentang cinta n “Minho” oppa yg nyebelin tp penuh perhatian *jiah bahasa’a 😀

    Repot y jd minhye, punya oppa yg kta’a nyebelin .. tp kalo aq sih mau aja punya oppa setampan minho *tarik minppa ^^

    Two thumb up buat ff mamot eonni 🙂

KOMEN YO ( ˘ з˘ )/

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: